The Necromancer

The Necromancer
Ch. 10,2:Berpesta dan Bersantai (2)


__ADS_3

"Bagaimana menurutmu, Regard?"


"Apakah pakaian ini terlihat cocok bagi kami?"


Shilphonia dan Friya yang menanyakan itu pada Regard merasa ragu bahwa mereka berdua pantas untuk mengenakan pakaian yang diberikannya.



Regard yang memperhatikan pakaian mereka, tersenyum dan mengangguk.


"Cocok untuk kalian berdua, bahkan kalian terlihat lebih cantik sekarang."


Mendengar perkataan dari Regard, wajah Shilphonia dan Friya memerah karena malu. Mereka berdua sama sekali tidak menyangka kalau mereka akan dipuji dihadapannya. Apalagi dengan kata-katanya yang terus terang, Regard hanya mengemukakan pendapat pribadinya usai melihat penampilan Shilphonia dan Friya jadi dia tidak bersalah sedikitpun.


Sebaliknya, dia merasa bangga dan senang atas kecocokan yang dia beli sebelumnya pada pakaian yang ia berikan pada mereka.


"Baiklah. Mari kita pergi!"


"Pergi?"


"Kemana kita akan pergi?"


"Kita akan berpesta sepuasnya di Aula Guild."


Menerima ajakan dari Regard, kedua gadis yang ditarik lengannya hanya bisa pasrah atas undangan yang mereka terima darinya.


•••••


Di Aula Guild Petualang yang luas, sebagian para petualang bersenang-senang bersama dengan rekan-rekannya. Di salah satu meja, terdapat tiga orang yang sedang menikmati menu makanan mereka di siang hari. Ketiga orang itu tidak lain ialah Regard, Shilphonia, dan Friya.


"Apakah ini baik-baik saja?"


"Kenapa makanannya banyak sekali?"


Friya yang terlihat ragu untuk menyantap makanan yang dihidangkannya hanya bisa menatapnya dengan heran, begitu juga dengan Shilphonia, dia merasa kalau Regard terlalu berlebihan dalam mengundang mereka untuk ikut berpesta.


"Jangan khawatir, kalian tidak perlu memikirkan bayarannya karena aku memiliki uang yang cukup banyak."


Mengeluarkan kantong kain berisikan koin yang berjumlah banyak, Shilphonia dan Friya merasa bahwa pemikirannya bukan terletak pada masalah uang.


"Hei Regard, bukankah ini terlalu berlebihan?"


"Ya, aku tidak tahu apakah aku mampu menghabiskan sebagian besar makanan yang ada di meja atau tidak."


Regard yang dengan lahap menyantap makanan di kursinya, berhenti dan melihat ke arah mereka.


Senyum sempat terlihat di bibirnya. Di area sekitar mulutnya terdapat bekas-bekas sisa makanan, dibersihkan olehnya, dan mulai mengatakan sesuatu pada mereka untuk meyakinkan keduanya.


"Jika kalian tidak bisa menghabiskannya, aku dapat menggantikannya untuk kalian."


"Baiklah."


"Aku terima."


Dengan terpaksa Shilphonia dan Friya menyantap makanan yang dihidangkan di meja mereka masing-masing.


Di lain tempat, langkah kaki Veru yang keluar dari Maid Cafe terhenti sejenak. Di depannya terlihat sebuah papan besar yang dipajang di papan berita di tiap tiang di Kota Farihiora.


Papan tersebut terdapat lembaran kertas baru yang menyajikan informasi terbaru yang dia dapatkan sekarang, informasi itu sendiri terkait dengan masalah yang terjadi di penambangan baru-baru ini.


Menurut beberapa laporan dan saksi mata, penambangan di wilayah itu yang sebelumnya tidak terjadi apa-apa telah berubah menjadi mengerikan dan menakutkan. Mulai dari; gempa bumi, bunyi dentuman yang kuat, serta teriakan seorang gadis dari dalam penambangan membuat para penambang enggan untuk masuk dan mengetahui siapa yang berada di kedalaman gua penambangan.


"Ini menarik sekali."


Perhatian Veru yang tertuju pada selembar kertas di papan yang ada di tiang, tersenyum.


Pikirannya beralih ke arah Regard yang diyakini dapat menyelesaikan ancaman ini demi kepentingan penduduk di sekitarnya agar mereka bisa melakukan aktivitas menambang seperti semula. Itu sebabnya Veru hanya bisa mendapatkan asumsi seperti itu karena dia tahu bahwa Regard adalah orang yang tepat untuk dimintai bantuan darinya.


Di dalam Aula Guild Petualang, Shilphonia dan Friya sudah tidak sanggup menyantap makanan dan minumannya lagi.


"Mereka sudah mencapai batas ya."


Tidak memaksa kehendaknya untuk menyuruh Shilphonia dan Friya, Regard memutuskan untuk menghabisi makanan dan minumannya sendirian tanpa perlu bantuan dari mereka.


Sekitar beberapa menit sesudah dia menyantap makanan dan minumannya dengan lahap dan nikmat, Regard menatap ke keduanya yang duduk di depannya.


"Apakah kalian mau berkeliling?"


"Ya, aku mau."

__ADS_1


"Aku juga sama."


Menurut mereka berdua, menghabiskan waktu di Aula Guild Petualang maupun di kamar penginapan hanya akan membuat mereka bosan dan jenuh pada kondisi mereka saat ini. Apalagi dengan tubuh mereka yang terlihat kekenyangan membuat mereka yakin kalau kembali ke penginapan hanya akan membuat mereka tertidur pulas di kamar. Itu sebabnya mereka dengan antusiasme yang tinggi menerima ajakan Regard untuk berjalan-jalan dan berkeliling kota untuk meringankan perut mereka dari kekenyangan sekaligus memperbarui suasana yang ada.


Shilphonia dan Friya keluar dari Aula Guild Petualang menunggu kedatangan Regard yang pergi ke area pembayaran untuk membayar makanan dan minuman yang dipesannya sebelumnya.


"Ini dia uangnya."


"Ya. Terimakasih atas kunjungan anda, Tuan!"


Memperhatikan ke kedua gadis yang menunggu di depan pintu masuk Aula Guild Petualang, wanita yang melayani Regard tersenyum dan mengalihkan pandangannya ke Regard.


"Anda benar-benar hebat ya, Tuan. Anda sudah tidak lagi sendirian sekarang."


"Ya, kau benar."


Regard yang tahu bahwa dirinya yang dulu dengan dirinya yang sekarang, ia menyadari perubahannya.


Mulai dari dirinya yang dulu yang tidak terlalu peduli pada lingkungan sekitar membuatnya dianggap sebagai orang pendiam yang sulit untuk didekati oleh petualang lain yang berada di Aula Guild Petualang telah berubah menjadi ramah dan mudah bersosialisasi terhadap siapapun.


Tak hanya mudah bersosialisasi terhadap siapapun, Regard juga menolong orang lain yang kesulitan untuk menentukan misi mereka di Guild Petualang yang membuatnya terkenal dan populer di kalangan petualang pemula.


"Saya harap mereka dapat masuk ke Guild Petualang untuk mendaftarkan diri sebagai petualang."


"Aku juga berpikir begitu, tapi aku tidak bisa memaksa kehendak aku untuk menyuruh mereka masuk menjadi seorang petualang bukan?"


"Ya, setiap orang memiliki hak mereka masing-masing jadi anda tidak boleh memaksa kehendak anda pada mereka jika mereka tidak berkeinginan untuk menjadi seorang petualang."


"Ya, itu sebabnya aku meminta izin padamu dan resepsionis di bagian sana untuk mengizinkan mereka masuk meskipun mereka bukanlah seorang petualang."


Selesai mengatakan itu padanya, Regard bergegas pergi ke arah pintu masuk Aula Guild Petualang.


"Lama sekali."


"Apakah kamu sedang berduaan dengan wanita tadi?"


"Tidak, kami hanya berbicara sedikit mengenai masa lalu."


"....."


"....."


Menatap tajam ke arahnya, Regard tidak tahu atas tindakan mereka yang berubah menjadi aneh.


"Bagaimana kalau kita pergi sekarang selagi hari masih siang?"


"Baiklah."


"Ya."


Setelah memperhatikan mereka berdua saling memandang dan setuju satu sama lain, Regard menghela nafas lega, bersyukur bahwa mereka tidak menuntut lebih pada kedekatannya terhadap wanita yang melayani makanan dan minuman tadi yang sedang berbicara padanya sebelumnya.


•••••


Regard POV


Selama kami mengelilingi Kota Farihiora, kami mampir ke berbagai tempat yang ada. Mulai dari toko makanan yang disediakan di pinggir jalan, menikmati pemandangan alam, menikmati indahnya alunan melodi di salah satu jalan, serta duduk beristirahat di restoran yang mahal.


"Hei, apakah ada toko buku di kota ini?"


"Toko buku ya."


Kalau tidak salah, aku pernah melihatnya di jalan yang berbeda.


"Ya, aku rasa kota ini juga menyediakan toko buku."


"Benarkah?"


"Tentu. Ikuti aku!"


Memimpin di barisan depan, aku mencoba mengingat kembali dimana aku pernah melihat toko buku.


Jika aku mampu mengingatnya, mungkin aku akan mampir ke toko itu untuk menambah wawasan dan pengetahuan yang ada untuk diperluas melebihi wawasan dan pengetahuan yang kumiliki sekarang.


"Ini dia!"


"....."


"Besar sekali."

__ADS_1


Tentu. Siapapun akan terkejut dengan gedung yang besar dan luas yang diletakkan di jalan ini.


Awalnya aku juga sama seperti mereka. Bahkan lebih parahnya, aku beranggapan bahwa gedung ini adalah Guild Petualang atau penginapan untuk para petualang yang ada di Kota Farihiora.


Sayangnya, aku salah jadi aku ditertawakan oleh Paman Veru.


"Mari kita masuk?"


"Ya."


"Baik."


Memasuki pintu kaca, kami melihat seluruh rak membentang luas di setiap tempat.


Ada tiga lantai yang dapat kami lihat di kejauhan.


Lantai pertama adalah tempat kami berpijak memiliki rak buku dalam jumlah banyak dengan susunan yang menarik dan unik. Lantai kedua adalah lantai yang terdapat tangga melingkar dari lantai dasar menuju lantai kedua, yang terdapat banyak buku yang disusun rapih di rak dengan formasi yang sama seperti rak di lantai pertama. Dan yang terakhir ialah lantai ketiga, lantai dimana tangga itu mengarah ke lurus dari arah samping yang membuat siapapun melihatnya akan tertarik pada keindahan dan kecantikan yang disediakan di dalam perpustakaan ini.


"Baiklah. Kurasa lebih baik jika aku pergi terlebih dahulu."


"Ya."


"Terimakasih."


Pergi dari tempat kami, Furuhiora menelusuri sisi rak buku yang sedang memperhatikan sesuatu di setiap rak yang ada.


Aku sempat memperhatikannya juga. Di depan rak, terlihat nama-nama buku yang disediakan dalam satu rak yang artinya semua buku sudah dikategorikan sejak awal oleh mereka.


"Regard...."


"Aku juga mau membaca buku."


Pergi untuk mengetahui setiap nama yang tersedia di rak buku yang aku lewati, aku berhenti di salah satu rak yang bertuliskan "Sihir" di rak buku yang ada di depanku.


Mungkin aku ingin memahami luas arti dari sihir.


Siapa tahu aku dapat mempelajari sihir terkuat dan terhebat melebihi kemampuan dan kekuatan yang kumiliki sekarang.


Ya, aku ingin mencoba mencari tahunya terlebih dahulu.


Mari lihat.


Terdapat banyak buku yang disusun rapih di setiap barisan. Masing-masing buku tersedia di rak, mulai dari pengetahuan dasar tentang sihir hingga sihir terkuat dan terhebat yang pernah ada di dunia, semua benar-benar lengkap.


Baiklah. Mari ambil yang ini dan ini.


Meletakkan salah satu buku di dekatku, aku memulainya dengan buku tentang pemahaman dasar bagi pemula yang ingin mempelajari sihir.


•••••


Shilphonia POV


Regard dan Furuhiora lama sekali ya.


Sejujurnya aku sudah tidak terlalu tertarik terhadap buku-buku yang ada di perpustakaan sejak aku mengetahui masa lalu kelam yang kumiliki sebelumnya.


Sebisa mungkin aku ingin menjauh dari hal-hal mengenai pengetahuan dan buku untuk diriku yang sekarang.


Jika aku masih terfokus pada pengetahuan dan buku yang akan aku baca, aku mungkin akan merasakan emosi bergejolak di dalam hatiku yang akan membuatku terus-menerus membenci mereka, Para Tetua yang pernah membuang aku ke bumi.


Yah, meskipun sekarang aku sudah bersyukur atas hidup yang baru, aku tetap sebisa mungkin menjalaninya tanpa ada dendam, kekesalan, dan kebencian terhadap mereka.


Hidupku yang sekarang berbeda dengan hidupku di masa lalu.


Itulah prinsip dasar yang kumiliki.


Selama beberapa jam aku menunggu di kursi yang disediakan di perpustakaan, Regard dan Furuhiora berjalan mendekat ke arahku.


"Bagaimana?"


"Bagus. Aku sudah membeli beberapa buku yang diperlukan."


"Aku juga."


Menunjukkan setiap kantong belanjaan yang tampaknya berat, aku berasumsi kalau mereka benar-benar berniat untuk menambah wawasan dan pengetahuan mereka terhadap buku yang akan mereka baca.


Aku akui membaca sangat penting untuk dilakukan.


Terlepas dari menambah wawasan dan pengetahuan, orang tersebut akan dapat mengetahui sejumlah informasi yang dibutuhkan yang tidak pernah diperoleh sebelumnya di kehidupannya, baik itu petualang maupun penduduk kota ataupun desa, mereka pasti tidak luput dari pengetahuan tentang buku yang mereka baca.

__ADS_1


Itu sebabnya pengetahuan lebih penting daripada apapun.


Yah, walaupun aku sekarang sudah tidak terlalu menyukai membaca buku, tapi aku tetap menghormati dan menghargai orang-orang yang meluangkan waktu mereka demi membaca buku.


__ADS_2