
Bulan bersinar terang di malam hari. Udaranya yang dingin, disertai suasana yang sunyi benar-benar membuat orang berpikir akan ada sekelompok orang yang berkeliaran di tengah malam yang dikenal sebagai The Necromancer.
Menurut kebanyakan orang, keluar malam tanpa ada alasan tertentu hanya akan membuat mereka bertemu dengan sekelompok The Necromancer, kelompok yang diduga akan membasmi kejahatan di waktu mereka tidur.
Diluar Kota Resihei, Fuuya dan Sasaki yang berada di utara sedang duduk di atas pohon menunggu kehadiran monster maupun makhluk lainnya yang akan menyebabkan kehancuran pada Kota Resihei.
"Benar-benar membosankan ya."
Regard yang sedari tadi duduk di permukaan tanah yang terdapat rerumputan hijau menguap.
Sudah berkali-kali dia melakukan patroli tidak hanya di bagian selatan, dia juga melakukannya di bagian barat. Selama beberapa kali dia berpatroli bersama dengan [Shadow Clone] miliknya, dia tidak menemukan apapun yang mengancam Kota Resihei.
Di bagian timur, Reita yang sedari tadi memperhatikan ke belakang dan ke depan secara bergantian membuat hatinya ragu.
Ingatan Reita kembali ke perundingan sebelumnya.
Regard yang menjelaskan bahwa mereka akan berpisah dan berpencar untuk keselamatan dan kepentingan kota, Fuuya dan Sasaki awalnya keberatan atas keputusan sepihak darinya, sedangkan Reita, dia dengan setuju mengiyakan pernyataannya.
Menurut Reita, selama Fuuya dan Sasaki tidak ada di dekatnya, dia bisa saja diam-diam mendekati kakak tirinya dan berpegang tangan layaknya sebuah keluarga.
Sayangnya impian itu tidak terwujud.
Andai saja aku benar-benar dapat melakukannya ya.
Ekspresinya yang mendongak ke ranting-ranting dan celah yang dapat terlihat cahaya bulan yang cantik, kesedihan sempat terlihat di matanya yang berwarna biru.
Di dalam Kota Resihei, Shilphonia dan Friya menjalankan tugasnya seperti biasa yaitu membunuh para penjahat yang bertindak di malam hari tanpa diketahui publik maupun Ksatria Kerajaan yang bertugas.
Masing-masing dari mereka mendapat empat kereta yang terdapat barang selundupan dalam jumlah banyak. Baik itu anggur berkualitas, arak yang terbilang cukup mahal dan mewah, bahan-bahan pokok seperti gandum dan buah-buahan yang tidak ada di setiap tempat yang terbilang langka, serta ada beberapa kalung anti sihir yang dapat mengekang siapapun yang mengenakannya untuk tidak bisa menggunakan sihir.
Benar-benar menyedihkan.
Friya yang memperhatikannya, jijik atas ketidaktahuan mereka bahwa sihir dapat dikendalikan melalui berbagai cara lainnya untuk bisa bebas dari pengekangan sihir.
Dikarenakan dulu Friya dilatih oleh bibinya, Nek Ryadu, dia diajarkan berbagai macam hal tentang sihir, termasuk cara menaikkan maupun mengurangi tekanan sihir pada dirinya.
Selama dia berlatih, dia selalu mengenakan kalung pembatas sihir yang menyebabkan dia kesulitan dalam mengendalikannya selama beberapa kali di tiap-tiap bulannya.
"Apakah ini akan berhasil?"
"Ya. Silahkan dicoba kembali!"
Dengan senyuman yang terlihat di wajah keriputnya, Nek Ryadu mengangguk pada kata-kata Friya.
Friya yang saat itu masih berusia 50 tahun, memancarkan mana dalam jumlah banyak di telapak tangan untuk mengatur tekanan sihir untuk ditambah ke dalamnya dalam proporsi yang lebih besar.
"Ini...."
Secara mengejutkan, kalung yang mengekang sihir Friya pecah akibat kapasitas sihir yang diharuskan bisa mengekang sihir dalam jumlah tertentu pecah karena kelebihan kapasitas di dalamnya.
"Kamu benar-benar luar biasa, Nak."
"Hehehe..."
Tersenyum pada keberhasilannya, Friya tersipu malu pada pujian dari bibinya.
Hanya itu yang dapat Friya ingat.
Berbeda dengan Friya, Shilphonia yang sedari tadi mencari-cari keberadaan harta yang disimpan oleh mereka, tidak menemukan apapun selain dari barang-barang penyeludupan yang ada di dalam kereta kuda pengangkut barang.
Sayang sekali ya.
Tidak mendapatkan apapun, kilatan kemarahan terlihat di pupil matanya menyebabkan Shilphonia menyeringai lalu membakar mereka tanpa ampun menggunakan busur dan anak panah yang diselimuti oleh sihir api di dalamnya.
Api menjalar dengan cepat, membakar segalanya yang ada di sekitar bahkan kereta kuda, beserta isinya hancur oleh ganasnya api.
"Selamat tinggal, Pecundang!"
Tidak ada yang membuatnya tertarik, dengan langkah ringan yang pelan, Shilphonia mengabaikan untuk memperbaikinya kembali untuk meninggalkan jejak di dalam kemarahannya pada mereka.
Di Kerajaan Finra, kobaran api membakar segalanya yang ada dalam jangkauan luas. Beberapa rumah yang hangus dan hancur, serta beberapa penduduk kota yang ikut terbakar benar-benar terlihat menakutkan dan mengerikan dalam pemandangan di malam hari.
"Sial. Kenapa mereka banyak sekali?"
Di dalam Kerajaan Finra, beberapa anggota keluarga bangsawan berkumpul di satu ruangan, terkejut atas kehadiran monster dalam jumlah banyak yang takkan sanggup dihabisi oleh petualang manapun, termasuk Colorful Adventure.
"Berdasarkan laporan, ini kedua kalinya mereka menyerang Ibukota Finier. Pertama di bagian timur, sekarang di bagian barat."
"Bukankah seharusnya alat pertahanan mampu melenyapkan mereka?"
"Tampaknya tidak mampu menghabiskan jumlah pasukan yang banyak."
Menggertak giginya, pria itu meletakkan kedua tangannya di lututnya, menggantungkan kepalanya dan memasang ekspresi kesal atas kehadiran mereka yang tiada hentinya.
Menurut pria berkepala botak dengan rambut di kedua sisinya yang tipis, laporan yang diberikan adalah akurat.
Mulai dari penyerangan pertama dari monster dalam jumlah banyak di bagian timur, semuanya dilakukan oleh Wyvern yang memiliki kawanan mereka membuat kerusakan parah atas mesin-mesin pertahanan berupa mesin penembak kejauhan dan peledak yang mampu menghancurkan kawanan monster dalam jumlah banyak berhasil dihancurkan oleh mereka.
Setelah para Wyvern menyerang pertahanan Ibukota Finier, segerombolan monster masuk ke dalamnya menyebabkan para penduduk kota yang berhamburan dilenyapkan dan dibunuh dengan keji oleh mereka.
__ADS_1
"Apakah ada cara untuk menghentikan semuanya?"
Keputusasaan dapat terlihat jelas dari tiap-tiap wajah di bangsawan lainnya.
Penyebab mereka terlihat seperti itu adalah mereka buntu dalam menemukan solusinya, baik itu cara penanganan untuk mengusir para monster dan pertahanan kota, keduanya tidak ada dalam pikiran mereka masing-masing.
Singkatnya, mereka buntu dalam kondisi terdesak.
Para Ksatria Kerajaan yang dikirim dari berbagai kota dan kerajaan, mereka semua tidak dapat menangani keganasan dan amukan para monster yang menyerang kota bagian barat.
Kebanyakan dari para Ksatria Kerajaan yang melakukan pertahanan, mereka dihancurkan oleh segerombolan monster yang membuat tubuh mereka tak utuh ketika mereka telah tiada.
Di dalam bukit yang cukup jauh, sosok pria terbang melintasi langit malam yang terang akan cahaya bulan yang indah.
Cepat atau lambat, kalian akan tiada.
Hanya itu yang ada dalam pikirannya.
Selama kemenangan berhasil diraihnya, dia tetap akan melanjutkan teror mengerikan dan menakutkan terhadap siapapun yang ada di Ibukota Finier maupun kota-kota berikutnya yang akan menjadi target penyerangannya.
•••••
Regard POV
Sejak tiga hari berlalu, misi berhasil kami selesaikan.
Memang terdengar membosankan untuk dilakukan, tapi setidaknya cukup untuk mengganti suasana yang ada di sekitar menjadi berbeda dari biasanya.
Yah, aku tahu bahwa perkataan itu bohong.
Fakta aku menghabiskan banyak waktu untuk eksperimen berbagai macam kemampuan dan sihir yang dituangkan ke dalamnya, aku takjub pada beberapa fungsi dari beberapa hal yang mampu digabungkan.
Secara keseluruhan, aku mulai mengerti atas apa yang diperlukan dan tidak diperlukan.
Dengan kata lain, aku telah melihat garis besar kekuatan dan kemampuan yang melebihi batas wajar dari setiap mahluk yang ada. Jauh lebih kuat dan hebat dari class aku sendiri, Necromancer.
"....."
Di tengah keramaian penduduk yang ada di pusat kota, mereka bersorak pada apa yang ada di depan, mengeluh atas sesuatu yang tidak aku ketahui penyebabnya.
Apakah para bangsawan berbuat ulah?
Setahuku, para bangsawan yang selama ini beroperasi di malam hari, kebanyakan dari mereka tidak dapat dipercaya maupun jujur untuk dianggap sebagai orang baik.
Perbudakan Demi-human, penjarahan barang-barang ilegal, penyeludupan, serta pemerasan seringkali dilakukan oleh orang-orang suruhan mereka dalam mengatasi pekerjaannya dengan tangan bersih di diri mereka masing-masing.
Hasilnya sudah jelas.
"Permisi..."
"Ya."
Dibalik kerumunan yang membelah membiarkan seorang gadis berambut putih berjalan membawa kudanya di sisinya, tersenyum dan mendekat padaku.
Apakah dia ada keperluan denganku?
Melihat ke belakang, aku tidak menemukan siapapun, terkecuali diriku seorang yang sedang dilihatnya.
"Apakah kau ada keperluan denganku?"
"Ya."
Mengelus-elus kudanya, gadis itu yang mengalihkan pandangannya kearah aku, mengeluarkan pedangnya yang tersingkap yang diulurkan ke arahku seolah-olah dia ingin melakukan sesuatu.

"Maukah kamu duel denganku?"
"Duel?"
"Ya."
Jujur saja aku tidak mau melakukannya, tapi mata dari gadis itu tersirat semangat membara di dalamnya jadi aku tidak tega untuk menolaknya.
"Baiklah. Tapi, jangan berharap banyak padaku, orang yang lemah."
"Tentu."
Mengalihkan pandangannya ke dalam kerumunan, beberapa ksatria wanita yang menunggangi kuda berjalan pelan mendekati kami.
"Apakah kalian mendengarnya?"
"Ya."
"Kapan kita akan melakukannya?"
"Esok pagi di alun-alun kota."
Esok pagi ya.
__ADS_1
Aku tidak tahu apakah menyia-nyiakan kesempatan akan dianggap baik atau tidak, aku kurang yakin.
Selama aku tidur cukup di malam hari dan membiarkan mereka menjalani tugasnya sebagai The Necromancer, aku tidak perlu khawatir atas keamanan Kota Resihei di malam hari.
Tapi, ada sesuatu yang mengusik ketenangan aku.
Gadis itu... aku tidak mengenalnya sama sekali.
Dilihat dari seluruh penampilannya, dia adalah gadis ideal. Berambut putih panjang, parasnya yang cantik, sepasang mata berwarna biru langit, dan bertubuh ideal layaknya idola benar-benar membuat siapapun terpaku pada penampilannya.
Sudahlah.
Cepat atau lambat, aku akan menyerah pada pertandingan nanti.
Menang atau kalah, aku tidak peduli.
Selama aku bisa menyembunyikan identitas aku sebagai seorang Necromancer, orang-orang tidak akan bisa mengetahui kenyataan yang ada selama ini.
Tak hanya mereka, kerajaan-kerajaan lainnya akan tetap diam tanpa mengetahui apapun tentang diriku jadi aman untuk aku bergerak di belakang layar dalam menunjukkan kemampuan dan kekuatan aku pada mereka.
•••••
Di sepanjang jalan, Regard memperhatikan banyak Ksatria Kerajaan yang datang di Kota Resihei yang bersiaga di beberapa tempat yang dia lihat.
Kebanyakan dari mereka bersama pasukannya sedang berbicara tentang sesuatu yang tidak Regard ketahui.
Apakah ada masalah baru?
Tidak dapat mengerti apapun, Regard secara acuh berjalan kembali.
"Tunggu sebentar, Nak!"
"Hmmm...."
Langkah kakinya terhenti tepat ketika seseorang memanggilnya.
Perlahan-lahan orang itu mendekati Regard.
Dilihat dari tampilan keseluruhan, dia adalah seorang pria berwajah tampan dengan rambut panjang yang diikat dan disisir rapih ke sisi kanan. Dia juga mengenakan zirah lengkap di tubuhnya dengan warna perak, dan terdapat pedang berukuran besar yang berada di punggungnya, beserta perisai berbentuk persegi panjang yang memiliki tampilan unik di dalamnya.
"Apakah kau adalah Regard Arthen?"
"Ya."
Wajah pria itu yang terlihat lega membuat Regard kebingungan.
Apa ada sesuatu yang ingin disampaikannya?
Tidak dapat memahami apapun, dia hanya bisa berasumsi bahwa dirinya dianggap sebagai seorang pendosa yang Regard sendiri tidak tahu atas salah apa orang-orang menuduhnya seperti itu.
Selama dia bergerak di malam hari dan jauh dari hadapan publik dalam menunjukkan jati dirinya sebagai seorang Necromancer, mereka tidak tahu atas dosa yang diperbuatnya selama ini.
"Berhati-hatilah, Nak. Wanita yang bertemu denganmu sebelumnya adalah seorang ksatria terhebat dalam memainkan pedangnya."
"Ksatria terhebat?"
"Ya. Dia adalah Liliana Lauren, seorang Ketua Pasukan di pasukan khusus dari Kerajaan Minra."
"Pasukan khusus?"
"Ya. Konon katanya, Ketua Liliana adalah murid dari ksatria hebat yang bernama Veru Sukijane."
Veru Sukijane? Itu adalah nama Paman Veru bukan?
Tidak dapat menahan keterkejutannya, Regard yang awalnya bersikap tenang mulai berubah. Tubuhnya yang gemetar, senyum yang menghiasi wajahnya, serta instingnya yang berkata pada dirinya ini adalah kesempatan yang bagus membuat dia yakin bahwa ini pertemuan yang tidak disengaja.
Dia dan Liliana, keduanya adalah orang yang diajarkan teknik pedang oleh orang yang sama, Veru.
Itulah mengapa Regard bisa senang atas informasinya tadi.
"Apakah kau mau mendengarkan peringatan dariku?"
"Ya."
Kembali ke kesadarannya, senyum yang menghiasi wajahnya sirna terganti oleh ekspresi biasa dari wajah Regard.
"Aku akan ingat atas peringatan yang kau berikan tadi padaku, Paman."
"Syukurlah kalau kau mendengarkan perkataan aku, Nak."
Selesai mengatakan itu padanya, pria itu beserta pasukan prajuritnya mulai berjalan membawa kuda yang ada di sisi mereka untuk berpatroli ke sekitar Kota Resihei.
Benar-benar aneh ya.
Melanjutkan perjalanan, Regard tidak menyangka dia akan bertemu teman satu pendidikan dalam mempelajari teknik pedang yang diajarkan Veru, guru mereka satu sama lain.
Di pikirannya, Regard ingin menganggap pertandingan di keesokan harinya untuk tidak serius dan memilih untuk kalah. Namun jauh di lubuk hati terdalam, Regard ingin mendapatkan kesempatan yang langka untuk bisa memenangkan pertandingan melawan sosok yang sama seperti dirinya.
Keduanya saling bertabrakan satu sama lain dalam dirinya sendiri.
__ADS_1
Lupakanlah. Pokoknya fokus pada apa yang akan kulakukan saat ini.
Berjalan dan mengesampingkan kepentingan di keesokan harinya, Regard menghilang dari kerumunan orang yang tidak tahu kemana dia pergi.