The Necromancer

The Necromancer
Ch. 8:Kecurigaan Friya


__ADS_3

Beberapa saat yang lalu.


Aura ini...


Di dalam ruangan di salah satu rumah penduduk desa, Friya merasakan kekuatan dan kemampuan yang berada jauh dalam jumlah banyak meledak dalam sekejap.


Aura yang dipancarkan sangat berbeda dari aura pada umumnya.


Aura ini terlihat seperti suram dan gelap yang membuat Friya yakin itu adalah aura kegelapan dari kekuatan dan kemampuan terlarang yang seharusnya tidak digunakan di dunia ini.


Kemampuan itu sendiri tidak lain adalah kemampuan Necromancer.


Hanya itu yang bisa Friya rasakan di kejauhan. Entah siapa yang menggunakannya, Friya yakin kalau keberadaan orang yang menggunakannya akan membahayakan mereka jika dia tetap berada di Desa Elf.


Apakah mungkin.... tidak, aku tidak yakin kalau itu adalah ulah mereka.


Memutuskan untuk tidak berprasangka buruk pada kedua petualang yang ditemuinya beberapa saat lalu, Friya memutuskan untuk memfokuskan diri pada pemulihan penduduknya untuk bisa segera mengungsi dari Desa Elf.


Dikarenakan ada marabahaya yang jauh lebih besar, Friya yakin cepat atau lambat bahaya tersebut akan tiba di Desa Elf tanpa ia sadari.


•••••


Di malam yang gelap gulita, cahaya yang bersinar di setiap tempat di kedalaman hutan berasal dari bola berukuran kecil dengan beragam warna yang dihasilkan. Ada biru, ungu, hijau, kuning, dan merah yang menyebabkan kegelapan tidak lagi terlihat melainkan keindahan dan kecantikan yang dapat dilihat oleh mata telanjang.


"Kita harus istirahat terlebih dahulu."


"Ya, kamu benar."


Mengistirahatkan tubuh di tempat, Regard dan Shilphonia memutuskan untuk menetap di tempat ini sembari memulihkan tenaga mereka.


Selepas memburu dan membasmi segerombolan Orc di Fairy Forest yang ditentukan oleh Friya, Regard terkejut pada kemampuan yang dimiliki oleh Shilphonia.


Kemampuannya terbilang cukup bagus dalam jarak jauh maupun jarak dekat. Alasan mengapa dia berpikir itu bagus ialah kemampuan Shilphonia terletak pada busur dan anak panah miliknya yang menyebabkan dia kuat dan hebat.


Setiap kali pemburuan dilakukan, Regard memastikan dengan seksama bahwa Shilphonia selalu mengendalikan anak panah yang diinginkannya dalam memburu mereka. Baik anak panah biasa, anak panah berukuran besar, dan anak panah dalam jumlah banyak dapat dia keluarkan tergantung dari pemakainya.


"Shilph, apakah kau mahir dalam menggunakan panah?"


"Ya. Dikarenakan aku pernah berada di Kota Elforia untuk melindungi serangan dari para iblis, aku mempelajari cara membidik dan menembak yang akurat."


Kota Elforia ya.


Mendengar kata Kota Elforia, Regard tentu tahu maksud dari perkataan Shilphonia.


Ayah dan Ibunya pernah menceritakan padanya bahwa Kota Elforia merupakan kota dimana ketenangan dan kedamaian berada sebelumnya. Namun sebelum kedamaian dan ketenangan itu tiada, para penduduk kota mengalami takdir yang mengenaskan dan mengerikan di dalamnya.


Ada yang mampu bertahan hidup namun dijadikan sebagai pasukan iblis, ada yang lenyap tak tersisa, ada yang bertahan namun dijadikan budak **** oleh mereka, dan lain-lain sebagainya diceritakan oleh keluarga Regard.


Mengepalkan tangannya, Regard memutuskan untuk tidak membiarkan siapapun menghancurkan kota dimana dia tinggal sekarang, Kota Farihiora.


Meskipun dia adalah seorang Necromancer, dia tidak akan memaafkan seseorang yang berani menghancurkan tempat tinggalnya untuk kedua kalinya, dia akan mengejar orang itu sampai ke ujung dunia sekalipun.


"Kamu mampu tidak menunjukkan kemampuan dan kekuatan yang kamu miliki ya, Regard."


"Benarkah?"


"Ya. Sejauh penglihatan aku, kamu hanya menggunakan kemampuan manusia yang kamu miliki agar tidak dicurigai dan diketahui oleh mereka."


"Ya, alasan aku melakukannya adalah aku ingin sebisa mungkin untuk tidak mengandalkan kemampuan aku sebagai seorang Necromancer."


"Apakah kamu meragukannya?"


Bangun dari rebahan, Regard menatap Shilphonia dengan senyum di wajahnya.


Menurut Shilphonia, ekspresi itu menandakan bahwa dia telah salah menanyakan ini padanya. Terlihat jelas dari senyum kecilnya yang diarahkan padanya membuat Shilphonia merasa tidak enak jika dia harus bercerita tanpa ada keinginan dari dirinya sendiri.


Menurut Shilphonia, itu sama seperti pemaksaan.


"Aku hanya tidak ingin mengandalkan kemampuan seorang Necromancer agar aku bisa berjuang sebagai seorang manusia."


"Berjuang sebagai seorang manusia?"


"Ya. Singkatnya aku tidak peduli apakah aku akan berada dalam posisi terdesak atau tidak, aku akan sebisa mungkin menahannya untuk tidak menarik perhatian siapapun terhadapku."


Mendengar kata-katanya, Shilphonia dengan pandangan pesimis menatap Regard.


Regard yang tahu tatapan pesimis yang diarahkannya, mengalihkannya dan mengusap rambut belakangnya dengan tawa pelan yang dilakukannya.


"Itu karena aku tidak ingin kau terpancing emosi olehnya jadi aku sengaja melakukannya tanpa mengeluarkan kemampuan sebenarnya dari seorang Necromancer sepertiku."


Memahami maksud Regard, Shilphonia mengangguk sekali padanya.


Bagi Shilphonia, kemampuan Regard sebelumnya melawan pria misterius itu bisa dikatakan kuat dan hebat. Tak hanya mampu membuat musuhnya kewalahan dan kerepotan, Regard juga mampu melenyapkan pelindung yang dibuatnya tanpa dirinya yang terluka sedikitpun.


Setahu Shilphonia, pelindung yang dibuatnya akan membalas serangan apapun terhadap orang yang melancarkan serangan. Itu sebabnya Shilphonia yakin alasan mengapa pria itu tidak menyerang Regard karena dia tahu bahwa menyerangnya sama saja seperti bunuh diri. Karena itulah Shilphonia yakin kepergiannya merupakan pilihan terbaik untuk Regard dan pria itu daripada harus saling berhadapan satu sama lain.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong Shilph, apakah kau pernah memakan daging monster?"


"Tidak, aku tidak pernah. Aku juga tidak menginginkan memakannya seperti yang kamu lakukan."


"Begitu ya. Sayang sekali."


Selesai membuat perapian dari sihirnya, Regard juga membakar sate daging yang berhasil didapatnya dari tumpukan daging berlemak milik Orc yang berhasil diburunya.


Menunggu sate tersebut matang, Regard berpikir kalau rencana berikutnya adalah meninggalkan Desa Elf dengan segera sebelum ketahuan oleh para elf lainnya dan Friya tentang dirinya yang memiliki kemampuan Necromancer.


"Shilph, seandainya aku kehilangan kendali pada tubuhku, maukah kau menghentikan aku?"


"Kamu... kenapa kamu mengatakan sesuatu seperti itu!?"


"Entahlah. Mungkin aku takut kalau suatu saat nanti, aku mengamuk dan menghancurkan desa dan kota tanpa ada perasaan simpati sedikitpun, aku hanya tidak membayangkannya saat ini."


Memahami maksud perkataan Regard, Shilphonia tidak bisa berkata apa-apa padanya.


Fakta Regard sebagai seorang Necromancer adalah sesuatu yang tidak bisa ditolaknya maupun diterimanya sama sekali. Meskipun Regard mampu mengendalikan dan menguasainya, menurut Shilphonia suatu saat nanti Regard akan kehilangan kendali karena tubuhnya sendiri akibat dari kegelapan yang cepat atau lambat menguasainya suatu saat nanti.


"Baiklah. Akan aku lakukan apapun demi menghentikan dirimu."


"Terimakasih."


Menyudahi memanggang sate daging, Regard memakannya dengan santap tanpa tersisa satupun.


Shilphonia yang berada di sisinya hanya bisa terdiam dalam keterkejutannya yang memperhatikan rasa lapar Regard yang sangat besar dibandingkan rasa lapar manusia pada umumnya.


"Baiklah. Mari kita lanjutkan lagi perjalanannya."


"Ya."


Selesai beristirahat sejenak, mereka memutuskan untuk kembali ke Desa Elf untuk beristirahat lalu kembali ke Kota Farihiora ketika fajar telah tiba.


•••••


Regard POV


Kami berdua tiba di pemukiman penduduk.


Furuhiora yang menunggu kedatangan kami menyambutnya dengan senyum ramah di wajahnya jadi aku dan Shilph hanya bisa mendekatinya dan tersenyum sama sepertinya.


"Apakah kalian sudah berhasil membasmi mereka?"


"Syukurlah."


Mendekati aku, Furuhiora memegang kedua tanganku dan tersenyum.


Ada apa ini? Apakah dia ingin menyatakan perasaannya padaku? Tidak, itu tidak mungkin terjadi bukan?


Aku hanya seorang manusia biasa jadi mustahil bagiku untuk bisa hidup berdampingan dengannya. Apalagi jika aku berkeluarga bersamanya, itu jelas mimpi yang tidak masuk akal untuk diterima.


"Maukah kamu berjalan berduaan denganku?"


"Itu..."


Memandang Shilph yang memperhatikan kedekatan kami, dia dengan wajah ramah mengangguk padaku.


Aku tidak tahu apakah mengizinkannya adalah keputusan yang tepat atau tidak, tapi karena Shilph telah memberi izin padaku jadi aku menyetujuinya daripada menolaknya yang dapat membuatnya kecewa.


"Baiklah."


"Terimakasih. Ikuti aku, Regard!"


"Ya."


Menjauhi pemukiman penduduk, aku dan Furuhiora memasuki hutan lebih dalam dari sebelumnya dan terhenti tiba-tiba.


"Ada apa, Furuhiora? Apakah ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku?"


"Ya."


Membalikkan tubuhnya ke arahku, ekspresinya mulai serius.


Entah apakah dia benar-benar menyatakan perasaan padaku atau tidak, aku memiliki firasat buruk atas ekspresinya yang serius yang berbeda dari senyum tulusnya tadi.


"Apakah kamu adalah seorang Necromancer?"


"Eh?"


Apakah aku telah ketahuan? Tidak, itu tidak mungkin dia sadari bukan?


Aku telah sepenuhnya merahasiakan identitas aku dari siapapun, terkecuali Shilph jadi mustahil bagi Furuhiora tahu tentang jati diriku yang sebenarnya.


"Apa maksudmu, Furuhiora? Aku sama sekali tidak mengerti."

__ADS_1


"Tidak berterus terang ya."


Menghela nafas panjang, dia berjalan mendekatiku lalu memegang kedua pundak aku.


Ketika aku disentuh oleh kedua lengannya, aku merasakan sensasi aneh pada tubuhku. Panas dan sesak, itulah apa yang kurasakan sekarang.


Ada apa ini? Mengapa tubuhku terasa panas dan sesak? Pandanganku tiba-tiba terasa samar.


Mungkinkah dia...


"Ya, aku mengeluarkan sejumlah mana untuk diubah menjadi God Blessing untuk mengetahui sejauh mana kamu bertahan."


Sudah kuduga kalau dia yang melakukannya.


Sial. Haruskah aku berterus terang padanya?


Jika aku tidak melakukannya, aku akan terus disiksa seperti sekarang. Jika aku berkata jujur, ada kemungkinan kalau Shilph akan disandera oleh mereka.


Aku tidak ingin hal itu terjadi.


"Kau benar-benar hebat sekali ya, Furuhiora."


Mengeluarkan paksa sejumlah mana di dalam tubuhku, aku menghilang dari tempatku berada.


"Dimana dia? Bagaimana mungkin dia bisa melakukannya?"


"Aku disini, Furuhiora."


Terkejut dengan perubahan posisi, dia tidak berkata apapun.


Tentunya dia akan terkejut karena aku berada cukup jauh darinya. Tak hanya jauh, aku juga telah menyiapkan Death Trap di sekitarnya untuk membiarkan dia menetap di tempatnya berada tanpa perlu mendekati diriku.


"Apakah kamu berpikir ini bisa menghentikan aku?"


"Entahlah. Aku sendiri tidak tahu atas hal tersebut."


Tanpa mengatakan apapun padaku, sejumlah mana dialirkan di tubuhnya yang menyebabkan permukaan tanah dalam sekejap berubah menjadi kawah.


Tak hanya berubah menjadi kawah, gemuruh kilat sempat terdengar di langit-langit yang membuatku yakin ini semua berasal dari aliran mana yang dikeluarkannya.


"[Acceleration]."


"....."


Menghilang dalam sekejap, aku sama sekali tidak tahu dimana dia berada.


Sial. Haruskah aku pergi dari tempat ini? Tidak, aku tidak punya pilihan lain selain melawannya.


Melakukannya sekarang atau tidak sama sekali, keduanya sangat berpengaruh padaku.


Jika aku memutuskan untuk meninggalkan tempat ini, Shilph akan dijadikan sandera oleh mereka. Jika aku putuskan untuk bertarung dengannya, mungkin aku dapat membawa Shilph kembali ke kota tanpa harus tersiksa di tempat ini.


Sip. Sudah diputuskan bahwa aku akan melawannya daripada kabur dari hutan sialan ini.


Menyadari keberadaannya yang berada di belakang aku, aku mengeluarkan Black Sword dan menangkis dengan kuat tongkat sihirnya yang berubah menjadi sebilah pedang besar berwarna biru cerah.


"Aku akui kamu hebat dalam menahannya, tapi kamu sudah terpojok sekarang."


Terpojok?


Menyadari permukaan tanah tiba-tiba berubah, aku tidak sempat melarikan diri dari permukaan tanah yang menyebabkan tubuhku menghantam tanah dengan kuat menyebabkan aku terkapar di tanah tak berdaya.


"Permainan sudah berakhir, Necromancer."


"Ya, kau benar."


Mengangkat kedua tangan ke atas, aku memutuskan menyerah daripada bertarung melawannya.


•••••


Shilphonia POV


Kemana Regard pergi? Kenapa dia lama sekali?


Berjalan bolak-balik di luar rumah penduduk, aku khawatir atas kondisinya.


Yang aku takutkan bukanlah kemampuan dan kekuatannya, tapi kondisi Friya yang akan dibuat babak belur dan kalah olehnya tanpa mendapat kesempatan untuk menang.


Aku harap dia tidak bertindak gegabah ya.


Jika dia benar-benar melakukannya, aku harus segera menghentikannya agar dia tidak memakan korban lainnya yang berasal dari elf di Fairy Forest.


Akan sangat merepotkan jika dia membunuh Friya, elf yang dihormati oleh elf lain yang dapat menyebabkan kami diburu dan dibasmi oleh mereka ketika kami bertemu dengan mereka lagi nanti.


Aku harap itu bukan hanya firasat aku.

__ADS_1


__ADS_2