
Terkapar di lantai dalam posisi tengkurap, Reita yang tidak sadarkan diri akibat kelelahan dari penggunaan Special Skill membuatnya menguras seluruh energi sihir dan tenaga yang dimilikinya mencapai batas maksimal.
Di lain sisi, Fuuya yang sudah menggunakan [Fenrir Army] yang dilengkapi dengan [White Aura] pada kawanan Fenrir miliknya membuat serangan, kecepatan, dan pertahanan mereka meningkat melebihi sebelumnya, ia siap untuk mengakhiri semuanya.
Di depannya yang cukup jauh, Ibunya, pemimpin Fenrir sebelumnya juga sudah siap. Ia yang telah mengerahkan [Fenrir Army] yang dilengkapi dengan [White Aura] pada tubuh kawanan Fenrir yang transparan berwarna putih salju, ia tidak terlihat ragu maupun bimbang karena dari wajahnya yang datar, tatapannya yang kosong dan hampa, dia seperti boneka hidup yang dikendalikan oleh seseorang.
"Ini adalah akhirnya, Bu!"
Aura biru yang terpancar dari tubuhnya yang berubah menjadi sosok Fenrir membungkus tubuh Fuuya yang dalam posisi siap seperti Fenrir yang hendak berburu, Ibunya pun sama, ia dengan kekuatan dan kemampuan yang serupa seperti Fuuya, berniat menggunakan aura biru yang terpancar dari dalam tubuhnya, membungkusnya dan berkobar tinggi dalam bentuk Fenrir.
"Raaaaaarrrrh!"
"Raaaaaarrrrh!"
Meskipun Ibu Fenrir tidak dapat berbicara maupun berekspresi, [Fenrir Mode] yang dimilikinya benar-benar hidup layaknya dirinya sendiri menampilkan kebencian yang dipancarkan pada Fuuya.
Fuuya juga sama, dia yang dengan penuhi kebencian terdengar jelas dari geraman [Fenrir Mode] miliknya, menatapnya dengan tajam seolah-olah benci pada saingannya yang sama persis sepertinya.
"....."
Melesat dengan cepat bagaikan kilat, kedua Fenrir yang mengaktifkan [High Acceleration] yang saling berbenturan satu sama lain menyebabkan gelombang udara dingin yang berhembus kencang sangat kuat di area sekitar.
Fuuya dan Ibunya saling beradu [Fenrir Mode], mereka berbenturan satu sama lain, sedangkan [Fenrir Army] yang bertarung sesama [Fenrir Army], kedua kawanan tersebut bagaikan saling memakan saudaranya sendiri tanpa ampun.
Saat seluruh kabut es memenuhi area, hembusan angin dingin kencang yang sirna, Fuuya dan Ibunya yang berada di dalam kabut perlahan-lahan terlihat usai kabut es lenyap sepenuhnya.
Aku....
Langkah kakinya yang terhuyung-huyung ke depan yang mengarahkan lengan kanannya ke depan, Fuuya berniat untuk menggapai Ibunya yang berada di kejauhan, yang berdiri dengan tubuhnya yang berlubang besar di bagian perut, darah mengalir deras di bekas lubang perutnya, mulutnya, serta hidungnya, itu adalah tragedi yang belum dilihat oleh Fuuya sebelumnya.
Meskipun Fuuya hanya mengalami goresan yang ada di lengan, kaki, dan perutnya, ia tetap memuntahkan darah akibat terlalu berlebihan dalam menggunakan mana secara berlebihan menyebabkan tubuhnya melebihi batas wajar yang akhirnya membebani dirinya sendiri.
Aku ingin kamu melihatku bahwa aku sudah menjadi pemimpin, Ibu.
Tergeletak di lantai tanpa sadarkan diri, Fuuya yang memejamkan matanya tersenyum sesaat saat tahu bahwa Ibunya yang awalnya dipikir hanya sebuah boneka yang tidak bisa berkata maupun berekspresi, memberikan senyuman tulus padanya yang hangat membuat rasa kangen yang dialami oleh Fuuya beserta penyesalan di masa lalu sirna begitu saja.
•••••
Ada apa, Stephani?
Ini benar-benar merepotkan sekali.
Di ruangan yang megah yang terlihat kedua gadis saling bertukar tatapan mata, mereka sedang terdiam sejenak sambil mengetahui langkah apa yang dibuat oleh masing-masing diantara mereka.
Gadis berambut hitam panjang, bergaun hitam, serta sepasang sayap hitam, ia tidak menyangka kalau pertarungan sengit yang terjadi sebelumnya sama persis seperti yang dilakukan oleh Shilphonia, sosok yang ada di depannya yang ikut terdiam.
Gadis berambut pirang panjang, bergaun putih, serta sepasang sayap berwarna putih, ia hanya menatap lawannya, gadis berambut hitam panjang yang bergaun hitam yang terlihat dapat menyeimbangkan kekuatan dan kemampuannya, dia tidak bisa berbicara maupun berekspresi yang menyebabkan lawannya, Stephani sulit untuk memahami apa yang diinginkannya.
"....."
Melesat cepat bagaikan kilat, Shilphonia yang menggunakan [Acceleration] ia lenyap dan muncul di kejauhan di belakang Stephani lalu membuat [Dimension Portal], memasukinya dan melenyapkan keberadaannya, Stephani masih kebingungan dimana Shilphonia berada.
Berhati-hatilah, Stephani!
__ADS_1
Ya, aku paham.
Memejamkan matanya sejenak, Stephani yang menenangkan dirinya dan pikirannya, ia mengesampingkan rasa takut dan paniknya yang terganti oleh ketenangan yang didapatnya, matanya yang terbuka, Stephani melompat ke langit-langit.
Ketika Stephani melompat di udara, kedua lengannya yang digerakkan ke depan berkali-kali menyebabkan rentetan bilah pedang mengarah pada [Dimension Portal] yang muncul sesaat yang gagal untuk mengirisnya sedikit sana, Stephani mengklik lidahnya, kesal dan jengkel atas tindakan Shilphonia yang tampak seperti pengecut.
"Tidak ada pilihan lain."
Salah satu lengannya yang diarahkan ke depan, sebelum dapat mendaratkan pijakannya ke lantai, Stephani menggunakan [Dimension Portal] yang membuat tubuhnya masuk ke dimensi berbeda, membuatnya bertemu dengan Shilphonia yang telah dipersiapkan anak panah yang ditariknya, membidik ke arah Stephani.
Sial. Kita sepertinya terpojok.
Terpojok? Jangan bercanda!
Aura hitam pekat terpancar dari dalam tubuh Stephani yang menyebar keluar dari sekitar tubuhnya menyebabkan seluruh area yang ada di sekitar Stephani dan belakang, tercipta ribuan bilah pedang yang tiada habisnya melayang di udara.
"Ini akan menjadi penentu untuk kita berdua."
Senyum yang menghiasi wajah Stephani yang tidak kenal takut dan rasa percaya diri yang tinggi, ia yakin kalau kemampuan dan kekuatannya yang dapat digunakannya kali ini dapat mengalahkan Shilphonia dengan mudah.
Kemampuan itu sendiri tidak lain adalah [Imagine Sword], Skill Special yang dimiliki oleh Stephani dan Shilphonia dalam satu tubuh yang sama, ia mampu menciptakan berbagai macam pedang yang ada dalam jumlah banyak maupun sedikit, mereka berdua mampu melakukannya.
Berbeda dengan mereka berdua yang ada di satu tubuh, Shilphonia yang menjadi lawan mereka tidak memilikinya yang membuat mereka berdua yakin ini akan menjadi kemenangan mutlak yang memihak pada Stephani dan Shilphonia dalam menghadapi Shilphonia yang palsu.
Shilphonia yang menembakkan [Multiple Arrow] dalam jumlah banyak yang terbang ke arah Stephani, membelah anak panah menjadi berjumlah ratusan yang siap menghujani tubuh Stephani.
Stephani tidak bergerak sedikitpun, sebaliknya, ia yang terdiam di tempatnya berada menyunggingkan senyuman di wajahnya, tangan kanannya yang diarahkan ke depan memunculkan pedang berwarna putih yang ditancapkan ke permukaan tanah.
Seluruh anak panah yang menghujani tubuh Stephani gagal mengenainya. Stephani yang dilindungi oleh [Multiple Barrier] yang dimiliki oleh pedang berwarna perak yang membuat tubuhnya terlindungi tidak dapat disentuh oleh ratusan anak panah dengan mudah.
Apa yang kamu rencanakan, Stephani?
Tunggu dan lihat saja!
Berpikir kalau Stephani akan bertindak gegabah menggunakan kabut hitam, [Dark Wave] yang dihasilkan menggunakan pedang hitam pekat di lengan kirinya, Shilphonia meragukan kalau rencana Stephani akan berjalan lancar tanpa adanya halangan.
"Sekarang!"
Di sekitar tubuh Stephani terdapat beberapa pedang yang mengitari tubuhnya, mereka membuat semacam pelindung khusus yang sengaja ditambahkan untuk melindungi diri Stephani dari serangan tak terduga yang sulit dibaca.
Stephani yang menggunakan [Acceleration] mampu berada di belakang Shilphonia. Shilphonia yang tidak menyadarinya kebingungan dimana ia berada, apakah Stephani kabur atau tetap melawannya, ia tidak menemukannya sama sekali di dalam kabut hitam yang mengacaukan penglihatannya.
Memanfaatkan kesempatan yang ada, Stephani yang mengganti lengan kanannya yang menggenggam pedang berwarna putih, ia memegang pedang berwarna hijau yang perlahan-lahan sudah mendekati Shilphonia di belakang, menghunuskan pedangnya ke arah jantungnya berada dari belakang, Shilphonia yang terkejut dalam diam menatap pada tusukan yang dilakukan Stephani terhadapnya yang menembus mengenai jantungnya.
Itu bukanlah pedang biasa yang dilancarkan oleh Stephani melainkan pedang khusus, [Sword of Forest], pedang yang membuat siapapun yang terkena tebasan maupun tusukan, akar akan terbentuk yang membentang luas mengakibatkan tubuh Shilphonia yang perlahan-lahan mengembung, meledak dengan darah yang menyembur keluar dari tubuhnya yang terganti menjadi akar yang merambat ke permukaan tanah, tumbuh menjadi sebuah pohon besar, itu tampak indah untuk dilihat.
Bagaimana menurutmu?
Bukankah ini terlalu mudah?
Ya, kurasa kamu benar.
Tidak habis pikir atas keberhasilannya yang begitu mudah dalam meraih kemenangan, Shilphonia yang terus-menerus menggelengkan kepalanya tidak mempercayainya sama sekali.
__ADS_1
Begitupun dengan Stephani, ia yang mengangkat kedua tangannya, heran atas kemenangan yang mudah diraihnya tanpa kesulitan sedikitpun membuatnya benar-benar tidak puas atas keberhasilannya yang diraih begitu saja.
"Baiklah. Waktunya kita pergi ke tempat Regard berada."
"Ya, kamu benar."
Kembali keluar dari [Dimension Portal], Stephani yang muncul di dalam [Golden Castle] melanjutkan penelusurannya ke ruangan lain untuk mencari keberadaan Regard yang ingin segera ditemuinya.
•••••
"Sepertinya kamu menjadi lawan aku ya, Tuan."
Terkejut atas kehadiran tuannya yang berdiri dihadapannya, Sasaki yang dikendalikan tubuhnya oleh [Goddess of Wolf] hanya bisa terkekeh sambil menutupi mulutnya dengan kipas lipatnya, ia menunggu kesempatan ini tiba.
Kesempatan yang mengharuskan ia melawan tuannya yang tak dapat dihindari, Goddess of Wolf penasaran sejauh mana dirinya yang sekarang berkembang dalam menghadapi tuannya yang ada di depannya, ia terus menyunggingkan senyumnya yang tak dapat dihentikannya.
"Suatu kehormatan bisa melawan anda, Tuan. Hanya saja saya ragu apakah bisa melawan dirimu dengan kekuatan dan kemampuan penuh aku atau tidak..."
Hilang bagaikan kabut putih yang melayang di udara, tiba-tiba Goddess of Wolf yang berdiri di belakangnya yang kedua tangannya terdapat [Blue Aura] yang membungkus kedua lengannya, diarahkan ke tuannya, Regard oleh Goddess of Wolf.
Kobaran api yang menjulang tinggi dari retakan yang dihasilkan dari lantai terus-menerus tiada henti ke arah Regard menyebabkan beberapa permukaan lantai hancur oleh kobaran api biru yang terus menjulang tinggi di udara, berusaha untuk mengenai tuannya.
Regard yang melompat mundur, bergerak zig-zag dan menggunakan [Transparency] untuk menyembunyikan hawa keberadaannya, Goddess of Wolf mengklik lidahnya, jengkel atas kemampuannya yang curang, ia dengan segera mengulurkan kedua tangannya ke depan yang membentang, menciptakan kubah transparan yang melindunginya, Goddess of Wolf yakin ini akan membuat Regard tidak dapat melancarkan serangan apapun terhadapnya.
Regard yang menggunakan [Shadow Wolf], menciptakan beberapa kawanan serigala bayangan yang dalam mode [Transparency] mengarah ke Goddess of Wolf, Goddess of Wolf hanya diam sambil memejamkan matanya dan menguap.
Tepat saat kawanan serigala bayangan berada di jarak beberapa inci dari Goddess of Wolf, kobaran api berwarna putih yang terlihat berkobar memenuhi area sekitar membuat Regard terperangah kaget saat melihatnya.
Benar-benar menyedihkan sekali ya.
Tidak habis pikir kalau mainan yang dilakukannya bukanlah keseriusannya, Goddess of Wolf mengangkat lengan kirinya ke langit-langit ruangan, menciptakan pedang berwarna perak yang menyilaukan dengan motif awan, tubuh Goddess of Wolf lenyap seketika bagaikan hembusan daun yang ditiup oleh angin kencang ke langit-langit.
"Ini adalah kemampuan yang kumiliki, Tuan."
Menggerakkan pedangnya menyingkap ke samping di tangan kanannya, pancaran kilatan cahaya putih yang diiringi dengan kabut tebal yang membungkus tubuh mereka berdua, Goddess of Wolf mengerahkan segalanya dalam satu kali serangan akhir.
"Lihat dan perhatikanlah baik-baik, Tuanku! Kamu mungkin bukanlah Tuanku yang asli, tapi setidaknya memiliki waktu untuk bertarung bersamamu adalah hal terindah untuk dilakukan olehku, aku benar-benar menghargainya."
Pedang yang berwarna putih yang perlahan-lahan lenyap bagaikan kabut tebal, tubuh Goddess of Wolf sirna bagaikan asap yang sirna oleh angin kencang, Regard yang kebingungan darimana dan kemana Goddess of Wolf muncul untuk menyerangnya, pandangannya yang tertutup oleh kabut terus-menerus mengitari area sekitar.
Lima kali tebasan dilakukan oleh Goddess of Wolf pada tubuh Regard.
Tebasan pertama yang diarahkan ke kaki kanannya, Regard terjatuh sesaat ke lantai yang kemudian ditahannya dengan pedang hitam miliknya. Tebasan kedua yang diarahkan ke perut bagian kiri, itu dilancarkan oleh Goddess of Wolf agar mengetahui apakah tebasan pedangnya cukup dalam atau tidak. Tebasan ketiga yang diarahkan pada lengan kiri, pergelangan yang cukup dalam untuk sekali tebasan membuat Regard merasa waspada di sekitar.
Tebasan keempat yang diarahkan ke perut bagian kanan, itu digunakan untuk mengetahui sejauh mana Goddess of Wolf menebasnya dengan dalam atau tidak. Dan yang terakhir tebasan kelima, itu diarahkan pada leher Regard yang tidak disadari olehnya sama sekali, Regard yang terlihat seperti boneka yang dikendalikan tidak dapat melakukan apapun.
"Inilah kekuatan dan kemampuan aku, Tuan."
Meletakkan pedang berwarna perak yang ada di tangan kanannya ke dalam sarungnya, Goddess of Wolf yang menyudahi tebasan beruntun menghilangkan kabut tebal yang menutupi pandangannya dan Regard yang terganti oleh pemandangan biasa yang ada di [Golden Castle].
"Star Slash!"
Saat kata-kata itu diucapkan oleh Goddess of Wolf, darah yang berasal dari tebasan yang awalnya terlihat biasa dan ringan perlahan-lahan mampu memotongnya, membuat darah keluar dari tebasan tersebut yang menghujani tubuh dan pakaian Goddess of Wolf, dengan cepat Goddess of Wolf yang mengangkat lengan kirinya, memberikan teduhan pada dirinya sendiri menggunakan [Ice Crystal] yang berbentuk seperti lempengan kristal es yang berukuran 5 meter panjang dan luasnya.
__ADS_1
Anda benar-benar lemah sekali ya, Tuan.
Kecewa atas kekuatannya yang tidak dapat menyeimbangi dirinya sendiri, Goddess of Wolf yang melangkahkan kakinya melanjutkan penelusurannya meninggalkan tubuh Regard yang terpotong menjadi beberapa bagian; lengan kiri dan kaki kanan, perut dan organ dalam tubuh, kepalanya yang terputus, itu benar-benar terlihat mengerikan untuk dianggap sebagai mati biasa.