
Ini...
Jauh di dalam kegelapan, seorang gadis berambut biru navy panjang yang terlihat kebingungan bertanya-tanya tentang apa yang dilihatnya sekarang.
Seluruh ruangan yang gelap gulita, tidak terlihat pijakan, dinding maupun orang-orang di sekitarnya, gadis itu masih tidak mengerti atas apa yang terjadi padanya.
Setahunya, ia berada di pertempuran melawan golem dengan tubuhnya yang terdapat elemen kilat yang menyebar di sekitarnya, gadis itu hanya memejamkan matanya sejenak selama ia mengeluarkan sejumlah mana dari dalam tubuhnya, menggunakan [Fenrir Mode] untuk mengakhiri pertarungan ini dengan segera, ia tiba-tiba berada di tempat seperti ini.
"Akhirnya kau datang ya, Fuuya."
Suara ini...
Perlahan cahaya kobaran api di kejauhan terlihat bersinar di kedua sisi yang menyebar ke arahnya yang terlihat asing pada tempat yang ada di sekitarnya, Fuuya masih kebingungan.
"Ini pertemuan kedua kalinya denganmu ya, Fuuya."
"Ya, kamu benar. Kupikir kamu tidak akan terlihat sekarang, tapi kamu benar-benar muncul dihadapan aku."
Sosok yang berada di kejauhan dari Fuuya pelan-pelan mendekatinya, berdiri tepat dihadapannya, senyum menghiasi wajah pria yang ada di depannya seolah-olah dia terlihat ramah pada senyuman kehangatan yang dilihatnya.
Fuuya juga membalas senyuman di wajahnya yang diarahkan padanya menandakan bahwa dia benar-benar ingin bertemu dengan pria ini untuk kedua kalinya.
"Jadi, dimana aku berada sekarang?"
"Di dalam tubuhmu."
"Tubuhku?"
Melihat-lihat ke sisi kiri-kanan, bagaimanapun juga Fuuya melihat isi di dalam tubuhnya terlihat seperti sel tahanan di ruang bawah tanah yang terdapat obor api yang menyala di setiap dinding bebatuan yang ada.
"Aku tahu kau pasti terlihat bingung pada tempat ini, tapi mari lupakan tentang itu."
Di tangan pria itu, kobaran api berwarna biru dan ungu menyala di telapak tangannya yang terbuka seolah-olah menari di atasnya, Fuuya tampak takjub pada apa yang dilihatnya sekarang.
Saking takjubnya, mulutnya yang terbuka dan matanya yang fokus pada kobaran api di telapak tangan pria itu, pria itu merubah senyumnya yang hangat menjadi serius pada wajahnya.
"Dengar ini, Fuuya, aku ingin kau menggunakan ini untuk mengakhiri segalanya."
Kobaran api yang menari-nari di telapak tangan pria itu sebelumnya mulai membesar lalu membungkus tubuh Fuuya, menyerap masuk ke dalam tubuhnya, Fuuya merasakan mana dalam tubuhnya lebih banyak dari sebelumnya.
"Apa ini? Barusan kamu mentransfer mana ke dalam tubuhku?"
"Ya, begitulah. Aku ingin kau menggunakannya dalam sekali serang pada golem itu. Jika kau gagal sekali saja, mana dalam tubuhmu yang telah kuberikan padamu akan lenyap saat itu juga."
Berpikir dan merenung sejenak atas kata-kata pria itu, Fuuya berpikir ini adalah konsekuensi yang benar-benar berbahaya.
Seandainya dia mampu melakukannya dalam satu kali serangan pada golem, itu akan membuatnya berhasil bebas dan selamat menuju ke tempat dimana pria di depannya berada, Regard Arthen, ia mampu membantunya di dalam, begitupun sebaliknya.
Apabila Fuuya gagal melancarkan serangannya pada golem dengan tubuh kilat, ada kemungkinan kalau seluruh mana yang diberikan Regard padanya akan lenyap saat itu juga.
"Baiklah. Waktuku sudah lebih dari cukup untuk membantu dan menemui dirimu."
__ADS_1
"Tu-tunggu! Kenapa kamu bisa datang ke dalam tubuhku? Bukankah seharusnya kamu terjebak di suatu tempat tanpa aku dan orang-orang ketahui?"
Langkah kaki Regard yang terhenti membuat Fuuya tetap memandang punggungnya yang berada di kejauhan.
Regard yang terdiam tanpa menoleh ke belakang melihat Fuuya, ia hanya mendongakkan wajahnya ke atas tanpa Fuuya ketahui wajah seperti apa yang dipasang oleh Regard, orang yang disayanginya sekarang.
"Itu karena aku..."
Saat Regard hendak menjelaskan tentang apa yang ingin dikatakannya pada Fuuya, seluruh tempat yang awalnya dapat terlihat kembali gelap sepenuhnya tanpa ada satupun cahaya.
"....."
Membuka matanya, Fuuya melirik ke sekitarnya memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
Apakah mimpi? Tidak, kurasa itu bukanlah mimpi.
Menyadari kalau tubuhnya masih memiliki mana dalam jumlah banyak, senyum sempat terlihat di bibirnya. Rasa percaya diri yang muncul memenuhi dirinya membuat Friya yang ada di sisinya terkejut atas tekad Fuuya yang tersirat dibalik wajah dan sorot matanya, Friya hanya bisa tersenyum padanya.
"Mari kita mulai pertarungan ini, Monster Sialan!"
Melesat dengan cepat ke arah Thunro, Fuuya menggunakan [High Acceleration] berlari secepat kilat ke arahnya. Selama berlari ke arah Thunro, Fuuya menggunakan [Fenrir Army] mengerahkan sejumlah pasukan dari kawanan Fenrir, kawanan Fenrir yang terbentuk dengan warna putih salju transparan yang bergerak terlebih dahulu ke arah Thunro, menggigit, mencabik-cabik tubuh Thunro menggunakan cakarnya.
Tidak hanya mengerahkan kawanan Fenrir, Fuuya yang memberikan kemampuan tambahan pada [Fenrir Army], ia menambahkan [White Aura] pada mereka yang menyebabkan mereka dapat meningkatkan kemampuan serangan, kecepatan, serta pertahanannya yang tinggi, semua dilakukan demi mengakhirinya tanpa celah untuk Thunro dapat bertahan.
Tak lupa untuk menambahkan [Fenrir Army] menggunakan kemampuan lainnya, kawanan Fenrir khusus, [Fenrir Special] ditambahkan Fuuya ke dalam kawanan Fenrir lainnya.
[Fenrir Special] memiliki penampilan seperti kawanan Fenrir yang ada di [Fenrir Army] yang membedakannya adalah warna tubuh mereka. [Fenrir Special] menggunakan tubuhnya yang berasal dari [Fenrir Mode], kemampuan spesial Fuuya yang mampu menciptakan kawanan Fenrir khusus yang melebihi kawanan Fenrir biasanya, sedangkan [Fenrir Army] adalah kawanan Fenrir biasa yang memiliki ketahanan, serangan, dan gerakan yang setara Fenrir pada umumnya.
"Rrrraaauuuggghhh!"
"Mari akhiri ini sekarang juga!"
Dengan melesat lebih cepat, ledakan dan angin terdengar keras yang berhembus menyebabkan beberapa pohon, rumput, kerikil, semak belukar berterbangan karena kekuatan anginnya terasa sangat kuat.
Friya yang telah mengaktifkan pertahanan pada mereka berlima, ia dengan cepat telah menambahkan pelindung [Ultimate Barrier] dalam bentuk tabung yang membungkus tubuh mereka menyebabkan angin tidak membuat mereka terpental, Friya bersyukur itu tepat waktu.
•••••
Matahari yang terlihat menurun ke arah barat menandakan hari sudah mulai sore.
"Tadi itu benar-benar hebat sekali."
"Bagaimana kamu bisa melakukannya, Fuuya?"
"Itu karena aku bertemu dengannya."
Sasaki dan Reita yang mendengar perkataan Fuuya tentang dia melalui kata-katanya tadi, mereka berdua tercengang dalam diam, berpikir kalau dia datang untuk membantunya.
"Mungkinkah dia adalah..."
"Ya."
__ADS_1
Friya yang memimpin jalan di depan terhenti sejenak, membuat mereka yang berada di belakang ikut terdiam yang membuat mereka bertanya-tanya mengapa Friya berhenti melanjutkan langkah kakinya.
"Regard Arthen, dia bisa bertemu dengan Fuuya bukanlah suatu kebetulan."
"Ya, kamu benar."
"Pasti ada kaitannya dengan kemampuannya sebagai seorang Necromancer."
"Aku setuju."
Di dekat Friya, Shilphonia juga berpikiran demikian.
Shilphonia dan Friya yang memahami betapa kuat dan hebatnya Regard yakin kalau itu semua terjadi karena takdir yang mempertemukan Fuuya dan Regard. Jika itu hanya kebetulan belaka mustahil bagi mereka berdua bisa untuk bertemu secara tak terduga, itulah apa yang dipresentasikan oleh Shilphonia dan Friya.
Apalagi ketika pertarungan mereka usai yang dibawa menggunakan kereta kuda muatan barang, Fuuya yang tergeletak tak berdaya dilakukan sesuatu pada Regard yang sedang mengembalikan jiwa Fuuya, meletakkan sesuatu seperti roh ke dalam tubuhnya yang membuat Fuuya tersadar setelah beberapa detik roh tersebut masuk ke tubuhnya.
"Hei Friya, apakah mereka tahu tentang ini?"
"Aku tidak tahu sejauh mana mereka mengetahuinya, tapi aku memiliki keyakinan kalau yang mengetahui itu hanya kita berdua..."
Mereka berdua yang saling berdekatan tidak dapat didengar oleh Reita, Fuuya, dan Sasaki yang sedang melanjutkan kembali perjalanannya yang sempat tertunda sebelumnya.
Ketiga gadis yang ada di belakangnya sedang berbincang-bincang yang sibuk pada pembicaraan mereka tanpa memperhatikan Shilphonia dan Friya yang sedang berbisik-bisik tanpa mereka ketahui apa yang mereka bicarakan berdua, mereka bertiga berpikir kalau itu adalah pembicaraan rahasia yang menyangkut urusan pribadi kedua gadis di depan mereka jadi ketiga gadis itu mengabaikannya dan berpikir itu wajar untuk dirahasiakan.
"Dan juga, dia, Sasaki, aku yakin dia sudah cukup lama mengenal dia."
"Ya, kamu benar."
Sesaat, pandangan mata Shilphonia dan Friya yang melirik ke arah Sasaki, mereka berdua menoleh sejenak ke belakang yang membuat Sasaki mengetahui mereka melihatnya, tersenyum dengan eskpresi bingung di wajahnya.
Kenapa mereka melihatku sebelumnya?
Bertanya-tanya dalam hatinya, Sasaki yakin kalau itu semua mungkin ada kaitannya dengan tuannya sebelumnya yang dibicarakan Fuuya yang bertemu dengannya, Sasaki berpikir mereka sedang membicarakan itu.
Meskipun Sasaki tidak tahu topik pembicaraan yang dilakukan Shilphonia dan Friya, dirinya yang yakin sepenuhnya tentang perkataan Fuuya tadi memiliki kaitannya dengan dirinya.
Selama Sasaki bertualang dulu, semuanya diketahui secara tak terduga olehnya. Sosok pria yang menyelamatkan dirinya, memberi tempat tinggal dan makan, serta memberinya pekerjaan sebagai petualang, dia adalah pria yang baik hati.
Keramahan, kepeduliannya terhadap sesama maupun ras berbeda, nada bicaranya yang dingin, ketidakpekaan, itu adalah sifat yang diingat Sasaki dari ingatannya tentang tuannya, Regard.
Bagi Sasaki, Regard bagaikan penyelamat hidupnya yang bertujuan untuk menolongnya dari siksaan yang diperlukan oleh majikannya sebelumnya dalam meneladani setiap budak yang dibelinya, dia adalah pria yang tidak dapat Sasaki balas jasanya. Tapi di sisi lain, ketakutannya atas jatidiri dibalik sikapnya yang diketahui oleh Sasaki, ada samar-samar kegelapan yang memancarkan aura dari dalam tubuhnya.
Aura itu terlihat seperti kesedihan, keputusasaan, kebencian, kemurkaan, semua dapat dirasakan oleh Sasaki berkat instingnya sebagai Demi-human, itulah apa yang dilihatnya saat dia bertualang bersama tuannya.
Aku harap kamu baik-baik saja ya, Regard.
Hatinya yang berharap kalau tuannya masih hidup, Sasaki ingin untuk bisa berguna baginya karena bagaimanapun juga, Regard adalah penyelamat hidupnya yang tidak bisa dibalas jasanya atas kebaikan dan kepeduliannya terhadapnya, Sasaki ingin sekali saja membantunya selain dari dirinya di masa lalu.
Dirinya yang di masa lalu yang memutuskan untuk menetap di Guild Petualang, mendengarkan segala macam informasi yang disediakan melalui pembicaraan para petualang lainnya yang ada di Aula Guild, Sasaki tidak mau dia hanya membalas satu jasa pada tuannya.
Tunggu aku, Tuan!
__ADS_1
Tekadnya yang terbentuk kuat, keinginan Sasaki untuk bisa menyelamatkan Regard terbilang tinggi. Saking tingginya, Sasaki yang tidak peduli apakah nyawanya bisa membayar atas keinginan tuannya atau tidak, dia hanya ingin satu hal yaitu berguna bagi tuannya, Regard.
Entah apakah itu terdengar seperti dimanfaatkan dan dimanipulasi oleh Regard atau tidak, Sasaki sama sekali tidak mempedulikannya. Yang ia pedulikan sekarang adalah misi untuk mengetahui sejauh mana tuannya bisa selamat dan baik-baik saja, itu yang membuat Sasaki penasaran atas kondisi Regard.