
Cahaya berwarna keunguan muda mulai terang di sekitar lalu redup setelah beberapa detik.
"Hmmm..."
"Apakah kamu baik-baik saja, Tuan Ksatria?"
Dihadapannya terlihat seorang wanita dengan pakaian penduduk kota yang terlihat khawatir dan mencemaskan dirinya yang tertidur pulas di atas dataran hijau yang ada.
"Kenapa aku bisa ada di tempat ini?"
"Aku tidak tahu. Aku hanya berpikir bahwa kamu tidak sadarkan diri sedari tadi."
Memperhatikan kedua telapak tangan diregangkan berkali-kali, pria dengan zirah berwarna putih memperhatikan ke sekeliling dan terdiam sejenak sambil merenungkan apa yang terjadi sebelumnya.
Beberapa hari yang lalu.
Dibalik jeruji besi yang terdapat keramaian para tahanan, seorang pria duduk di sisi kasur sambil merenungkan beberapa kemungkinan yang ada.
Apakah dia akan mati atau dikeluarkan dari pasukan ksatria khusus, dia sendiri tidak tahu atas penantiannya nanti. Selama dia ditahan dan dianggap sebagai pemberontak sekaligus pengkhianat, dia akan dianggap tercela oleh orang-orang.
"Ini tidak bisa dibiarkan."
Sembari mengatakan itu pada dirinya sendiri, pria itu dengan cepat mengeluarkan cahaya menyilaukan yang ada di udara kosong menjadi pedang berwarna perak terang.
Membelah beberapa kali tebasan di sel besi tahanan, dia keluar dengan cepat dan mulai melarikan diri.
"Tunggu! Mau kemana kau?"
Dirinya yang awalnya yakin bahwa penjaga patroli di tahanan sudah tidur dikejutkan dengan kehadiran salah seorang petugas patroli yang mendekatinya sambil memegang dan mengulurkan pedang ke arahnya.
"Berhenti dan jangan bergerak! Jika kau bergerak sedikit saja, kau tahu akibatnya."
Tidak bergeming atas ancamannya, senyum terlihat di bibirnya yang kemudian berubah menjadi tawa terkekeh pada kata-kata dari patroli penjaga tahanan.
"Apakah kau yakin bisa menghadapi aku?"
"Apa maksudmu?"
Tidak ada pertanyaan maupun pembicaraan, pria itu dengan cepat menebas ke tubuh pria yang menghadangnya sebelumnya dalam sekali tebasan dengan gerakan yang cepat yang sulit untuk dilihat oleh mata biasa.
"Kuh..."
Terkena tebasan sekali pada pedang di bagian perut depan, pria itu terjatuh dan tergeletak tak bernyawa tanpa dapat melakukan apapun.
Maafkan aku. Tapi, aku ada urusan untuk bisa keluar dari tempat ini.
Wajahnya yang menghadap ke langit-langit ruangan bawah tanah yang terdapat lampu penerangan di beberapa tempat yang membuatnya terasa terang namun dengan cahayanya yang redup, ekspresinya terlihat sedih sekaligus bertekad untuk melakukan perlawanan.
"Baiklah."
Menatap ke mayat seorang penjaga patroli tahanan, pria itu menyeret tubuh ke sel miliknya lalu berniat untuk mengganti pakaian dengan pakaian penjaga patroli tahanan di ruang bawah agar bisa keluar dengan cepat dan mudah tanpa perlu bersembunyi.
"Selamat tinggal, Penjaga Patroli Tahanan."
Selesai mengatakan itu pada mayat yang berganti pakaian dengan miliknya, pria yang menjadi tahanan, Veru dengan senyum kecilnya dan wajahnya yang terlihat jahat mulai berjalan dengan biasa sambil menghilangkan bekas darah dan tebasan di perutnya.
Menaiki tangga batu yang sebesar satu orang dalam lorong bawah tanah, Veru terus menerus meraba-raba karena tangga lebih redup penerangan yang hanya menggunakan beberapa lilin dalam jarak 25 meter.
Sial. Seandainya aku tahu ini yang akan terjadi maka...
Semakin dia memikirkan sesuatu tentang dirinya yang tidak berkata apapun tentang Regard dan teman-temannya yang membawa Fenrir ke Kanae, Veru tidak akan bernasib seperti sekarang yang dianggap sebagai pengkhianat oleh mereka membuat kegelapan perlahan-lahan mulai menyelimuti tubuhnya sedikit demi sedikit.
"Tunggu aku... Kanae. Cepat atau lambat, kau akan terima balasannya."
Matanya yang perlahan-lahan berubah menjadi hitam terlihat bersinar terang di dalam kegelapan dengan pupil mata berwarna merah terang yang menyala dibalik lorong bawah tanah yang redup dan minim akan pencahayaan.
•••••
Veru POV
Satu-persatu setiap Ksatria Kerajaan aku bunuh dan seret ke tempat sepi agar tidak ketahuan.
Tubuhku yang sudah tidak kuat menahan seluruh emosi yang ada diharuskan untuk tetap melangkah menuju ke Kanae agar bisa membuat perhitungan padanya usai dirinya memasukkan aku ke dalam tahanan.
Ya, semua ini karena ulahnya.
__ADS_1
Alasan aku sengaja merahasiakannya karena aku tidak ingin Arthen dianggap sebagai pengkhianat karena memiliki class Necromancer jadi aku terdiam tanpa mengatakan apapun pada mereka.
Tapi, apa yang kudapatkan adalah pengkhianatan dari mereka, Raja dan Kanae yang sengaja melakukan ini padaku.
Sial.
Semakin banyak aku memikirkannya, aku ingin segera membunuhnya.
Tunggu aku, Kanae.
Cepat atau lambat, kau akan menerima akibatnya nanti.
•••••
Di Kota Farihiora, beberapa penjaga patroli di malam hari dari Ksatria Kerajaan sedang menelusuri setiap kota.
Dibalik gang kecil yang gelap gulita, seorang dengan mata berwarna merah menyala yang mengintai mereka dari kejauhan.
"Apakah kau benar-benar yakin bahwa Ketua Kanae membiarkan mereka ikut dalam misi berbahaya?"
"Ya, aku yakin dia setuju pada misi berikutnya."
Misi?
Semakin penasaran orang itu dengan pembicaraan yang dilakukan oleh kedua Ksatria Kerajaan yang berpatroli malam hari di kota, semakin ingin mendengarnya dengan jelas pembicaraan mereka.
"Ya. Ketua Kanae sedang pergi menuju ke Kota Lien demi menjelajahi beberapa wilayah untuk membasmi iblis yang ada di daerah sekitarnya."
"Bukankah itu berbahaya?"
"Kau benar."
"Menurut laporannya, iblis itu bukanlah sembarang iblis melainkan Fallen Angel yang terbilang kuat dan hebat melebihi apapun kita, para manusia."
Mendekati mereka dalam diam-diam, pria itu dengan jubah yang menutupi tubuhnya terdiam dan terhenti tepat di depan mereka.
"Bolehkah aku tahu cerita kalian lebih jelas? Aku tertarik pada pembicaraan kalian tadi."
"Kau... siapa?"
"Apa yang kau inginkan dari kami?"
"Apa?"
Terkejut atas sosok berjubah yang menghindar dengan mudah, pria ksatria yang ada di dekatnya di tendang ke belakang yang membuatnya tersungkur ke permukaan dengan posisi dada yang terjatuh terlebih dahulu.
"Sial."
Pria yang satunya lagi maju dan mulai membabi buta menggerakkan setiap tebasan di pedang yang dipegangnya. Tebasan demi tebasan berhasil dihindari dengan mudah oleh sosok itu tanpa kesulitan sedikitpun.
Menyedihkan.
Dengan satu sentuhan dari tangannya yang memegang ujung pedang, sepasang mata berwarna merah terang terlihat jelas oleh pria yang menghunuskan pedangnya secara membabi-buta.
"A-ampuni aku... aku..."
Tidak merasakan simpati pada kata-katanya, salah satu pedang yang tersimpan dibalik jubahnya yang berwarna perak terang mulai sedikit redup menyebabkan tebasan yang terjadi pada lehernya membuat kepalanya terputus dengan mudah.
Sekarang....
"Hiiik!"
Berusaha bangkit dari keterpurukannya, pria yang terjatuh tidak dapat menyeimbangkan posisi gerakan dan larinya karena instingnya mengatakan bahwa berikutnya adalah kematiannya yang tersirat dari tatapannya yang keji.
"Selamat tinggal!"
Dengan tebasan yang muncul mendadak di lengan, pria itu menusukkan tepat di bagian jantung ksatria kerajaan yang terkejut atas tusukannya lalu terdiam.
Tebasan itu kemudian diputar dari posisi horizontal menjadi vertikal yang membuat lubang tubuhnya terlihat jelas dan darah yang mengalir terbilang banyak menyebabkan genangan darah di permukaan.
Melepaskan jubahnya di malam hari, Veru yang diselimuti oleh zirah berwarna perak yang berubah menjadi hitam mulai mengeluarkan helm zirah yang berwarna hitam pekat menutupi identitas aslinya.
Waktunya melakukan perburuan.
Dengan mata merah yang menyala di salah satu matanya terlihat dibalik sela helm zirah membuatnya hilang dari tempatnya berada.
__ADS_1
"Hei, lihatlah itu!"
"Siapa dia?"
"Apakah dia adalah iblis?"
"Cepat segera hentikan dan jangan biarkan dia keluar dari Kota Farihiora."
"Ya."
Beberapa pasukan ksatria kerajaan yang bergerak cepat ke arah gerbang utama Kota Farihiora berdiri diam untuk mencegah sosok zirah hitam yang mereka anggap sebagai iblis.
Pasukan ksatria kerajaan yang ada di belakang mulai membidik anak panah ke arah sosok zirah hitam berkali-kali namun gagal. Sosok itu dengan cepat menghilang tubuhnya yang membuat rentetan tembakan anak panah melewatinya tampak transparan pada tubuh zirah hitam tersebut.
"Mari maju!"
"Ya."
Satu-persatu dari pasukan ksatria kerajaan maju ke arah zirah hitam berada. Menghindari tebasan dengan menekuk punggung ke belakang dan mencondongkan tubuhnya ke depan, serta menggerakkan tubuhnya ke kiri-kanan, zirah hitam dapat dengan mudah menghindar dari tebasan mereka.
Benar-benar lemah.
Di tangan kanannya yang terdapat pedang berwarna perak yang redup oleh hitam samar-samar mulai menebas ke pasukan ksatria kerajaan.
Tebasan di perut, tebasan yang memotong lengan, tebasan yang memotong kaki, serta tebasan yang memotong kepala benar-benar mengerikan untuk dilihat oleh pasukan pemanah di ksatria kerajaan di belakang yang jauh dari tempat zirah hitam berada.
"Baiklah."
Menyiapkan ancang-ancang dengan tubuhnya dan pedang yang disingkap di sampingnya menahan dengan kaki kanannya ke depan, zirah hitam memutar dan menebas udara kosong secara vertikal menyebabkan angin berwarna putih dan hitam dalam jarak luas yang tipis terbentuk dari udara hampa.
Darah mulai mengalir deras di tubuh. Mayat-mayat yang tergeletak serta genangan darah menyebabkan zirah hitam dipenuhi oleh kegelapan dan kegelapan yang menyelimuti hati dan pikirannya.
Tunggu aku, Kanae.
Sepasang mata menyala dibalik helm zirah menyebabkan dia tidak sabar untuk membalas dendam atas kesalahan temannya yang menempatkan dirinya di tahanan.
•••••
Di kedalaman hutan, sosok zirah hitam berjalan menuju ke dalam mulut gua yang sebagai pintu masuk.
Bunuh dan habisi dia.
Pikiran dan hatinya yang sudah tidak bisa berpikir jernih hanya terfokus pada satu keinginannya yaitu membalas dendam atas seseorang yang membuatnya dipermalukan seperti sekarang.
Kehilangan reputasi sebagai seorang ksatria, dikhianati, dipermalukan, ditahan dan dilepaskan jabatannya sebagai ksatria khusus kerajaan, pria itu tidak dapat melakukan apapun selain mengikuti emosi negatifnya.
Di tangan kanannya, pedang yang sebelumnya terdapat warna perak yang redup oleh kegelapan telah sepenuhnya berubah menjadi hitam pekat.
Bunuh dan habisi dia.
Setiap kali zirah hitam itu berjalan, dia selalu menghabisi para petualang maupun penduduk yang ditemuinya di sepanjang jalan tanpa belas kasihan sedikitpun.
Di kedalaman gua, sepasang mata berwarna perak dan merah terang menyadari ada yang tidak beres diluar gua yang sedang mendekat ke arah mereka.
"Apakah kau mau melakukannya, Tuan Ksatria?"
"Ya."
Meskipun gelap gulita, salah satu orang yang memiliki sepasang mata berwarna kebiruan terang terlihat jelas dari kedalaman gua tanpa ada cahaya sedikitpun. Langkah kaki yang terdengar pelan mulai melangkah menjauh dari kedua pasang mata berwarna perak dan merah.
"Aku serahkan padamu, Tuan Ksatria."
"Jangan biarkan dia membunuhmu."
"Tentu."
Bunyi dari berisik zirah yang dikenakan dapat terdengar menggema di kedalaman membuat mereka berdua sudah terbiasa atas kebisingan dari sepatu zirah yang dikenakan olehnya.
Aku akan menghabisi dirimu, Kawan.
Perlahan-lahan terdapat percikan api di salah satu matanya yang terang dalam hitungan detik.
"Baiklah. Apa yang akan kita lakukan?"
"Kita akan mengamatinya lalu memanfaatkannya. Bagaimana menurutmu?"
__ADS_1
"Ide yang bagus."
Tidak dapat membiarkan mereka melakukan seenaknya, kedua sosok di kedalaman gua di gelap gulita berjalan ke arah yang sama dengan pelan dan santai menuju ke sosok dengan pakaian zirah yang akan menghadapi seseorang nantinya.