The Necromancer

The Necromancer
Ch. 44,3:Pertemuan Tak Disengaja (3)


__ADS_3

"Kami pergi dulu ya, Friya, Shilph."


"Ya. Berhati-hatilah terhadap Stahark."


"Tentu."


Setelah aku menjelaskan pada mereka tentang Stahark yang kutemui sebelumnya, mereka mendengarkannya dengan baik.


Masalah Stahark yang tiba-tiba datang dengan menemui aku, mereka mengatakan kalau itu terjadi karena dia ingin membicarakan sesuatu padaku, tapi siapa sangka aku menolaknya, ia tidak punya pilihan lain untuk menjadikan aku sebagai musuh.


Apapun yang terjadi padaku, aku akan membalas Stahark dan menghabisinya dengan caraku sendiri. Tidak peduli apakah aku akan membuatnya tiada atau tetap hidup, asalkan ada Necromancer, aku bisa membangkitkan ia dari kematian lalu merasakan kepedihan yang akan kulakukan terhadapnya.


Itulah tujuanku pada awalnya.


"Kalian siap?"


"Ya."


"Tentu."


"Siap."


Kami bertiga memasuki ruangan yang dipenuhi dengan banyak pengunjung yang menikmati menu-menu di restoran ini.


Aku tidak mengira kalau di pagi hari, kami harus melayani banyak pengunjung yang datang untuk makan dan minum di pagi hari, tapi jika kami menolaknya maka upah yang diberikan akan dibatalkan di misi yang diberikan olehnya.


Benar-benar deh. Tidak ada jalan untuk mundur.


•••••


Di tengah kesibukan para pelayan restoran, Regard yang menyajikan desert terlebih dahulu kepada pengunjung restoran membiarkan mereka menikmati hidangan pembuka lalu membiarkan temannya, Fuuya yang membawa menu yang mereka pesan diletakkan di meja masing-masing.


Reita yang berperan sebagai pencatat menu yang mereka pesan melakukan pekerjaannya dengan baik tanpa kesulitan sedikitpun, membuatnya benar-benar terlihat profesional. Begitupun Sasaki, dia mengerjakan tugas kebersihan dengan mudah tanpa kesulitan pada meja, lantai, jendela, semua dibersihkan dengan kinclong olehnya.


"Hari ini lebih banyak ya."


"Ya, kau benar."


Mengamati para pengunjung yang sedang menikmati makanan dan minuman yang mereka miliki, Regard dan Fuuya yang sedang berdiri di dekat meja kasir, tersenyum pada mereka yang tidak ada keluhan apapun mengenai salah pesanan atau kesalahan dalam melakukan porsinya.


"Regard, bisakah kamu melayani meja dekat jendela di bagian sudut kanan?"


"Baik."


Mendengar perintah Reita, Regard yang mengeluarkan selipan catatan dari balik saku seragam putih di dalam almamater membawanya sambil berjalan ke arah meja.


Di meja tempat seorang gadis berambut putih panjang sedang mengalihkan pandangannya ke jendela, mengamati suasana yang ada diluar di Kota Lien.


"Permisi, apakah ada yang ingin anda pesan, Nona?"


"Ya. Saya ingin memesan... kenapa kamu ada di sini?"


"Kau...."


Secara mengejutkan bagi mereka, kehadiran orang yang tidak mereka inginkan ada di depan mereka.


Mulai dari Regard, ia tidak menyangka kalau pertemuannya dengan Liliana akan berakhir di tempat ia bekerja sekarang. Liliana juga sama, ia tidak menyangka kalau teman seperguruannya bisa bertemu dengannya sekarang yang membuat wajahnya terlihat kesal dan frustrasi.


"Bagaimana bisa kau berada di restoran ini?"


"Aku yang seharusnya bertanya seperti itu padamu, Arthen."


Liliana yang mengalihkan pandangannya ke jendela, menyilang kedua tangannya di dada dan mengembangkan pipinya yang tidak mau membicarakan apapun benar-benar membuat Regard mendesah pelan, berpikir kalau ia harus menjawabnya terlebih dahulu.


"Aku sedang melakukan misi sekarang."


"Misi?"


"Ya."


Disodorkan selembar kertas bertuliskan misi yang diambil Regard, Fuuya, Sasaki, dan Reita, mereka berempat sengaja mengambilnya karena berpikir kalau itu adalah misi yang unik. Tapi mereka sendiri tidak menyangka kalau misi yang mereka ambil ternyata cukup melelahkan, membuat Regard benar-benar tidak tahu harus bagaimana mengatakannya pada mereka.

__ADS_1


Walaupun Regard benar-benar memiliki pengalaman kerja yang lebih keras dari kehidupan sebelumnya, ia tetap tidak tahu bagaimana cara melayani, menyajikan, dan membiarkan menu-menu yang dipesan oleh mereka dapat dinikmati sepenuh hati tanpa komplain sedikitpun.


Bahkan saat hari dimana mereka masuk bekerja, mereka diberikan pelatihan oleh Ruslan, pemilik restoran yang mereka kerjakan untuk menghadapi berbagai situasi yang harus mereka tangani sendiri. Itulah sebabnya Regard mampu menanganinya karena ingatannya benar-benar kuat dalam mengingat berbagai hal yang ada.


Liliana yang melihatnya dan membacanya, meletakkan selembar kertas yang diberikan Regard di meja, tersenyum padanya. Senyumnya bisa dikatakan sebagai ejekan atas apa yang dilakukannya sekarang benar-benar terlihat tidak seperti petualang pada umumnya.


"Kau sendiri sedang apa, No–"


"Liliana! Panggil saja aku Liliana, paham?"


"Baiklah. Apa yang sedang kau lakukan di Kota Lien, Liliana?"


Dengan bangga mendengar Regard memanggil namanya, ekspresinya benar-benar terlihat memuaskan atas panggilan tadi.


Berbeda dengan perlakuan di prajurit yang dimilikinya, Liliana benar-benar kecewa dan frustrasi atas panggilan mereka terhadapnya yang memanggilnya Nona, padahal Liliana ingin mereka memanggilnya dengan namanya, tapi mereka tetap tidak mau menuruti permintaannya.


"Aku sedang berlibur sekarang bersama pasukan aku."


"Berlibur?"


"Ya. Setidaknya saat ini, aku tidak tahu apakah kami benar-benar sedang berlibur atau tidak."


Dialihkan pandangannya ke jendela, Regard yang mengikutinya melihat orang-orang di Kota Lien sedang berlalu-lalang di tengah keramaian yang ada.


"Mungkinkah kau sedang menyelidiki tentang kasus dimana orang-orang di kota menghilang?"


"Ara... kamu cukup tahu banyak hal ya. Yah, kurang lebih seperti itu."


Menurut Regard, tindakan Liliana benar-benar patut dipuji sebagai seorang ksatria kerajaan. Tapi apa yang membuatnya cemas dan khawatir bukanlah mengenai tindakannya melainkan sesuatu yang dapat membuat Liliana tidak akan bisa selamat hidup-hidup dari Stahark, monster yang mematikan yang ditemuinya semalam.


"Bisakah kalian menghentikan penyelidikannya?"


"Apa maksudmu?"


"Maksudku ialah Kota Lien sedang dalam masalah sekarang. Jika kalian bertindak gegabah, kalian akan mendapatkan resiko yang lebih buruk dari sebelumnya."


"Resiko?"


"Ya."


Ekspresi sedih yang diperlihatkannya, Liliana benar-benar tercengang diam saat tahu itu adalah ekspresi yang benar-benar tulus tanpa dimainkan oleh Regard terhadapnya.


"Apakah kamu yakin kami harus membatalkannya?"


"Ya. Aku ingin kalian membatalkannya karena aku tidak ingin kalian terlibat terlalu jauh dalam masalah kali ini, biarkan kami saja yang mengurusnya."


"Kalian?"


"Ya. Ini dia."


Regard yang mengambil kartu nama dari dalam saku celana, meletakkannya di meja dan menyodorkannya pada Liliana untuk diambil dan dibacanya.


Liliana yang melihat kartu disodorkan di meja olehnya, mengambilnya dan membacanya.


"I-ini... mungkinkah kalian adalah..."


"Tidak. Sejauh ini bukan kami pelakunya, satu-satunya pelaku ialah Stahark, kau tahu monster itu bukan?"


"Cih... Stahark ya."


Mendecih kesal atas kehadiran sosok yang lebih kuat, Liliana menggaruk rambutnya, tidak tahu harus bagaimana ia menindaklanjuti semua yang terjadi sekarang.


Menurut Liliana, jika dia bertindak sesuai keinginannya untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, Stahark tidak akan tinggal diam yang dapat menghancurkan seluruh pasukan yang dibawanya beserta dirinya sendiri, Liliana tidak ingin hal itu terjadi lagi.


"Baiklah, aku akan mengandalkan kalian untuk saat ini. Tapi sebelum kami pergi, aku ingin menanyakan sesuatu padamu, Arthen. Apakah kamu bisa meluangkan waktu untukku?"


"Ya. Jam istirahat yang kumiliki berada di siang hari, kau bisa datang kemari kapanpun kau ingin bertemu denganku."


"Baiklah."


Beranjak dari duduknya, senyum menghiasi bibirnya yang diarahkan pada Regard lalu pergi meninggalkan ia sendirian melalui pintu restoran.

__ADS_1


Regard yang memahami tindakannya, berpikir ini akan menjadi masalah baru baginya untuk menjelaskan apapun yang ingin diketahui oleh Liliana terhadap apa yang dia bentuk selama ini.


Secara keseluruhan, Regard dapat memahami situasinya sekarang. Apalagi setelah ia memberikan kartu nama bertuliskan "The Necromancer", dia yakin kalau Liliana akan tercengang dan memiliki banyak pertanyaan padanya nanti jadi Regard siap untuk memberikan jawaban apapun yang diinginkannya.


Biar bagaimanapun, Regard berpikir kalau Liliana harus mengetahuinya cepat atau lambat setelah mereka berdua, Veru dan Kanae mengetahui identitas aslinya.


•••••


Regard POV


"Jadi, apa yang ingin kau tanyakan padaku?"


Diluar belakang pintu restoran, aku dan Liliana saling berhadapan satu sama lain.


Liliana yang menyilang kedua tangannya di dada, menatapku dengan tajam seolah-olah dia ingin mencoba mengintimidasi aku dengan pertanyaan yang akan disampaikannya.


Sayangnya hal itu tidak akan bisa dia lakukan. Terlepas dari aku yang memiliki kekuatan mutlak, aku tidak tahu atas intimidasi yang dipancarkan oleh orang lain.


"Aku ingin tahu apakah kamu yang telah menyelamatkan banyak nyawa di Kota Fiasfa?"


"Ya, kau benar."


"Aku mengerti."


Sejauh yang Liliana ketahui, orang yang menyelamatkan Kota Fiasfa dari ancaman kawanan Wyvern yang terbang di langit-langit sangat mustahil dilakukan jika itu orang biasa, sebaliknya, jika orang itu kuat maka Liliana bisa memakluminya.


Hanya saja satu hal yang masih belum diketahuinya adalah bagaimana bisa orang seperti Regard dapat menyelamatkan mereka dengan mudah, sedangkan Liliana sendiri yakin kalau saat bertanding pedang melawannya, Regard tidak mengeluarkan apapun dari tekniknya dalam menghadapinya.


"Bolehkah aku tanya beberapa hal?"


"Ya. Silahkan!"


Mendapatkan perlakuan istimewa dari Regard yang sengaja membiarkan Liliana mengetahui apapun yang ingin diketahuinya, Liliana tersenyum pada kebaikannya.


Sayangnya senyum yang diperlihatkannya berubah menjadi serius ketika Liliana memejamkan matanya, menatap pada Regard yang terlihat santai menanggapi pertanyaan sebelumnya darinya.


"Siapa kamu sebenarnya, Arthen? Apakah kamu benar-benar seorang manusia biasa? Kenapa kamu tidak serius dalam menghadapi aku sebelumnya di pertandingan satu lawan satu?"


Tercengang atas rentetan pertanyaan yang diberikan padanya, Regard terdiam sejenak, menenangkan dirinya untuk berusaha kembali ke sikap biasanya lalu batuk sejenak, ia dengan senyum di wajahnya mulai menjelaskan beberapa hal pada Liliana.


Regard mulai menjelaskan tentang apa yang terjadi padanya dan Veru sebelumnya dari awal hingga akhir, semua dijelaskannya yang membuat Liliana yang mendengarnya, terkejut dalam diam atas apa yang dialami Regard bersama Veru, guru dalam berlatih pedang.


Liliana juga terkejut saat mengetahui bahwa Regard sama sekali tidak berniat menyakiti orang lain karena tugasnya hanyalah melindungi orang, membantu mereka dari berbagai masalah yang ada, Regard akan menghabisi orang-orang jahat dengan caranya sendiri.


"Jika kau memang berniat untuk berhenti menyelidiki tentang hilangnya orang-orang di Kota Lien, aku ingin kau segera meninggalkannya."


Regard yang berjalan dan terhenti di sisi Liliana, Liliana hanya bisa menggantungkan kepalanya, merenungkan berbagai macam hal yang tidak diketahuinya tentang alasan mengapa Regard menyuruhnya untuk pergi meninggalkan Kota Lien dengan segera.


"Aku tahu ini berat untukmu, tapi ketahuilah kalau aku sengaja melakukan ini agar kalian tidak mengalami hal serupa seperti yang terjadi pada orang-orang di Kota Lien."


"Mengalami hal serupa? Apa maksudmu?"


Mendengar perkataannya, Liliana yang terkejut buru-buru memegang kerah kemeja yang dikenakannya, menatapnya dengan penuh kekesalan karena ia masih membutuhkan jawaban yang sesuai dengan keinginannya.


"Aku tidak ingin kalian mati dan menghilang dari kota ini, itulah mengapa aku menyuruh kalian segera meninggalkan kota ini."


"Mati? Mungkinkah mereka..."


"Ya, begitulah."


Dengan senyum dan ekspresi penuh kesedihan yang terlihat di wajahnya, Liliana yang memperhatikannya berpikir kalau Regard mengalami hal-hal sulit melebihi perkiraannya sendiri.


Awalnya Liliana berpikir kalau Regard hanya anak nakal yang selalu bersikap sombong karena telah diperlakukan khusus oleh Veru, gurunya sendiri, tapi karena ia baru mengetahui kalau beban yang dipikul Regard terlalu berat, Liliana berpikir itu sulit baginya jika ia berada di posisi sama seperti Regard.


"Mereka yang menghilang, mereka semua telah tiada tanpa terkecuali. Dijadikan sebagai pion, melakukan apa yang sesuai Stahark perintahkan, mereka ingin menghancurkan grup buatan aku, Grup The Necromancer."


"....."


Berjalan bolak-balik di sekitar Liliana, Regard benar-benar tidak menyangka kalau rencana Stahark melakukan semuanya hanya demi menghancurkan reputasi The Necromancer yang sudah Regard bangun sejak lama.


Memang Regard tidak mengharapkan imbalan apapun dari mereka, terkecuali hadiah sebesar dua hingga empat puluh persen dari harta seluruh, Regard melakukannya sesuai dengan haknya sebagai manusia dalam menolong sesamanya.

__ADS_1


__ADS_2