
Kembang api dapat dilihat di tengah kegelapan malam di kedalaman hutan.
Suara dari aduan pedang yang melengking tinggi di udara yang sunyi dan hening, disertai dengan kecepatan tinggi di kedua sosok dibalik bayang-bayang yang sekilas dapat dilihat melalui sela-sela ranting pohon yang terpancar cahaya bulan purnama membuat keduanya tampak seperti sedang bertarung satu sama lain.
"Baiklah. Sudah cukup untuk latihan kali ini."
Mengangkat tangannya, sosok pria yang berhenti melakukan serangan membuat sosok gadis kecil bertelinga hewan menyudahi latihannya.
Mereka tidak lain adalah Regard dan Fenrir yang saling beradu kekuatan satu sama lain. Terlepas dari seberapa cepat dan hebatnya mereka dalam pergerakan, serangan, dan pertahanan, keduanya memiliki jangkauan serangan yang luas yang melebihi batas wajar.
"Maaf jika membuatmu terganggu, Fenrir."
"Tidak apa-apa. Aku senang bisa membantu latihan yang kamu jalani."
Meskipun Fenrir membenci keberadaan manusia lain, dia sama tidak tidak melampiaskan amarah dan kebenciannya terhadap Regard setelah tahu masa lalu Regard dari Shilphonia.
Sebaliknya, Fenrir merasa takdir memihak padanya.
Dipertemukan dengan kondisi tertentu, dia dihadapkan oleh pertarungan yang tiada hentinya menyebabkan dirinya dikalahkan telak oleh Regard tanpa ampun sedikitpun.
Regard yang duduk di permukaan, merenung sejenak.
"Ada apa, Regard?"
"Aku penasaran atas kemampuan yang kau miliki selama ini. Kau hebat dalam segi serangan dan kecepatan tanpa ada teknik lainnya yang ditempatkan pada area tertentu."
Berbicara mengenai teknik, Regard sama sekali tidak menemukan trik apapun dari kemampuan dan kekuatan yang didapat dari Fenrir.
Kebanyakan dari kemampuan dan kekuatannya terletak pada fisiknya, sedangkan sisanya adalah penguatan atas statistik tertentu seperti yang terjadi pada pertarungan sengit mereka sebelumnya.
Yang membuat Regard penasaran adalah [Fenrir Mode] yang dirasa cukup kuat untuk memerlukan kondisi tertentu dalam menggunakannya.
Itu tergantung dari situasi yang ada. Kondisi tertentu ialah seorang pengguna diharuskan memiliki amarah dan kebencian mendalam atas suatu hal yang menyebabkan emosi negatif bergejolak dalam dirinya yang membuatnya mampu mengeluarkan [Fenrir Mode].
Sama seperti [Infinity Spirit], [Fenrir Mode] tidak bisa digunakan terus-menerus setiap harinya dalam kurun waktu yang lama.
Efeknya dapat menyebabkan si pengguna yang mengandalkan [Fenrir Mode] lebih dari waktu yang ditentukan sebagian dirinya akan berubah menjadi Fenrir di lengan, rambut, telinga, ekor, dan kakinya yang menyebabkan dia tidak dapat kembali ke bentuk manusia seperti semula yang membutuhkan waktu lama untuk kembali pulih ke tubuh manusianya.
Dalam beberapa kondisi tertentu, Regard meyakini dirinya untuk tidak menggunakan kemampuan terkuat Fenrir di pertarungan, meskipun dalam kondisi terdesak.
"Apakah kau mau makan sesuatu hari ini?"
"Ya. Sejak pelatihan tadi, aku mulai lapar atas tenaga dan usahaku selama ini."
Memegang perutnya, suara dari keroncongan terdengar jelas ke Regard.
Tersenyum pada rasa laparnya yang terdengar, Regard mengeluarkan beberapa daging sisa yang masih disimpan dari daging monster lainnya yang pernah diburunya selama misi petualang dari Guild Petualang.
Mengambil beberapa daging, menusuknya, dan membakarnya dengan [Fire Ball] yang diarahkan pada tumpukan kayu yang berhasil dikumpulkan Regard melalui cloning dirinya, dia menunggu sate daging matang.
"Apakah kamu selalu makan-makanan ini?"
"Ya. Dahulu aku seringkali memakan daging liar di tiap petualangan yang ada, tapi sekarang berbeda."
Ekspresi Regard yang terlihat senang dan sedih disaat bersamaan membuat Fenrir yakin masa-masa dimana Regard hidup dijalan yang cukup sulit.
Meskipun Fenrir mengasihani dirinya, dia tetap bangga pada Regard yang masih peduli terhadapnya membuatnya mampu mendapatkan orang-orang terpercaya untuk menjalankan misi sehari-hari.
•••••
Regard POV
Tiap malam, aku dan Fenrir selalu melatih diri di kedalaman hutan.
Aku tidak menggunakan berbagai macam kemampuan dan kekuatan yang ada di class Necromancer, sebaliknya, aku hanya menggunakan kemampuan yang berhasil didapat dari Fenrir.
Fenrir sendiri tidak marah maupun membenciku, dia dengan senang hati menerima keberadaan aku sebagai penerus kemampuannya.
Dia mengatakan padaku sebelumnya, aku adalah penerus untuknya sekaligus pasangannya yang dicarinya. Meski begitu, aku sendiri tidak mengerti atas maksud pasangan yang dikatakannya jadi aku mengiyakannya.
Sebagai gantinya dia selalu melekat padaku.
Tiap pagi, kami selalu saparan berduaan di kamarku. Tiap siang dan sore hari, aku dan Reita, serta Fenrir yang melekat padaku ikut dalam misi. Dan di malam hari, dia tidur bersamaku layaknya sepasang kekasih.
Huh...
Hari-hari terlewati begitu sulit.
Merasakan iri dan amarah yang dipancarkan oleh mereka terhadap Fenrir, dia sama sekali tidak mempedulikannya, sebaliknya, dia merasa senang atas emosi yang diarahkan oleh mereka bertiga.
Bahkan di saat-saat aku dan Reita berduaan sebagai saudara tiri, dia selalu datang dan mengganggu.
Aku akui dia adalah pelatih yang hebat dalam mengajarkan aku tentang cara menggunakan kemampuan dan kekuatannya, tapi kekurangannya ialah dia tidak mampu membaca situasi yang ada.
Benar-benar menyedihkan ya.
Duduk di kursi perpustakaan, aku yakin tidak ada satupun dari mereka yang akan datang.
Sebelumnya aku berhasil mengendalikan kemampuan dan kekuatan Fenrir, tapi semuanya membutuhkan latihan ekstra.
Seperti [High Acceleration] yang tingkatannya lebih tinggi. Itu mengharuskan diri untuk menentukan arah mana untuk dapat digerakkan dan dituju.
__ADS_1
Jika aku tidak mampu mencapai arah yang ditentukan dan dituju, aku akan berkahir jatuh dan gagal. Itu memalukan, tapi karena itulah aku sedikit lebih paham.
Contoh lainnya ialah [Wind Burst], [White Aura], dan [Fenrir Army], ketiganya adalah kemampuan yang sulit untuk diterapkan dalam waktu dekat.
[Wind Burst] yang mengharuskan seseorang memutar tubuhnya menggunakan momentum yang tepat untuk mengendalikan udara lalu meledakkannya. [White Aura] yang harus mengeluarkan energi penuh dengan mana putih untuk dipancarkan ke seluruh tubuh untuk meningkatkan statistik fisik berupa kecepatan, ketahanan, dan serangan. Serta [Fenrir Army] yang sulit untuk dipanggil karena untuk memanggilnya, seseorang harus berkonsentrasi penuh pada aura di sekitarnya untuk memanggil Fenrir dalam jumlah banyak dalam bentuk yang sama seperti yang dilakukan oleh Fenrir di pertarungan kami.
Apalagi dalam menggunakan [Rage Mode], aku harus dalam kondisi tertentu ketika hendak menggunakan kemampuan ini. Misalnya seperti aku menuangkan seluruh emosi negatif di dalam diriku, mengaktifkan [Fenrir Mode], [Rage Mode] akan aktif dengan sendirinya.
Yah, semuanya berjalan lancar berkat bantuannya.
Siapa sangka orang sepertiku yang seharusnya mampu menguasainya secara otodidak diharuskan meminta bantuannya.
Sayang sekali ya.
"Ya, sayang sekali."
"Uwah..."
Terkejut atas kedatangannya, aku hampir saja terjatuh dari kursi.
Dia tidak lain adalah Fenrir, gadis kecil dengan rambut biru panjang, matanya yang berwarna perak layaknya salju dapat dilihat jelas olehku.
"Apakah kamu sedang melamun, Regard?"
"Tidak, aku sedang memahami beberapa bagian yang terpenting."
"Bagian terpenting?"
"Ya."
Cara bagaimana untuk bisa menyatukan beberapa kepingan puzzle menjadi satu dibutuhkan waktu yang cukup lama agar seseorang menyadarinya.
Layaknya kepingan puzzle, beberapa kepingan dari masing-masing kekuatan dan kemampuan mereka bisa disatukan tanpa efek samping terhadapku.
Aku sendiri belum mencobanya karena itu akan berbahaya untuk lingkungan di sekitar.
Kalaupun diharuskan mencoba, aku akan memilih lawan terkuat, misalnya Stahark untuk dijadikan ujicoba dalam latihan berikutnya yang dapat merenggang nyawaku.
Ini benar-benar menarik.
Entah apakah kami akan bertemu dalam waktu dekat atau tidak, aku yakin kita akan saling berhadapan satu sama lain jika takdir mempertemukan kita nanti.
•••••
Di tengah kota, kobaran api menjulang tinggi. Para penduduk kota yang berhamburan karena panik dan takut, masing-masing dari mereka dibunuh satu-persatu oleh sekelompok sosok yang terbang di langit-langit menggunakan sayap mesin mereka.
Tak lepas dari itu, tembakan berupa misil dilakukan terus-menerus tiada henti menyebabkan area yang terkena jangkauan ledakannya lebih besar mengakibatkan seluruh bangunan dan permukaan tanah hancur.
"Semuanya telah selesai."
"Bagus."
Sekelompok sosok misterius pergi tanpa mempedulikan siapapun yang ada di kota tak berpenghuni, menyisakan emosi gelap yang menyelimutinya membuatnya terlihat menakutkan.
Di dalam Kota Resihei, Regard bangun dari tidurnya.
Seperti biasanya, disampingnya terdapat Fenrir yang memeluknya dengan erat. Terlebih lagi Fenrir tidak mengenakan pakaian apapun dalam tidurnya yang dapat terlihat sepenuhnya tubuhnya yang telanjang memperlihatkan *********** yang kecil, tubuhnya yang mungil dan kurus.
"....."
Mengabaikan ketidakpedulian atas tubuhnya, Regard yakin ini sudah menjadi rutinitas hariannya yang membuatnya terbiasa menjalaninya.
"Fenrir... bangun. Sudah pagi lho."
Sedikit membuka matanya, Fenrir mengusap dan melihat ke Regard dengan mata kantuk di wajahnya.
"Mari kita pergi, Fenrir!"
"Baik."
Bergegas pergi ke pemandian air panas, Regard dan Fenrir memutuskan untuk mandi di pemandian umum campuran karena mereka tidak bisa dipisahkan satu sama lain.
Bahkan ketika Regard mencoba memisahkan diri darinya, Fenrir dengan mudahnya melekat kembali layaknya lem yang sudah lama dapat dilepaskan namun saat masih baru dapat melekat dengan kuat.
"Pagi, Regard."
"Pagi, Shilph."
Shilphonia yang menajamkan matanya pada Fenrir. Fenrir mengalihkan pandangan dari Shilphonia dan semakin memeluk erat Regard.
Dia tahu bahwa dia iri atas kejujurannya dalam mendekati Regard, tapi alasan Shilphonia merasa risih adalah Fenrir tidak bisa membedakan mana pekerjaan dan mana waktu pribadi yang membuatnya terlihat seperti anak nakal pada umumnya.
Meskipun demikian, Shilphonia tidak membencinya sama sekali.
Dia justru melihat kelucuan Fenrir yang tidak dapat dipisahkan dari Regard membuat hari-hari terasa sangat menyegarkan, setidaknya untuk melupakan rasa iri dan cemburu atas kedekatan mereka.
"Dimana Friya dan Reita?"
"Mereka sedang berlatih satu sama lain."
"Berlatih di pagi hari?"
__ADS_1
"Ya."
Menurut Regard, keduanya sudah beberapa hari terakhir menjalani latihan yang cukup banyak yang dia sendiri tidak tahu latihan macam apa yang mereka jalani.
Di Gunung Baurme, Friya dan Reita bergegas untuk sebisa mungkin berlatih di tempat yang jauh dari Kota Resihei maupun wilayah di sekitarnya.
Sangat berbahaya jika mereka berlatih pertarungan mereka ketika seseorang maupun kelompok petualang menonton acara tersebut, yang dapat merenggang nyawa mereka tanpa disadari oleh keduanya.
Karena itulah Reita yang mengusulkan untuk menjauhi perkotaan demi menghindari tatapan langsung dari Regard, kakak barunya disetujui oleh Friya.
"Apakah kamu siap?"
"Ya."
Di tempat mereka yang memiliki jarak yang cukup jauh, mereka lenyap di tempat yang menyisakan udara kosong.
Dum!
Bunyi dari hantaman satu sama lain dapat terlihat melalui butiran salju yang dihempaskan di sekitar menyebabkan badai salju buatan dapat terlihat oleh siapapun yang melewati daerah tersebut.
Reita yang dengan kuat mengeluarkan rentetan [Earth Lance] dalam jumlah banyak ditembakkan ke arah Friya. Friya dengan mudah menepisnya menggunakan [Ultimate Barrier] yang dipasang di sekitar tubuhnya membuatnya kebal terhadap serangan apapun.
Tidak melewatkan kesempatan, Reita dengan rentetan tembakan lainnya yang berasal dari [Ice Crystal], [Wind Ball], dan [Fire Cracked Stone] diarahkan langsung ke arah Friya.
Masing-masing dari ukuran yang dilancarkan oleh Reita beragam jenis. Mulai dari [Ice Crystal] yang berukuran sebesar kristal es, [Wind Ball] yang berukuran sebesar bola tenis, dan [Flame Cracked Stone] yang memiliki ukuran sebesar bongkahan batu yang dilapisi oleh lahar di dalamnya.
Gawat, aku harus menghindarinya.
Meskipun dapat diatasi dengan mudah, Friya ragu jika serangan terakhirnya dapat bertahan sebisa mungkin.
Jadi, dia dengan segera mengaktifkan [Instructions] yang menyebabkan getaran tanah berdiri membentuk pilar, gerbang, dan tembok tebal yang kokoh layaknya membentuk kerajaan.
Tak melewatkan kesempatan yang ada, Friya juga menggunakan [Teleportation] yang memudahkan dia berpindah tempat dalam sekejap lalu menggunakan [Wind Walk] untuk berjalan di atas udara kosong untuk memperhatikan seberapa kuatnya serangan yang dilancarkan oleh Reita.
•••••
Regard POV
Aneh sekali.
Sudah dua minggu lebih, tidak ada kabar apapun dari Sasaki.
Kemana dia pergi? Bukankah dia seharusnya mengabari kondisinya padaku melalui [Mind Reading] yang aku sediakan khusus untuknya.
Apakah sesuatu terjadi padanya? Siapa yang bisa melakukannya? Mungkinkah iblis atau makhluk lain yang lebih tinggi keberadaannya dari manusia?
Memikirkan berbagai kemungkinan yang ada, aku sama sekali tidak menemukan jawabannya.
"Hei, apakah kau mendengar rumor baru-baru ini?"
"Rumor?"
"Ya. Katanya banyak dari kota dan desa dihancurkan dengan mudah oleh sekelompok makhluk terbang yang diduga mereka bukanlah manusia maupun monster."
Sekelompok makhluk terbang? Mereka bukan manusia dan monster?
Apakah makhluk itu benar-benar ada?
Memikirkannya berkali-kali, jawaban tidak dapat aku temukan. Jadi, aku sedikit memasang pendengaran ke Aula Guild Petualang memastikan bahwa mereka membocorkan informasi penting lainnya.
"Ya. Menurut kabarnya, mereka menyebut dirinya sebagai Hu-Machina."
"Hu-Machina?"
"Ya. Mereka bisa dibilang sejenis mahluk yang memiliki perlengkapan senjata yang lebih modern, canggih, dan kuat melebihi makhluk apapun di dunia ini."
"....."
Lebih kuat dari apapun ya.
Menghantam meja dengan keras, aku mendapatkan jawabannya.
Ada kemungkinan makhluk yang disebut Hu-Machina, dia adalah pelaku dimana Sasaki tidak mengabari kondisinya saat ini.
Biasanya dia yang selalu melaporkan dan membicarakan hal penting terhadapku, kali ini dia tidak terdengar apapun bahkan keberadaannya masih belum diketahui.
Sial. Apa yang harus kulakukan?
Sejauh ini aku berhasil mendapatkan dan menyelamatkan hidup Sasaki. Tapi, hasilnya semua dihancurkan oleh mereka.
"Regard..."
"Bisakah kamu menghentikan amarah kamu, Regard?"
"Ah..."
Menekan emosi yang sempat meluap-luap dari dalam diriku, aku melihat sekitar. Mereka tampaknya terkejut atas tindakan aku tadi yang membuat pandangan mereka terlihat bingung atas apa yang aku lakukan.
Di depanku, kedua orang yaitu Fenrir dan Shilph terlihat ketakutan atas amarahku yang sempat dikeluarkan.
Apakah aku telah mengacaukannya?
__ADS_1
Jika aku memang pembawa masalah, aku harus berhati-hati mulai sekarang agar tidak bocor lagi amarah yang berhasil keluar dari dalam diriku sendiri.