The Necromancer

The Necromancer
Ch. 47:Keputusasaan Regard


__ADS_3

"Sudah kuduga kalian akan muncul dihadapan aku."


Dihadapan Regard, kedua sosok yang sebelumnya berhasil dimilikinya ada di depannya, Fuzikumibaru dan Fallen Angel, Lucifer, mereka berdua tidak memiliki emosi di wajahnya, serta tatapan mata mereka yang kosong membuat Regard berpikir ini adalah ulah dari Stahark.


"Majulah!"


Membiarkan mereka berdua maju, Regard menduga itu yang akan dilakukannya.


Fuzikumibaru yang dengan cepat berlari ke arahnya, mengeluarkan tombak kayu yang panjang dari balik jubahnya yang diulurkan ke tubuh Regard. Dengan cepat, Regard memiringkan tubuhnya, menghindari serangannya, ia hanya menampilkan senyum yang tak kenal takut yang diperlihatkan pada Fuzikumibaru.


Tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, Lucifer yang mengeluarkan sepasang sayap hitam dan sepasang sayap putih, menembakkan bulu-bulu dari sayap hitam ke arah Regard yang meledak saat ada di beberapa inci dekat Regard menyebabkan asap hitam membumbung tinggi memenuhi area sekitar.


Ini benar-benar merepotkan sekali.


Tanpa keluar dari tempatnya berada, Regard yang memutuskan untuk mengambil pilihan lain mengerahkan sebagian kekuatan dan kemampuannya, ia menampilkan sosok Fuzikumibaru dan Lucifer untuk mengetahui sejauh mana mereka mampu menghadapi diri mereka sendiri.


"Lakukanlah!"


Dengan jari-jarinya yang terhubung, Regard yang menggunakan [Special Rope] mengubah tubuh Fuzikumibaru dan Lucifer yang diciptakannya melalui [Change Material] membuat tubuh mereka berubah menjadi Marionette Makhluk Hidup yang dapat dikendalikan sesuka hatinya berlari menembus asap hitam, menyerang mereka berdua.


Ini akan menjadi tontonan menarik.


Di kejauhan dari tempat Regard berada, Stahark yang melihat salah satu kristal yang melayang di depannya menampilkan Regard yang bisa membuat dan menciptakan kemampuan yang dimiliki oleh lawannya yang telah dibunuhnya membuat Stahark tertarik untuk mengetahui sejauh mana dia melakukannya.


Secara keseluruhan, Stahark yakin kalau tempat ini, Golden Castle ciptaannya telah disusun sedemikian rupa agar mereka, orang-orang yang terjebak di dalamnya tidak saling bertemu satu sama lain karena dimensi yang dibuatnya berbeda-beda. Meskipun tempat dan lokasinya sama, itu tetap berbeda karena mereka tidak akan saling bertemu dan bersatu yang membuat Stahark yakin ini adalah akhir untuk Regard.


Bahkan saat Stahark tahu atas kedatangan tamu tak diundang, mereka yang menjadi teman-temannya Regard berpikir akan datang membantunya namun sayangnya Stahark tidak tertarik terhadap mereka, satu-satunya yang ia fokuskan adalah memperhatikan kristal yang memperlihatkan Regard.


•••••


Regard POV


Mari lihat seberapa hebat dan kuatnya mereka menghadapi diri mereka yang lain. Fuzikumibaru yang melawan Fuzikumibaru, Fallen Angel Lucifer melawan Fallen Angel Lucifer, siapa yang terkuat diantara mereka.


Aku hanya menyaksikannya sambil mengendalikan mereka menggunakan jari-jari tangan yang aku gerakan pada boneka ini, tidak menambahkan apapun seperti; mana, kekuatan dan kemampuan yang kumiliki kepada mereka, aku hanya ingin mengetes secara murni tentang kelenjar dan kekurangan dari boneka ini.


Jika boneka ciptaan aku melalui kemampuan yang didapat dari Fuzikumibaru terbilang buruk, mungkin aku bisa mengevaluasi perlahan-lahan dimana letak kesalahannya.


Haruskah aku memperbaikinya segera atau tidak, mempertimbangkan pilihan itu saat berhasil keluar dari tempat yang tampak seperti istana ini akan aku pikirkan nanti.


Yang terpenting sekarang adalah bertemu Stahark, menghadapinya dan melawannya, aku ingin membebaskan diri dari tempat yang tidak kukenal dan ketahui, yang katanya adalah tempat peristirahatan terakhir sekaligus pemakaman untukku.


Aku hargai atas pembuatannya yang terkesan indah dan cantik yang menakjubkan untuk dilihat oleh kedua mataku atas apa yang ada di artistik yang ditampilkan di seluruh bangunan yang kulihat.


Dikarenakan dulunya aku adalah seorang buruh bangunan, aku memahaminya dengan jelas; garnet merah muda, marmer, dinding yang di cat berwarna keemasan, ini sungguh luar biasa untuk dilihat.


Jika ini dijadikan sebagai monumen, Stahark mungkin akan mendapatkan sejumlah uang yang tak ternilai yang membuatnya dapat hidup penuh dengan kekayaan. Tapi sayangnya dia membuatnya hanya untuk peristirahatan untukku, aku sedih saat mengetahuinya.


Yah, lupakan soal itu. Ada yang penting untuk dilakukan olehku sekarang yaitu menonton diri mereka saling bertarung satu sama lain, tanpa emosi di wajah dan mulut mereka yang terdiam, mereka benar-benar seperti pion yang dapat digunakan sesuka hati.


•••••

__ADS_1


Kedua Fuzikumibaru yang saling beradu pedang kayu dan tombak kayu, keduanya tidak membiarkan salah satu dari mereka lengah yang membuat keduanya mampu menyeimbangi gerakan satu sama lain; bertahan dan menyerang, itulah yang mereka lakukan.


Berbeda dengan Fuzikumibaru, Fallen Angel Lucifer yang tidak dikendalikan oleh Regard, ia dengan cepat berjongkok dan menyentuh garnet merah yang membuat beberapa lingkaran sihir berwarna merah muncul secara zig-zag, perlahan-lahan menyemburkan lahar dalam jumlah banyak yang membumbung tinggi ke langit membuat Fallen Angel Lucifer yang dikendalikan oleh Regard memijak kaki kanannya, menciptakan dinding berukuran besar yang tebal dengan pertahanan berlapis-lapis.


Ini benar-benar merepotkan.


Bagi Regard, tidak menambah kekuatan dan kemampuan pada Marionette Makhluk Hidup miliknya hanya akan berakhir seri.


Tidak peduli bagaimana kelihatannya, ia sama sekali tidak menemukan salah satu dari Marionette Makhluk Hidup miliknya melawan pion Stahark yang menang, kedua berakhir seimbang. Terkadang, salah satu diantara mereka saling menyerang dan bertahan menyebabkan situasi ini terus berlanjut tanpa henti.


Haruskah aku menambahkan kekuatan dan kemampuan pada mereka?


Berpikir itu akan menguntungkan kedua belah pihak antara Regard dan Marionette miliknya, pikirannya dengan segera menepis untuk menolaknya karena itu sama seperti curang.


Alasan dia sengaja melakukan hal murni bukan untuk menginginkan kemenangan, tapi evaluasi sejauh mana produk miliknya dapat bertahan dan menyerang tanpa bantuan apapun, Regard hanya ingin tahu. Meskipun nantinya berakhir seri maka Regard hanya bisa menunggu, menonton pertandingan mereka yang dikendalikan tanpa peduli sedikitpun atas wajah dan hati mereka yang telah tiada.


Di sisi lain, Stephani yang berjalan menelusuri ruangan yang berhenti sejenak melihat segerombolan Hound dan Treho, keduanya mengepung dirinya yang menghalangi jalan di depannya untuk tidak bisa melangkah lebih jauh lagi.


Apa yang harus kita lakukan, Stephani?


Entahlah. Mungkin lebih baik jika kita menghabisi mereka semua.


Ya, aku setuju padamu.


Berkomunikasi bersama Shilphonia yang masih beristirahat di dalam tubuhnya, Stephani yang mengeluarkan kedua pedang yang muncul entah dari mana datangnya, dipegang oleh kedua tangannya, ia berlari menerjang langsung ke arah Hound dan Treho berada.


Pedang berwarna perak dan pedang berwarna keemasan, keduanya menebas tubuh Hound yang berada di barisan depan dengan mudah. Treho yang berada di tengah-tengah kerumunan Hound, mereka dengan segera menghilangkan keberadaannya yang membuat Stephani tersenyum.


"Baiklah. Waktunya untuk mengganti dengan serangan ini."


"Sekarang!"


Salah satu lengan yang memegang pedang berwarna perak yang menghilang dengan sendirinya, Stephani tidak memegang apapun di lengan tersebut melainkan menggerakkannya, membiarkan seluruh Hound dan Treho terikat oleh [Golden Chain], rantai keemasan yang menahan pergerakan mereka, Stephani mengeluarkan salah satu pedang berwarna putih salju yang dipegang terbalik ke arah lantai dengan tangannya.


Pedang berwarna putih salju itu mengeluarkan kristal es dalam jumlah banyak, membekukan setiap tubuh Hound dan Treho, Stephani tersenyum dan mengganti pedang berwarna hijau dengan pedang berwarna merah terang layaknya lahar.


"Musnahlah kalian!"


Dengan kobaran api yang berubah menjadi lahar dalam satu kali tembakan, es yang membekukan tubuh Hound dan Treho, keduanya terbakar dalam arus lahar yang membuat tubuh mereka tak tersisa sedikitpun.


Sepertinya kamu terlalu berlebihan dalam melakukannya.


Tidak apa-apa. Aku takkan biarkan mereka mendekatiku lebih dulu.


Mendengar perkataan Stephani, Shilphonia hanya bisa tersenyum pahit, tidak mengerti mengapa Stephani begitu antusias dan bersemangat dalam menghabisi monster biasa yang bukan tandingannya.


•••••


Reita POV


"....."

__ADS_1


Segerombolan goblin yang menghadang di depanku, mereka membawa pedang dan tombak kayu yang terdapat besi di ujung ketajaman senjatanya, aku yakin ini ada kaitannya dengan mimpi yang dilihat di masa lalu.


Ada kemungkinan bisa berhubungan karena aku tahu ini adalah ulahnya, aku tidak terkejut untuk kedua kalinya karena aku sudah menduga ini yang akan terjadi padaku.


"Baiklah. Majulah!"


Mendengar provokasi dariku, kawanan goblin yang mendekatiku, mereka menyerang secara berkelompok. Beberapa goblin pedang dan tombak yang mengarahkan kedua senjatanya ke arah tubuhku, aku menghindarinya. Mulai dari; kiri, atas, belakang, kanan, aku terus-menerus menghindarinya.


Menikmati momentum yang ada, aku tidak tahu bagaimana bisa aku tersenyum, tapi aku yakin mungkin ini adalah kenikmatan yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Kenikmatan dimana aku membalas perbuatan mereka sebelumnya di kabut tebal, sekarang harus menghadapinya dengan nyata.


"....."


Menoleh ke belakang, salah satu goblin berukuran besar, Hob Goblin yang memegang gada besi bergerigi diarahkan padaku, aku menarik sarung pedangku dari pinggang, menangkisnya dengan kuat, langkahku sempat terdorong sedikit dari tempatku berada.


Untungnya aku memiliki pedang yang diberikan oleh Kak Regard, aku tidak takut untuk menggunakannya saat aku yakin kalau aku tidak butuh menggunakan kekuatan dan kemampuan aku sebagai seorang Alchemist, itu sangat menyebalkan untuk musuh biasa seperti mereka.


"Gawat!"


Sebelum salah satu goblin yang melompat dari punggung Hob Goblin yang ada di depanku sambil mengulurkan tombaknya yang panjang, aku menggunakan lantai yang telah aku ubah menjadi pedang biasa dengan warna perak, aku menangkisnya dengan cepat.


Terdapat percikan bunga api yang terlihat, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada sekarang, aku menggunakan kedua tanganku yang menangkis serangan mereka sebelumnya dalam posisi menyilang, aku membuat sedikit gelombang kejut pada mereka menyebabkan mereka mundur beberapa langkah.


Sekarang ini adalah giliran aku!


Di ujung pedang yang diberikan oleh Kak Regard, cahaya berwarna hitam pekat terpancar yang siap untuk digunakan dalam menebas tubuh mereka, sedangkan pedang biasa berwarna perak yang mengeluarkan cahaya putih, aku siap untuk melancarkan serangan ini terlebih dahulu pada mereka.


Beberapa goblin yang maju ke arahku, dengan cepat aku melindungi tubuhku menggunakan pedang perak yang perlahan-lahan bersinar terang, menyilaukan pandangan goblin yang ada di sekitar, aku gunakan kesempatan ini untuk membunuh Hob Goblin yang menyerang aku dari belakang.


"Rasakan ini!"


Satu tebasan diarahkan ke perut, aku memutar pergerakan tubuhku. Dua tebasan mengenai kedua lengannya yang terpotong dan terjatuh ke lantai, aku mengulangi putaran gerakan pada tubuhku. Ketiga tebasan kulakukan dengan menusuk tepat di jantung Hob Goblin, Hob Goblin itu terlihat terkejut, meringis kesakitan tanpa dapat melakukan perlawanan.


"Selamat tinggal, Monster Bodoh!"


Perlahan-lahan Hob Goblin yang tubuhnya terjatuh bersimbah darah, kabut berwarna hitam muncul dari tubuhnya yang melayang di udara dan sirna begitu saja, aku yakin itu telah usai.


Tapi, masih banyak goblin yang mendekatiku, aku belum bisa sepenuhnya tenang dalam kondisi seperti ini.


•••••


Seorang gadis elf berambut pirang menelusuri sepanjang lorong istana. Pandangannya yang melihat-lihat ke arah sekitar membuatnya waspada dan berhati-hati atas apa yang menantinya sama seperti yang terjadi sebelumnya.


"Kalian...."


Dihadapan Friya, ada beberapa monster yang pernah menyerang Desa Elf di Fairy Forest; gerombolan Orc yang memiliki kedua senjata yaitu pedang dan tombak, mereka berlari ke arahku.


"Benar-benar deh. Kenapa harus bertemu dengan mereka lagi?"


Tidak menyangka akan bertemu monster yang sama seperti sebelumnya di Fairy Forest, Friya yang memegang tongkatnya di depan tubuhnya, mengaktifkan [Magic Blade] yang membuatnya berlari ke arah mereka.


Friya yang masuk ke dalam kerumunan Orc yang terus-menerus menyerangnya tanpa henti, ia yang menangkisnya dengan mudah pada tubuhnya yang dipasang [Magic Shield] membuatnya kebal dari serangan fisik.

__ADS_1


Tombak yang diarahkan ke wajahnya, Friya tidak menghindari serangannya melainkan terdiam. Dia yang memegang tongkatnya yang terdapat ujung berwarna biru cerah yang tajam, dia menebas Orc pedang di depannya yang membuat darah menyembur keluar dari tebasan tersebut.


Tidak diberi kesempatan yang ada, salah satu tangan Friya yang berada di sisi tubuhnya, ia mengaktifkan [Crystal Shoot] yang membuat Orc dengan tombak panjangnya di belakang yang berlari dengan berteriak tertancap oleh beberapa kristal berwarna-warni yang menusuk lebih dalam ke tubuhnya, Orc dengan tombak di tangannya yang berhenti langsung jatuh ke lantai dan tiada.


__ADS_2