
Shilphonia POV
"Uh..."
Apakah aku terlalu lama dalam menjaga kewaspadaan?
Sebelumnya, aku merasa tidak kantuk yang membuatku berjaga sepanjang malam untuk memastikan adakah serangan mendadak atau tidak, aku terus memperhatikan setiap kemah dan area di sekitar, tapi tidak apapun yang mengancam tempat ini.
"Aku ingin tahu apakah ini sudah pagi atau siang."
Ini sudah pagi, Shilphonia.
"Pagi ya."
Mendengar kata-kata Stephani, aku rasa aku tertidur hanya sebentar saja.
Memang aku masih mengantuk, tapi aku ingin sebisa mungkin untuk tidak tertidur karena aku ingin tahu kondisi dimana Nyonya Ryadu, sesepuh elf yang ada di tempat ini mengantarkan kami ke tempat Regard berada.
"Pagi, Friya."
"Pagi."
Friya yang baru keluar dari tenda, aku menyapanya dan dia ikut berjalan bersamaku ke tenda besar yang berada di pojok ruangan yang terlihat mencolok dari tenda-tenda lain.
Tidak seperti aku yang tidak sengaja tertidur di aspal diluar kemah yang terasa dingin dan segar, Friya yang aku yakin bisa tertidur lelap di dalam tenda salah satu penduduk elf mungkin enak untuk bisa tidur tanpa mencemaskan apapun.
"Ah, itu dia."
"Sasaki, pagi."
"Ya, pagi."
Aku yang berlari mendekati Sasaki meninggalkan Friya yang masih berjalan.
Dilihat dari penampilannya, Sasaki terlihat seperti baru terbangun dari tidurnya. Entah dia tidur dimana, aku sendiri tidak tahu. Tahu-tahu dia datang dari langit-langit yang mendarat di permukaan, dia dengan wajahnya yang mengantuk terlihat lemas.
"Apakah kamu kurang tidur?"
"Ya, begitu."
Mungkinkah dia mengkhawatirkan kondisi Regard?
Seingat aku, Regard pernah menceritakan tentang kedekatan antara dia dan Sasaki sebelumnya. Dirinya yang selalu bersama Sasaki di Guild Petualang sebelum mengenalku, Sasaki berperan sebagai pencari informasi di Guild melalui obrolan yang dilakukan oleh petualang lain yang sedang membahas sesuatu, Regard akan segera melakukan hal yang menurutnya benar selama itu mengancam nyawa seseorang.
Aku terkejut saat tahu bahwa Regard mengandalkannya dan mempercayainya.
Awalnya aku pikir Regard dan Sasaki terlihat seperti dua orang yang memiliki kepribadian yang berbeda. Regard yang memiliki sifat sulit diprediksi, tidak berperasaan, kejam, dan peduli terhadap orang yang membutuhkan bantuan, sedangkan Sasaki sendiri memiliki sifat yang lemah lembut, ramah, perhatian pada siapapun, serta penolong, mereka berdua bagaikan kabut dan cahaya.
Mengapa aku bisa pastikan kalau Regard adalah kabut sedangkan Sasaki adalah cahaya, karena keduanya memiliki sifat yang menggambarkan karakter mereka sendiri.
"Mengenai Fuuya, apakah kamu mengetahuinya dimana dia berada?"
"Fuuya ya."
"Kalau tidak salah, terakhir kali aku ingat Fuuya berada di sela-sela tenda yang sedang beristirahat di tempat itu."
"Sela-sela tenda?"
Apa-apaan itu? Apakah kamu ingin mengatakan kalau Fuuya adalah ras yang bisa tidur dimana dan kapan saja?
Aku ingin mengatakannya namun tidak bisa karena aku tahu kalau hubungan antara Fuuya dan Sasaki terbilang cukup dekat melebihi orang lain, sama halnya seperti aku dan Friya.
"Mari kita cari bersama-sama!"
"Ya."
Aku dan Friya, kami memang memiliki persamaan namun terdapat perbedaan di dalamnya.
Dahulu, aku memang suka buku yang menyediakan berbagai macam informasi yang dibutuhkan di dalamnya, sama seperti Friya yang membuat kami berdua dapat membahas berbagai hal menarik untuk dibicarakan. Tapi yang menjadi perbedaan antara aku dan Friya adalah ide kami, kami memiliki tujuan yang saling bertolak belakang.
Alasanku mengikuti Regard, sudah jelas karena aku tidak ingin si penyelamat hidupku tiada, sedangkan Friya sendiri mungkin ingin ikut karena dia merasa bersalah atas kesalahannya di masa lalu di Fairy Forest, kurasa itulah yang membuat dia ikut bersama kami hingga sekarang.
Yah, memang aku tidak menanyakan apapun padanya, tapi bukan berarti aku ingin tahu, aku hanya tidak mau terlihat seperti orang yang ingin ikut campur dalam urusan orang lain, aku ingin menghindari hal tersebut.
"Pagi, Semuanya."
"Pagi."
__ADS_1
"Pagi, Reita."
"Apakah kamu tidur nyenyak?"
"Ya, begitulah."
Satu lagi, Reita tidur di dalam tenda sama seperti Friya.
Sejujurnya aku iri pada mereka yang dapat tertidur nyenyak di tempat yang nyaman untuk dinikmati, tapi aku tidak tahu apakah iri terhadap teman sendiri wajar atau tidak, lebih baik aku membuang perasaan itu jauh-jauh.
Apakah kamu cemburu pada Friya dan Reita?
Ya, begitulah. Kamu sendiri bagaimana, Stephani?
Aku? Aku tidak sama seperti dirimu. Aku lebih suka untuk menaklukkan pria itu sepenuhnya dengan tanganku sendiri.
"....."
Sejujurnya aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa, tapi aku merasa sedih, kesal, dan heran atas apa yang dikatakan Stephani tadi padaku.
Memiliki Regard sepenuhnya? Jangan bercanda! Dia bukanlah barang yang bisa kamu miliki. Sesuatu seperti itu ingin kukatakan padanya, aku tidak mau karena aku tahu dia sudah mengetahuinya.
Kamu meremehkan aku ya, Shilphonia?
Ya, aku tidak tahu apakah kamu pintar atau bodoh, aku yakin di pikiranmu hanya ingin memuaskan hasrat yang ada di dirimu terhadapnya bukan?
Fufufu... itu benar, aku hanya ingin memuaskan diriku sendiri.
Sudah kuduga.
"Ah, itu dia!"
"....."
"Kenapa dia tertidur di lantai dalam pose seperti itu?"
"Entahlah, aku hanya berpikir itu sangat wajar untuknya."
Wajar?
Kami bertiga yang kebingungan dan keheranan atas apa yang dikatakan Sasaki memandangnya penuh keheranan atas kata-katanya tadi.
Warbeast ya.
Seingat aku, Warbeast adalah ras beast yang memiliki kemampuan dan kekuatan lebih hebat dari beast biasa. Bisa dikatakan Warbeast ahli dalam pertarungan dekat maupun jauh, tujuan mereka lahir di dunia adalah mereka diperintahkan untuk berburu di alam liar, mengikuti perintah tuannya untuk memulai peperangan maupun membunuh seseorang, itu adalah tugas mereka.
Tapi siapa sangka Fuuya yang kupikir adalah ras Fenrir, ternyata dia adalah Warbeast, benar-benar hal diluar dugaan.
"Haruskah kita membangunkannya?"
"Tidak tahu."
"Kurasa tidak perlu."
"....."
"Apa maksudmu, Shilph?"
Sepertinya mereka tidak memahaminya ya.
Yah, aku bisa memakluminya karena hidup antara ras elf dan manusia, serta malaikat sepertiku memiliki jarak hidup yang berbeda-beda.
"Maksudku ialah kita tidak bisa membangunkannya karena kita takut akan merusak moodnya yang sedang tidur nyenyak."
"Mood?"
"Apakah itu ada kaitannya dengan perasaan seperti manusia?"
"Ya, kemungkinan besar begitu."
"Shilph benar. Kita tidak bisa membangunkannya begitu saja karena akan membahayakan diri kita sendiri, sebaliknya, aku punya cara yang tepat untuk membangunkannya."
"Cara yang tepat?"
"Ya. Apakah kalian ingin melihatnya?"
Ugh... kenapa malah kamu yang menjadi diperhatikan penuh oleh mereka, Sasaki?
__ADS_1
Seharusnya aku yang dianggap pintar dan berguna oleh mereka, mereka sekarang malah berpaling dariku ke Sasaki, ini tidak bisa diterima begitu saja.
"Akan aku tunjukkan cara membangunkan Fuuya."
•••••
Shilphonia yang mendekati Fuuya dengan bangganya membusungkan dadanya, memperlihatkan pada mereka bahwa pengetahuannya lebih banyak daripada Sasaki.
"Tunggu, Shilph! Kamu bisa bahaya jika salah membangunkannya!"
Merasa penuh percaya diri dalam membangunkan Fuuya yang tertidur, Sasaki yang mencoba menghentikannya dengan teriakan gagal yang membuat Shilphonia sudah berada di dekatnya.
Shilphonia yang menyentuh salah satu pundaknya dengan pelan, mendekatkan wajahnya ke telinga kanan Fuuya untuk membisikkan sesuatu yang dapat membuatnya bangun dengan mudah.
"Bangunlah, Fuuya! Regard sedang menunggu dirimu untuk segera berpetualang bersamamu."
"....."
Dengan gerakan yang siap dan cepat, Fuuya yang awalnya membuka mata berubah posisinya menjadi siap yang langsung berdiri penuh layaknya seorang militer yang siap tempur dalam barisannya.
"Ah, dia benar-benar bangun."
"Bagaimana bisa dia melakukannya ya?"
"Mungkinkah cara yang digunakannya berbeda dari yang kuduga?"
Friya yang hanya mengatakan itu terus terang takjub pada tindakan Shilphonia yang berani melakukannya. Reita yang merasa penasaran bagaimana cara Shilphonia melakukannya, merenung sejenak sambil memiringkan kepalanya, terheran atas apa yang dibisikkan pada Fuuya tadi.
Sasaki yang melihatnya merasa kalau cara yang dilakukan oleh tuannya dalam membangunkan dirinya berbeda dari yang dilakukan Shilphonia tadi, Sasaki merasa ada yang aneh pada tindakan Shilphonia dalam mengatakan sesuatu pada Fuuya tanpa sepengetahuan Sasaki atas apa yang dibisikkan olehnya.
"Mana Regard?"
"Dia tidak ada karena dia belum datang."
Tertawa terbahak-bahak Fuuya yang dalam posisi siap keheranan dan kebingungan karena tidak ada Regard, rencana Shilphonia dalam mengerjainya sukses besar.
"Ka-kamu mempermainkan aku ya..."
Emosi yang menyulut hati Fuuya tidak dapat dimaafkan pada apa yang dilakukan oleh Shilphonia tadi terhadapnya.
Awalnya Fuuya yang sedang memimpikan Regard sedang berduaan bersamanya, bermesraan di dalam kamar di kasur kanopi yang tertutup oleh gorden, mereka berdua saling memeluk satu sama lain, bersama-sama selamanya, itu adalah mimpi yang indah.
Tapi, Shilphonia yang membangunkan Fuuya membuatnya marah pada tindakannya, Fuuya tidak akan memaafkannya karena dia telah kehilangan mimpi indah tersebut dengan mudahnya oleh keusilan Shilphonia.
"Takkan aku maafkan kamu!"
"Ah... gawat!"
Mendadak terkejut dan bergegas berlari ke arah Fuuya, Friya yang dengan cepat berdiri di tengah-tengah mereka ingin membicarakan ini pada Fuuya untuk menenangkannya agar dia tidak berbuat ulah di Kamp Kumuh, tempat dimana para elf tinggal.
Seandainya Fuuya dengan mudahnya melakukan hal yang diluar batas wajar, ada kemungkinan para elf yang ada di sekitar akan tiada karena emosinya yang tidak dapat ditahan, itu yang ditakutkan oleh Friya dari dirinya.
"Tenanglah, Fuuya! Aku yakin kamu tidak ingin membuat Regard marah dan membenci dirimu bukan?"
"Ya, aku tahu. Tapi aku tidak bisa membiarkan Shilph, orang yang telah merusak tidurku yang nyenyak untuk mempermalukan aku karena sikap tadi."
"....."
Gagal dalam melakukan upaya pencegahan agar tidak hancur Kamp Kumuh, Friya hanya bisa mendesah panjang, berpikir kalau usahanya sia-sia.
"Shilph, minta maaflah padanya!"
"Mana mungkin! Aku tidak mau karena aku tidak bersalah terhadapnya."
"....."
Shilphonia yang juga tidak mau mengakui kesalahannya dan meminta maaf pada Fuuya membuat Friya memegang kepalanya, pusing atas sikap keras kepala atas kedua gadis di dekatnya.
"Tenanglah, Fuuya! Aku tahu kamu terlihat marah dan membencinya, tapi setidaknya aku ingin kamu tenang terlebih dahulu dan biarkan semuanya dilupakan untuk saat ini, oke?"
"Ya."
Shilphonia, Friya, Reita, ketiganya tercengang dalam diam atas apa yang dilakukan oleh Sasaki terhadap Fuuya, mereka sama sekali tidak menduga kalau ia berhasil menenangkan emosi Fuuya dengan mudah dalam sekejap mata.
Sasaki yang hanya mendekatinya perlahan-lahan, mengelus-elus rambut biru tua panjangnya, dan memeluknya dari belakang, membisikkan sesuatu yang teringat atas kata-kata yang pernah dikatakan oleh Regard sebelumnya pada Sasaki yang membuat Fuuya terdiam dan melupakan kejadian tadi.
"Baiklah. Mari kita pergi, Teman-teman!"
__ADS_1
Dirasa ada suasana canggung di sekitarnya, Reita yang memulai pembicaraan membuat mereka berempat mengangguk setuju melanjutkan perjalanannya ke tenda besar untuk menanyakan Nek Ryadu tentang persiapannya dalam memindahkan mereka.