
Keluar dari perpustakaan, ketiga orang bergegas kembali ke penginapan untuk segera beristirahat. Selain untuk beristirahat, mereka juga ingin meluangkan waktu untuk bisa membaca buku yang telah mereka beli sebelumnya, terkecuali Shilphonia yang tidak tertarik untuk membaca buku.
"Bisakah kalian berhenti sebentar?"
"Ya."
"....."
"....."
Seorang pria yang datang mendadak mengganggu waktu mereka, Shilphonia dan Friya merasa curiga dan waspada terhadap pria yang tersenyum pada mereka. Berbeda dengan kedua gadis di dekatnya, Regard tahu siapa pria yang ada di depannya. Dia tidak lain ialah Veru, Ksatria Kerajaan yang telah membantu dan merawatnya selama ini di Kota Farihiora.
"Ada apa kau kemari, Paman Veru?"
"Paman?"
"Mungkinkah dia adalah keluargamu?"
"Tidak, dia hanya orang yang merawat aku ketika aku sudah tidak memiliki apapun."
Berjalan ke sisi Veru, Regard menjelaskan pada mereka berdua.
Shilphonia dan Friya yang mendengarnya, memahami maksud perkataannya. Mereka tentu mengerti bahwa manusia maupun makhluk hidup lainnya akan merasa sedih, putus asa dan pasrah pada kehidupan mereka yang telah kehilangan keluarga yang mereka cintai dan sayangi, termasuk Regard sendiri.
"Aku ingin kita bicara di tempat lain. Apakah kalian tidak keberatan?"
"Bagaimana?"
"Aku tidak keberatan."
"Aku sama. Aku penasaran atas apa yang ingin dibicarakannya pada kita."
Tersenyum pada jawaban mereka, Regard mengangguk pada Veru.
Veru yang mendengar persetujuan mereka berjalan di depan, memimpin jalan menuju ke tempat yang ingin dia bicarakan secara rahasia tanpa diketahui oleh publik.
"Baiklah, kita bicarakan di tempat ini."
Di salah satu taman, tidak ada satupun penduduk kota maupun ksatria kerajaan yang terlihat bertugas di tempat ini. Dengan kata lain, tempat ini aman untuk dibicarakan jadi Veru tidak akan menahannya lagi yang membuat mereka kesal dan marah terhadapnya.
"Aku ingin kita pergi ekspedisi ke suatu tempat."
"Kenapa harus mendadak?"
"Itu karena ada situasi mendesak yang harus kalian dengarkan."
"Tunggu sebentar, Regard! Baiklah. Jelaskan apa situasi mendesaknya."
"Terimakasih."
Keluhan Regard yang dihentikan oleh Friya membuat dia penasaran atas situasi mendesak apa yang dikatakan oleh Veru sebelumnya.
Menurut Friya, jika situasi tersebut mendesak maka bisa dipastikan kalau ini bukanlah masalah ringan melainkan masalah rumit jika dia mengetahuinya dari ekspresi serius Veru yang diperlihatkan pada mereka bertiga.
"Apakah kalian tahu tentang Penambangan Urei?"
"Penambangan Urei?"
Regard dan Friya sama sekali tidak tahu apapun tentang penambangan itu yang membuat kepala mereka dimiringkan, begitupun ekspresi yang mereka perlihatkan adalah ekspresi penuh pertanyaan.
"Aku tahu. Penambangan Urei adalah penambangan terbesar yang berada di dekat Kota Asfa."
"Itu benar. Kota Asfa adalah kota yang terkenal akan bijih material yang berlimpah yang dapat dibuat sebagai aksesoris, perlengkapan, serta berbagai macam kebutuhan lainnya yang terbilang cukup mahal dan berkualitas tinggi."
"Tentu. Mereka adalah para pengrajin yang handal dan profesional yang membuat apapun yang mereka sentuh dapat menghasilkan harga yang berkali-kali lipat lebih mahal dari biasanya."
Mengangguk pada penjelasan Shilphonia, Veru tentu memahami aspek yang dimiliki oleh Kota Asfa.
Kota Asfa sangat terkenal atas bijih berkualitas yang didapat dari Penambangan Urei. Apapun yang mereka hasilkan dan produksi, mereka dapat membuat perlengkapan dan aksesoris mewah dan mahal yang dapat membuat perhatian para pedagang untuk membelinya dalam jumlah banyak berdatangan dari seluruh penjuru kota yang ada ke Kota Asfa.
Hal dasar seperti ini Veru pahami jadi dia tidak terkejut atas kelebihan yang dimiliki oleh Kota Asfa.
"Lupakan tentang kelebihan. Apakah ada sesuatu yang terjadi di Penambangan Urei?"
"Ya. Baru-baru ini banyak orang melapor kalau Penambangan Urei memiliki masalah di dalamnya. Masalah itu sendiri berupa gempa bumi yang kuat, teriakan seorang wanita dari dalam, serta dentuman tanah yang terdengar keras, semua itu adalah apa yang orang-orang laporkan."
"Apakah ada penyebabnya yang membuat penambangan seperti itu?"
"Tidak ada."
Ketiga orang yang duduk di kursi taman, merenungkan sejenak dan berpikir.
Bagi Regard, ada kemungkinan penyebab Penambangan Urei berubah drastis dari biasanya ialah berasal dari iblis yang mencoba untuk menguasai penambangan, sama seperti yang dialaminya dulu di kehidupan pertamanya di dunia ini.
Bagi Shilphonia, Penambangan Urei ada kaitannya dengan pria yang ditemuinya bersama Regard sebelumnya. Pria yang memiliki kulit putih, berambut perak, dan terdapat tatto merah di pipi kanannya yang bertarung dengan Regard sebelumnya. Jadi, dugaan Shilphonia adalah pria itu mungkin adalah penyebabnya.
Bagi Friya, membantu dan menolong orang diperlukan. Apapun masalah mereka, selama dapat diatasi dan ditangani sendiri maka itu akan baik-baik saja untuk kehidupan mereka. Apalagi ini menyangkut tentang sumber daya yang dimiliki oleh Kota Asfa jadi Friya berpikir membantu adalah tindakan yang tepat untuknya.
"Apakah kalian bersedia untuk ikut denganku dalam investigasi?"
"Ya. Sejujurnya aku penasaran atas apa yang terjadi di Penambangan Urei."
"Aku sama."
"Aku juga. Aku ingin tahu apakah ada iblis di dalamnya atau tidak."
__ADS_1
Mendengar persetujuan mereka, Veru berdiri dan tersenyum pada ketiga orang di depannya.
"Baiklah. Esok pagi, aku ingin kita bertemu diluar gerbang utama Kota Farihiora."
"Ya."
Meninggalkan tempatnya berada, ketiga orang yang memperhatikan punggung Veru perlahan-lahan menjauh dan menghilang.
"Mari kita kembali ke penginapan."
"Ya."
Mereka bergegas kembali ke penginapan untuk beristirahat dan bersantai.
•••••
Regard POV
Di pagi hari yang cerah, aku, Shilph, dan Furuhiora sudah menunggu di depan gerbang utama Kota Farihiora sesuai dengan perkataan Paman Veru.
"Kenapa dia belum datang?"
"Mungkinkah dia terlambat?"
Yah, aku menduga bahwa dia akan terlambat.
Alasan aku bisa tahu ialah dia seorang maniak wanita yang selalu begadang tiap malam untuk menggoda wanita manapun yang ditemuinya, baik itu; wanita biasa, bangsawan, dan petualang, semua digoda olehnya.
Tentunya aku bisa memahami seberapa besar tekadnya dalam berburu wanita, tapi setidaknya aku ingin dia memikirkan dirinya sendiri melebihi kesenangannya semata.
"Maaf, aku terlambat!"
"Tidak apa-apa."
Memperhatikan Shilph dan Friya, aku yakin mereka terlihat kesal atas keterlambatannya.
Wajar jika mereka marah. Seharusnya kami bertemu lebih awal di pagi hari sebelum para penduduk beraktivitas di dalam kota, tapi tampaknya semuanya benar-benar terlambat.
"Mari kita pergi."
"Ya."
Yah, lebih baik biarkan saja mereka terlihat seperti ini daripada menegurnya, aku tidak ingin merusak mood mereka.
Di sepanjang perjalanan, kami tidak berbicara apapun melainkan diam satu sama lain. Wajar jika kami tidak berbicara apapun dikarenakan mereka berdua masih terlihat kesal atas keterlambatannya, aku paham atas perasaan mereka yang mementingkan misi dibandingkan apapun terlebih dahulu.
"Kita sudah sampai di Kota Asfa."
Di depan pintu gerbang, seluruh penduduk kota sedang beraktivitas di dalamnya.
Berjalan sedikit maju, kami terhenti sejenak di depan pintu gerbang yang terdapat kedua ksatria kerajaan yang mengenakan zirah lengkap pada tubuh mereka.
"Terimakasih."
Sepertinya ini sudah menjadi kebiasaan bagi siapapun yang keluar-masuk kota jadi aku tidak terkejut.
Tepat setelah Paman Veru memasuki kota, aku memberikan bukti sebagai seorang petualang. Bukti itu sendiri ialah selembar kain berwarna hitam yang telah diserahkan ke mereka.
Mereka yang mengambilnya bertukar pandang dan mengangguk, lalu mengembalikan kain hitam itu padaku.
"Silahkan masuk!"
Tentu saja aku bisa masuk karena aku adalah seorang petualang pemula.
Menurut Guild Petualang, ada tiga tingkatan dalam petualang yaitu Black, Colorful, dan White, ketiganya berada di tingkatan yang berbeda-beda.
Black melambangkan arti warna hitam, yang artinya petualang tersebut masih berada di tingkat bawah, termasuk aku yang masih berada di tingkat dasar seorang petualang, aku hanya bisa mengambil beberapa misi tertentu yang terbatas.
Yah, meskipun sebelum bertemu Shilph aku mengambil misi khusus dan tertentu, aku diharuskan untuk tidak melakukan tindakan yang sama seperti yang terjadi sebelumnya jadi aku harus mengikuti aturan yang ada.
Colorful melambangkan arti warna, yang artinya petualang yang berada di tingkat ini merupakan petualang tingkat menengah. Mereka biasanya memiliki misi yang cukup sulit untuk diatasi bagi petualang pemula sepertiku.
Tak hanya misi sulit, hadiah dan imbalan yang berhasil mereka dapatkan terbilang cukup bagus. Tidak seperti Black Adventure yang mendapatkan hadiah dan imbalan yang terlalu sedikit, Colorful Adventure memiliki hadiah dan imbalan yang cukup untuk menyewa penginapan mewah selama semalam.
Dan yang terakhir ialah White melambangkan arti putih, yang artinya petualang di tingkat ini merupakan petualang tingkat tinggi di dunia. Mereka biasanya disebut sebagai pemimpin petualang atau bahkan terkadang disebut sebagai seorang pahlawan, keduanya sangat berpengaruh besar terhadap kerajaan dan kota yang memiliki White Adventure seperti mereka.
Tentunya hadiah dan imbalan yang didapat terbilang cukup tinggi melebihi petualang lain di tingkat sebelumnya jadi wajar siapapun akan tertarik dan iri terhadap mereka karena imbalan yang tinggi yang dapat memuaskan kebutuhan hidup mereka.
Setidaknya itulah apa yang telah dipelajari sebelumnya dalam kehidupanku.
Namun...
Aku tidak tahu apakah Shilph dan Furuhiora bisa memasuki kota melalui penjaga diluar atau tidak, aku khawatir terhadap mereka.
"Maaf membuat kalian menunggu lama."
"Ya, maaf atas keterlambatan kami."
"Bagaimana, Shilph, Furuhiora?"
Mereka berdua saling bertukar pandang lalu tersenyum padaku.
"Kami bisa masuk berkat ide Shilph."
"Ide?"
__ADS_1
Aku dan Paman Veru sama sekali tidak tahu tentang ide tersebut.
Shilph yang mendengarnya, dia hanya tersenyum. Membusungkan dadanya, dia tersenyum puas seakan-akan dia dipenuhi dengan rasa percaya diri.
"Itu adalah ide yang bagus. Ide dimana kami adalah budak Regard Arthen."
Ah... begitu ya.
Ternyata mereka mampu membuat para penjaga berpikir bahwa mereka adalah budak aku.
Memang benar kalau aku memiliki budak bernama Sasaki, tapi itu hanya berlaku untuk Demi-human, bukan untuk mereka. Sedangkan mereka berdua, aku tidak tahu apakah itu cocok disebut sebagai budak, aku hanya berpikir kalau mereka terlalu memaksakan diri untuk berbohong pada kedua penjaga tadi.
"Apakah kamu tidak marah?"
"Tidak, aku senang jika itu alasan mengapa kalian bisa diterima oleh mereka."
Lebih baik senang atas diterimanya mereka masuk ke Kota Asfa daripada marah dan benci terhadap ide yang dikemukakan oleh Shilph, itulah jawabanku.
"Baiklah. Mari kita pergi, Kawan-kawan."
"Ya."
"Baik."
"Tentu."
Kami bertiga pun pergi menuju penginapan untuk segera mengambil kamar agar bisa beristirahat sejenak sambil bertukar pikiran untuk bisa mengetahui apa yang harus kami lakukan di keesokan hari.
•••••
Di keesokan harinya di sore hari, keempat orang sedang menunggu di kejauhan di Penambangan Urei. Mereka yang sedang memusatkan perhatian pada pintu masuk mulut gua berjaga-jaga untuk tidak ada satupun penduduk yang memasukinya.
Jika ada orang yang memasuki pintu masuk mulut gua, mereka akan sebisa mungkin melarangnya dan menyuruhnya pulang demi keselamatan mereka daripada membiarkan nyawa mereka berada dalam bahaya.
"Hei, bukankah lebih baik jika aku masuk ke dalam?"
"Tidak boleh. Jika kamu masuk ke dalam gua, aku yakin kamu akan menghancurkan semuanya nanti."
"Aku setuju pada perkataan Shilph."
"Yah, itu benar. Kau selalu saja membuat masalah terhadap misi yang kita lakukan sebelumnya, Arthen. Jadi, wajar jika mereka tidak mempercayaimu."
"Ya, memang benar apa yang dikatakan oleh Paman Veru."
Setiap kali Regard dan Veru menjalani misi yang sama, Regard selalu mengacaukannya yang membuatnya marah dan benci atas tindakan yang dilakukannya selama misi. Tindakan itu sendiri ialah mengorbankan dirinya masuk ke dalam masalah, menghabisi mereka dan menghancurkannya lalu membawa mereka untuk ditahan.
Yah, semua itu Regard lakukan karena demi kepentingannya pribadi jadi wajar jika Veru sebelumnya marah atas keegoisannya dalam menjalani misi.
"Apa yang akan kita lakukan? Haruskah kita tetap menunggu?"
"Ya, kita akan menunggu hingga bala bantuan Kerajaan Eruguard tiba."
"Bala bantuan!?"
Shilphonia dan Friya yang mendengarnya terkejut pada perkataan Veru, hanya bisa terdiam.
Berbeda dengan mereka berdua, Regard sudah menduga bahwa Veru menunggu bala bantuan tiba sama seperti yang dilakukannya sejak dia masih berpatroli sebagai Ksatria Kerajaan disaat membantunya menjelajahi gua penambangan di Desa Elforia.
"Percuma saja."
Bergegas bangun dan berjalan masuk ke pintu gua, ketiga orang terdiam pada apa yang dilakukan oleh Regard tanpa sepengetahuan mereka.
"Tunggu, Arthen.... jika kau masuk ke dalam maka..."
"Jangan khawatir, aku tidak berencana untuk mengacaukan semuanya. Aku hanya ingin mengetahui sejauh mana kerusakan dan kehancuran yang dilakukan oleh orang itu."
Dengan santai mengatakan itu pada Veru, langkah kaki Regard yang terhenti dilanjutkan kembali.
Shilphonia dan Friya yang masih meragukan dirinya bergegas ikut bersamanya, Regard menghentikan langkahnya sekali lagi dan menoleh ke belakang.
"Kalian tidak perlu ikut, aku bisa melakukannya sendiri."
"Apakah kamu yakin?"
"Jika sesuatu terjadi padamu, kita berdua akan kerepotan nantinya."
"Tenanglah.... tidakkah kalian tahu bahwa aku adalah seorang Necromancer?"
"....."
"....."
Mendengar kenyataan yang diberitahukan pada mereka, kedua gadis hanya bisa terdiam mendengarnya.
Memang benar bahwa Regard adalah seorang Necromancer, tapi alasan itu tetap tidak masuk akal jika mereka membiarkan Regard tiada. Tak hanya akan memutuskan kontrak, mereka berdua yakin kalau Soul Contract akan menyebabkan mereka tiada yang membuat mereka bersikeras untuk tetap hidup.
"Aku akan memberitahu kalian jika aku perlu bantuan dari kalian melalui Mind Reading jadi jangan khawatir atas kondisiku."
Mendengar perkataan Regard, Shilphonia dan Friya merasa lega bahwa bantuannya diterima.
Meskipun mereka diterima atas bantuannya, entah kenapa hati mereka kurang puas atas jawabannya. Namun mereka tidak bisa mengambil tindakan saat ini, yang dapat membuat Regard marah dan benci pada mereka.
"Aku hanya tidak ingin kalian terluka karena aku."
Berbeda dengan kedua gadis tadi, satu-satunya alasan Regard menolak keras bantuan mereka ialah dia tidak ingin rekan yang dimilikinya tiada yang menyebabkan Regard membangkitkan jiwa mereka kembali.
__ADS_1
Alasan Regard tidak mau membangkitkan jiwa mereka ialah dia hanya ingin menghindari konsekuensi yang dapat menyebabkan sebagian dari ingatan mereka hilang dari diri mereka.
Jika sebagian ingatan hilang dari diri mereka yang menyebabkan mereka tiada, cepat atau lambat mereka akan menjadi boneka mayat hidup tanpa perasaan dan emosi di dalamnya menyebabkan Regard tidak tega untuk membayangkannya.