
"Baiklah. Mari kita mulai berunding tentang biaya yang harus kau gantikan atas masalah yang telah kau buat sekarang."
"Ya."
Di sofa dalam ruangan khusus karyawan, Regard dan pemilik restoran yaitu pria bertubuh gemuk sedang duduk berhadap-hadapan sambil menatap satu sama lain dengan ekspresi mereka yang serius.
Bagi pemilik restoran, kerusakan properti dan hilangnya para pelanggan membuat restoran miliknya kehilangan pendapatan atas masalah yang dibuatnya beberapa saat yang lalu. Tak hanya itu, dirinya yang juga kesal dan benci atas keadilan yang membela salah satu budak miliknya membuat dia bertanya-tanya tentang pola pikirnya yang aneh.
"Semua kerusakan dan kehilangan pengunjung yang seharusnya aku dapatkan, aku ingin kau menggantinya dalam jumlah segini."
Menyodorkan kertas yang telah dituliskan total jumlah biaya ganti atas masalah yang dibuatnya, Regard memperhatikannya dengan seksama dan tersenyum.
"Baiklah. Akan aku gantikan semuanya."
Mengambil kantong kain dari balik jubahnya berwarna coklat muda, dia meletakkan koin dalam jumlah banyak ke meja yang dapat terdengar jelas suaranya oleh pemilik restoran.
"Bisakah aku menghitungnya?"
"Tentu."
Selesai mendapatkan izin darinya, pemilik restoran mengambil kantong kain dan mengeluarkan beberapa keping koin untuk dihitungnya secara menyeluruh.
Koin-koin yang dikeluarkan oleh Regard kebanyakan memiliki banyak koin emas dan beberapa koin perak dapat terlihat.
Secara keseluruhan, harga dari koin emas terbilang cukup mahal melebihi apapun karena harga yang dimilikinya cukup tinggi. Berbeda dengan koin emas, koin perak bisa dikatakan standar untuk sebuah harga yang dapat dibeli maupun didapatkan karena itu terbilang umum.
"Bisakah aku meminta satu hal padamu?"
"Ya."
Pandangan Regard yang teralihkan ke seseorang yang berdiri di sisi kanan belakang pemilik restoran membuat pemiliknya menoleh dan melihat tatapan Regard yang mengarah pada budaknya.
"Aku ingin membeli dia."
"Huh? Apakah kau yakin dapat membelinya?"
"Tentu."
Berdiri dan mengeluarkan beberapa kantong kain yang tebal yang dijatuhkan membunyikan banyak sekali koin di dalamnya membuat pria itu terkejut atas jumlah kantong kain berisikan koin dalam jumlah yang banyak.
Setahu pemilik restoran, jumlah banyak yang dimiliki oleh seseorang berdasarkan pada tingkat petualang yang dimilikinya. Tapi melihat pria yang ada di hadapannya, Regard yang terlihat seperti petualang tingkat rendah, Black Adventure, pria itu yakin bahwa dia tidak sanggup untuk membelinya dengan mudah.
Sayangnya perkiraan dia telah sepenuhnya salah.
"Bagaimana? Apakah kau mau menjualnya untukku atau tidak?"
Keringat dingin mengalir deras di wajahnya.
Di dalam egonya, pria itu tidak ingin melepaskan budaknya yang terlihat seksi yang menarik pelanggan dalam jumlah banyak untuk melayaninya dengan beberapa pelayanan tambahan. Tapi jauh di dalam lubuk pikirannya, semua kebutuhan yang tidak dapat dibelinya, dia dapat membelinya dengan koin banyak yang diletakkan di meja.
"Aku... aku..."
"....."
"Aku mau menerimanya."
"Baguslah kalau begitu."
Mengambil dan mengantongi kelima kantong koin berisikan jumlah banyak yaitu sekitar lima puluh juta Rupe, pria itu berjabat tangan pada Regard sebagai kesepakatan bersama diantara mereka.
Mereka juga tidak lupa untuk menuliskan surat perjanjian bahwa budaknya telah dibebaskan dan diberikan pada Regard sebagai bukti kuat bahwa dia telah melepaskannya.
"Terimakasih atas negosiasinya, Nak."
"Aku juga berterimakasih padamu."
Meninggalkan restoran sambil membawa gadis Demi-human di sisinya yang telah dihapus tanda kutukan membuat gadis itu bertanya-tanya mengapa dia rela membelinya dengan sejumlah uang yang banyak untuk dirinya sendiri.
Apakah dia begitu berharga hingga pria membelinya atau tidak, gadis itu tetap tidak tahu atas jawabannya.
"Hei, bolehkah aku tanya satu hal padamu?"
"Ya. Apa yang ingin kau tanyakan padaku?"
"Kenapa... kenapa kamu mau membeli diriku dengan uang banyak yang kamu miliki? Bukankah lebih baik untuk membiarkan aku saja di restoran tanpa perlu membeli diriku?"
Langkah kaki gadis Demi-human yang terhenti membuat langkah Regard ikut terhenti sambil menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Alasannya ya."
Pandangannya yang mengarah ke arah lain membuat Regard ragu untuk menjawabnya seperti apa.
Dirinya yang sengaja membelinya untuk membiarkan dia hidup bebas menggunakan haknya sendiri bertujuan untuk memberikan arti dari kehidupan yang dijalani oleh orang-orang pada umumnya.
Tapi, Regard ragu jika dia mengatakannya langsung padanya, gadis Demi-human itu akan mengerti atau tidak, dia meragukannya.
"Aku melakukannya karena aku tidak mau kau dilecehkan seperti itu oleh mereka."
"Dilecehkan?"
"Ya."
Satu jawabannya yang tepat ialah dilecehkan, itulah pemikiran yang didapat oleh Regard melalui satu kesimpulan alasan dia membelanya.
Seseorang yang melecehkan orang lain tidak dapat dimaafkan. Baik itu petualang maupun bangsawan, mereka yang bersalah atas melecehkan orang lain akan dianggap sebagai kriminal terberat atas dosa-dosa yang mereka perbuat.
Walaupun Ksatria Kerajaan menutup mata atas kasus dan masalah yang terjadi pada para bangsawan, Regard akan tetap mengadilinya dengan caranya sendiri di malam perburuan dalam menuntaskan kejahatan dengan kematian mereka sendiri.
Itulah sistem yang diterapkan Regard selama ini dalam menjalani hidupnya sehari-hari.
"Apakah hanya itu?"
"Ya."
Membalikkan tubuhnya ke arahnya, gadis itu terkejut atas tatapannya yang terlihat serius dalam membelanya.
Bagi gadis Demi-human, dirinya tidak seharusnya diselamatkan dan dibebaskan olehnya karena itu adalah hal wajar baginya untuk mengikuti perintah dari tuannya dalam melayani pengunjung restoran. Tapi, dia sama sekali tidak menyangka bahwa ada pria baik yang mau menyelamatkan dirinya dari mereka meskipun itu tidak dapat diperkirakan olehnya.
"Mari pergi untuk membeli beberapa pakaian untukmu."
"Baik."
Tanpa perlu berbincang lagi padanya, Regard kembali memunggunginya dan berjalan untuk segera mengganti pakaian yang dimiliki oleh gadis Demi-human.
Sepengetahuannya dalam menilai cara berpakaiannya, gadis itu terlihat cantik bila di pakaikan dengan pakaian mahal dan mewah. Tapi sayangnya, pemiliknya tidak melihat nilai estetika dari penampilannya membuat Regard menghela nafas atas kebodohannya dalam memakaikan pakaian yang tidak senonoh yang terlihat merangsang nafsu dan hasrat lawan jenis untuk melayaninya dengan cara senonoh dan tidak wajar.
•••••
Regard POV
Selama kami memilih pakaian untuknya, dia kebingungan dalam memutuskan mana yang akan dia coba untuk kenakan terlebih dahulu.
Kalau dipikir dengan jelas, seluruh pakaian yang ada di sekitar dikhususkan untuk para wanita. Tak heran jika mereka memandang aku dengan jijik, mereka berpikir aku adalah pasangannya yang menemaninya berbelanja.
Sudahlah lupakan.
"Bukankah lebih baik jika kau kenakan satu-persatu dari pakaian yang kau pilih?"
"Aku ingin melakukannya. Tapi, aku tidak tahu apakah itu boleh atau tidak."
Begitu ya.
Dengan kata lain, dia tidak percaya diri dalam mengenakan banyak pakaian yang dipilihnya karena takut dimarahi oleh pemilik toko pakaian.
Tidak ada pilihan.
Bergegas mendekati salah satu karyawan, aku mulai bernegosiasi padanya.
"Bisakah kau biarkan aku melihat pakaian yang dipegangnya? Aku akan menggantinya dua kali lipat dari harga normal jika ada kerusakan."
"Benarkah?"
"Ya."
"Baiklah."
Sip. Negosiasi berhasil.
Meskipun ini bukanlah tawar-menawar harga, tapi setidaknya cukup menguntungkan baginya untuk mendapatkan uang dalam jumlah banyak bila terjadi kerusakan pada pakaian yang dicobanya.
"Kau boleh mencoba pakaian apapun."
"Benarkah?"
"Ya. Bukankah begitu, Pak?"
__ADS_1
"Ya, itu benar."
Baguslah jika dia menyuarakan persetujuannya.
Aku tahu bernegosiasi dengan cara biasa tidak akan berhasil. Itu sebabnya aku memberinya penawaran dua kali lipat dari harga biasa bila terjadi kerusakan membuatnya setuju tanpa berpikir panjang terlebih dahulu.
Gadis itu pergi ke ruang ganti untuk mengganti beberapa pakaian di dalamnya.
Selama aku menunggu, aku putuskan untuk keluar toko sambil menunggu di pintu masuk untuk memperhatikan situasi dari luar. Alasannya sederhana yaitu aku tidak mau terus-menerus dipandang jijik oleh mereka, para wanita yang sedang membeli pakaian di dalam toko tadi.
"Huh...."
Entah apakah keputusan aku bagus atau tidak, aku melakukannya berdasarkan ajaran yang diberikan oleh Paman Veru sebelumnya.
Mengutamakan hak hidup seseorang, mengedepankan prinsip keadilan, membantu orang yang membutuhkan pertolongan, dan ramah terhadap orang tersebut adalah hal-hal dasar yang diterapkan padaku selama aku mulai memandang dunia ini dengan gelap.
Pada akhirnya, aku bisa hidup seperti manusia pada umumnya. Kasih sayang, simpati, belas kasihan, semua dapat kurasakan tanpa ada satupun perasaan yang menghilang dari diriku akibat kehilangan tempat tinggal, orang-orang terdekat, serta kedua orangtuaku.
Selama beberapa menit aku menunggu, dia keluar mendekati aku.
"Maaf membuatmu menunggu."
"Bagaimana?"
"Aku sudah memilihnya."
"Benarkah?"
"Ya. Cepat kemari!"
Ditarik lenganku olehnya, aku tersenyum atas dirinya yang sudah mulai memberanikan diri untuk berinteraksi denganku.
Awalnya aku takut dia belum terbiasa dengan sikapku yang memperlakukan dirinya istimewa, tapi sepertinya dia mulai terbiasa dengan kebiasaan aku meski kami baru pertama kali bertemu dan berjalan bersama seperti sekarang.
"Apakah hanya ini?"
"Ya."
Ada lima pakaian yang telah dilipat rapih yang berada di meja kasir. Kelima pakaian tersebut memiliki desain dan warna yang beragam jenis yang terlihat indah untuk sekilas pada pakaian yang dipilihnya.
"Baiklah. Berapa harga semuanya?"
"Semuanya memiliki harga segini, Nak."
Harga yang cukup mahal ya.
Wajar jika mereka, para wanita yang tampak seperti kalangan bangsawan membeli pakaian di toko ini karena ini adalah toko yang dikhususkan untuk bangsawan dalam membelanjakan uangnya demi penampilan mereka sehari-hari.
Berbeda dengan mereka, aku hanya seorang petualang rendahan yang memiliki penghasilan jauh dari kata cukup untuk kehidupan sehari-hari. Jangankan sehari-hari, biaya yang ada sekarang tidak akan mampu aku bayar dengan penghasilan aku selama berbulan-bulan sebagai petualang di tingkat Black Adventure.
Itu adalah pemikiran umum semua orang.
Tapi nyatanya, aku memiliki beberapa investasi lebih yang berhasil aku simpan dengan baik selama ini. Uang dalam jumlah banyak, itu tidak menjadi masalah untuk diriku di masa sekarang maupun masa depan, sebaliknya, semua berada dalam genggaman aku jika aku mau menghabiskan mereka dalam waktu singkat.
"Ini dia."
Memberikan satu kantong kain berisikan koin emas, Pemilik Toko membukanya dan menghitungnya berkali-kali di meja kasir.
"Baiklah. Sudah cukup."
"Terimakasih atas kunjungannya, Nak."
"Ya. Aku juga berterimakasih padamu, Pak."
Aku kehilangan banyak uang dalam waktu seharian ya.
Pertama, aku menghabiskan uangku untuk mengganti biaya kerusakan pada properti dan hilangnya para pengunjung yang datang ke restoran. Kedua, aku membeli budak yang harganya tinggi yaitu puluhan juta Rupe hanya untuk satu budak agar dapat dibebaskan dari belenggu yang dimilikinya. Ketiga, aku diharuskan untuk membeli pakaiannya untuk segera berganti ke pakaian batu agar dia terlihat cantik dan tidak senonoh membuat orang-orang terbawa nafsu dan hasrat seksual mereka meningkat drastis nantinya.
"Huh..."
Benar-benar hari yang melelahkan sekali.
"Apakah kamu baik-baik saja, Tuan?"
"Ya, aku baik-baik saja."
Di sampingku, gadis itu melihatku dengan ekspresi cemas di wajahnya yang diarahkan padaku.
__ADS_1
Mungkin menurutnya, aku tidak wajar dalam membelikan seluruh uangku demi dirinya semata. Apalagi secara umum, budak tetaplah budak jadi tidak ada perbedaan sedikitpun terhadap pola pikir mereka.
Aku bisa mengerti atas keraguannya, tapi aku melakukan ini semua demi mendapatkan kebebasan hidupmu dari belenggu yang menyiksa selama kau menjadi seorang budak.