The Necromancer

The Necromancer
Ch. 40,7:Belenggu dan Kebebasan (7)


__ADS_3

"Dia sudah tiada."


Di tempat berbeda dari mereka berempat, kedua pria saling berhadapan satu sama lain sambil memandang wajah mereka yang ada dihadapannya.


"Kenapa kau memihak pada iblis?"


"Aku memihak pada iblis karena aku ingin tahu rahasia sebenarnya tentang dirimu."


"....."


"....."


Tidak mengatakan apapun antara sayu sama lain, kedua pria terdiam menatap lawan mereka karena mereka tahu berbicara adalah hal yang sia-sia. Selama mereka tidak memahami makna antara satu pemikiran dengan pemikiran lain, pembicaraan akan tetap sama yaitu tidak saling mengerti antara diri mereka masing-masing yang memegang teguh pada prinsip berbeda.


"Apakah kau yakin bahwa kau memihak mereka karena suatu hal?"


"Ya."


Mendesah dan menghela nafas panjang, seorang pria memejamkan matanya dan berpikir itu merepotkan jika dia harus berurusan dengan sahabatnya sendiri.


Di tangan kanannya terdapat pedang berwarna perak yang digenggamnya dengan kuat menandakan bahwa dia siap untuk melakukan serangan pada sahabatnya sendiri tanpa ada keraguan yang menyelimuti hatinya.


"Majulah!"


"....."


Menerjang langsung ke arah pria dihadapannya yang terdiam, Veru menghunuskan pedangnya ke depan yang mampu membelah udara dihadapan dirinya dengan mudah menghasilkan udara berwarna kehijauan muda yang begitu terang.


Lemah.


Tidak mengelak maupun lari dari tempatnya berada, Kanae, sahabat Veru di masa lalu berjalan pelan mendekatinya sambil menggenggam pedang hitam berukuran besar yang seharusnya digenggam menggunakan kedua tangan mampu dilakukannya dengan satu tangan.


Trang!


Ketika tebasan dilakukan di udara kosong, sejumlah mana yang dituangkan ke dalam ujung pedang besar berwarna gelap membuat udara tebasan berubah menjadi hitam yang mengarah pada sosok temannya di masa lalu, Veru.


Ini....


Tidak dapat melakukan apapun, Veru mengikis udara sekitar untuk dijadikan pelindung berupa perisai miliknya yang berwarna merah terang menyala mengelilinginya membuat dampak dari tebasan hitam di udara tidak memiliki efek apapun, tapi hanya menahannya.


Aku harus segera melakukannya.


Mengingat atas dasar-dasar dalam memainkan pedangnya dulu, dia kembali sadar atas banyak sekali gerakan-gerakan yang belum pernah dilakukan oleh setiap orang dalam menghunuskan pedang mereka terhadap lawannya.


Delapan tahun yang lalu.


"Dengarkan ini baik-baik, Nak, gerakan dasar dalam teknik pedang terdiri dari kaki, lengan, dan postur tubuh, ketiganya adalah hal terpenting yang harus kau ketahui."


Di permukaan tanah yang luas di tengah-tengah hutan, kedua pria sedang berlatih teknik pedang. Salah seorang pria yang menjadi gurunya, Veru mempraktikkan dasar-dasar dalam teknik pedang yang ditunjukkannya pada murid barunya, Regard yang masih berusia 8 tahun belajar pedang darinya menggunakan pedang kecil untuk sesuai dengan usianya.


Veru yang menerapkan langkah-langkah kakinya, gerakan pada tubuhnya, serta kecepatan tangannya dalam menebas musuh yang sedang dia bayangkan, Regard memperhatikannya dengan seksama sambil mengingat gerakan-gerakan tersebut dalam benaknya.


"Apakah kau sudah paham?"


"Ya."


"Coba untuk kau praktekkan!"


"Baik."


Regard memejamkan matanya untuk mengingat kembali dasar-dasar gerakan yang diajarkan Veru padanya. Mulai dari langkah kaki, gerakan tubuh, serta kecepatan tangan, semuanya diamatinya dengan cermat membuat dia yakin bahwa dia mampu melakukannya.


Sip.


Membuka matanya dan melakukan gerakan yang sama seperti yang ditunjukkan Veru sebelumnya, Regard dengan ekspresi senang terlihat jelas di wajahnya membuat Veru terkejut atas daya ingatnya yang kuat yang mampu meniru gerakannya dalam sekali mengajarnya.


"Apakah seperti ini sudah cukup?"


"Ya, kau mampu melakukannya dengan baik, Nak."


Bangga atas usaha yang dilakukan Regard, Veru memegang rambutnya dan mengelus-elus dengan cepat sambil tersenyum pada keberhasilannya.


Bagi Veru, anak seumuran Regard tidak seharusnya diajarkan teknik pedang karena mereka masih memiliki usia dini dalam mempelajarinya. Tapi, alasan Veru mengajarkannya ialah dia ingin Regard sebisa mungkin memiliki ketrampilan bermain pedang untuk dapat bertahan hidup tanpa perlu mengandalkan orang lain di dekatnya.


Dunia memang kejam, itulah apa yang sengaja Veru ajarkan pada Regard.

__ADS_1


Menyudahi ingatannya, Veru menghindari serangan Kanae dengan mudah. Tubuhnya yang terasa ringan mampu bergerak lebih cepat dari biasanya, menebas beberapa tebasan hitam darinya, dan memukul zirah bagian depan Kanae dengan cahaya perak yang menyelimuti ujung pedangnya.


"Apakah berhasil?"


Sebisa mungkin Veru mundur dan menjauh untuk memastikan kondisi sebenarnya dari sahabatnya yang memegang dadanya dan terjatuh dengan satu lututnya ke permukaan tanah.


Tidak berhasil ya.


Kanae yang bangkit sambil tersenyum melepaskan genggamannya di dada dan berlari langsung ke arah Veru.


Tebasan demi tebasan dilakukan oleh Kanae. Tumpuan berat yang dihasilkan melalui ujung pedang dan pijakannya membuat Veru mundur beberapa langkah dan kesulitan untuk mendapatkan momentum dalam membalikkan serangannya.


Dia benar-benar kuat.


Setiap kali Veru menahannya, dia selalu sulit untuk bisa menyeimbangkan pedangnya untuk tidak telat dalam menahannya karena dia bisa kehilangan nyawanya jika itu terjadi.


"Sekarang!"


Salah satu pijakan yang dilakukan oleh Veru membuat area sekitarnya menjadi berwarna merah. Beberapa kobaran api terlihat di beberapa tempat membuat Kanae mundur dan memperhatikan area sekitarnya dengan seksama.


"Aku mengerti sekarang. Kau sengaja melakukan itu agar aku bisa terjebak dalam rencana milikmu, bukan?"


"Ya."


Veru yang awalnya tidak mengenakan zirah berubah mengenakan zirah berwarna merah gelap layaknya darah yang memenuhi tubuhnya, terkecuali kepalanya yang tidak tertutup oleh helm zirah.


"Bersiap-siaplah, Kanae!"


Garis-garis berwarna merah menyebar di sekitarnya dengan cepat dalam bentuknya yang tipis. Perlahan-lahan cahaya yang dihasilkan oleh garis tersebut mulai menerangi area sekitar lalu lenyap bagaikan serpihan.


"Takkan kubiarkan kau melakukannya!"


Berlari menerjang langsung ke arah Veru, seluruh zirah hitam yang dikenakannya memancarkan aura kegelapan yang menyebar ke sekitar membuat kabut hitam menutupi area tempat mereka berada.


Ini...


Merasakan instingnya berbahaya, Veru dengan cepat menghilang dan mulai menebas pedangnya ke belakang.


Dalam sekejap kabut hitam yang berasal dari zirah Kanae berhasil sirna oleh serbuk merah yang menyebar melalui tebasan pedang Veru sebelumnya. Serbuk itu memiliki panas yang mampu menyebar dengan cepat membuat area yang terkena tebasan sirna olehnya.


Tebasan demi tebasan dilakukan oleh Veru di sekitarnya untuk mendapatkan kembali pandangannya terhadap sekitar. Dikarenakan Kanae sudah tertelan kegelapan, ada kemungkinan dia sadar bahwa temannya berniat untuk menenggelamkan dirinya ke dalam kegelapan.


Dibalik kegelapan yang mulai berkumpul, Kanae muncul dari titik buta Veru membuatnya dengan cepat menebas pedang besarnya yang terselimuti oleh kegelapan dapat mengenai tubuh yang dilapisi zirah merah gelap di diri Veru.


"Kuh...."


Menebasnya dengan pedang miliknya, cahaya merah menyebar layaknya serbuk membuat Kanae kembali memasuki ke dalam kabut hitam.


"....."


Sayangnya usahanya sepenuhnya gagal.


Kabut hitam yang sebelumnya berhasil berkumpul di sekitarnya dengan mudah dilenyapkan oleh serbuk merah yang menyebar menyebabkan kabut miliknya sirna dengan mudah secara keseluruhan.


"Bingo!"


"....."


Tebasan demi tebasan dilakukan Veru tanpa henti. Serbuk yang mengenai zirah hitam Kanae, perlahan-lahan mulai mengikisnya dan membuatnya retak lalu pecah menyebabkan tubuhnya tidak mengenakan zirah maupun pakaian.


Menancapkan pedangnya ke permukaan tanah, Veru mengalirkan sejumlah mana di pegangan pedang membuat permukaan di depannya retak lalu hancur. Kehancuran permukaan tanah di depannya mengakibatkan lahar muncul dalam jumlah banyak di setiap tempat membuat Kanae kebingungan untuk dapat menghindarinya.


"Cih...."


Di seluruh tubuhnya terpancar aura hitam pekat yang menyebar ke area sekitar.


Zirah yang sebelumnya hancur kembali terbentuk oleh aura hitam yang mengelilingi tubuhnya. Begitupun dengan pedang yang sebelumnya terlihat berukuran besar berubah menjadi pedang biasa, dan terdapat perisai hitam legam yang ada di lengan kiri Kanae sengaja diletakkan di permukaan tanah.


"Lihatlah ini baik-baik!"


Mentransfer sejumlah mana dalam jumlah banyak, perisai hitam legam bereaksi yang terpancar aura keunguan muda membuat perisai tersebut berubah bentuk menjadi duri-duri tajam di setiap sisi perisai yang kemudian menyebar ke permukaan tanah membuat gerigi itu berubah menjadi tombak hitam panjang dalam jumlah banyak.


Tombak hitam panjang berubah bentuk menjadi perisai besar yang membentang luas membentuk kubah yang mampu melindunginya dari dalam.


Sial. Dia benar-benar telah memperkirakannya ya.

__ADS_1


Kesal atas pengetahuan Kanae yang luas, Veru mengangkat pedangnya menyebabkan area ledakan dari lahar yang muncul melalui permukaan tanah yang hancur terhenti seketika.


"Apakah sudah berhenti?"


Tidak ada tanda-tanda berupa guncangan dan bunyi dari ledakan, Kanae mengarahkan lengannya ke perisai membuat kubah hitam yang melindunginya sirna dalam sekejap yang kembali langsung ke dalam perisai seolah-olah mereka terhisap langsung ke dalamnya.


"....."


Tak lama setelah perhatiannya ke sekitar menjadi tenang karena sudah tidak ada ledakan, beberapa pisau belati yang terdapat kertas tergantung di pegangannya terkejut.


Duar!


Ledakan-ledakan terus terjadi selama tiga kali membuat asap hitam membumbung tinggi di tempat Kanae berada.


"Terlalu lambat!"


Di belakang Kanae yang berada tidak jauh darinya, Veru dengan cepat mengeluarkan beberapa belati dari balik celana zirah yang berada di sela-sela zirah miliknya untuk dilemparkan langsung ke arah Kanae.


Kanae dengan cepat menoleh dan membalikkan tubuhnya. Dengan pedang hitam legam di tangannya, dia menyalurkan mana salam jumlah banyak membuat angin mengelilinginya dengan gelombang kejut untuk membuat beberapa belati Veru terpental lalu terjatuh ke permukaan.


"Kenapa kau tidak bisa membiarkan aku melakukannya?"


"Berisik! Kau selalu saja berpikir bahwa aku begitu bodoh bukan?"


"Cih..."


Mengesampingkan pedangnya, Kanae menatap jauh pada mantan temannya yang terlihat masih sama seperti dulu.


"Kau masih sama seperti dulu ya, Sobat."


"Benarkah begitu?"


"Ya."


Selama ada kesempatan, Kanae ingin memanfaatkan momentum sejenak untuk mengingat hari-hari yang mereka habiskan bersama sebelumnya.


Sepuluh tahun yang lalu.


Di Kamp Pelatihan Prajurit, seluruh pasukan ksatria berkumpul dengan pedang dan tombak yang mereka bawa yang menghunus ke boneka-boneka kayu yang dilengkapi dengan zirah berwarna perak.


"Apakah kau tidak ikut dalam misi yang berbahaya?"


"Tidak perlu. Aku tidak sama seperti dirimu, aku hanya ingin tahu sejauh mana misi ringan yang dapat kulakukan selama ini."


Di tengah-tengah pelatihan, kedua pria sedang beristirahat duduk satu sama lain secara bersebelahan.


Pandangan mereka yang sedang memperhatikan beberapa pasukan sedang melatih pedang dan tombaknya demi kekuatan tempur para ksatria kerajaan bertambah, mereka senang bisa bertemu setelah beberapa tahun tidak bertemu satu sama lain.


"Aku hanya akan mengambil misi mudah yaitu Desa Elforia."


"Desa Elforia?"


Kanae yang sedari tadi memperhatikan para prajurit sedang berlatih di Kamp Pelatihan Prajurit, dia mengalihkan pandangannya dan terkejut atas perkataan Veru tentang Desa Elforia.


Setahu Veru, Desa Elforia berada di tengah-tengah hutan yang jaraknya cukup jauh dari kota-kota lain maupun kerajaan. Bisa dikatakan letak mereka cukup dekat dengan wilayah Kota Elforia, kota yang memiliki sejarah kelam tentang peristiwa perang yang dilakukan oleh iblis, manusia, dan malaikat selama beberapa abad lalu di tempat tersebut.


"Ada apa? Kau terlihat khawatir padaku."


"Itu karena aku tidak tahu apakah itu misi ringan atau tidak."


Mendesah pelan dan menatap ke langit-langit luas yang cerah, senyum muncul di bibir Veru membuat Kanae yang melihat senyumnya kebingungan dalam diam.


"Aku akan menyelidiki tentang Gua yang ada di Desa Elforia. Katanya di tempat itu terdapat iblis dan segerombolan monster jadi aku sengaja pergi ke sana untuk menghindari bahaya dari segala macam ancaman yang akan terjadi pada prajurit aku."


Berdiri sambil memandang dengan ekspresi yakin dan percaya diri, Veru bertekad untuk melindungi pasukannya selama dia melakukan misi yang mudah.


Dikarenakan dahulu saat pertama kali dia menjadi pemimpin pasukan, Veru telah ingat berapa banyak rekan-rekannya yang meninggal karena serangan iblis yang kejam dan ganas selama dia melakukan misi seperti investigasi, ekspedisi, dan evaluasi, mereka selalu berdatangan di saat semua orang sedang sibuk.


Veru yang kebetulan selamat berkat teknik pedangnya, dia hanya bisa mengingat betapa menyakitkannya saat rekan-rekan seperjuangannya mati dengan kondisi mengenaskan. Teriakan dari keputusasaan, kebencian, kesedihan, semua terdengar oleh Veru sebelum mereka lenyap oleh kekejian iblis.


"Apakah kau yakin misi ini tidak berbahaya?"


"Jangan khawatir, jika ada suatu bahaya maka aku akan sebisa mungkin mengevaluasi para penduduk desa terlebih dahulu."


Mengedipkan matanya sebelah pada Kanae, senyum lebar penuh dengan percaya diri dapat terlihat di wajah Veru membuat temannya, Kanae tersenyum dan bangkit berdiri di sisinya.

__ADS_1


"Berhati-hatilah!"


"Ya."


__ADS_2