
"Bolehkah aku tahu tentang kondisi para elf di Desa Elf?"
"Ya, mereka semua terkejut dengan ketidaksadaran dirimu yang menyebabkan mereka salah paham bahwa kami adalah penyebabnya."
"Itu benar. Kami bahkan telah menjelaskan secara menyeluruh pada mereka namun mereka tidak mempercayainya."
Mengingat kembali ke kejadian sebelumnya, Regard dan Shilphonia merasa frustasi dan depresi atas kehilangan kesabaran yang dimiliki oleh para elf terhadap mereka berdua.
Mereka tahu bahwa mereka adalah penyebabnya, tapi setidaknya mereka yakin dengan menjelaskannya secara detail, para elf dapat mengerti dan memahaminya.
Namun semua itu tidak sesuai perkiraan mereka yang menyebabkan para elf meluapkan kekesalannya terhadap mereka, yang pada akhirnya mereka terpaksa untuk menggunakan kemampuannya untuk mengintimidasi semua elf yang berada di desa.
"Shilph memberitahu mereka untuk segera mengungsi ke tempat lain."
"Itu benar. Berdasarkan informasi yang aku ketahui dari mereka, mereka akan pergi ke Kamp Pelatihan Kumuh yang dimana para elf tinggal di sana."
"Itu artinya..."
"Ya, mereka sudah aman dan tenang di tempat baru mereka."
Mendengar kondisi mereka yang aman, Friya menghela nafas panjang.
Dia merasa bersyukur dan lega karena para elf akhirnya bisa meninggalkan Fairy Forest tanpa ada perasaan berat dalam diri mereka masing-masing.
Jika seandainya mereka masih keberatan atas perkataan Regard dan Shilphonia, Friya yakin kalau suatu saat nanti iblis akan menyerang Desa Elf dan Fairy Forest yang dapat menyebabkan para elf yang masih menetap musnah tak tersisa.
Itulah mengapa Friya merasa lega bahwa beban yang dipikulnya telah hilang dari dirinya.
"Terimakasih... terimakasih banyak atas bantuan kalian."
Sekali lagi Friya memeluk Shilphonia yang membuatnya terkejut dan tidak tahu harus berbuat apa.
Regard yang memperhatikannya dari kejauhan, tersenyum.
Instingnya dalam berpikir bahwa Friya adalah elf yang baik dan ramah sepenuhnya benar.
Faktanya ialah Friya lebih mementingkan kondisi para elf lainnya dibandingkan dirinya sendiri. Apalagi dengan kepribadiannya yang mau menerima siapapun selama dia masih rekan, dia dapat percaya begitu saja.
Itu sebabnya Regard tidak mau menghabisi dan melenyapkannya bukan karena dia tidak mampu dan kuat melawannya, tapi karena kebaikan dan kepeduliannya terhadap elf lainnya membuat dia salut pada kepribadian Friya.
"Baiklah, aku keluar terlebih dahulu."
"Tu-tunggu... Regard..."
Tidak dapat menjangkau Regard, Shilphonia hanya bisa mendesah pelan atas ketidakpekaan dalam situasi yang dialaminya.
•••••
Regard POV
Berdasarkan pengamatan aku, Guild Petualang masih tutup.
Hari masih pagi jadi ada kemungkinan aku harus berbelanja keperluan terlebih dahulu untuk mereka berdua.
Bergegas pergi ke jalan yang berbeda dari biasanya, aku dengan santai memperhatikan setiap toko yang dilewati. Tidak ada satupun toko yang dapat menarik perhatian aku atas makanan dan minuman yang mereka sediakan. Mulai dari toko awal aku berjalan hingga pertengahan jalan, semuanya terlihat sama yang membosankan untuk dicoba di pagi hari.
"....."
Langkah kakiku terhenti saat melihat sosok yang kukenal.
Dia kan....
Mendekati sosok tersebut, aku memegang pundaknya. Sosok yang berhasil terkejut atas pundaknya yang aku pegang sebelumnya menoleh ke belakang dan terkejut atas kehadiran aku yang mendadak muncul di belakangnya.
"Kau benar-benar mengagetkanku ya, Arthen."
"Apa yang sedang kau lakukan disini, Paman?"
"Ini... ini adalah restoran baru di Kota Farihiora."
Restoran baru?
Melihat nama dari restoran itu, aku dapat mengetahuinya dengan jelas bahwa restoran ini berbeda dari toko-toko yang dilewati sebelumnya.
Faktanya ialah restoran ini memiliki nama 'Maid Cafe' yang artinya tempat dimana para maid berada di dalamnya. Dengan kata lain, para gadis yang mengenakan pakaian maid yang kecantikan dan keimutannya melebihi kecantikan wanita biasa dapat dinikmati di tempat ini.
Yah, sejujurnya aku hanya peduli pada makanan dan minumannya, bukan pelayanannya.
"Apakah kau tertarik?"
"Entahlah. Jika mereka memiliki makanan dan minuman yang enak, kurasa lebih baik jika aku mampir sejenak di tempat ini."
"Benarkah? Kalau begitu, ikut denganku!"
Menarik lenganku, dia membawaku ke meja dan kursi kosong lalu memanggil maid berambut ponytail berwarna hitam, berkulit putih yang berjalan ke arah meja kami.
__ADS_1
"Apakah ada yang ingin anda pesan, Tuan?"
"Ya."
"....."
Oi, kau membawaku sejauh ini seharusnya kau peduli terhadapku, bukan dengan maid itu!
Menghela nafas panjang, aku sudah menduga kalau ini yang akan terjadi. Bukan karena aku takut pada Shilph dan Furuhiora, tapi aku takut kalau sifat Paman Veru akan terlihat sepenuhnya di Maid Cafe saat ini.
Terlihat jelas dari tatapannya yang mengitari seisi restoran, disertai dengan wajahnya yang memerah, dan senyum mesem yang terlihat aneh, aku hanya bisa pasrah dan kasihan terhadapnya.
Sejujurnya dia adalah orang yang mahir dalam pertarungan pedang sekaligus guru yang mengajarkan aku sebelumnya. Tapi, kelemahannya adalah dia lemah terhadap wanita-wanita cantik yang ditemuinya.
Itulah mengapa dia terdapat kekurangan pada dirinya sendiri.
"Ngomong-ngomong Arthen, apakah kau berhasil membuat peta di Reruntuhan Sylvia?"
"Ya, sejauh ini semua monster yang ada di dalamnya tidak mengerikan dan menakutkan seperti yang rumor katakan."
Mendengar kata-kataku, dia tertawa terbahak-bahak.
Kenapa? Apakah ada yang lucu dari perkataan aku?
"Kau benar-benar menarik ya, Arthen."
Memegang pundak dan mendekatkan tubuhnya padaku, aku merasa jijik pada tindakannya kali ini.
Kenapa aku harus mengalami hal seperti ini? Bukankah lebih baik jika dia sadar bahwa aku sudah besar?
"Kau mengatakan bahwa mereka tidak ada apa-apanya karena kau begitu kuat jadi kau mampu menyelesaikannya dengan mudah."
"Tapi..."
Menyipitkan matanya ke arahku, aku tentu tahu betul maksud dari tatapannya tersebut.
"Meskipun kau sudah kuat, kau tetap harus rendah hati dan menolong orang lain. Apakah kau paham?"
"Ya, aku paham."
Apa yang diajarkannya dulu padaku ialah ilmu beladiri dan ilmu pedang agar aku bisa mandiri untuk tidak terlalu mengandalkan Necromancer yang ada dalam diriku sendiri.
Tak hanya itu, Paman Veru juga memberikan pesan padaku untuk tetap rendah hati dan menolong orang lain dalam keadaan apapun. Baik itu orang lain mau menerimanya atau tidak, aku tetap harus membantu mereka selama mereka membutuhkan bantuan dariku.
Yah, meskipun dia adalah seorang maniak wanita, tapi dia benar-benar keren dalam bertindak dan mengajari sesuatu pada orang lain.
"Oh ya, Arthen, aku baru ingat bahwa peliharaan yang kau miliki masih setia menunggu dirimu di Guild Petualang."
"Berhenti menyebutnya peliharaan aku! Dia adalah partner pertamaku jadi kau tidak boleh menyebutnya dengan sebutan itu."
Walaupun aku sendiri memanfaatkannya sebagai pusat informasi, aku juga sama seperti yang dikatakan oleh Paman Veru mengenai diriku yang menganggapnya sebagai peliharaan pribadi.
Tapi, aku tahu batasan mana peliharaan pribadi dan mana yang bukan peliharaan pribadi. Untuk itulah, aku tidak mau terlalu dekat dan akrab terhadap Sasaki bukan karena aku benci dan marah padanya, tapi aku takut kalau aku akan memanfaatkan kebaikannya atas apa yang pernah kuberikan terhadapnya.
Jika itu yang terjadi, cepat atau lambat aku akan tergoda dan terjerumus ke dalam nafsu dan godaan yang sulit untuk dibayangkan.
Membayangkan kejadian tersebut, seluruh bulu kudukku berdiri.
"Hei Paman Veru, apakah hari ini kau sedang berlibur?"
"Ya, begitulah."
"Seharusnya hari ini aku ditugaskan untuk berpatroli di Death Forest karena tempat itu berbahaya."
"Berbahaya?"
"Ya."
Makanan dan minuman yang kami pesan tiba di meja.
Maid itu memberikannya lalu pergi meninggalkan meja kami yang membuat kami berdua melanjutkan pembicaraan yang tertunda tadi.
"Death Forest terdapat makhluk mengerikan dan menakutkan yang menghuni di dalamnya."
"Makhluk mengerikan? Mungkinkah monster?"
"Tidak, itu adalah Fuzikumibaru."
"Huh?"
Fuzikumibaru? Apa-apaan itu?
Apakah dia sejenis monster baru? Tidak, aku tidak pernah mendengarnya sebelumnya. Jadi, siapa dia? Mengapa dia terlihat menakutkan dan kuat?
Mungkinkah....
__ADS_1
"Dia adalah seorang makhluk misterius yang mampu mengubah manusia maupun makhluk hidup lainnya berubah menjadi Marionette."
"Marionette?"
Aku mengerti.
Hutan Milant yang pernah aku jelajahi sebelumnya, aku sempat bertemu beberapa diantara mereka yang telah kehilangan ekspresi dan emosi di dalam diri mereka.
Mungkinkah mereka telah tiada atau dikendalikan?
"Sejauh dari laporan yang ada, Fuzikumibaru seringkali terlihat di Death Forest yang terkenal akan monster berbahaya di dalamnya."
"Ketika aku sedang bersemangat ditugaskan di tempat itu, temanku, Kanae malah menyuruhku untuk istirahat."
Memukul meja dengan keras, ekspresinya perlahan-lahan berubah menjadi kebencian dan kekesalan.
"Seharusnya aku saja yang melakukannya, itulah yang dia katakan padaku."
Aku tahu betul siapa Paman Kanae yang dimaksud oleh Paman Veru yang tidak lain adalah teman dekatnya.
Setahuku, Paman Kanae orangnya berbeda dari Paman Veru.
Paman Kanae memiliki sikap tegas, berdedikasi penuh terhadap pekerjaan, berwibawa dan bermartabat, serta Ketua Pasukan Eruguard terhebat selama beberapa tahun sebelumnya.
Yah, berbeda dengan Paman Kanae, Paman Veru selalu seenak jidatnya dalam melakukan tugasnya.
Terkadang, dia suka bermain-main terhadap wanita lain di pasukannya, meremehkan jebakan yang ada, serta menganggap bahwa monster di sekitarnya adalah monster lemah, dan yang terakhir adalah dia orang yang ramah dan peduli terhadap orang lain.
Itulah perbedaan antara Paman Veru dan Paman Kanae.
Meskipun aku sendiri lebih suka kepribadian Paman Kanae, sejujurnya aku terkejut begitu mendengar kenyataan lain tentangnya.
Menurut Paman Veru, Paman Kanae akan membenci seseorang jika dia telah membencinya penuh yang membuat orang itu diabaikan bahkan bisa saja diincar olehnya untuk dibunuh.
Itulah apa yang aku takutkan dari kenyataan yang tersembunyi di dalam diri Paman Kanae.
•••••
"Ini, aku bawakan pakaian baru untukmu!"
Di dalam kamar yang sepi dan sunyi yang terdapat dua gadis yang sedang duduk menunggu seorang pria datang ke kamarnya, mereka berdua melihat tas belanjaan yang terdapat dua tas yang berbeda.
"Kau juga, Shilph. Kau butuh pakaian lebih untuk dirimu sendiri."
Mengambil salah satu tas untuk dilihatnya, Shilphonia memeriksa isi di dalamnya. Pakaian yang terlihat cantik dan indah membuat pandangannya terpesona pada kecantikan yang ada di pakaiannya.
Friya juga sama seperti Shilphonia. Dia dengan segera melihat isi di dalamnya dan terkejut atas isinya yang membuatnya terpesona.
"Aku harap kalian menyukainya."
Keluar dari kamar, Regard berpikir bahwa mereka akan mengganti pakaiannya jadi dia sengaja memberikan waktu pada mereka untuk mengenakan dan mencobanya langsung daripada nanti.
Akan sangat merepotkan jika mereka berdua menggantinya nanti. Selain masa berlaku penukarannya habis, Regard merasa bahwa dia akan sia-sia jika membelikan pakaian yang tidak sesuai dengan ukuran tubuh mereka, terutama pada bagian payudara di kedua gadis yang ada di dalam kamar milik Shilphonia.
"Tuan, apakah kamu mendengarkan aku?"
"Ya. Ada apa, Sasaki?"
"Ini ada berita baru."
"Berita apa?"
Guild Petualang sedang mencari petualang hebat untuk membantu para petualang lain dalam menaklukkan Labirin Vint.
Labirin Vint? Kalau tidak salah, Labirin Vint adalah labirin tersulit dan berbahaya bukan?
Ya. Aku ingin tahu apakah aku boleh ikut berpartisipasi di dalamnya atau tidak.
Terdiam, Regard berpikir kalau ini adalah kesempatan yang bagus bagi Sasaki untuk membantu mereka, para petualang yang membutuhkannya.
Meskipun Sasaki tidak sekuat dan sehebat Regard, dia paham bahwa kelebihan dari Sasaki adalah indra penciuman dan pikirannya yang tajam membuatnya mampu terbebas dari masalah apapun.
Selain itu, Sasaki juga memiliki kartu terhebat yang tersembunyi di dalamnya.
Kartu itu sendiri adalah [Rage of Demi-human] yang dapat meningkatkan statistik dari dirinya menjadi berkali-kali lipat yang mampu membuat monster tingkat tinggi maupun rendah kalah terhadapnya.
Tak hanya Rage of Demi-human, kemampuan lainnya seperti Infinity Energy dapat digunakannya yang mampu membuatnya menggunakan energi berkali-kali tanpa mempedulikan kehabisan atau tidaknya, serta White Aura yang mampu membuat aura putih di sekitarnya berubah menjadi sosok monster yang mampu melindungi dirinya sendiri di dalamnya, layaknya Infinity Spirit.
Yah, itu semua Regard lakukan sebelumnya saat Sasaki masih lemah jadi dia sengaja merubah kemampuan dan kekuatannya demi melindungi dirinya sendiri agar tidak dimanfaatkan oleh orang lain atas kelemahannya.
"Baiklah, kau telah aku izinkan untuk ikut bersama mereka. Tapi ingat untuk berhati-hati terhadap Labirin Vint, apakah kau paham, Sasaki?"
"Baik. Terimakasih atas izinnya, Tuan."
Selesai melakukan percakapan melalui Mind Reading, Regard hanya bisa tersenyum.
__ADS_1