
Monster-monster yang berada di dalam Reruntuhan Ilva adalah Blaar, Sanwo, Golea, Baspli, empat jenis monster dapat mereka lihat di sekitar mereka.
Blaar, monster beruang yang memiliki kulit berwarna coklat, berbulu hitam yang seringkali terlihat di mata mereka di tiap-tiap pepohonan, Blaar sedang mengais-ngais cakarnya di batang pohon, menajamkan kukunya agar terlihat lebih tajam dari sebelumnya.
Sanwo, monster yang terlihat seperti pasir yang terdapat lumut di atasnya yang berada di setiap permukaan tanah yang mereka lewati, itu bergerak-gerak menggeliat seolah-olah ada sesuatu yang dapat menyerang mereka begitu mereka lengah.
Golea, monster burung elang yang terbang tinggi di langit-langit, terutama di atas pohon besar sambil memakan buah-buahan yang ada di ranting pohon, monster itu tidak terlihat agresif melainkan biasa yang membuat mereka bernafas lega namun tetap waspada atas apa yang menanti jika itu tiba-tiba menyerang mereka.
Baspli, monster yang memiliki bentuk unik yang seluruh tubuhnya terbuat dari batang pohon yang tidak memiliki daun dan buah-buahan, mereka melihatnya berpindah tempat dari satu tempat ke lain tempat setiap kali mereka mengalihkan pandangan, membuat mereka cemas kalau mereka lengah mereka akan di serang tanpa sepengetahuan mereka.
"Mereka datang!"
Dengan merasakan ada kehadiran yang mendekati mereka, Friya yang memberitahu pada mereka membuat Shilphonia menyiapkan busur dan anak panah sihir yang dibuatnya, Reita yang mengeluarkan pedang dari balik sarung pedang yang ada di pinggul belakang, Fuuya yang memperlihatkan giginya dan ekspresinya yang kesal, serta Sasaki yang mengeluarkan mesin-mesin yang transparan menjadi terlihat, mereka sepenuhnya siap.
Berbeda dengan mereka, Friya yang memimpin barisan, ia dengan cepat memegang tongkat sihirnya, bersiap untuk melakukan serangan.
Tak lama setelah mereka bersiap-siap, gerombolan dari monster Baspli mengelilingi mereka, berekspresi kesal di wajahnya yang berada di batang pohon, memperlihatkan kalau mereka tidak suka akan kehadiran mereka di dalam reruntuhan.
"Hanya seonggok monster kecil ya."
"Berhati-hatilah, Shilph! Meskipun mereka terlihat lemah, kita tidak tahu apakah dia memiliki kemampuan atau tidak."
"Jangan khawatir, mereka bisa dikalahkan dengan mudah asalkan dengan sihir api."
Shilphonia yang mengubah anak panah sihir transparan menjadi sihir api, membidik ke area yang berada di kanan mereka, melepaskannya ke langit-langit.
"Rasakan itu, [Meteorit Arrow]."
Menggunakan [Meteorit Arrow], sejenis anak panah sihir yang terbuat dari elemen api, anak panah tersebut yang dilancarkan ke langit-langit terpecah dalam jumlah banyak, menghujani tubuh Baspli dengan cepat, membakar seluruh tubuh mereka.
"Bagaimana? Bukankah itu mudah?"
"Kamu benar."
Terlihat seperti kehilangan peringatan yang diberikan padanya, Friya yang awalnya ragu untuk menyerangnya mulai ikuti sesuai yang dilakukan Shilphonia tadi.
Menurut Friya, Shilphonia mengatakan kalau Baspli lemah terhadap sihir api jadi ia membuat [Fire Ball], sihir tingkat rendah dalam jumlah banyak yang ada di sekitar, Friya menembakkannya pada Baspli yang berada di depannya yang menghalangi jalan mereka.
Baspli yang terkena [Fire Ball] menggeliat di dalam kobaran api yang membakar seluruh tubuhnya lalu lenyap sepenuhnya secara cepat.
"Sial. Aku tidak memiliki sihir api, tapi setidaknya aku bisa melakukan ini pada mereka."
Walaupun Fuuya terlihat kecewa karena hanya dia satu-satunya yang tidak memiliki sihir api, ia terpaksa mengerahkan kekuatan esnya yang berkumpul di kedua lengannya dengan spiral berwarna putih salju, [Frost Punch] yang dilancarkan olehnya pada kedua tinju yang dihantam ke permukaan tanah pada gerombolan Baspli yang berada di area kiri.
Seluruh gerombolan Baspli yang dengan cepat membeku di dalam kristal es yang dibuat oleh Fuuya melalui hantaman kedua tinjunya di permukaan tanah mengakibatkan udara dingin yang sejuk berhembus bersamaan dengan angin ke arah mereka.
"Sekarang lakukan, Reita!"
"Ya."
Mendengar perkataan dari Fuuya, Reita yang mengangguk meletakkan kembali pedang ke dalam sarung pedang yang berada di pinggul belakang, ia mengeluarkan rentetan [Fire Ball] yang sebelumnya adalah batu kerikil yang ada di permukaan tanah yang dirubah menggunakan [Change Material], Reita dengan cepat menembakkan [Fire Ball] yang tiada hentinya ke arah kristal es yang membekukan seluruh Baspli di area kiri.
Gerombolan Baspli yang terbebas dari kristal es yang membungkus tubuh mereka dikejutkan oleh rentetan tembakan bola api yang tiada hentinya dilakukan berturut-turut pada mereka membuat Baspli lenyap terbakar oleh serangan Reita.
"Baiklah. Mereka semua menggunakan sihir api, itu artinya aku hanya perlu menggunakan cara yang berbeda dari mereka."
Mengamati kedua mesinnya yang melayang di kedua sisi tubuhnya, Sasaki hanya bisa tersenyum lalu dengan cepat merubah ekspresinya menjadi serius, ia terbang sedikit lebih tinggi, menembakkan beberapa rudal ke arah Baspli yang berada di belakang mereka.
Tidak hanya Baspli yang hancur berkeping-keping oleh ledakan, seluruh area hutan yang ada di belakang Sasaki; pepohonan, semak belukar, dataran hijau telah hancur menjadi ledakan yang tiada hentinya mengakibatkan dataran tersebut berubah warna menjadi hitam akibat ledakan tadi.
"Mari kita lanjutkan!"
__ADS_1
"Ya."
"Tentu."
"Oke."
Memutuskan untuk mengabaikan monster-monster lain, mereka melanjutkan penelusuran di dalam hutan sembari mencari sesuatu yang mereka inginkan di dalam Reruntuhan Ilva.
Di sisi lain, di ruang bawah tanah di Kota Lien, di dalam kamp besar yang terlihat di sudut ruangan, seorang elf tua yang tubuhnya membungkuk sedang duduk di sofa.
"Aku harap kalian baik-baik saja ya."
Dengan matanya yang terlihat tertutup dengan celah yang sedikit terbuka, ingatan elf tua itu kembali ke beberapa saat yang lalu sebelumnya.
Beberapa saat yang lalu.
"Syaratnya adalah kalian perlu mengambil Tanaman Spega, Batu Emri, serta Daun Espa, itu adalah hal yang diperlukan untuk kalian ambil."
Mendengar penjelasan dari kebutuhan elf tua, Nek Ryadu yang sedang duduk sambil memandang mereka dengan matanya yang menyipit, mereka kebingungan untuk mengetahui dimana bahan-bahan tersebut bisa didapat.
Setahu Shilphonia, bahan-bahan itu terdengar baru untuknya. Terlepas dari dirinya yang suka membaca buku di masa lalu di perpustakaan, Shilphonia juga malaikat yang mengatur di wilayah tertentu yang tidak pernah tahu ada bahan-bahan yang disebut oleh Nek Ryadu sebelumnya.
Sama halnya seperti Shilphonia, Friya yang tidak mengetahui pengetahuan apapun berdasarkan informasi yang didapat dari buku-buku perpustakaan, bertanya-tanya dimana itu bisa didapat.
Secara keseluruhan, Friya yakin kalau itu adalah bahan-bahan yang tidak pernah ada di dunia ini, yang mungkin saja Nek Ryadu sengaja mempermainkan mereka dan dirinya agar mempercayai kata-katanya, hanya itu yang bisa Friya simpulkan.
"Kalian benar-benar unik ya."
Bangun dari duduknya, dengan langkahnya yang pelan sambil memegang tongkat, Nek Ryadu mendekati salah satu dari mereka, Friya yang sedang diam membisu sambil melihatnya.
Memukul tongkat saat Nek Ryadu berhenti di perut Friya dengan pukulan pelan, Friya menyadari kalau ekspresi yang diperlihatkan Nek Ryadu bukanlah ekspresi berbohong melainkan serius.
Setelah meletakkan kembali tongkatnya untuk berjalan, Nek Ryadu memunggungi mereka dan bergegas duduk kembali di sofa.
"Jika kalian tidak percaya maka pergilah ke Reruntuhan Ilva, di sana banyak bahan-bahan yang kalian perlukan."
Mendengar kata reruntuhan, mereka benar-benar terkejut kalau itu berada di salah satu reruntuhan yang tidak pernah mereka ketahui dimana letaknya berada.
Jangankan letaknya, reruntuhan itu seperti apa, mereka benar-benar tidak mengetahuinya sama sekali, yang artinya tidak ada informasi apapun mengenai Reruntuhan Ilva, reruntuhan yang belum pernah dijelajahi oleh siapapun sebelumnya.
"Sebelum kalian pergi, aku akan menjelaskan ini pada kalian."
Tanpa perlu bertele-tele menjelaskan apapun, Nek Ryadu langsung membicarakan ke intinya pada mereka.
Mulai dari; Tanaman Spega, tanaman yang bisa dipetik di kedalaman hutan di dalam Reruntuhan Ilva. Batu Emri, batu yang bisa didapat dari penjaga di kedalaman hutan di Reruntuhan Ilva, Thunro, penjaga yang memiliki penampilan seperti Golem yang berukuran 8 meter, berkulit batu dengan warna keunguan, serta terdapat percikan kilat di sekitar tubuhnya, dia adalah penjaga yang sangat kuat. Daun Espa, daun yang bisa didapat dari salah satu monster langka di dalam hutan di Reruntuhan Ilva Speba, monster sejenis Baspli namun memiliki ukuran yang lebih tinggi dari Baspli, serta memiliki daun dan buah-buahan di penampilannya.
"Apakah kalian paham?"
"Ya, kami paham."
"Baguslah. Sekarang pergilah! Jika kalian tidak terburu-buru, kawan kalian, Nak Necromancer akan tiada."
"....."
Mendengar kata tiada, Shilphonia, Friya, Reita, Fuuya dan Sasaki, mereka bergegas pergi meninggalkan kamp, terkecuali Friya yang sempat terdiam sejenak di barisan paling belakang di depan pintu kamp, ia menoleh ke belakang untuk melihat ke arah Nek Ryadu yang masih duduk.
Nek Ryadu yang menyadari kalau Friya menghentikan langkah kakinya, dia hanya memandangnya penuh senyum sambil menunggu perkataan darinya.
"Terimakasih atas informasi dan bantuannya, Nek."
"Tidak masalah. Selama kamu sudah memiliki jalan sendiri maka itu layak untuk dibanggakan. Bukankah begitu?"
__ADS_1
"Ya, kamu benar."
Setelah mendengar itu dari elf yang selalu mengurus Friya sejak kecil ketika kedua orangtuanya telah tiada, Friya senang kalau Nek Ryadu setuju terhadapnya membuatnya meninggalkan senyum padanya yang membuat Nek Ryadu senang atas pertumbuhan dan perkembangan yang dimiliki oleh Friya sekarang.
Berbeda dengan Friya yang dulu, Nek Ryadu yakin kalau Friya yang sekarang mampu berjuang sendiri, mempertahankan kebajikan yang diajarkannya, menjadi lebih kuat dan mandiri melebihi dirinya di masa lalu, ia yakin kalau Friya akan menjadi sosok elf yang bisa diandalkan dan dapat dipercaya oleh rekan-rekannya.
Menyudahi ingatannya, Nek Ryadu mendongak ke langit-langit kamp, melihat sebuah kristal berwarna biru muda yang bersinar terang mengikis kegelapan di dalamnya.
Berhati-hatilah, Si Besar.
Dengan kata-katanya yang halus dan lembut pada dirinya sendiri, Nek Ryadu yakin mereka dapat mengatasinya tanpa kesulitan apapun.
Tapi dibalik keyakinan itu, rasa khawatir Nek Ryadu tetap tidak reda sedikitpun dari hatinya, sebaliknya, ia semakin cemas atas keberadaan penjaga yang ada di kedalaman hutan, Thunro, makhluk yang sulit untuk dikalahkan dan ditaklukkan dengan mudah karena pertahanan dan kemampuannya jauh melebihi monster yang ada di dalam reruntuhan pada umumnya, itulah yang menakutkan dari Thunro.
•••••
Di kedalaman hutan di Reruntuhan Ilva, seekor Golem berukuran 8 meter, bertubuh bebatuan berwarna ungu melancarkan serangan tinjunya ke permukaan tanah, menghantam Fuuya yang berada di dekatnya, mengalirkan tegangan listrik yang tinggi yang menyebar ke segala penjuru.
Fuuya yang bergerak lebih cepat dari biasanya, melompat dan memperhatikan kalau area di sekitar pukulan tinjunya terasa benar-benar jauh lebih kuat dan mematikan.
Salah sedikit saja, Fuuya yakin kalau nyawanya akan tiada dengan mudah. Apalagi pada tinju kilat, [Thunder Punch], yang menyebar ke segala arah dengan tegangan listrik yang tinggi.
"Friya!"
"Ya."
Dengan tongkat sihirnya yang diarahkan ke depan, sejumlah mana mengalir di sekitar tubuh Friya yang membuat dia memfokuskan pandangannya ke depan, bersiap untuk merapalkan mantra.
Selagi Friya bersiap-siap, Reita yang melesat cepat ke depan, menggunakan kedua batu besar yang sebelumnya adalah kerikil kecil yang diubah menggunakan [Change Material], melindunginya dari serangan pukulan tinju Thunro.
Thunro yang memukul kedua sisi Reita, mengeluarkan tegangan listrik yang tinggi yang mampu dirasakan sedikit getarannya oleh Reita. Namun sebelum Reita dapat merasakannya, ia menggunakan [Golem Arm], memukul tubuh Thunro yang membuatnya terpental beberapa jarak darinya, Reita menembakkan rentetan kristal, [Crystalize Shoot] ke arah Thunro yang membuatnya mengarahkan kedua lengannya ke depan, menangkis rentetan tembakan kristal dari Reita.
Tidak hanya Reita, Shilphonia yang menyiapkan busur panah, membidikkan anak panahnya ke arah Thunro, melepaskan anak panah yang terbuat dari sihir api, [Flame Arrow]. [Flame Arrow] yang awalnya terlihat satu anak panah terbelah menjadi beberapa anak panah yang menghujam tubuh Thunro menyebabkan ledakan skala besar terjadi terus-menerus tanpa henti.
"Apakah kamu sudah siap melakukannya, Friya?"
"Ya, aku sudah siap."
Menghentikan bidikannya, Shilphonia melenyapkan busur di tangannya, tersenyum padanya dan menepuk salah satu pundaknya, mengangguk padanya.
Di sekitar tubuh Friya, mana spiral berwarna putih mengelilingi tubuhnya, memusatkan sihirnya ke dalam tongkat sihirnya lalu berubah menjadi bola berukuran sedang yang bersinar terang menyilaukan dengan warna perak.
"Rasakan ini, [Magic Finale]."
Dengan ujung bola berwarna perak yang menyilaukan mulai redup dan lenyap di ujung tongkat sihirnya, Friya menggerakkan kedua matanya yang berfokus pada tanah yang dipijak Thunro agar memindahkannya ke tempat tersebut.
Setelah berhasil memindahkannya, retakan mulai muncul di permukaan tanah yang perlahan-lahan membuka dengan sendirinya pada permukaan tanah yang dipijak Thunro menjadi bercahaya berwarna putih menyilaukan, membungkus tubuhnya dengan cepat.
Cahaya sihir berwarna putih melambung tinggi ke langit-langit, menembus ke awan yang ada di atas langit lalu redup setelah beberapa detik.
"Apakah berhasil?"
"Tidak, kurasa belum."
Fuuya dan Reita yang mundur ke belakang, mereka memberitahukan bahwa Thunro tidak bisa dikalahkan hanya dengan [Magic Finale] dari Friya.
Terlepas dari serangannya yang kuat dan dampaknya yang menakutkan dapat terlihat jelas melalui pemandangan yang mereka lihat, pemandangan yang terlihat hampir dari seluruh pohon, permukaan tanah, dan semak belukar yang ada di skala serangan [Magic Finale] telah terlihat hancur, terkecuali permukaan tanah yang masih terlihat biasa seolah-olah tidak ada kejadian apapun di tempat tersebut, Thunro masih terlihat jelas berdiri di tempatnya berada.
"Cih... dia benar-benar kuat sekali."
"Ya, kamu benar."
__ADS_1