
Di setiap malam, para penduduk, pedagang, dan petualang tidak terlihat sama sekali di sepanjang jalan. Udara dingin dan kesunyian yang mendalam, tidak ada satupun tanda-tanda keberadaan seseorang yang berada diluar gedung melainkan mereka ada yang sudah tertidur, ada juga yang sedang berpesta di dalam Aula Guild Petualang.
"Aku harap masalah ini selesai dengan cepat."
"Ya, kamu benar."
Di salah satu meja, terdapat tiga petualang yang berasal dari Colorful Adventure.
Pria gemuk dengan otot-otot lengan yang mengenakan zirah besi di bagian perut dan perisai yang diletakkan di lantai kayu, berambut coklat dan berjanggut panjang berwarna coklat, memandang ke arah luar setiap kali dia sedang memperhatikan sesuatu yang sedang mengintai di balik kegelapan.
Wanita yang ada di sisinya, dia mengenakan pakaian penyihir yang sedang menghisap rokok yang telah dihembuskan asapnya sambil menyilang salah satu lengannya di dada, yang juga khawatir dengan kondisi kota selama beberapa minggu belakangan ini.
Kota Lien, kota yang seharusnya mereka pikir sebagai Kota Pelabuhan yang terkenal akan makanan, tarian, dan adat istiadat yang khas milik Kota Lien telah memiliki sesuatu yang mereka sendiri tidak tahu apa itu.
Sekitar dua minggu yang lalu, hampir dari sebagian orang menghilang di kegelapan malam. Mereka yang menghilang berasal dari rumah-rumah penduduk maupun penginapan yang disewakan untuk petualang, tidak ada tanda-tanda keberadaan mereka dilenyapkan maupun diculik.
Sebagian orang akan berpikir itu adalah imajinasi semata, tapi lama-kelamaan itu menjadi teror yang menakutkan untuk diperhatikan terus-menerus selama beberapa hari ke depan hingga sekarang.
Apalagi ada kabar baru yang mengejutkan, kabar tentang munculnya sekelompok orang berjubah hitam yang ditutupi tudung rambut mereka, serta topeng yang menutupi wajah mereka untuk tidak dikenali, mereka menyebut dirinya sebagai The Necromancer.
Memberantas, membunuh, melenyapkan, ketiga hal adalah aktivitas yang dilakukan oleh The Necromancer selama ini dalam menyerang orang-orang tak berdosa dan tak pernah berbuat kesalahan.
"Kira-kira apa yang mereka inginkan?"
"Kau benar."
Pria berambut hitam, bertubuh kurus, serta berkulit coklat sedang memperhatikan diluar gedung Guild Petualang yang sedang berdiri di sisi pintu masuk Guild, memperhatikan ada yang tidak beres atas apa yang sebenarnya terjadi.
Di sisinya, seorang pemuda juga terlihat mencemaskan atas nasib yang mereka miliki serta penduduk kota. Akankah mereka baik-baik saja dengan kemunculan The Necromancer atau tidak, pemuda itu berharap bahwa mereka tidak akan kehilangan apapun.
•••••
Regard POV
"Apakah ini misinya?"
"Ya."
Secarik kertas yang telah diambil oleh Reita, aku memperhatikannya dengan seksama.
Misi yang terdengar sulit namun mudah untuk dilakukan yaitu mencari tahu siapa dalang dibalik The Necromancer.
Sungguh, aku tidak tahu harus berkata apa pada pembuat misi kali ini. Setahuku, The Necromancer hanya memiliki anggota yang kumiliki, tapi aku tidak tahu apakah diluar sana ada juga atau tidak.
"Bagaimana menurutmu, Shikazu?"
"Ini benar-benar buruk."
"Ya. Tak hanya membuat kita terlihat bersalah, orang-orang itu juga menginginkan agar kita dianggap sebagai ancaman oleh semua orang."
Sasaki benar.
The Necromancer adalah melindungi yang lemah tak bersalah dan melawan yang kuat yang memiliki kesalahan atas perbuatan kejahatan, itulah prinsip yang dibuat olehku.
Tapi, aku sendiri terkejut jika orang lain meniru The Necromancer dengan mudahnya. Topeng, jubah hitam, serta anggota yang dimilikinya, aku tidak tahu seberapa banyak mereka, tapi aku yakin mereka sengaja melakukannya untuk meniru kami.
"Huh..."
"Ini tidak bisa dibiarkan bukan, Regard?"
"Ya, begitulah."
Membiarkan ini menyebar ke kota lain atau tidak, kami akan dianggap sebagai kriminal yang akan membuat ksatria kerajaan mengincar salah satu dari anggota kita.
"Baiklah. Mari kita pergi ke Kota Lien."
"Ya."
"Tentu."
"Mari kita beri pelajaran pada orang-orang yang telah membuat reputasi kita buruk."
Friya benar.
Jika kita tidak segera bertindak, mereka akan semena-mena membawa nama The Necromancer ke arah yang salah. Jadi, aku putuskan untuk mencari tahu siapa mereka, mengapa mereka melakukan atas nama The Necromancer, dan apa tujuan mereka.
Setelah mengetahui semuanya, cepat atau lambat, aku akan membuat mereka menyesal karena telah mengikuti cara kami dalam menangani masalah dengan cara baik yaitu melenyapkan mereka semua.
•••••
Diluar hutan, kelima gadis dan satu pria sedang berada di sudut hutan yang tidak ada siapapun di sekitar mereka baik di jarak dekat maupun jauh.
__ADS_1
"Kenapa kita berhenti di tempat ini?"
"Sederhana."
Regard yang tersenyum, meletakkan tangannya di permukaan tanah yang membuat mereka terkejut atas apa yang dibuatnya.
Sebuah kuda terbentuk berasal dari tanah. Tanah yang terlihat di tubuh kuda, perlahan-lahan berubah menjadi sama seperti kuda asli, serta gerbong yang berasal dari tanah ikut berubah menjadi kayu dalam waktu singkat.
"Bagaimana bisa kamu melakukannya? Bukankah kamu..."
"Berkat ini, aku bisa melakukannya."
Mengeluarkan kobaran api ungu kecil di telapak tangan terbuka untuk diperlihatkan kepada mereka, kelima gadis di dekatnya terkejut dan mulai memahaminya secara percaya atau tidak.
"Apakah kita akan menaiki kuda ini?"
"Ya. Aku ingin kita tiba selama matahari belum tenggelam."
"Bisakah kita tiba sesuai perkiraan kamu?"
"Tentu."
Reita yang terlihat ragu, berpikir ulang untuk yakin kalau kuda ini, kuda yang terbuat dari tanah bisa membawa mereka dengan mudah.
Tidak hanya Reita, Shilphonia juga terlihat tidak yakin bahwa ini bisa mempercepat mereka untuk tiba di Kota Lien dalam waktu singkat sesuai prediksi Regard, yang seharusnya membutuhkan waktu lama selama tiga hingga lima hari.
"Cepatlah naik! Kalian akan tahu dengan sendirinya nanti."
"Baiklah."
Wajah mereka yang masih ragu atas kuda yang akan dikendarai oleh Regard memilih untuk diam dan memperhatikannya, sedangkan Regard yang telah duduk di kursi kusir, dia memegang tali yang dipasangkan pada kedua kuda.
"Pegang tangan kalian erat-erat..."
"Pegang tangan..."
"Jangan bilang kalau kamu akan..."
"Kita akan kebut dalam waktu singkat melalui kuda ini..."
Cahaya kebiruan muda muncul dari roda-roda yang ada di gerbong kereta yang membawa muatan mereka di dalamnya, begitupun dengan kuda, yang keduanya dipasangkan zirah berwarna ungu yang dapat hidup dengan mudah, berlari secepat mungkin tanpa terlihat lambat.
"Bukankah ini tindakan yang terlalu gegabah!?"
"Jangan khawatir, kuda ini tidak akan dilihat oleh siapapun karena aku telah memberikan [Kamuflase] dan [Illusion] yang membuatnya tidak dapat dilihat maupun diketahui oleh siapapun yang melewati kita."
Dengan kecepatan tinggi, mereka yang telah memegang di kursi kuda, berdegup kencang atas ketidakwajaran dalam lari kedua kuda yang dapat mengguncang mereka selama perjalanan.
Jauh di dalam ruang bawah tanah, Kota Lien, terlihat sebuah kemah kumuh yang terdapat banyak sekali orang yang tinggal di tempat itu.
"Mereka sudah mulai bergerak ya."
"Mereka?"
"Siapa maksudmu, Nek?"
"Orang-orang itu... cepat atau lambat, dia akan mengguncang dunia dengan mudah."
Mereka yang tidak mengatakan apapun saling memandang satu sama lain, tidak mengerti atas apa yang dikatakan oleh nenek tua yang tubuhnya membungkuk dengan tangannya yang memegang tongkat untuk menuntunnya dalam berjalan.
Berbeda dengan mereka, nenek itu merasakan kehadiran yang kuat yang sedang menuju ke Kota Lien. Kehadiran yang dapat menyelesaikan masalah ini dengan mudah, tanpa ada orang yang harus dikorbankan, itulah perasaannya saat tahu dari kejauhan bahwa dia akan tiba untuk mengakhirinya.
•••••
Matahari menyingsing ke arah barat yang menandakan bahwa dalam dua jam lagi, malam akan tiba membuat seluruh tempat di Kota Lien ditelan kegelapan.
"Untungnya kita tiba tepat waktu ya."
"Ya."
Satu-persatu gadis-gadis turun dari gerbong kereta. Mulai dari Shilphonia, Friya, Reita, Fuuya dan Sasaki ikut turun sambil melihat di kejauhan di jalan setapak yang sunyi dan hening tanpa ada satupun orang yang sedang berbaris.
"Apakah kita terlambat?"
"Tidak, kita tidak terlambat."
Regard yang turun dari kuda, menghilangkan seluruh kemampuan yang dibuatnya dalam kereta kuda hanya dengan mengulurkan tangannya ke depan dan telapak tangan terbuka membuat kedua kuda dan gerbong kereta lenyap bagaikan butiran pasir, menunjuk ke arah kejauhan yang terlihat dua ksatria kerajaan sedang berpatroli diluar gerbang.
Alasan mengapa mereka turun di kejauhan kota dari Kota Lien, Regard ingin menghindari hal-hal mencolok agar tidak ada satupun para penduduk maupun pengunjung kota tertarik pada kecepatan tempuh mereka menuju Kota Lien yang seharusnya memakan waktu berhari-hari, mudah diatasi hanya dengan beberapa jam.
"Apakah kalian siap?"
__ADS_1
"Ya."
Memperhatikan teman-temannya, Regard tersenyum pada mereka saat menunjukkan kain hitam yang mereka pegang di tangan masing-masing.
Kain hitam itu bukanlah berasal dari Guild Petualang, tapi buatan Reita yang sengaja dirubah melalui [Change Material] yang berasal dari bebatuan yang dapat ditemukan di permukaan tanah di manapun dan kapanpun, Reita mengubahnya menjadi kain yang kemudian dirubah warnanya menjadi hitam untuk menjadi bukti bahwa itu adalah tanda sebagai seorang petualang, Black Adventure.
Dikarenakan Regard tidak mau kejadian sebelumnya terulang kembali, dia sengaja menyuruh Reita melakukannya agar dia tidak dianggap sebagai tuan yang serakah dalam memiliki banyak budak dari kalangan usia dan jenisnya.
Itulah alasan sebenarnya Regard menciptakan tipuan demi reputasinya sebagai seorang petualang dan terhindar dari masalah yang akan merepotkan dirinya saat orang-orang iri terhadapnya.
"Permisi, bolehkah kami memasuki kota? Kami telah kelelahan karena sudah beberapa hari menaiki kereta kuda, kami baru tiba di tempat ini."
"Sebutkan nama kalian dan tujuan datang kemari!"
"Baik."
Dipimpin oleh Regard, dia menjelaskan tujuan datang kemari karena seseorang mengirimkan misi aneh yang ada di Guild Petualang di Kota Resihei, tempat mereka menginap sebelumnya.
Salah satu pria berkulit hitam, berambut putih, berjanggut putih panjang layaknya surai harimau mengambil kertas dan melihatnya dengan seksama. Di sisinya, pemuda kurus yang memiliki wajah cekung, buru-buru mendekati pria di sisinya untuk mengetahui isi surat tersebut.
"Nama kalian?"
"Aku adalah Regard Arthen. Dia adalah...."
"Shilphonia Autheurus."
"Friya Furuhiora."
"Reita Hiena."
"Fuuya."
"Sasaki."
Setelah mengkonfirmasi masing-masing nama, kedua penjaga membukakan pintu ganda kayu berlapis besi yang terdengar bunyi berderit pelan ke telinga mereka.
"Silahkan masuk dan berhati-hatilah!"
"Berhati-hati?"
Shilphonia yang menghentikan langkahnya menoleh ke pria tua berkulit coklat, berambut putih, dan berjanggut putih dengan surai harimau yang terheran atas maksudnya.
Pria tua berkulit hitam mendekatinya, mengangguk dan tersenyum padanya.
"Sudah tiga minggu lebih, Kota Lien diserang oleh sesuatu yang tidak kami ketahui. Kehilangan beberapa para penduduk, pembunuhan berantai di setiap tempat, serta penemuan jasad yang bertuliskan nama grup mereka, The Necromancer adalah hal yang menyeramkan dan menakutkan."
"Itu benar."
Pemuda bertubuh kurus berwajah cekung mendekati Shilphonia dan pria tua berkulit hitam.
"Aku bahkan saat sedang berpatroli melihat bahwa beberapa ksatria kerajaan yang bertugas di dua minggu lalu dihabisi dengan mudah, tapi keesokan harinya jasad mereka menghilang."
Friya yang merasa tertarik menguping pembicaraan, menghentikan langkahnya dan berjalan mendekati mereka bertiga.
Bagi Friya, kejadian ini cukup aneh terjadi pada grupnya sendiri "The Necromancer" yang tidak mungkin melakukan tindakan kejahatan yang buruk terhadap orang-orang tidak bersalah, apalagi dengan menculik dan membunuh ksatria kerajaan tanpa sebab dan alasan yang jelas.
"Apakah kalian tahu siapa mereka?"
"Sejauh ini kami tidak tahu apapun. Mereka datang dan menghilang dengan mudah tanpa diketahui siapapun, dan meninggalkan jejak nama grup mereka."
"....."
Di kejauhan, Regard berpikir ini akan menjadi ancaman besar jika mereka salah bertindak gegabah di Kota Lien.
Musuhnya yang tidak diketahui, mampu mengikuti caranya dalam bergerak di tengah malam tanpa diketahui publik, tapi dengan cara buruk yang keji yaitu; membunuh para penduduk, menculik mayat dan makhluk hidup, serta membunuh para ksatria tak bersalah adalah satu-satunya yang menyimpang dari prinsip yang dibuat oleh grupnya sendiri, The Necromancer.
Siapa mereka? Apa mau mereka?
Berpikir terus-menerus tidak ada gunanya, Regard menyudahinya saat Fuuya yang ada di sisi kanan memegang pakaian dan menariknya, melihatnya dengan ekspresi khawatir pada Regard.
"Apakah kamu baik-baik saja?"
"Ya, aku baik-baik saja."
Mengelus-elus kepalanya, Fuuya senang bahwa Regard tidak mengalami guncangan mental yang cukup parah.
Apalagi ini disebabkan oleh musuh yang tidak diketahui dapat menyebabkan reputasi grup The Necromancer hancur dengan mudah, Fuuya berpikir bahwa mengkhawatirkan orang yang disukainya adalah hal wajar. Tapi sepertinya dugaannya salah, alih-alih Regard terlihat terguncang, dia terlihat tenang dan biasa.
Tuan...
Di sisi kiri, Sasaki yang sedang melihatnya merasa bahwa ini akan menjadi konflik mengerikan dan menakutkan yang harus mereka alami karena telah menggunakan nama grup yang dibuat oleh tuannya.
__ADS_1
Tuannya, Regard tidak akan membiarkan mereka mati dengan tenang, sebaliknya, dia kemungkinan akan melakukan apapun untuk membuat mereka lebih merasakan kepedihan atas siksaan melebihi kematian itu sendiri, setidaknya itulah yang sedang Sasaki pikirkan.