The Necromancer

The Necromancer
Ch. 13:Ketetapan Hati Reita Hiena


__ADS_3

"Namaku adalah Reita Hiena. Kalian bisa memanggilku Reita."


"Aku adalah Shilphonia Autheurus. Kamu bisa memanggilku dengan sebutan Shilph."


"Namaku Friya Furuhiora, kamu bisa memanggilku dengan nama Friya."


"Eh?"


"Kamu juga sama, Shilph. Kamu tidak perlu lagi memanggilku dengan nama Furuhiora melainkan Friya."


"Baiklah."


Di dalam kamar milik Shilphonia, wanita berambut biru panjang, Reita tersenyum melihat kedua gadis di depannya bersikap biasa tanpa ada yang berbeda dari perlakuan mereka terhadapnya.


Meskipun pada awalnya Reita terkejut dengan kehadiran dua gadis yang berbeda yang dapat dirasakannya, dia hanya bisa beranggapan bahwa dia sedang diculik.


Namun dugaannya sirna ketika mereka memperkenalkan nama dan sikap yang mereka perlihatkan membuat Reita berpikir bahwa mereka adalah orang yang baik yang berasal dari ras Elf dan Manusia.


"Hei Reita, apakah kamu baik-baik saja?"


"Adakah tubuhmu yang sakit?"


"Tidak, aku baik-baik saja."


Shilphonia dan Friya yang merasa simpati atas kondisinya yang baru sadar dari tidurnya yang panjang menanyakan kondisi Reita, namun Reita mengatakan dia baik-baik saja yang membuat dia kebingungan dan keheranan atas pertanyaan mereka tadi.


"Bolehkah aku tanya sesuatu?"


"Ya."


"Apakah sesuatu terjadi padaku?"


"Eh?"


"Itu...."


Tidak dapat menjawab pertanyaannya, Shilphonia dan Friya mengalihkan pandangan dari Reita.


Menurut mereka, memberitahu atas apa yang terjadi pada Reita hanya akan membuat dia mengalami trauma yang berat atas ketidaksadarannya dalam menghancurkan apapun di kedalaman gua, termasuk Shilphonia.


Bagi Shilphonia, Reita dan Regard sangat mirip satu sama lain.


Seperti yang Regard katakan dulu padanya, dia pernah kehilangan kendali atas tubuh dan pikirannya yang menyebabkan kesadarannya ditelan oleh kegelapan membuat dia mengamuk dan menghabisi siapapun yang ada di dekatnya.


Untungnya orang yang ada di dekatnya hanya ada Veru dan Raja Iblis jadi kondisi Veru aman karena tidak bisa dibunuh olehnya.


"Dengarkan ini baik-baik, Reita, kamu telah pingsan selama beberapa saat yang lalu."


"Itu benar. Penyebab kamu pingsan adalah kamu kehilangan kendali atas tubuhmu sendiri."


"Kehilangan kendali?"


"Ya, kamu mengamuk di kedalaman gua tambang karena sesuatu yang tidak kami ketahui alasan kamu mengamuk di dalamnya."


"....."


"Jangan khawatir, Reita, kami akan bersamamu jika kamu membutuhkan kami."


"....."


Tidak dapat menahan keterkejutan atas apa yang terjadi padanya, Reita baru ingat kalau dia kehilangan kesadaran atas dirinya usai meminum botol yang ada di dekat kakinya.


Tepat ketika kakaknya, Daffa tewas di depannya, Reita menerjang langsung ke kakaknya dan sekelompok Goblin yang ada di sekitarnya berniat untuk menyerangnya namun gagal. Hanya disitu Reita dapat mengingatnya sedangkan sisanya dia sama sekali tidak ingat apapun.


Air mata mulai membasahi pipinya. Isak tangis yang terdengar keras di dalam kamar membuat mereka berdua memeluk dan menenangkan Reita untuk mengeluarkan seluruh emosi dan perasaannya dalam tangisan tersebut.


Diluar kamar, Regard yang hendak mengetuk pintu tidak jadi melakukannya karena isak tangis yang terdengar keras hingga keluar kamar membuatnya tersenyum, dan keluar dari penginapan daripada menguping pembicaraan mereka.


•••••


Regard POV


Ah... apa yang harus kulakukan sekarang?


Shilph dan Furuhiora sedang bersama Reita jadi tidak akan sopan bila aku mendadak masuk ke kamar mereka dan berbicara tentang kondisi Reita.


Haruskah aku mengunjungi Maid Cafe lagi untuk bertemu dengannya?


Tidak, kurasa dia tidak mungkin berada di tempat yang sama lagi untuk ke kedua kalinya. Aku yakin dia akan pergi ke tempat lain untuk berburu wanita.


Ya, aku bisa pastikan bahwa dia melakukannya demi kesenangannya semata.

__ADS_1


Huh...


Aku harap ada kegiatan yang dapat kulakukan saat ini.


Kalau tidak salah, aku telah berhasil mencoba sesuatu sebelumnya. Apa yang aku coba ialah aku menggunakan sihir kegelapan untuk dapat menyerang musuh. Serangan yang dihasilkan memang tidak terlalu besar dalam melukai fisik namun memiliki dampak hebat usai tebasan tersebut selesai dilakukan.


Tak hanya tebasan dari [Dance of Shadow], sihir lainnya yang digunakan olehku adalah [Transparency] membuatku mudah menghilangkan kehadiran tanpa diketahui oleh musuhku.


[Transparency] adalah sihir terkuat yang dapat aku gunakan dari sihir yang berhasil aku dapatkan melalui darah monster yang ada di Reruntuhan Sylvia. Aku juga dapat mengetahui informasi sihir melalui darah monster itu yang memudahkan aku untuk dapat menggunakannya.


Yah, ini sama seperti kasus aku dimana dapat menggunakan [Golden Chain] sebelumnya untuk mengikat [Meteorit] milik Furuhiora.


"Aku mulai paham sekarang."


Setiap kali aku menghisap darah seseorang, baik kemampuan dan kekuatan yang didapat dari mereka adalah hasil atas kemampuan aneh yang kumiliki yaitu [Copied Skill], yang memudahkan aku untuk menyalin kemampuan lawan untuk dapat digunakan olehku.


Sederhana namun mematikan, tapi aku menyukainya.


Satu-satunya yang diperlihatkan saat ini adalah mendalami setiap kemampuan yang berhasil kudapatkan sebelumnya agar aku terbiasa menggunakannya.


Ya, aku rasa ini adalah cara yang tepat untuk menghibur diri diluar sana.


Tersenyum pada penglihatan ke luar kota, aku yakin ada metode yang tepat tanpa membuatku terlihat mencolok dihadapan publik jadi aku akan aman melakukannya nanti.


Baiklah. Kira-kira apa yang bisa aku buat dan gunakan nanti ya.


Aku tidak sabar terhadap kemampuan apa yang bisa aku gunakan dan lakukan nanti. Apakah itu hebat dan kuat seperti yang kulakukan sebelumnya atau sebaliknya, sebisa mungkin aku menahan sebagian kekuatan aku agar tidak membuat ledakan besar yang menyebabkan para Petualang dan Ksatria Kerajaan pergi ke lokasi aku yang akan mengganggu waktu latihan.


•••••


Di kedalaman hutan diluar Kota Farihiora, tebasan demi tebasan dilakukan oleh Regard di beberapa pohon yang ada.


"[Wind Cutter]"


Wind Cutter, sihir dengan elemen angin yang membentuk sebuah bola berukuran sedang berputar dengan hembusan angin yang kencang, di kedua sisi yang terdapat keempat baling-baling dapat memotong apapun yang akan mengenainya.


Di kedua tangannya yang terangkat, sebuah bola berukuran sedang berputar dengan hembusan angin yang kuat. Di sisi bola terdapat keempat baling-baling yang tajam yang dapat mematahkan dan memotong apapun yang mengenainya.


"Sekarang!"


Melemparkan salah satu [Wind Cutter] ke pohon di depan, beberapa pohon tumbang dalam sekejap. Melakukannya lagi di area yang berbeda, pohon lain yang ada di dekatnya tumbang dalam sekejap usai terkena serangannya.


"Hebat sekali."


"Baiklah. Mari coba yang lain."


"[Magma Ball]."


Magma Ball, sihir yang mampu membentuk bola api, Fire Ball yang berubah bentuk menjadi magma, serangannya mampu membakar dan menghanguskan apapun yang terkena serangan dari Magma Ball.


Beberapa rentetan bola yang terbuat dari api lalu berubah menjadi magma terlihat mengambang di udara dan mengenai pepohonan yang diarahkan Regard sebelumnya.


Beberapa pohon yang terkena dampak mengalami lubang besar bekas tembakan dari [Magma Ball] lalu terbakar dan hangus dalam sekejap mata.


Mengerikan sekali.


Memutuskan untuk tidak menggunakannya lagi, Regard menggantinya dengan elemen lain.


Menurut Regard, dia akan membahayakan nyawanya jika bermain dengan api maupun magma yang menyebabkan area hutan di sekitarnya terbakar. Tak hanya dirinya, orang-orang juga akan kehilangan nyawa karenanya yang dapat membuat dirinya menyesal saat itu terjadi.


"[Water Blade]"


Water Blade, sihir yang mampu menciptakan elemen air di objek yang dipegangnya membentuk sebuah pedang, itu tampak seperti pedang sihir dengan warna biru muda yang bergelombang dengan tenang layaknya sungai yang mengalir dengan tenang.


Water Blade memiliki keringanan dan mudah bergerak dalam pertempuran memudahkan si pengguna bergerak bebas sesuai keinginannya tanpa perlu khawatir gerakan sia-sia yang berat karena sihir yang diciptakannya terhadap objek tersebut.


"[Tsunami Slash]"


Tsunami Slash, tebasan dengan tekanan air yang tinggi dan kuat yang mampu merobohkan, menghancurkan maupun menebas apapun yang diinginkan si pengguna, kemampuan ini terbilang cukup kuat untuk digunakan dalam perburuan namun mematikan untuk membunuh manusia.


Beberapa pohon yang terkena tebasan dari [Tsunami Slash] terbelah dan tumbang seketika. Itu dikarenakan tekanan air yang kuat yang dilancarkan oleh serangan yang dilakukan oleh Regard membuat batang kayu tebal sekalipun dapat terbelah dan tumbang seketika karenanya.


Benar-benar hebat sekali.


Sekali lagi, Regard terkagum atas kekuatannya sendiri.


Dia tidak menyangka bahwa ini benar-benar hebat melebihi perkiraannya, terutama saat dia menggunakan [Water Blade] yang terasa ringan dan mudah digunakan membuatnya mampu bergerak bebas tanpa ada beban berat yang dihasilkan dari pergerakannya sendiri.


"Aku rasa lebih baik jika aku simpan yang kuat saat keadaan terdesak nanti."


Mengubah pedangnya menjadi tongkat sihir, Regard menggunakan [Change Weapon] yang dapat mengubah senjatanya dengan mudah tanpa perlu menunggu waktu yang lama.

__ADS_1


Saat ini Regard berpikir kalau dia bisa menjadi dua peran yang berbeda dihadapan publik yaitu Swordman dan Wizard, keduanya adalah petualang tingkat pemula yang masih jauh dari kata mahir jadi dia bisa berkamuflase selama dia dihadapan publik.


Jika dia sudah tidak dihadapan publik, dia akan menggunakan seluruh kemampuan dan kekuatannya demi melindungi dirinya sekaligus orang-orang di dekatnya.


Meskipun harus mengorbankan nyawanya sendiri, Regard siap atas konsekuensinya.


"[Crystal Shoot]."


Crystal Shoot, sejumlah kristal berwarna biru terang yang mampu ditembakkan ke satu target maupun lebih, tidak ada batasan dalam menggunakannya maupun membidik target, semua tergantung dari kebutuhan si pengguna.


Mengeluarkan sejumlah kristal berwarna biru terang, Regard mengarahkan tongkat sihirnya ke arah pohon.


Pohon yang terkena rentetan tembakan dari [Crystal Shoot] yang menyebabkan batang pohon berlubang dan kristal yang mengenai pohon tertancap kuat di dalamnya.


"Bagaimana kalau aku gunakan ini?"


Di telapak tangan Regard yang terbuka, kristal es terlihat dalam ukuran kecil. Tak lama kristal es mengeluarkan cahaya, kumpulan salju yang keluar dari dalam kristal menyebar yang menyebabkan area di sekitar ditutupi oleh butiran salju dalam jumlah banyak yang terdapat kabut es.


"[Ice Wave] benar-benar hebat namun..."


Ice Wave, sihir yang terbentuk dari elemen es yang mampu menciptakan kabut es agar mengaburkan pandangan siapapun yang berada di dalam kabut dari Ice Wave, serta memberikan efek Freeze pada mereka yang ada di dalam kabut es yang tidak terlalu terasa namun perlahan-lahan dapat dirasakan usai mereka, target dari pengguna berada sekitar beberapa menit di dalam kabut tersebut.


Mengepalkan tangannya, [Ice Wave] yang sebelumnya menyebar ke area luas perlahan-lahan sirna. Begitupun dengan kristal yang berada di tangan Regard sebelumnya, yang sekarang telah pecah dan hancur berkeping-keping.


"Masih ada beberapa perbaikan yang perlu dilakukan."


Meskipun dia sudah puas atas hasil percobaannya, Regard masih ragu untuk menggunakan [Ice Wave] di pertarungan nanti sebagai seorang Wizard.


Yang membingungkan dirinya bukanlah kemampuannya sendiri melainkan kemampuan yang akan dimiliki oleh musuhnya yang dapat melihat dalam hal tertentu menggunakan kemampuan mereka agar dapat mengetahui dimana dirinya dan kemampuan musuhnya berada yang akan dilancarkan terhadapnya.


Itu sebabnya Regard masih harus memperbaiki agar [Ice Wave] menjadi kabut es yang tak dapat dilihat oleh siapapun, meskipun mereka menggunakan kemampuan khusus mereka dalam melihat hal tertentu.


"Sayang sekali ya."


Duduk lalu merebahkan tubuhnya di permukaan tanah beralaskan rumput hijau, pandangannya mengarah ke langit-langit dimana dia melihat dedaunan, ranting pohon, serta awan cerah yang dapat terlihat melalui sela-sela ranting pohon dan daun yang ada di pohon.


Aku harap aku bisa mengubah dan memperbaiki beberapa sihir untuk dapat digunakan nantinya.


Menguatkan tekad pada dirinya, dia bangun dari rebahan di permukaan tanah beralaskan rumput hijau lalu bergegas pergi untuk memeriksa kondisi yang ada pada ketiga temannya di kamar Shilphonia.


•••••


Regard POV


"Shilph, Furuhiora, bolehkah aku masuk ke dalam?"


"Ya."


"Silahkan masuk kalau kamu mau!"


Membuka pintu dan memasuki ruangan, aku melihat kalau ekspresi yang dimiliki oleh Reita sudah membaik dari sebelumnya jadi aku lega saat tahu hal itu sudah membaik.


"Apakah kau sudah baikan?"


"Ya, aku sudah tidak apa-apa. Terimakasih atas bantuannya."


Bangun dari duduk di sisi kasur, Reita menundukkan tubuhnya atas bantuan yang kulakukan terhadapnya.


Yah, sejujurnya aku membantunya karena aku diharuskan untuk menolongnya dalam situasi yang berbahaya seperti yang dialami olehku di masa lalu jadi dia tidak seharusnya berterimakasih padaku.


"Aku juga meminta maaf atas perbuatan yang telah kulakukan terhadapmu sebelumnya."


Sekali lagi dia menundukkan tubuhnya, meminta maaf.


Aku tidak tahu harus bereaksi apa padanya namun aku hanya bisa tersenyum saat dia tahu dan sadar bahwa kesalahannya di masa lalu telah menjadi tanggungjawabnya untuk ia pikul dan genggam di masa sekarang hingga masa mendatang.


"Syukurlah jika kau baik-baik saja."


"Ya. Ini semua berkat bantuan darimu, Regard."


Sepertinya dia sudah paham dan mengerti atas cerita yang dijelaskan Shilph terhadapnya ya.


Kerja bagus, Shilph.


Dengan begini aku tidak perlu menjelaskan apapun jadi tugasku terasa ringan sekarang.


"Oh ya Regard, mengenai Reita... dia ingin ikut denganmu berkeliling. Apakah kamu tidak keberatan?"


"Ya. Dia juga mengatakan pada kami bahwa dia penasaran atas aktivitas yang kamu lakukan setiap harinya."


Entah apakah aku harus bersyukur atau tidak, aku merasa kalau dia penasaran atas apa yang kulakukan karena dia mungkin berpikir aku adalah penyelamat hidupnya.

__ADS_1


Yah, aku tidak bisa mengelak jika aku telah menyelamatkan dan menyadarkan dirinya. Tapi, aku tidak mau dia mengubah dirinya sama sepertiku yang membuatku takut kalau suatu saat nanti, dia akan berubah persis seperti diriku.


Aku ingin menghindarinya sebisa mungkin.


__ADS_2