
"Dia berhasil dikalahkan ya."
Seorang wanita yang menatap ke arah dimana temannya, Lucifer berada, ekspresinya terlihat kecewa karena dia tidak dapat bertahan lebih lama darinya.
"Cih.... dia kuat sekali."
"Ya, kamu benar."
"....."
Friya dan Reita yang terlihat kelelahan menatap tajam ke arah wanita yang sedang diam di tempatnya. Ekspresi yang mereka perlihatkan adalah kesal dan benci atas ketahanannya dalam menahan rentetan serangan dari mereka berkali-kali tanpa tergores maupun terluka sedikitpun.
Berbeda dengan mereka berdua, Fuuya yang sedari tadi menatapnya dalam diam memasang ekspresi kesal atas ketahanannya yang kuat terhadap cakar dan kawanan Fenrir miliknya yang transparan.
Giginya yang diadu dan diperlihatkan, posisinya yang terlihat bersiap-siap menyerang, serta ekspresinya yang tidak mau menerima kekalahan membuat Fuuya berpikir masih ada waktu untuk tidak menyerah.
"Apakah ada cara untuk mengatasi ketahanannya yang kuat?"
Sasaki, gadis berambut perak pendek yang mengawasi pertarungan sama sekali tidak menemukan celah sedikitpun dari lawannya.
Tak peduli seberapa banyak serangan dia lakukan menggunakan misil, pedang mesinnya, dan [Rage of Demi-human], semuanya tidak mampu menembus pertahanannya.
Apalagi menurut Sasaki, benda yang ada di dekatnya yang terlihat seperti badan dan sepasang sayap benar-benar membuat kekuatan dan kemampuannya terbilang kuat melebihi kemampuan yang mereka miliki.
Bahkan ketika pertarungan sedang berlangsung, mereka kesulitan untuk bisa mengimbanginya dengan mudah agar mereka tidak terluka maupun tiada.
Satu kesalahan dapat membuat nyawa mereka menghilang, itulah apa yang terjadi sebelumnya pada pertarungan yang mereka lakukan dari sudut pandang Sasaki.
"Permainan sudah berakhir."
Di tangan wanita itu terdapat lingkaran berwarna hitam, putih, merah dan kuning yang terlihat berada di beberapa tempat yang saling berputar di telapak tangannya.
Pandangannya yang memperhatikan sekelilingnya membuat mereka yakin kalau dia akan melakukan serangan akhir yang besar yang sulit untuk mereka tahan.
"Friya!"
"Ya."
Di tangan kanan Friya, tongkat sihirnya diarahkan ke depan yang membuatnya menyala berwarna keperakan lalu keemasan yang menyelimuti tubuh mereka.
Reita yang berada di barisan depan, dia dengan cepat memijak tanah dibawahnya membuat sebuah pelindung berupa tembok besar yang kokoh yang berlapis-lapis. Di belakang barisan, Fuuya yang dengan cepat memukul permukaan membuat tulang-tulang dari dalam tanah keluar menyangga dinding untuk meningkatkan pertahanan.
Apakah aku harus membantu mereka?
Tidak seperti ketiganya, Sasaki ragu untuk membantu mereka.
Dirinya yang tidak memiliki kemampuan dan kekuatan pendukung seperti mereka membuat dia berada dalam situasi kurang menguntungkan untuk dapat terlihat berguna bagi mereka.
Secara keseluruhan, Sasaki memiliki kemampuan tempur yang hebat melebihi manusia manapun. Tapi dikarenakan dia kurang dalam memiliki kemampuan pendukung, dia kesulitan untuk menjadi support pada mereka yang sama sekali bukan tipenya.
"Biar aku yang mengganggu konsentrasinya."
"Tunggu, Sasaki! Jika kamu bertindak gegabah, kamu akan tiada."
"Ya, aku tahu itu."
Sasaki yang terbang ke langit memeriksa situasi musuhnya.
Musuhnya yang sedang terdiam membuat Sasaki yakin dia dapat melakukannya. Dia yang dengan cepat membagi tubuhnya menjadi tiga, bergerak ke wanita yang sedang memfokuskan diri pada lingkaran sihir di telapak tangannya.
Kedua Sasaki yang menerjang langsung ke arahnya menembakkan misil berkali-kali yang tidak mempan terhadap pertahanannya yang kuat. Melanjutkan dengan tebasan berkali-kali pada pedang mesinnya terus-menerus, tidak ada retakan maupun goresan yang membekas di perisai pertahanannya.
"Cih..."
Terbang menjauh darinya, kedua Sasaki menyilang lengannya do langit-langit dengan mesin panjang yang menggantikan pedangnya. Mesin itu tampak panjang yang mirip seperti meriam namun memiliki ukuran yang besar yang tidak terlihat seperti meriam biasa.
Perlahan-lahan partikel berwarna merah ke oranye muncul dan mulai membentuk lingkaran dalam jumlah banyak berukuran sedang. Masing-masing partikel yang terkumpul mulai menyala membuat mereka bertiga yang tertutup oleh dinding dan tulang-tulang terkejut atas cahaya apa yang ada di langit-langit yang menyilaukan.
"Mungkin ini tidak akan bisa menembus pertahanan milikmu, tapi...."
Tepat ketika bola berukuran besar berwarna oranye memancarkan cahaya menyilaukan, Sasaki tersenyum penuh percaya diri atas keyakinannya kali ini.
"Tapi aku yakin aku dapat meninggalkan goresan maupun retakan di pertahanan milikmu, Manusia."
Aura berwarna hitam yang terpancar menyelimuti tubuhnya membuat Sasaki melempar bola berukuran besar berwarna oranye ke arah wanita itu berada.
Wanita itu tidak bergeming maupun kabur dari tempatnya, dia hanya tersenyum saat sudah menyelesaikan mantra sihir yang berada di telapak tangannya tanpa ada khawatir dan cemas atas kondisinya.
Benar-benar menyedihkan.
Lingkaran sihir yang berputar di telapak tangannya melayang di udara yang kemudian mengeluarkan cahaya hitam dan putih secara bersamaan membuat suasana di sekitar berubah menjadi aneh.
__ADS_1
"Ini..."
"Mungkinkah dia..."
"Ya. Tidak salah lagi, ini adalah area miliknya."
Reita, Fuuya, dan Friya yang terkejut atas sihir yang dimilikinya tidak digunakan untuk menyerang melainkan membuat area skala besar membuat mereka cemas dan khawatir atas kondisi yang dimiliki oleh Sasaki.
Aku harap kamu baik-baik saja, Sasaki.
Friya yang memegang kedua tangannya yang diletakkan di dadanya berharap bahwa doanya terkabul untuk keselamatan Sasaki. Dia tahu berharap tidak akan membuahkan hasilnya, tapi setidaknya dia ingin Sasaki baik-baik saja dan selamat tanpa ada luka sedikitpun di tubuhnya dari pertarungan yang akan mereka lakukan nanti.
Wanita yang awalnya berada di jangkauan bola besar berwarna oranye menghilang dalam sekejap dan muncul di belakang Sasaki.
"Mustahil."
Beberapa pukulan ditangkis oleh perisai mesin milik Sasaki, mulai dari pukulan yang mengarah ke perut, dada, kaki, tangan, dan pipi berhasil dicegah oleh perisai mesin yang tak dapat ditembus.
Ini tidak bisa dibiarkan.
Beberapa mesin melayang di udara mengepung wanita yang tidak dapat menembus pertahanan Sasaki.
Cahaya muncul berwarna merah terang yang perlahan-lahan mulai membesar lalu menembakkannya ke wanita yang dijadikan target oleh mesin panjang yang melayang.
Apakah berhasil?
Sepanjang debu yang tak terlihat, kedua Sasaki mundur dengan cepat untuk menjaga jarak dengannya.
Dia benar-benar kuat ya.
Sasaki asli yang sedang mengamati situasi yang ada, dia dengan cepat mengeluarkan beberapa bilah pedang yang dia salurkan mana miliknya untuk membuatnya terlihat transparan.
Aku harap ini dapat bekerja.
Harapannya yang diam-diam membantu mereka dapat membuat wanita itu dengan cepat terkejut atas pertahanannya yang dapat dia pecahkan.
•••••
"Ini...."
Sepanjang jalan menuju keluar hutan, Shilphonia dikejutkan atas suasana yang berbeda dari sebelumnya. Suasana yang hening dan sunyi, serta warna dari seluruh pemandangan dan objek di sekitarnya berwarna hitam dan putih dapat dilihatnya.
"Dia berniat untuk mengakhirinya ya."
Terlihat dari bagaimana seriusnya dia mengeluarkan kemampuannya, Shilphonia berpikir ini akan membuat situasi menjadi merepotkan bagi mereka jika mereka tidak berinisiatif untuk segera bertindak dalam mencegahnya.
Di lain tempat, Regard yang awalnya sedang bersantai mulai berdiri dan memperhatikan sekelilingnya dengan seksama.
Tidak ada tanda-tanda orang maupun monster yang lewat, sebaliknya, suasana yang hening dan sunyi tanpa ada keberadaan siapapun yang disertai dengan warna hitam dan putih membuatnya yakin ini bukanlah sembarang tempat yang dapat dibuat oleh seseorang.
Sudah kuduga kalau mereka memiliki kemampuan terkuat.
Tersenyum atas apa yang dirasakannya, cepat atau lambat Regard berpikir bahwa musuhnya tidak akan sanggup dalam mengalahkan mereka meskipun mereka telah dipojokkan dalam situasi terdesak seperti sekarang.
Baiklah. Sekarang apa yang harus aku lakukan?
Di salah satu lengannya yang mengeluarkan beberapa bola hitam yang melayang dan menghilang di udara kosong membuat Regard tersenyum dan tertawa atas apa yang akan dilakukannya.
Berbagai macam pemikiran dalam melakukan dengan cara apapun, Regard yakin mereka berpikir kalau dirinya tidak akan mengganggu mereka sedikitpun. Itulah mengapa Regard mulai bertindak membuat dia yakin bahwa mereka dapat menanganinya usai dia melakukan pembukaan besar yang sulit untuk diduga oleh musuhnya.
Aku akan menantikan kalian menang, Teman-teman.
Berjalan menjauh dari tempatnya dan tersenyum, satu-satunya yang harus ditakutkan bagi lawannya bukanlah kemampuan yang dimiliki oleh Reita, Fuuya, dan Friya melainkan Sasaki sendirilah yang memiliki kemampuan berbahaya yang sulit untuk diatasi.
Aku harap kau dapat mengamuk sepuasnya, Sasaki.
Mengirimkan pesan itu melalui [Mind Reading] pada orang yang ditujunya, Regard menyudahinya dan kembali melanjutkan perjalanan menuju keluar hutan dengan segera.
•••••
Aku harap kau dapat mengamuk sepuasnya, Sasaki.
Kata-kata itu terdengar jelas melalui benak kepala Sasaki.
Aku mengerti.
Memejamkan matanya sejenak, Sasaki berpikir untuk menunggu hasil dari taktik yang dia lakukan kali ini. Apakah itu berhasil atau tidak, dia sudah tidak mengharapkan keberhasilan sedikitpun dari idenya sebelumnya.
Tidak jauh dari tempatnya berada, kedua Sasaki yang menangkis tebasan dari pedang milik wanita tersebut menahannya sekuat mungkin sambil menjaga keseimbangannya.
Bagi mereka berdua, tekanan kuat dihasilkan melalui pijakan dan kekuatan yang disalurkan ke pedang yang digenggamnya membuat mereka yakin itulah alasan tekanan kuat yang dapat mereka rasakan.
__ADS_1
Sekarang!
Mendorong dengan gelombang kejut, wanita itu terpental dan terjatuh ke permukaan tanah.
Tak lama setelah dia terjatuh, perisai transparan yang menyala menunjukkan reaksi bahwa dia telah diserang tanpa disadarinya. Wanita itu yang mengitari pandangan mencari tahu dimana serangan dilakukan padanya, tapi dia tetap tidak menemukannya.
Dimana dia menyerang aku?
Terus-menerus diperhatikan olehnya, tidak ada tanda-tanda bahwa serangannya terlihat olehnya.
Sial.
Mengepalkan kedua tangannya, wanita itu memutuskan untuk menyudahinya dan mulai bangkit berdiri sambil bersiap-siap untuk segera menghabisi kedua Sasaki yang ada dihadapannya.
"Takkan kubiarkan kamu bermain-main denganku!"
"....."
Seluruh area yang awalnya hitam putih kembali seperti semula yang gelap gulita di sekitar mereka karena cuaca masih malam hari.
Dihadapan mereka berdua, wanita itu mengeluarkan cahaya menyilaukan berwarna hijau yang menyelimuti tubuhnya dapat mereka lihat dengan mata telanjang. Cahaya itu memiliki sejumlah mana dalam jumlah banyak yang tak terhitung jumlahnya dapat dirasakan oleh mereka berdua.
"Ini gawat!"
"Ya, kamu benar."
Kedua Sasaki yang mengarahkan salah satu lengannya ke depan membentuk perisai mesin dalam jangkauan luas yang ditambahkan sejumlah mana ke dalamnya membuat ketebalannya lebih kuat daripada sebelumnya.
[Machine Shield] yang diperkokoh oleh sejumlah mana dalam jumlah banyak memiliki warna biru cerah yang terlihat terang di dalam kegelapan membuat mereka yakin bahwa pertahanannya tak akan mudah ditembus oleh serangannya nanti.
Di salah satu tangannya, terlihat pedang mesin yang disalurkan mana yang cukup dapat mengubahnya menjadi tombak panjang dalam bentuk bor yang memiliki duri di ujung tombaknya dalam jumlah banyak.
"Apakah kamu siap?"
"Ya."
Melemparkan tombaknya dan memegangnya secara terbalik, mereka berdua membidik target dihadapan mereka dengan mudah lalu melemparkannya tanpa ragu.
Takkan kubiarkan kalian menghentikan aku!
Wanita itu yang menatap tajam penuh dengan ekspresi kesal mengeluarkan kedua pedang yang menyilang dihadapannya yang berwarna hitam. Aura gelap yang dipancarkan oleh kedua pedang menyerap tombak itu dengan mudah lalu lenyap dalam sekejap mata tanpa ada jejak sedikitpun.
Benar-benar bodoh.
"....."
"....."
Tidak disadari oleh mereka berdua, beberapa lubang terbuat di titik buta mereka.
Tombak yang awalnya mereka lemparkan memiliki jumlah satu terdapat puluhan tombak yang ditembakkan ke arah mereka tanpa henti.
Kedua Sasaki yang berhasil menghindar dan melompat berkali-kali membuat mereka sibuk pada tombak yang tak kunjung berhenti tembakannya terhadap mereka.
"Sekarang waktunya untuk kalian tiada."
Selesai mengatakan itu pada dirinya sendiri, tubuh wanita itu perlahan-lahan berubah menjadi berbeda.
Sosok yang awalnya terlihat cantik berubah menjadi menyeramkan dan menakutkan. Ya, wanita itu berubah menjadi iblis. Terlihat jelas dari kulitnya yang berubah menjadi hitam, sepasang tanduk di dahinya yang panjang, telinganya yang runcing, rambutnya yang awalnya hitam berubah menjadi putih, sepasang sayap hitam membentang luas yang tampak seperti sayap kelelawar, serta ekor hitam panjang dapat dilihat oleh mereka.
"....."
Sosok itu menghilang dengan mudah tanpa dapat mereka ketahui.
"Kuh..."
Tidak dapat memprediksi serangannya, salah satu Sasaki yang didorong oleh pukulannya yang sulit ditahan membuatnya terpental jauh menghantam beberapa pohon di jangkauan terjatuhnya.
"Sekarang waktunya untuk giliran dirimu!"
"Hiiik!"
Menghilang bagaikan kilat, sosok iblis itu muncul di langit-langit dengan beberapa bilah pedang berwarna hitam gelap yang melingkar ke atas yang diarahkan pada Sasaki yang masih tidak menyadari keberadaannya.
"Aaaarrrrggggghhhh!"
Rasa sakit akibat tusukan pedang yang dilakukan berkali-kali membuat kegelapan mulai merasuki tubuh Sasaki.
Rasa sakit, keputusasaan, kebencian, kemurkaan, dendam, dan kehampaan membuat hati dan pikiran Sasaki disiksa berkali-kali tanpa ampun membuat dirinya memberontak berkali-kali saat pedang terus menancap di tubuhnya.
"Matilah!"
__ADS_1
Pedang terakhir yang digenggamnya memancarkan aura biru laut yang ditusukkan pada tubuhnya membuat Sasaki tersebut sirna dalam sekejap.