The Necromancer

The Necromancer
Ch. 12:Kehilangan Kakak Tercinta


__ADS_3

Di tengah kepadatan penduduk kota di malam hari, sekelompok orang memasuki gedung penginapan untuk segera beristirahat.


"Baiklah. Aku pergi dulu untuk melaporkan insiden yang terjadi sebelumnya pada Yang Mulia."


"Ya."


"Terimakasih atas kerjasamanya."


"Aku harap kita dapat bekerjasama lagi nanti."


"Tentu."


Meninggalkan ruangan penginapan, seorang pria melambaikan tangan pada mereka selagi berjalan menjauh dari tempat mereka. Perlahan-lahan, sosok pria yang melambaikan tangan menjauh dan menghilang dari keramaian yang ada di luar kota.


"Baiklah. Sekarang kita hanya perlu menunggunya untuk bangun."


"Kamu benar."


"Apakah ini membutuhkan waktu yang lama?"


"Entahlah. Tergantung dari dirinya, cepat atau lambat, dia akan sadar nantinya."


Memperhatikan pandangan mereka ke wanita berambut biru panjang, mereka cemas dan khawatir atas kondisinya.


Menurut mereka, ketidaksadarannya akan menjadi masalah besar jika mereka dilihat oleh para penduduk di kota. Tak hanya dilihat, kebanyakan dari para penduduk kemungkinan besar akan menyebarkan rumor buruk tentang mereka.


Itu sebabnya mereka khawatir kalau rumor buruk akan terdengar cepat atau lambat ke telinga mereka.


"Baiklah. Kurasa lebih baik jika aku pergi untuk memesan makanan dan minuman terlebih dahulu di penginapan."


"Ya."


"Maaf merepotkan dirimu, Regard."


Selesai melambaikan tangan dan keluar dari ruangan, Regard bergegas menuruni anak tangga menuju ke lantai dasar, memesan makanan dan minuman kepada pemilik penginapan.


"Furuhiora, apakah tidak ada cara untuk membuatnya sadar?"


"Sebetulnya aku bisa melakukannya, tapi aku tidak mau melanggar perjanjian aku dengan Regard jadi aku sengaja tidak melakukannya."


"Begitu ya."


Menghela nafas panjang, Shilphonia sudah menduga bahwa penolakan Friya diberikan padanya.


Mendekati tubuh wanita berambut biru panjang, Shilphonia duduk di sisi kasur dan memeriksa kondisinya. Kondisinya bisa dikatakan baik-baik saja, mulai dari aliran darah, sistem pernafasan, denyut nadi, serta jantung yang berdetak benar-benar membuat Shilphonia lega pada kondisinya yang tidak mengerikan dan menakutkan.


Bagi Shilphonia, serangan yang dilakukan Regard terbilang mengerikan dan menakutkan. Selain kuat dan hebat, serangannya dapat dengan mudah membunuh siapapun yang menjadi musuhnya jadi Shilphonia tidak tega jika wanita berambut biru panjang menjadi korban berikutnya atas keganasan yang dimiliki oleh Regard.


"Ini dia harganya, Nak."


"Ya. Ini, terimalah."


"Terimakasih, Nak."


"Ya, sama-sama."


Pergi meninggalkan lantai dasar, Regard memutuskan kembali ke lantai kedua dimana kamarnya dan kamar Shilphonia berada.


Dikarenakan Friya belum memiliki kamar, ada kemungkinan Regard akan memesan satu kamar lagi untuk menempatkan mereka berdua nantinya di salah satu kamar dengan dua kasur di dalamnya atau wanita berambut biru panjang ikut dengan Shilphonia, keputusan ada di tangan Friya.


Itulah yang terbaik menurut Regard.


"Bagaimana keadaannya, Shilph, Furuhiora?"


"Dia masih belum sadarkan diri."


"Sepertinya dia membutuhkan waktu yang lama ya."


Mendekati kasur untuk melihat kondisinya, Regard mendesah pelan atas ketidaksadaran wanita berambut biru panjang yang masih terlelap dalam tidurnya.


Duduk di sisi kasur, lengan Regard melukai salah satu lengan gadis berambut biru panjang dan membiarkan darahnya mengalir.


"Tu-tunggu... apa yang kamu lakukan, Regard?"

__ADS_1


"Kenapa kamu melukainya?"


"Tenang saja. Aku hanya ingin tahu sejauh mana aku bisa membuatnya sadar kembali."


"Tersadar kembali?"


"Ya."


Selesai mengatakan itu pada mereka, Regard mendekat ke luka yang dibuatnya lalu menghisap darahnya.


Sensasi yang disebabkan dari darah wanita berambut biru panjang terasa sangat menyegarkan untuk dihisap. Setiap kali dia menelannya, ada rasa manis dari darahnya yang menyebabkan tubuh Regard ingin menghisapnya terus-menerus.


Namun sebelum dia membuat keputusan untuk menghisapnya terus-menerus, dia menyudahinya dan menyembuhkan lukanya agar dia tidak kehilangan kendali yang dapat menyebabkan dia mengambil hampir seluruh darahnya.


Dia tidak mau itu terjadi jadi dia sengaja menghindarinya.


"Aku pergi ke kamarku dulu."


"Baik."


"Tu-tunggu, Regard!"


Menghentikan langkah kakinya di depan pintu, Regard menoleh ke arah Shilphonia yang memanggil namanya.


"Ada apa?"


"Apakah dia baik-baik saja tanpa ada efek samping seperti yang dialami oleh Furuhiora?"


"Dia baik-baik saja jadi jangan khawatir."


Selesai mengatakan itu pada Shilphonia, Regard keluar dari kamar Shilphonia menuju ke kamarnya sendiri.


•••••


Regard POV


Sejauh ini aku sudah mengerti situasinya.


Daffa dan Reina memiliki hubungan persaudaraan yang sangat erat yang tidak dapat dipisahkan. Setiap kali Daffa pergi meninggalkan Reita, dia selalu meminta ikut pada kakaknya yang membuatnya terpaksa untuk mengajaknya pergi bersamanya.


Itu sebabnya aku paham atas kondisi yang ada pada Reita, gadis berambut biru panjang.


Kemungkinan besar penyebab yang terjadi pada amukannya adalah kakaknya yang terbunuh. Apalagi kakaknya dibunuh oleh sekelompok Goblin yang mengepung pintu masuk gua, menyebabkan kakaknya tewas di tangan mereka. Ditambah ada yang janggal yaitu sebuah botol berisikan sesuatu yang menyebabkan Reita mengamuk dan berubah drastis dari dirinya yang biasa menjadi mengerikan dan menakutkan.


Yah, semuanya mulai dapat aku pahami jadi aku sengaja tidak menceritakannya pada siapapun.


Lebih baik menyimpannya demi diri sendiri daripada mengatakan apapun mengenai masalah pribadi Reita pada mereka, itu tidak sopan untuk dilakukan jadi aku sengaja menyembunyikannya.


"Baiklah. Daripada memikirkannya, lebih baik aku tidur."


"Aku harap tidak ada sesuatu yang terjadi padanya nanti."


Memejamkan mata, aku mencoba untuk beristirahat dengan tenang selagi Shilph dan Furuhiora menjaga tubuh Reita.


.....


"Dimana ini? Kenapa aku bisa berada di dalam kegelapan?"


Berjalan menelusuri kegelapan, aku tidak dapat melihat maupun meraba apapun di sekitarku. Suasananya yang sunyi dan hening benar-benar membuat situasi di sekitar terasa aneh.


"Itu...."


Entah kenapa cahaya muncul di kejauhan yang membuatku berlari ke arah dimana cahaya tersebut berada.


"Ini..."


"Aku mengerti sekarang."


Ini bukanlah tempat dimana aku telah tiada melainkan tempat dimana aku melihatnya dengan jelas tentang masa lalu yang dimiliki oleh Reita.


"Kakak, jangan pergi!"


"Reita, aku ingin kau pergi dengan selamat. Untuk itulah aku ingin kau benar-benar menjalani hidup tanpa diriku ya, Reita."

__ADS_1


Selesai mengatakan itu padanya, Daffa pergi ke luar pintu gua yang mendapati tubuhnya tertusuk oleh tombak yang berasal dari sekelompok Goblin yang menyerangnya.


"Sudah kuduga kalau ini yang akan terjadi."


Jika ini bukan masa lalu, aku mampu mengubahnya. Tapi, ini hanya kilas balik yang mungkin diimpikan oleh Reita jadi aku tidak bisa ikut campur dalam melakukan apapun. Sebaliknya, aku hanya bisa pasrah melihat semuanya dengan jelas oleh mata kepalaku sendiri.


"Kakak! Kakak! Kakak!"


Berlari ke arah kakaknya yang tiada, Reita dengan ekspresi sedih dan bersalah menerjang langsung ke sekelompok Goblin.


Para Goblin yang melihatnya tersenyum dan tertawa. Di tangan mereka, sebilah tombak bersiap untuk menusuk tubuhnya dengan segera.


Namun...


"Ini...."


Seakan-akan waktu membeku tiba-tiba, aku melihat kalau Reita mengambil botol kecil yang mengenai kakinya lalu meminumnya tanpa ragu.


"....."


Tersedak dan terbatuk-batuk, Reita merasakan sesak dan panas pada tubuhnya.


Terlihat dari bagaimana dia berkeringat di seluruh tubuhnya membuatku yakin kalau semua itu berasal dari botol yang diminumnya.


Entah apakah itu botol terlarang atau tidak, dugaan aku ialah botol itu berasal dari sosok yang kukenal selama ini. Ya, dia tidak lain ialah Raja Iblis.


Tepat setelah dia mengkonsumsi botol, waktu kembali berjalan yang menyebabkan ledakan di sekitarnya membuat sekelompok Goblin tertimpa bongkahan batu besar yang berasal dari langit-langit gua.


"....."


"Hanya mimpi ya."


Melihat pemandangan aneh yang terjadi, aku bisa pastikan bahwa tatapan itu secara langsung diarahkan padaku.


"Sial. Kenapa aku harus melihat masa lalunya setelah mengetahuinya langsung melalui darah miliknya?"


Benar-benar aneh sekali.


"Apakah ini karena ulah dan rencana yang sengaja kau buat padaku, Raja Iblis?"


Jika benar kalau ini adalah ulahnya, aku ingin tahu alasan kenapa dia memberikan botol aneh terhadap Reita. Apakah dia ingin membantunya dalam menyelesaikan masalah sama seperti yang aku alami dulu atau dia hanya ingin bersenang-senang, aku sendiri tidak mengerti atas tindakannya.


Yah, apapun yang terjadi, cepat atau lambat aku akan sebisa mungkin berada di sisinya untuk menggantikan sosok kakaknya, Daffa.


Meskipun aku sendiri tidak yakin, aku hanya bisa berasumsi kalau itu akan selesai jika kita saling berkomunikasi dan mengenal satu sama lain. Itupun jika dia mau melakukannya. Jika tidak, aku tidak bisa memaksanya lebih lebih dekat denganku meskipun demi kepentingan kami bersama.


"Regard, cepatlah kemari!"


"Tu-tunggu... ada apa, Shilph?"


Shilph yang masuk ke kamar, menarik dan membawaku ke kamar miliknya.


Tepat saat aku berada di kamarnya, aku melihat kalau gadis itu, Reita telah sadarkan diri dan bingung atas apa yang terjadi membuat ekspresinya bertanya-tanya dimana dia berada dan apa yang dilakukannya sekarang.


Yah, wajar jika dia berpikir seperti itu karena dia telah kehilangan kendali pada tubuhnya sebelumnya.


Tapi, aku tidak menyangka kalau mereka berdua baru tahu soal ini jadi aku diam tanpa memberitahukan apapun pada mereka kalau aku pernah mengalami hal serupa seperti yang terjadi pada Reita.


"Dimana ini? Kenapa aku bisa bersama kalian?"


"Dia tampaknya masih bingung ya."


"Shilph, aku serahkan urusan ini padamu."


"Eh? Kenapa harus aku?"


Aku dapat menebak melalui ekspresinya jadi aku abaikan dan meninggalkan ruangan kamarnya menuju ke lantai dasar untuk mengambil sarapan pagi untuk kami nikmati.


"Aku harap mereka dapat akrab ya."


Berharap bahwa mereka dapat menjelaskan apapun padanya, aku jadi lega tanpa perlu menjelaskan apapun lagi terhadapnya.


Dengan kata lain, ini menguntungkan aku sekaligus memudahkan aku dalam melakukan pekerjaan biasa.

__ADS_1


__ADS_2