The Necromancer

The Necromancer
Ch. 31,5:Nama Baru dan Ingatan Hu-Machina


__ADS_3

Regard POV


Malam masih panjang.


Di ranjang kasur, ada dua gadis yang sedang menemani aku tidur di dalam kasur kanopi. Mereka tidak lain ialah Fenrir dan Sasaki, keduanya terus melekat padaku seolah-olah mereka tidak ingin kalah.


Benar-benar deh.


Melepaskan pelukan mereka, aku berjalan ringan ke arah jendela untuk memperhatikan pemandangan yang berlangsung selama malam berlanjut.


Suasana yang hening dan sunyi, diikuti oleh suara dari langkah kaki yang mampu aku dengarkan, aku duduk di kursi sambil menunggu dia masuk ke dalam kamar.


Begitu pintu terbuka, aku tahu siapa yang masuk ke dalam kamar.


"Apakah aku mengganggu tidur kamu, Kak Regard?"


Dia tidak lain adalah adik tiri baruku, Reita.


Memasuki kamarku, dia dengan pakaian tidur yang tipis berwarna putih mendekati aku dan terhenti tepat di depanku.


"Ada apa? Apakah kau kesulitan untuk tidur?"


"Ya. Akhir-akhir ini, aku selalu berpikir bahwa aku tidak memiliki kesempatan untuk berduaan denganmu."


Aku tahu atas pandangannya yang diarahkan ke mereka berdua. Selama aku bersama mereka, waktu kedekatan kami terganggu oleh kehadiran Fenrir dan Sasaki.


Sejujurnya aku tidak ada masalah terhadap Sasaki. Tapi, aku selalu berpikir alasan mengapa Fenrir selalu bersamaku sejak dia dikalahkan dulu.


Apakah dia tahu bahwa aku lebih kuat darinya yang menyebabkan dia tunduk atau sesuatu yang tidak dapat dimengerti, aku kesulitan untuk memahami dirinya.


"Hei Kak Regard, maukah kamu berjalan-jalan di malam panjang bersamaku?"


Aku mau jalan bersamamu, tapi kau seharusnya tidak perlu mendekati aku seperti ini, Reita.


Menahan kata-kata itu keluar, aku dengan tenang mengangguk.


Reita yang mendengarnya, tersenyum lalu menjauhkan dadanya dari tubuhku dan menarik lenganku untuk keluar bersamanya.


•••••


Benar-benar menyebalkan.


Membuka mata dan bangun dari posisi tidurnya, Fenrir dengan ekspresi kesal melihat atas kedekatan yang dilakukan oleh Regard dan Reita di kamar selama dia dan Sasaki tertidur sebelumnya.


Ekornya yang lurus menandakan bahwa dirinya menyatakan permusuhan pada kedekatan yang dilakukan oleh Reita terhadap Regard, pasangan barunya yang dianggap spesial oleh Fenrir.


Tidak akan aku biarkan dia berbuat aneh pada Regard.


Meskipun dia mengatakan untuk mencegahnya, Fenrir tidak menyadari bahwa sebelumnya dia selalu melakukan tindakan aneh terhadap Regard.


Seperti halnya; dia memeluk wajahnya di dadanya yang kecil saat masih telanjang bulat, memeluknya ketika tertidur dengan tubuhnya yang telanjang, serta seringkali mengelus-elus rambutnya ke tubuh Regard membuat dia tidak menyadari bahwa setiap perbuatannya adalah perbuatan menyimpang.


Lenyap dari tempat dirinya berada, Fenrir muncul di atap bangunan kota.


Dia yang mengamati situasi yang ada, terdiam sambil mengetahui sesuatu sejauh mana Reita akan mengambil tindakan berikutnya dalam mencari perhatian dan kasih sayang dari Regard.


Di sepanjang jalan, Regard dan Reita yang saling berpegangan tangan layaknya hubungan persaudaraan satu sama lain, memperhatikan ke sekitar karena mereka tidak mampu melihat wajah lawan jenisnya.


"Hei Reita, apakah kau sudah terbiasa dengan apa yang selama ini kita lakukan?"


"Ya. Selama aku tidak memiliki keberatan atas apapun, aku akan mengikuti keinginanmu dalam segala hal."


Tertawa ringan, Regard terdiam sejenak.


Memang benar bahwa Regard adalah seorang kakak tirinya yang baru, tapi dia sama sekali tidak menginginkan Reita mengatakannya karena dia tahu bahwa keputusan Reita adalah haknya sendiri.


Namun saat melihat ekspresi senang dan bahagia yang dipancarkan oleh Reita, Regard berasumsi kalau perkataannya tadi akan menyakiti hati Reita jadi dia memilih diam daripada mengungkapkannya secara langsung.


Apakah kamu menyadari ada yang mengikuti kami?

__ADS_1


Ya, aku menyadarinya.


Meskipun keduanya terlihat tenang di permukaan, Regard dan Reita yang saling berbicara melalui [Mind Reading] mengetahui bahwa sosok yang mengikuti mereka sedang mengintai mereka dibalik tempat tanpa disadari oleh mereka.


Apakah kita harus memanggilnya?


Tidak perlu. Biarkan dia mengamatinya selama ini.


Mendengar kata-katanya, Reita tertawa pelan yang ditutupi oleh salah satu tangannya.


"....."


Di atap bangunan, Fenrir menunjukkan taringnya, kesal atas sikap Reita yang terlihat aneh seakan-akan mentertawakan sesuatu yang tidak diketahuinya.


Menurut Fenrir, dia dan Reita sangat jauh dalam perbandingannya. Dirinya yang unggul karena memiliki penampilan seorang gadis cantik yang terlihat masih kecil, yang dapat disayangi dan diperhatikan lebih kuat dari Reita, gadis remaja yang memiliki tubuh ideal mulai dari; dada yang besar, pinggang ramping dengan tubuhnya yang kurus, serta kakinya yang panjang benar-benar membuatnya terlihat biasa dalam pandangannya.


Satu-satunya yang Fenrir bisa anggap dirinya sebagai teman adalah mereka memiliki tujuan yang sama yaitu mengabdikan hidupnya demi orang yang menyelamatkan mereka dari kematian pertama.


Itulah mengapa selama misi sebagai The Necromancer diterapkan, Fenrir tidak mengganggu siapapun dari rekan-rekannya.


Alasan pertama, dia tidak mengganggu ialah dia tidak ingin merepotkan Regard yang akan membuatnya marah dan benci atas sikap dan tindakan yang Fenrir lakukan selama operasi malam sebagai The Necromancer dilakukan.


Alasan kedua, dia tidak mau mencari masalah terhadap rekan-rekannya karena dia tahu menganggap mereka sebagai musuh abadi akan menyebabkan peperangan yang berlangsung lama yang sulit untuk dihentikan.


Hanya itu dua alasan yang diterapkan dalam kehidupan Fenrir.


Mereka berdua menelusuri setiap jalan, duduk di taman sambil memperhatikan lingkungan sekitar, berdiri di ketinggian dengan memandang langit-langit malam yang berbintang dan cahaya bulan yang bersinar terang, keduanya saling menikmati waktu yang ada diantara mereka.


"Kuh..."


Hanya bisa menggigit taringnya sendiri, Fenrir semakin kesal dan jengkel atas kedekatan mereka yang belum padam.


Amarahnya yang semakin bergejolak, diikuti oleh kebencian yang membuatnya tampak jengkel benar-benar tidak ingin terus-menerus melihatnya. Meskipun dirinya tidak mau melihatnya, Fenrir tidak bisa mengabaikan gadis yang akan merebut pasangan barunya.


Apakah kita terus membiarkannya? Dia terlihat semakin marah dan jengkel padaku.


Walaupun keduanya saling mengabaikan keberadaan Fenrir, mereka berhenti sejenak seolah-olah tidak tahu siapa yang mengikuti mereka.


"Keluarlah, Fenrir!"


"....."


Tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya atas kesadaran Regard dalam merasakan kehadirannya, Fenrir bersembunyi dibalik bangunan, mencoba menyembunyikan hawa keberadaannya sebaik mungkin.


Namun usahanya sia-sia.


"Kau benar-benar payah dalam menyembunyikan keberadaan ya."


Tepat dihadapannya, Regard dengan cepat mengelus-elus kepalanya, tersenyum pada ketidaksadaran Fenrir dalam menyembunyikan dirinya dari orang lain.


"Maaf, aku tidak bermaksud untuk mengikuti dirimu dan Reita."


"Tidak apa-apa."


Di tempat yang tidak jauh, Reita yang memandang iri pada kedekatan mereka, tersenyum dan berjalan mendekati mereka.


"Aku tahu kau berpikir aku dan Reita memiliki hubungan khusus bukan?"


"Ya."


Tidak dapat melihat wajahnya, Fenrir menggantungkan kepalanya, menutupi wajahnya dari kesedihannya karena tidak dapat menyembunyikan apapun dari Regard.


"Jangan khawatir, Fenrir. Aku dan Reita, kami hanya memiliki hubungan persaudaraan satu sama lain."


"Persaudaraan?"


"Ya."


Mata Fenrir yang bersinar terang menandakan bahwa ini adalah kesempatan yang bagus untuknya dalam mendekati Regard.

__ADS_1


Ah... mereka mulai lagi.


Menghentikan langkah kakinya, Reita memandang heran atas kedekatan mereka yang kembali pulih seperti sebelumnya.


"Mari kita turun, Fenrir."


"Ya."


Dengan patuh pada perkataannya, mereka berdua turun mendekati Reita.


Reita yang terlihat tenang di permukaan, tidak ada keberatan atas kedekatan mereka satu sama lain. Sebaliknya, jauh di dalam lubuk hatinya, dia ingin Regard memandang dirinya sebagai seorang wanita, bukan hanya sebagai adik tirinya.


"Mari kita kembali ke penginapan."


"Ya."


Bergegas memeluk Regard dari sisi kiri, Fenrir tersenyum pada Reita.


Alis Reita yang berkedut, diikuti dengan senyum terpaksa membuatnya kesal dan jengkel atas kedekatan Fenrir, yang akhirnya dia dengan terbuka meraih tangan Regard lalu melingkarinya dengan kedua lengannya.


Kamu...


Hehehe...


Pandangan mereka yang saling tertuju satu sama lain menandakan kebencian atas keduanya yang dapat Regard rasakan.


Sudah kuduga ini yang akan terjadi.


Menghela nafas, Regard hanya bisa diam dan pasrah atas keadaan sekarang.


Jika dia ikut campur dengan membela salah satunya, orang yang tidak dapat pembelaan dari Regard akan cemburu dan iri atas pilihannya. Itulah mengapa Regard memilih diam kali ini.


"Hei Fenrir, apakah kau masih ingat atas nama yang akan aku berikan?"


"Ya, aku mengingatnya."


"Apakah kamu mau memberinya nama baru, Kak Regard?"


"Ya. Aku tidak mau jika dirinya terekspos dihadapan publik bahwa dia adalah Fenrir dari Gunung Baurme."


"Kamu benar. Akan menyulitkan kita jika Ksatria Kerajaan tahu fakta dirinya masih hidup bersama kami."


"Tepat sekali."


Regard dan Reita yang memikirkan hal yang sama, keduanya mengangguk dalam renungan mereka membuat Fenrir memiringkan wajahnya, bingung dan heran atas apa yang sedang mereka bayangkan dari dirinya.


"Sip."


Mengetuk satu tangannya, Regard dengan cepat menunjuk ke Fenrir dan tersenyum.


"Namamu adalah Fuuya. Bagaimana?"


"Fuuya? Namaku adalah Fuuya?"


Mengulang-ulang perkataan Regard mengenai nama barunya, ekor Fenrir mengibas dengan cepat.


"Aku menyukainya."


Sekali lagi, Fenrir, tidak, Fuuya memeluk Regard dengan antusias yang tinggi.


Di sisi lain, Reita yang melihat Fenrir yang diberi nama baru tampak seperti gadis kecil yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari Regard jadi Reita hanya bisa tersenyum melihat tingkah lakunya yang lucu dan menggemaskan.


"Terimakasih atas nama barunya, Regard."


"Ya."


Tersenyum pada kebahagiaan Fuuya, Regard mengalihkan pandangan ke Reita. Reita yang tahu pandangannya, tersenyum seolah-olah tidak keberatan atas waktu yang terjadi selama ini.


Meskipun Reita menginginkan waktu berduaan bersama kakak tirinya yang baru, Regard, dia tidak memiliki hak untuk melarang Regard untuk berdekatan dengan gadis lain seperti Fenrir dan Sasaki.

__ADS_1


__ADS_2