The Necromancer

The Necromancer
Ch. 45,6:Menerobos Masuk (6)


__ADS_3

Di tengah-tengah keramaian yang padat oleh ras elf, beberapa ras yang terdiri dari Malaikat, Warbeast, Hu-Machina, Manusia, Elf, mereka berlima duduk di aspal yang di tengah-tengah lingkaran terdapat tumpukan kayu, api unggun yang menyala.


"Apakah ini baik-baik saja untuk menyantapnya?"


"Ya, silahkan dinikmati, Nona!"


"Baik."


Reita yang sedang bergabung dalam percakapan antara beberapa keluarga elf yang ada di Kamp Kumuh, dia tengah memegang tusukan daging di tangan kanannya yang telah matang yang siap untuk dimakannya, bertanya terlebih dahulu untuk mengetahui sejauh mana ini matang.


Apabila itu matang, satu-satunya yang perlu diperhatikan berikutnya oleh Reita adalah izin dari mereka, apakah itu pantas untuk dimakan oleh atau tidak, Reita menyantapnya saat sudah diberi izin oleh mereka.


Awalnya Reita memang ragu untuk memakan jamuan yang diberikan oleh beberapa keluarga elf yang duduk di sekitarnya, ia yang tahu kondisi para elf yang kehilangan tempat tinggal karena Stahark, monster mengerikan dan menakutkan yang sulit untuk dikalahkan oleh siapapun, tidak ingin menyia-nyiakan persediaan yang mereka simpan selama ini terbuang sia-sia.


Tapi apa daya karena dipaksa oleh kedua anak kecil elf dari kedua keluarga mereka, serta izin yang diberikan kepada Reita, terpaksa Reita menyantap makanannya dengan perlahan-lahan, merasakan rasa dari setiap gigitan daging di mulutnya.


"Bagaimana? Apakah enak?"


"Ya, ini enak sekali."


"Benarkah? Syukurlah kalau begitu."


"Hehe... ini benar-benar enak, Kakak Cantik. Ini benar-benar enak."


Salah satu anak elf yang penampilannya seperti usia 5 Tahun menurut Reita, memegang rok Reita yang disandarkan salah satu lengannya di lututnya, Reita tersenyum senang atas kehadirannya yang mengingatkan akan dirinya di masa lalu.


Masa dimana Reita selalu bermain bersama kakaknya, Kak Daffa, dia tidak pernah kesepian atas saudaranya yang telah memahami sikap dan tindakannya selama ini, Reita benar-benar bersyukur memiliki kakak kandung sepertinya di kehidupannya sebelumnya.


Bahkan kehidupan yang dijalaninya sekarang, Reita benar-benar bahagia bisa memiliki kakak tiri, Regard Arthen yang memiliki sifat dan pola pikir seperti Kak Daffa membuat ia terus-menerus mengingat momen-momen penting dalam hidupnya pada kebersamaannya bersama Regard.


Meskipun ada pengganggu seperti Fuuya, Reita yang selalu melihat gadis itu bersaing terhadap lawannya yang baru, Sasaki, Reita benar-benar iri atas kebebasan mereka dalam menyukai seseorang tanpa peduli terhadap sekitarnya.


"Ada apa, Nona?"


"Tidak ada. Aku hanya sedang memikirkan masa laluku."


"Benarkah?"


"Ya, masa dimana aku tidak memiliki apapun lagi, aku benar-benar sebatang kara waktu itu. Tapi berkatnya, aku dapat hidup seperti sekarang karena takdir telah mempertemukan kami."


Mendengar kata-kata Reita yang jujur dan berterus terang, beberapa elf yang ada di dekatnya, tersenyum, lega mendengar apa yang dikatakannya.


Selain kata-katanya yang jujur, mereka yakin kalau ekspresi yang diperlihatkan Reita pada mereka benar-benar ekspresi bahagia yang murni tanpa terlihat dipaksakan.


Di sela-sela tenda, salah seorang gadis yang sedang menempatkan beberapa daging bakar jumbo yang ada di kedua sisi, diam-diam menyantapnya dengan lahap tanpa ragu maupun sungkan.

__ADS_1


Gadis itu jauh dari keramaian dan kepadatan para elf yang sedang beraktivitas di malam hari di ruang bawah tanah, mereka sedang sibuk dengan berbagai hal yang ada; menyiapkan bahan-bahan makanan untuk dibakar dan dinikmati bersama, berbicara terhadap tamu baru, bersorak penuh kegembiraan dan kebahagiaan, serta duduk sambil memandangi langit-langit ruangan bawah tanah yang berasap, gadis itu mengabaikan semuanya.


"Ternyata kamu disini ya, Fuuya."


"Sasaki..."


Terkejut atas kehadiran saingannya, gadis berambut biru tua panjang yang menoleh ke belakang, tidak suka atas kehadirannya yang mendadak muncul di belakangnya.


Saking tidak sukanya terhadap Sasaki, Fuuya yang dengan cepat mengambil dan membawa seluruh daging jumbo di kedua sisi ke depannya, tidak membiarkan Sasaki mendapatkannya secara percuma.


"Jangan khawatir, aku tidak lapar. Aku hanya ingin menanyakan ini padamu."


"Apa yang ingin kamu tanyakan padaku?"


"Bukankah kamu sudah tahu?"


Menghela nafas panjang, Fuuya yang sedang membelakangi Sasaki memutuskan untuk saling berhadap-hadapan dan melihat dirinya.


Sasaki yang sedang terlihat serius, tidak menggambarkan kalau ia mempermainkan maupun bercanda terhadap Fuuya, sebaliknya, ada satu hal yang ingin dipastikan oleh Sasaki mengenai apa yang dilakukan oleh Fuuya sekarang.


"Mengenai pola makan yang kamu lakukan sekarang, mungkinkah kamu..."


"Ya, kamu benar. Aku sangat lapar karena aku telah mengerahkan seluruh kekuatan dan kemampuan aku sebelumnya menghadapi golem itu."


"Aku mengerti."


Biar bagaimanapun juga, satu-satunya keyakinan yang membuat Sasaki berpikir itu adalah hal wajar untuk ras Warbeast adalah pola makan mereka yang serakah dan rakus yang menyebabkan mereka memakan daging apapun di masa laparnya yang tak bisa ditahan.


Tak peduli apakah salah satu diantara mereka mampu menahannya atau tidak, menurut buku yang dibaca oleh Sasaki sebelumnya, ras Warbeast yang mencoba menahan laparnya akan tetap kehilangan kendali pada insting berburunya di alam liar yang terbuka dalam memburu mangsanya yang membuat akal sehatnya dalam berpikir menjadi tidak berfungsi.


Itulah apa yang diketahui Sasaki dari diri Fuuya.


Walaupun Sasaki menganggap Fuuya sebagai saingan, ia tidak berniat mengganggu urusan laparnya atau mempermalukannya dengan mengolok-olok dirinya, karena Sasaki tahu jika dia melakukannya maka Fuuya tidak segan-segan untuk melenyapkan nyawa Sasaki.


Sebisa mungkin Sasaki menghindari hal tersebut agar dia tidak mati untuk kedua kalinya yang dapat merepotkan tuannya, Regard nanti atas kematian dan kebangkitannya kembali.


Di dekat jembatan yang berada di atasnya, seorang gadis berambut pirang panjang sedang melamun dalam diam, merenungkan sejenak sambil memandang langit-langit ruangan yang dipenuhi dengan asap dari api unggun, wajahnya terlihat sedang mengkhawatirkan seseorang.


Aku harap dia baik-baik saja ya.


Pikirannya yang terbesit sosok yang dikenalnya yang telah menyelamatkannya sebelumnya, Shilphonia berharap kalau kedatangannya di keesokan paginya dapat tepat waktu.


Dikarenakan dia tidak ingin kehilangan si penyelamat hidupnya yang telah membebaskan dirinya dari kurungan selama berabad-abad, keinginan Shilphonia adalah dia dan Regard bisa bertemu untuk dapat menyelesaikan masalah ini secepatnya.


Jika tidak tepat waktu, Shilphonia mungkin akan sama seperti dirinya di masa lalu yang tertelan oleh kegelapan. Tertelan oleh kegelapan yang mendalam yang membuatnya berubah menjadi Stephani, sebisa mungkin Shilphonia ingin menghindarinya karena dia tidak mau menyakiti siapapun yang ada di dekatnya, bahkan teman-temannya sendiri.

__ADS_1


"Bagaimana acara pesta yang kami buat, Nona?"


"Semuanya berjalan lancar. Tapi yang menjadi masalah utama ialah kami kekurangan bahan makanan dan minuman yang dibutuhkan untuk bertahan hidup selama sebulan penuh, itu yang sedang kami khawatirkan."


"Begitu ya."


Di dekat perapian, Friya yang sedang berbincang mengenai pasokan daging, sayur-sayuran, buah-buahan, semua tersisa sedikit yang membuatnya khawatir atas kondisi para elf yang ada di Kamp Kumuh dalam menjalani hidupnya selama sebulan penuh.


"Jangan khawatir, Si Besar. Meskipun mereka terlihat khawatir, cepat atau lambat aku akan berikan instruksi penuh pada mereka agar segera berburu di area terdekat karena banyak daging, buah-buahan, dan sayur-sayuran yang bisa didapat di alam liar."


"Aku harap begitu."


Ingin sekali Friya mengatakan kalau dia akan membantunya, tiba-tiba pikirannya teringat atas sosok pria yang telah menyerang Desa Elf sebelumnya yang sedang membutuhkan mereka untuk menyelamatkannya.


Walaupun Friya tidak tahu bagaimana kondisinya, dilihat dari cara pria itu bertahan hidup membuatnya yakin dia mampu melakukannya sesuka hati tanpa kesulitan sedikitpun. Namun yang menjadi kekhawatirannya bukanlah kekuatan dan kemampuannya, tapi musuhnya yang dihadapinya sekarang.


Musuh yang telah menteror Desa Elf di Fairy Forest sebelumnya, Stahark, Friya tidak tahu sejauh mana kekuatan dan kemampuan yang dimilikinya dalam melenyapkan musuh-musuh yang ada di sekitarnya, ia takut kalau pria yang bersamanya sebelumnya akan tiada karena mereka tidak datang untuk menyelamatkannya.


"Apakah kamu mencemaskan Nak Necromancer?"


"Ya, begitulah."


Nek Ryadu yang duduk di sebelah Friya usai melihat salah satu elf bangun untuk membiarkan sesepuh elf duduk di dekatnya agar berbincang-bincang bersama Friya, elf yang duduk tadi pergi untuk memeriksa kembali pasokan makanan sekaligus mengecek bahan-bahan yang dibutuhkan untuk keberlangsungan hidup mereka.


"Dengarkan aku, Si Besar, aku tahu kamu mencemaskan kondisinya, tapi ingatlah ini, dia adalah Necromancer, sosok yang lebih tinggi dari class dan ras apapun, yang bisa dikatakan menentang hukum alam yang ada di dunia ini, dia sudah seperti harapan dan kehampaan."


"Ya, kamu benar. Tapi yang menjadi masalah bukanlah Regard melainkan Stahark, aku yakin dia memiliki banyak kemampuan dan kekuatan yang belum ditunjukkan pada kami sebelumnya."


"Stahark ya."


Tiba-tiba Nek Ryadu yang mendongakkan wajahnya, melamun dalam diam sambil mengingat akan kejadian tersebut.


Friya yang tersadar kata-kata Nek Ryadu yang terhenti menoleh ke arahnya yang sedang melamun dalam diam yang dia yakin kalau Nek Ryadu sedang memikirkan sesuatu yang tidak diketahuinya.


"Dengarkan aku, Si Besar, aku akan menceritakan tentang kejadian sebenarnya sebelum kamu lahir sebelumnya mengenai Stahark, sosok yang pernah menteror kami, para elf sebelumnya."


"Menteror kalian sebelumnya?"


"Ya. Apakah kamu tertarik untuk mendengarkannya?"


"Ya, aku ingin mendengarnya."


Mencengkram gelas plastik yang berisikan coklat panas di dalamnya, hati Friya bertekad untuk mengetahui tentang alasan mengapa Stahark menteror Desa Elf sebelumnya.


Apakah Stahark ada dendam terhadap elf ataukah tidak, Friya masih tidak mengetahui apapun. Bahkan dalam buku-buku perpustakaan yang sering dikunjunginya di beberapa kota yang ditempatinya, ia tidak menemukan petunjuk apapun tentang teror Stahark terhadap elf yang membuatnya penasaran atas tindakan dibalik semuanya yang terjadi sebelumnya.

__ADS_1


"Mulai hari itu, aku dan Stahark..."


__ADS_2