
"Apakah ini tempatnya?"
Di dalam ruangan bawah tanah di Kota Lien, saluran air yang telah lama mengering hanya memperlihatkan beberapa kemah kecil yang berada di kedua jalur saluran air, serta satu kemah yang berada di pojok saluran air yang mengering terlihat dari kejauhan.
"Ya. Mari kita ke kemah besar."
"Baiklah."
Shilphonia yang memahami kalau setiap penghuni di dalam beberapa kemah kecil yang keluar melihat kehadiran mereka, mereka semua terdiri dari ras yang serupa seperti Friya, ras Elf.
Hanya dengan mengetahui bahwa Friya yang datang berkunjung kemari, kebanyakan dari mereka menyapa Friya seolah-olah dia adalah wakil pemimpin di Desa Elf sebelumnya yang Shilphonia kunjungi bersama Regard sebelumnya.
"Ini..."
"Ya."
Friya yang berdiri di sisi luar tenda, mempersilahkan mereka untuk masuk saat ia membuka penutup tenda, membiarkan salah satu tangannya menahan pembuka tenda, mereka masuk ke dalam.
Aku harap Regard baik-baik saja.
Memandang langit-langit di ruang bawah tanah, Friya berharap kalau kedatangan mereka tepat waktu saat mereka selesai melakukan pembicaraan ini untuk menyusul ke tempat dimana Regard berada.
Sejauh yang Friya ketahui, satu-satunya cara untuk bisa memasuki tempat yang dituju oleh Regard dapat dilakukan oleh sesepuh elf yang dia yakini bisa membantu mereka, Nek Ryadu.
"Baiklah. Selamat datang di Kamp Pelatihan Kumuh milik kami. Maaf jika kalian merasa terganggu dengan semua lingkungan yang ada di sekitar, aku harap kalian dapat memaklumi tempat ini."
Seorang nenek yang duduk di sofa dengan tubuhnya yang bungkuk, kulitnya yang kendur, dan tingginya yang pendek seperti tinggi anak berumur 8 tahun, ia memegang tongkat sebagai penyangganya yang terlihat sedang mengawasi mereka berlima dengan kedua matanya yang tertutup.
Meskipun kedua matanya tertutup, ia dapat melihatnya sedikit melalui sela-sela matanya yang terbuka yang melihat gadis-gadis cantik berdiri dihadapannya dengan wajah khawatir.
"Adakah yang bisa aku bantu?"
"Kami sebenarnya ingin mengetahui dimana teman kami berada."
"Teman? Ah... maksud kalian adalah orang yang menjadi teman Si Besar?"
"Si Besar?"
Keempat orang yang berada di dekat Friya memandang ke arahnya dengan wajah bingung, mereka tidak tahu tentang apa yang dimaksud oleh sebutan dari nenek tadi.
"Dia adalah Si Besar, Elf yang memiliki tubuh seksi, payudara yang besar, serta bokongnya yang menggoda, itulah mengapa aku menyebutnya dengan sebutan Si Besar."
"....."
Menahan malu atas kata-kata nenek di sofa yang sedang duduk sambil menyeruput teh di cangkirnya, wajah Friya yang memerah menggantungkan kepalanya, menutup kedua matanya yang tidak bisa menatap mereka.
Bagi Friya, perkataan dari nenek yang duduk di sofa, Nek Ryadu terbilang terlalu vulgar untuk didengar. Memang benar bahwa Friya mengakui tubuhnya terlihat menggoda. Saking menggodanya, beberapa pria yang dilewatinya ingin sekali mengajaknya pergi untuk berkencan maupun berjalan-jalan bersamanya.
Padahal Friya sangat memahami maksud dari kedekatan mereka terhadapnya, ia berpikir kalau tujuan mereka hanya tertuju pada tubuhnya yang seksi dan menggoda.
"Lupakan mengenai masalah sebutan tadi. Apakah kalian sedang mencari Nak Necromancer itu?"
"Nak Necromancer?"
"Siapa kamu sebenarnya, Nek?"
"Bagaimana bisa kamu mengetahui identitas Regard?"
Reita yang kebingungan dengan panggilan Nak Necromancer dari Nek Ryadu memiringkan wajahnya, tidak tahu harus berkata apa untuk menanggapi nama aneh yang sengaja diberikan olehnya.
Sasaki yang terlihat curiga atas pengetahuan yang dimiliki oleh Nek Ryadu, ia menanyakan bagaimana bisa elf sepertinya mengetahui apa yang tidak mereka ketahui selama ini.
Fuuya yang sedari tadi mendengarnya, memasang ekspresi penuh kebencian dan kekesalan pada Nek Ryadu. Saking kesal dan bencinya, Fuuya yang memperlihatkan sepasang gigi taring di atas dan bawah benar-benar membenci keberadaan Nek Ryadu yang mengetahui segalanya.
"Kalian tenanglah!"
Friya yang mencoba untuk menenangkan suasana kembali sadar dari malunya, menoleh ke arah Nek Ryadu yang masih duduk do sofa, ia ikut duduk di sisinya.
__ADS_1
"Bolehkah aku tahu bagaimana cara kami ke tempat teman kami berada?"
"Ya, tentu."
Friya yang mendengarnya, tersenyum bahagia saat tahu ada caranya. Tak hanya Friya, Shilphonia, Reita, Fuuya, dan Sasaki, keempat gadis itu benar-benar senang atas jawabannya.
Saking senangnya, mereka berempat saling berpegangan tangan pada masing-masing gadis. Fuuya dan Sasaki, mereka berpegang tangan, tertawa penuh bahagia, Shilphonia dan Reita yang awalnya berpegang tangan, berpelukan yang membuat mereka bahagia mendengarnya.
"Tapi, ada syaratnya."
"Syarat?"
"Ya. Syaratnya adalah..."
Mereka berlima yang sudah memasang pendengarannya, melihat ke arah Nek Ryadu yang hendak mengatakan syarat tersebut.
Ketika mereka memfokuskan pada pendengarannya, Nek Ryadu tidak mengatakan apapun melainkan terdiam di tempatnya duduk, tanpa bergerak sedikitpun.
"Ya ampun, dia mulai lagi."
"Apa maksudmu, Friya?"
"Nek Ryadu... dia memiliki kebiasaan yang aneh saat hendak menjelaskan sesuatu. Kantuk dan tidurnya tiba-tiba kambuh saat ada situasi genting, itulah apa yang selalu aku pahami dari dirinya."
"Eh?"
"Jangan bilang..."
"Ya, begitulah."
Terkejut atas penjelasan dari Friya, mereka berempat benar-benar tidak menyangka kalau ada elf yang benar-benar aneh seperti Nek Ryadu.
Ketika sedang dibutuhkan dan keadaannya mendesak, elf yang mereka butuhkan justru malah tertidur pulas tanpa izin terlebih dahulu, mereka hanya bisa tersenyum paksa di wajah masing-masing, tidak habis pikir kalau itu beneran terjadi.
"Apa yang harus kita lakukan?"
"Itu ide yang bagus."
"Tapi, bukankah itu akan mengagetkan dirinya? Aku takut kalau dia akan terkena serangan jantung saat dibangunkan secara tiba-tiba oleh kita."
Fuuya dan Sasaki yang kebingungan untuk apa yang harus mereka lakukan, Shilphonia yang menyarankan untuk membangunnya secara mendadak, dan Reita yang keberatan untuk membangunkan seorang nenek tua yang sudah lanjut usia karena dapat menyebabkan penyakit jantung memutuskan untuk menyuruh mereka berhenti melakukannya.
Mereka yang mendengar semua simpati dari Reita, merenungkan sejenak dan menghentikan ide gila tersebut untuk dilakukan. Alih-alih mereka dapat membangunkannya, mereka takut kalau perkataan Reita ada benarnya.
Diambang kebingungan yang tidak pasti, Friya yang hanya duduk do sofa sambil memperhatikan kondisi mereka yang buntu, bangun dari duduknya.
"Aku ada ide."
Setelah mengatakan itu yang membuat seluruh orang yang ada di dalam kemah menatapnya, Friya pergi ke arah ruangan yang berbeda, ruang dapur untuk keperluan sesuatu di dalamnya.
"Aku akan membangunkannya dengan segera."
"Tu-tunggu, Friya! Itukan bisa membuat dia sakit jantung nantinya."
Reita yang terbelalak melihat Friya yang keluar dari ruang dapur membawa sebuah panci batu di tangan kanannya, berlari mendekatinya dan mencegahnya untuk melakukan tindakan nekat.
Shilphonia, Fuuya dan Sasaki yang keheranan melihat sikap Friya yang berbeda dari biasanya, yang awalnya terlihat penuh berwibawa, elegan dan cantik, serta jenius, sekarang terlihat seperti elf yang konyol dan nekat dengan ide-ide gila yang baru saja dikatakannya tadi.
Apalagi Friya ingin segera membangunkan Nek Ryadu dengan panci batu yang menurut mereka berempat akan dihantam ke kepala Nek Ryadu, mereka benar-benar tidak tahu atas ide yang tidak masuk akal dan sulit dimengerti darinya.
"Jangan khawatir, Nek Ryadu selalu seperti ini!"
"Seperti ini!?"
"Ya. Setiap kali dia tertidur, tidak ada yang bisa membangunkannya dengan cara biasa, sebaliknya, dengan cara ini maka..."
Menjawab pertanyaan dari Shilphonia yang benar-benar terlihat panik, Reita yang didorong oleh Friya membuatnya dapat bergerak bebas, berjalan menuju Nek Ryadu yang bersiap untuk menghantam panci batu ke kepalanya.
__ADS_1
"Mohon bangun dan bantulah kami, Nek!"
"Bodoh! Apa yang coba kamu lakukan?"
"Hentikan, Friya! Jika kamu melakukannya maka-"
Tidak mendengar teriakan dari Fuuya dan Sasaki, Friya tetap menghantam kepala Nek Ryadu dengan keras sehingga terdengar bunyi dari hantaman panci batu yang mengenai kepalanya membuat mereka terlihat takut atas konsekuensi yang dilakukan oleh Friya.
Nek Ryadu yang sebelumnya tertidur pulas, terbangun dengan wajah terkejut. Pandangan mata Nek Ryadu yang mengitari setiap tempat yang memandang mereka berempat yang ketakutan memperhatikannya, senyum terlihat di bibirnya yang sudah keriput.
"Maaf, aku tertidur pulas tadi."
Mendengar perkataan Nek Ryadu, mereka berempat hanya bisa tersenyum kecil, tidak dapat memahami apa yang dikatakan olehnya sedangkan mereka tahu kalau alasan Nek Ryadu bangun dari tidurnya tidak lain ialah karena Friya yang memukul kepalanya.
"Mengenai syarat yang dibutuhkan, aku ingin kalian mengumpulkan beberapa bahan untuk bisa aku buatkan."
"Bahan-bahan seperti apa, Nek?"
Nek Ryadu yang memperhatikan semua orang yang ada di depannya dialihkan ke arah Reita, gadis berambut biru panjang yang terlihat sopan dan ramah.
Dilihat dari sikap Reita, Nek Ryadu hanya melampirkan senyuman di bibirnya, merasa yakin kalau suatu saat nanti gadis ini mampu merebut pria manapun dengan sikapnya yang lemah lembut, baik hati, dan sopan terhadap siapapun.
"Bahan-bahan yang perlu kalian ketahui adalah...."
Memberitahu pada mereka tentang bahan-bahan yang diperlukan, mereka yang mendengarnya mengangguk setuju lalu bergegas pergi setelah mengetahui bahan yang diperlukan oleh Nek Ryadu untuk bisa memasuki tempat yang sama seperti Regard, teman mereka.
•••••
"Hei, apakah kamu yakin di sekitar sini tempatnya?"
"Ya, aku yakin karena aku mengetahuinya berdasarkan dari lokasi yang ditunjukkan oleh beberapa elf sebelumnya saat aku mengunjungi Kamp Pelatihan Kumuh."
Di tangan kanan Friya, bola api berukuran sedang melayang di telapak tangannya yang terbuka yang diulurkan ke depan sebagai pencahayaan di dalam kegelapan.
Di tengah kegelapan di dalam suatu bangunan, mereka yang berada di belakang, berhati-hati dan waspada atas apa yang menanti mereka jika sesuatu menyerang dibalik kegelapan, baik itu iblis maupun monster, mereka siap menanganinya.
Fuuya yang terus terdiam sembari mengendus bau keberadaan dari para monster tidak menemukan apapun yang ada di sekitarnya, sebaliknya, hanya ada bau dari mereka, orang-orang yang ada di dekatnya yang dapat diciumnya melalui hidungnya.
Reita sendiri juga sama, ia tidak mampu merasakan apapun melalui pijakan tanah yang ada di sekitar di dalam reruntuhan bangunan yang mereka lewati, dia yakin kalau monster belum muncul di kedalaman reruntuhan bangunan.
"Sebuah pintu dan lingkaran sihir?"
"Ya, aku yakin itu adalah tempatnya."
Bergegas mendekati dan mengelilingi tempat yang ada di depan Friya, Shilphonia, Reita, Fuuya dan Sasaki yang sebelumnya berada di belakang mulai berbaris sejajar di samping satu sama lain, memastikan apakah itu benar atau tidak.
Setelah mengamatinya langsung, Reita yang mengetahui kalau itu asli tidak merasakan ada jejak yang ditinggalkan oleh seseorang baik iblis, monster maupun manusia. Fuuya juga sama, dia tidak menemukan apapun yang dapat tercium oleh hidungnya yang tajam akan aroma keberadaan seseorang.
"Baiklah. Mari kita masuk!"
"Ya."
"Tentu."
"Semuanya, mari berhati-hati!"
Setelah menyentuh kedua pintu yang ada di depannya, Shilphonia yang berada di depan Friya diliputi oleh lingkaran sihir di sekitar tubuhnya yang menyilaukan mata siapapun. Saking silaunya, tidak ada yang dapat melihat keberadaan Shilphonia usai cahaya itu lenyap.
Mengikuti jejak Shilphonia, Friya yang mempersilahkan mereka untuk masuk terlebih dahulu membiarkan Reita, Fuuya dan Sasaki yang ada di sekelilingnya masuk ke dalam lingkaran usai membuka pintu ganda kayu di depan mereka. Kemudian Friya langsung ikut masuk ke dalam usai mereka memasukinya, ia dikejutkan dengan pemandangan yang tidak pernah disangka ada di dalam ruangan yang berbeda.
"Bagaimana bisa ada tempat seperti ini?"
"Ya, kamu benar."
Seluruh pemandangan alam yang terlihat jelas di mata mereka membuat mereka bertanya-tanya dimana mereka sebenarnya berada.
Setahu mereka, tempat ini seringkali dianggap reruntuhan kuno yang disebut sebagai Reruntuhan Ilva, reruntuhan yang sama sekali berbeda dengan konsep kebanyakan reruntuhan yang ada di Dunia Symposium, dunia mereka sekarang berada.
__ADS_1
Berjalan menelusuri sepanjang hutan yang rimbun pepohonan dan semak belukar yang ada di sekitar, kewaspadaan mereka meningkat saat tahu kalau area di sekitar terdapat banyak sekali jenis monster di dalamnya.