The Necromancer

The Necromancer
Ch. 50,4:Serangan Balik (4)


__ADS_3

"Kalian seperti biasanya ya, akrab dan terlalu dekat dengannya."


"Ya, begitulah."


Secara mengejutkan, suara yang kukenal terdengar jelas di dekat kami. Ayah dan Ibu yang menyudahi pelukannya padaku, aku menoleh ke sumber suara itu berasal, terkejut saat tahu suara itu dari sosok guru yang pernah melatihku dulu di masa lalu saat aku masih lemah dan tak berdaya.


"Bagaimana kabarmu, Bocah? Apakah kau baik-baik saja?"


Guru....


Seorang pria bertubuh kekar yang terlihat gagah dan perkasa, serta berwajah menyeramkan, dia adalah guruku, Troy, guru yang membimbing aku dalam memasang perangkap, mengajarkan aku cara bertahan hidup, serta bagaimana caranya agar aku bisa membunuh monster, dia adalah penyelamat hidupku.


"Kau benar-benar terlihat keren ya."


"Benarkah?"


"Ya. Dilihat dari tubuhmu, kau terlihat biasa. Tapi di sisi lain, kau terlihat menyeramkan dan menakutkan dari mana milikmu."


Dia benar-benar mampu merasakannya ya.


Sungguh luar biasa, Guruku. Dia tidak hanya hebat dari segi fisik dan kekuatan, dia juga mampu merasakan mana dalam jumlah banyak di tubuh seseorang, termasuk aku, aku takjub pada kelebihannya dalam merasakannya.


"Cepat kemari!"


"Jangan lari jauh-jauh, nanti kalian terjatuh!"


Suara ini...


Melihat ke arah belakang, terlihat kerumunan elf yang sedang bermain-main bersama teman-temannya, baik itu elf wanita, elf pria, serta kanak-kanak, mereka terlihat senang saat berlari-larian.


Terutama pada elf anak-anak, mereka selalu diperingatkan oleh elf wanita dan elf pria yang mengejar mereka untuk menghentikan larinya, mereka benar-benar terlihat senang tanpa ada beban yang terlihat jelas di wajah mereka.


Ya ampun. Benar-benar nikmat sekali untuk dilihat.


"Sepertinya kau terlihat menyukai suasana yang ada di sekitar mereka ya, Bocah."


"Ya. Tidak ada penyesalan, kebencian, dendam, keputusasaan, aku tidak melihatnya di wajah mereka."


Seandainya aku sama seperti mereka, mungkin aku sudah sejak lama berakhir terlebih dahulu tanpa dapat hidup seperti diriku yang baru. Tapi meskipun aku iri atas beban mereka yang sirna dari diri mereka, aku tetap bersyukur karena masih bisa menikmati hidup lebih lama lagi.


Menikmati hidup dengan caraku sendiri, Paman Veru yang memberikan aku arti dari kemanusiaan yang mampu menolong sesama maupun ras yang berbeda, aku turut senang atas kebaikan yang aku tanam di dunia ini selama hidupku.


"Kenapa kau terlihat sedih, Nak?"


Sedih?


"Ah..."


Secara tidak terduga, aku mengeluarkan air mata yang telah aku seka oleh jariku, aku benar-benar terlihat bahagia dalam kesedihan yang mendalam atas diberikan kehidupan lebih lama dari mereka semua.


"Aku... aku senang telah menanam kebaikan pada siapapun yang membutuhkan bantuan."


Baik itu Shilphonia dan Stephani, aku telah membebaskan mereka dari belenggu yang mengurung mereka selama ini di dalam Reruntuhan Sylvia. Friya yang awalnya salah paham yang hampir tiada karena kesalahan Shilphonia, aku berhasil mengembalikan dirinya menjadi hidup. Reita yang mengamuk karena telah kehilangan seorang kakak yang berharga untuknya, aku rela dipanggil kakak baru olehnya dan dia yang menjadi adikku, aku sengaja membiarkan peranku penting untuknya.


Fuuya yang awalnya membenci manusia, aku benar-benar mencoba menyadarkannya bahwa manusia tidaklah buruk dan jahat di matanya, ia perlahan-lahan berubah menjadi percaya dan peduli terhadap rekan-rekannya seperti; Shilph, Friya, Reita dan Sasaki, ia mulai membuka hatinya untuk siapapun yang ada di dekatnya meskipun dia masih terlalu dekat denganku.


Dan Sasaki, aku pikir dia adalah seorang Demi-human yang diperbudak secara kasar dan buruk oleh pemilik restoran, dia ternyata memiliki garis keturunan dari Goddess of Wolf, ia yang memiliki mana yang rumit di dalam tubuhnya benar-benar membuatnya berbeda dari kepribadian lamanya dan baru.


Aku juga menghidupkan Sasaki dari kematian, serta mengubah penampilannya menjadi kepribadian yang baru, dia benar-benar manja terhadapku.


Apalagi aku telah menyelamatkan banyak nyawa yang dikendalikan oleh Fuzikumibaru, mereka yang terdiri dari ras; Vampir, Gadis Iblis, Bertubuh Besi, Palu Petir, serta Ahli Racun, mereka adalah orang-orang yang tidak dapat disembuhkan dari penyakit permanen yang diberikan Fuzikumibaru, Marionette Makhluk Hidup, mereka menjalani hari-harinya seperti boneka; dikendalikan dan mematuhi perintah tuannya, aku berhasil membuat mereka kembali menjadi makhluk hidup dan mengurus kehidupan mereka masing-masing.


"Pada akhirnya, semua yang kulakukan selama ini telah memberikan manfaat bagi banyak orang."


"Bukankah itu bagus?"


Aduh. Sakit sekali.


Bisakah kau berhenti memukulku dengan keras, Guru? Aku sudah dewasa jadi jangan memperlakukan aku seperti anak kecil lagi.

__ADS_1


"Kau yang memanfaatkan kekuatan dan kemampuan yang kau miliki untuk kebajikan, mereka benar-benar bahagia telah memiliki teman sepertimu. Bahkan untukku, Gurumu sendiri, aku bangga atas prestasi yang dimiliki oleh murid aku dalam membantu dan menolong mereka yang membutuhkan bantuan."


Guru benar.


Jika aku tidak memanfaatkan class Necromancer untuk kebaikan, aku sudah lama terjebak dalam kegelapan, berakhir menjadi seorang penyendiri, pendendam, serta bekerjasama dengan iblis, semua itu adalah jalan yang aku pilih jika aku tidak bertemu dengan Paman Veru.


"Sudah waktunya kamu pergi, Nak!"


"Ibumu benar. Kau tidak seharusnya menetap di alam ini bersama kami."


Apa maksudmu, Ayah, Ibu? Bukankah seharusnya aku bersama kalian, serta para penduduk desa dan para petualang? Mengapa aku tidak diperbolehkan untuk bersama kalian?


"Karena kau belum tiada, kau tidak bisa membiarkan dirimu menetap lebih lama karena kau akan merusak keseimbangan dunia."


Suara siapa ini?


"Tu-tunggu, Ayah, Ibu! Jangan tinggalkan aku!"


Sebelum dapat berlari dan menggapai ke arah mereka, mereka yang memberikan senyuman hangat padaku, seluruh area di sekitar perlahan-lahan berubah menjadi gelap yang mengecil lalu sirna, aku tidak melihat apapun di dekatku.


"Sekarang kau sudah dapat kembali ke tubuhmu, Nak! Ingat, jangan bicarakan apapun tentang alam kematian terhadap siapapun karena kau akan dianggap sebagai makhluk yang menentang batasan hukum!"


Tepat setelah kata-kata itu berhenti, cahaya menyilaukan memenuhi pandanganku. Saking silaunya, aku menutup kedua tanganku di depan mata, aku tidak tahu apakah aku benar-benar dikembalikan ke tubuhku atau tidak, aku hanya bisa diam sambil mengetahui apa yang terjadi nantinya.


•••••


"Ah... dia telah sadar."


"Ibu!"


Ibu?


Tidak dapat memahami apa yang sebenarnya terjadi padanya, Regard yang baru siuman terbangun dari tidurnya, menatap ke sekitar gadis yang mengelilingi mereka, mereka memberikan senyuman hangat padanya.


"Syukurlah jika Ibu baik-baik saja! Kupikir akan kehilangan dirimu, tapi kamu baik-baik saja, Bu."


Hanya memiringkan kepalanya, ekspresi Regard semakin bingung dengan kata-kata Fuuya yang tidak dapat dipahami.


"Sigh... kamu benar-benar terlihat menyedihkan dalam penampilan seperti itu ya, Regard."


"Tidak, dia terlihat cocok untuk penampilannya seperti sekarang."


Pandangannya yang mengarah pada Stephani yang menghela nafas panjang yang terasa berat, ekspresinya terlihat frustasi atas penampilan Regard yang berubah, Reita justru sebaliknya. Dia merasa kalau Regard yang berubah seperti sekarang justru terlihat lebih baik daripada dirinya yang lama, ia jadi tidak perlu menghormatinya sebagai seorang kakak melainkan temannya.


"Apa yang sedang kalian...."


Suaraku... kenapa suaraku terdengar kecil dan tinggi?


Masih dalam kebingungan yang sama, kedua lengan Regard yang memegang tenggorokannya mencoba untuk mengucapkan huruf-huruf yang diketahuinya dengan pelan.


Seperti yang diduganya, suaranya yang menetap kecil dan tinggi, itu bukanlah suara aslinya. Merenung sejenak atas apa yang terjadi, satu-satunya yang tersirat dalam benaknya adalah apakah dia mengalami kecelakaan pada tenggorokan dan pita suaranya usai menghadapi Stahark, Regard tidak tahu dengan pasti sebelum memastikannya sendiri.


"Kamu bisa bingung ya. Ini, lihatlah dirimu di dalam cermin yang sengaja aku buatkan untukmu."


Sedari tadi Friya yang terdiam tanpa mengatakan beberapa kalimat bersyukur pada Regard, ia telah menciptakan cermin dari Earth Magic dan Crystal Mirror yang diletakkan di permukaan tanah yang berubah menjadi batu, pandangan Regard terkejut atas penampilan barunya yang dilihatnya.


Wajahnya yang putih yang cantik dan indah, sepasang mata berwarna perak seperti salju, berambut panjang dengan warna biru tua, tidak ada pakaian apapun yang dikenakan oleh tubuhnya melainkan hanya selimut coklat tua yang menutupi tubuhnya, sepasang payudara yang terlihat besar menghalangi pandangannya dalam melihat tubuh bagian bawah dari dadanya hingga pinggang.


"Aku... aku berubah menjadi seperti Fuuya!?"


"Ya, begitulah."


Ditengah kebingungan yang melanda dirinya, Nek Ryadu yang berjalan masuk diantara mereka berlima, ia berhenti tepat di sisi kasur, menatap serius pada Regard yang membutuhkan jawabannya, ia berniat menjelaskannya dengan jelas padanya agar ia dapat memahami apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhnya.


"Sebelumnya kamu telah kembali ke bentuk semula, bentuk manusia milikmu, tapi saat kamu beristirahat selama 15 menit, tubuhmu tiba-tiba berubah menjadi seperti ini, aku terkejut atas perubahan mendadak dari penampilan yang kamu miliki jadi aku menutup bagian tubuhmu agar kamu tidak melakukan hal senonoh pada tubuhmu sendiri."


"....."


Sebelum dapat mengatakan apapun, Nek Ryadu yang memperkirakan bahwa Regard akan bertindak senonoh pada tubuhnya, Regard tidak dapat mengatakan apapun melainkan hanya tersenyum pahit saat mendengar kenyataan dari kata-katanya tadi.

__ADS_1


"Kenapa aku bisa jadi seperti ini?"


Memandang tubuhnya yang terselimuti selimut berwarna coklat tua, Regard masih tidak dapat memahami atas apa yang terjadi pada tubuhnya.


Menurutnya, ia yang telah berada di tingkat Lord of Necromancer tidak mungkin mengalami hal seperti ini pada tubuhnya. Apalagi berkat bantuan dari [Infinity Spirit] milik Shigase Kuma, Regard yakin kalau ia tidak mengalami masalah apapun saat menggunakan [Fenrir Mode] yang dapat membuat tubuhnya bertahan dalam wujud Fenrir sama seperti Fuuya sebelumnya, hal seperti itu tidak masuk akal jika itu benar-benar terjadi.


"Tampaknya kamu terlalu berlebihan dalam menggunakan kemampuan dan kekuatan yang kamu miliki dalam pertarungan sebelumnya."


"Ya, kurasa begitu."


Bahkan saat Regard mencoba untuk merasakan mana di dalam tubuhnya, hanya ada kobaran api berwarna ungu yang tipis di dalam tubuhnya yang terlihat redup pada pencahayaannya, itu benar-benar sulit untuk dianggap sebagai mana dalam jumlah banyak oleh Regard.


"Sepertinya kamu harus menetap di tubuh itu untuk sementara waktu, Tuan."


"Ya, kau benar."


Terdiam sejenak saat mendengar perkataan dari Sasaki yang terlihat sedikit lebih dewasa dan bijak, pandangan Regard teralihkan dari tubuhnya mengarah pada Sasaki, ia terkejut saat tahu kalau Sasaki masih belum sadar melainkan Goddess of Wolf-lah yang mengendalikan tubuhnya.


"Mulai hari ini dan seterusnya, bisakah aku memanggilmu dengan nama baru?"


"Nama baru?"


Mendengar masukan yang masuk akal dari Sasaki, Regard menyilang kedua lengannya di dada, berpikir sejenak atas nama baru yang harus dimilikinya mulai sekarang hingga tubuhnya kembali seperti semula dari efek yang dihasilkan dari penggunaan [Fenrir Mode], ia harus bertahan sebisa mungkin terhadap tubuh barunya dan beradaptasi secepat mungkin agar dapat menjalani hari-harinya yang biasa tanpa melakukan hal senonoh pada tubuhnya.


"Bagaimana kalau kamu menjadi Ibuku saja, Bu? Kamu dan aku sangat mirip jadi orang-orang akan berpikir aku adalah anakmu."


"Ugh...."


Secara terus terang, Regard keberatan dengan perkataan terus terang dari Fuuya tentang kekeluargaan palsu yang akan dijalinnya selama ia dalam penampilan yang serupa sepertinya, tapi karena sebagian perkataannya ada masuk akal, Regard hanya beranggapan bahwa orang-orang mungkin akan memakluminya karena dia dan Fuuya memiliki penampilan yang serupa untuk dikatakan sebagai Anak dan Ibu.


"Anak dan Ibu ya."


"Tu-tunggu, Stephani... tahan amarahmu sejenak!"


Stephani yang sedari tadi diam mendengar percakapan mereka berdua, ia dengan segera merangkul pangkal leher Regard, mendekatkan wajahnya dengan wajah Regard, ia menyunggingkan senyuman yang mempesona seolah-olah mencoba untuk menggodanya.


"Jika kamu bisa menjadikan Regard sebagai Ibumu maka aku akan jadikan ia sebagai sepupu angkat aku."


"Sepupu angkat!?"


Serentak ketiga gadis lainnya yang tercengang mendengarnya, memelototi Stephani yang berpikir kalau ia telah mengambil langkah awal dari kedekatan yang dimulainya dari tubuh dan penampilan baru Regard.


Reita yang mengerang dalam diam, ia tidak terima atas kata-kata Stephani yang menganggap Regard sebagai sepupu angkatnya, ia dengan cekatan menarik lengan kanan Regard, menyandarkannya di wajahnya, tersenyum pada Stephani dan membalas kata-katanya tadi.


"Aku akan anggap Regard sebagai Ibu Angkat lebih dari dirimu."


"Ibu angkat!?"


Friya yang kebingungan atas kata-kata Reita yang berterus-terang tanpa berbohong pada mereka, berpikir kalau dia juga harus mengambil tindakan.


Semua jerih payahnya dalam menangani kasus yang dilakukan oleh Stahark sudah usai, Friya berniat untuk mengikuti saran yang diberikan Nek Ryadu sebelumnya padanya, ia ingin memfokuskan diri pada orang yang dicintainya yang telah menyelamatkan para elf, Friya ingin melakukannya sebagai balas budi yang tidak terhitung jumlahnya atas kebaikan orang tersebut.


"Jika Reita menganggapnya seperti itu maka aku akan anggap Regard sebagai saudariku."


"Whoa!"


Regard yang dikejutkan dengan tindakan Friya yang agresif melebihi tindakan dan sikapnya yang biasanya terlihat tenang merasa bingung.


Apalagi dengan tubuh Friya yang didorong ke belakang punggung Regard, sepasang payudara yang kenyal terasa jelas di tubuhnya yang menghimpit tubuhnya, itu benar-benar tidak dapat ditahan olehnya.


Sementara Nek Ryadu berada di kejauhan, ia hanya memberikan jempol tangan kanannya pada Friya, wajahnya yang terisak menangis menandakan kalau ia terlihat seperti orang tua yang rela membiarkan anak-anaknya tumbuh.


"Saudarimu ya."


Tidak terkejut atas semua gadis yang mengklaim sebagai orang terdekat Regard di penampilan barunya, lipatan kipas yang terbuka sebelumnya yang menutupi mulutnya tertutup, memperlihatkan senyum penuh makna di wajahnya, Sasaki memperlihatkan senyum yang tidak terima kalau hanya ia yang tertinggal.


"Aku akan pilih sebagai rekan aku di bordir dulu."


"....."

__ADS_1


Regard yang hanya bisa terdiam, meratapi nasibnya yang diharuskan menjalani hari-hari yang lebih sulit dari biasanya, ia sebisa mungkin menahan antusiasme yang tinggi dari teman-temannya saat bersamanya, hatinya ingin semua itu kelar secepat mungkin hingga dia kembali ke penampilan semulanya.


__ADS_2