The Necromancer

The Necromancer
Ch. 43:Dua Sosok Berbeda


__ADS_3

Regard POV


Bulan bersinar terang di kegelapan malam, udara yang dingin, suasana yang sunyi, semuanya terasa pas untuk dinikmati sendirian di tengah-tengah pelabuhan.


Aku ingin mengatakan itu, tapi aku tidak berhak karena Kota Lien sedang mengalami krisisnya sendiri, krisis dimana mereka, orang-orang di kota seperti; penduduk kota, petualang, pedagang sedang mengalami teror yang tidak diketahui berlangsung berapa lama.


Apa tujuan dan keinginan mereka, aku masih tidak tahu.


Satu-satunya yang berhasil aku ketahui adalah mereka aktif di malam hari, itu sebabnya aku berkeliaran diluar kota hanya dengan duduk di jembatan pelabuhan Kota Lien sambil memastikan apakah itu benar atau tidak.


Mengenai Fuuya dan Sasaki, dia sengaja tertidur pulas dan nyenyak bersama tubuhku karena aku memindahkan kesadaran pada tubuh asliku ke tubuh ini. Itulah sebabnya aku berhasil lolos dari indra penciuman dan pendengaran yang dimiliki oleh Fuuya jadi aman untukku melakukannya.


"Apakah ini benar-benar akan berhasil ya?"


Selama aku bangun dari duduk, berjalan bolak-balik di sekitar pelabuhan, tidak ada tanda-tanda bahwa mereka datang untuk menyerang aku.


Mungkinkah aku telah salah memperkirakannya? Tidak, kurasa bukan itu masalahnya.


"Itu...."


Secara mengejutkan, aku melihat seorang gadis berambut biru panjang berjalan ke arahku. Pakaiannya yang mewah, tubuhnya yang terlihat dewasa dan ideal, serta kedua dadanya yang besarnya sama seperti Shilph dan Friya, dia mendekati aku.


Mungkinkah dia dalangnya?


"Malam, Tuan."


"Malam."


Tampaknya tidak ada permusuhan yang dipancarkan olehnya jadi aman untuk terus berbicara padanya.


"Siapa kau? Kenapa kau berkeliaran di malam hari? Apakah kau ada keperluan denganku?"


Menoleh sedikit ke arahnya, dia hanya tersenyum padaku. Bisa dikatakan aku tidak bisa dianggap bodoh olehnya hanya karena aku ceroboh membiarkan diriku di dekati olehnya.


Tapi, satu-satunya hal yang mengganggu aku adalah tentang keberadaannya. Seolah-olah dia memiliki aura yang penuh dengan martabat di seluruh tubuhnya, mana juga terbilang tidak sedikit yang dapat terpancar jelas melalui insting milikku.


"Aku adalah penduduk kota. Aku kemari hanya ingin tahu apakah rumor itu benar atau tidak. Alasanku mendekati dirimu adalah memperingati tentang Kota Lien yang sedang terjadi sekarang."


Ketika dia duduk di sisiku, dia menoleh dengan senyum ramah yang menandakan dia tidak ingin aku menjadi musuhnya.


Itu bagus. Dikarenakan aku malas bertarung, aku memutuskan untuk ikuti pembicaraan ini agar mendapat informasi tambahan darinya. Apalagi jika dia adalah penduduk kota, entah secara kebetulan atau tidak, aku ingin mendapatkan langsung melalui mereka.


"Jadi, apa yang ingin kau peringatkan padaku?"


"Musuh yang meneror Kota Lien... dia bukanlah musuh yang bisa dianggap remeh."


"Apa maksudmu?"


"Maksudku ialah dia adalah iblis tingkat atas yang kemampuannya tidak dapat diukur oleh manusia manapun."


Aku mengerti.


Bukan berarti setiap iblis kuat, mereka tetap kalah oleh kemampuan dari class Necromancer milikku jika aku serius dalam pertarungan. Tapi karena dia mengatakan sesuatu seperti itu, aku penasaran siapa dia, mengapa dia bisa tahu bahwa pelakunya adalah iblis.


"Bagaimana bisa kau mengetahuinya?"


"Apakah kamu percaya tentang keberadaan Hydra, Tuan?"


"Hydra? Aku tidak tahu tentang itu."


"Dia adalah naga yang menghuni Kota Lien untuk menangani berbagai masalah yang sulit diatasi oleh mereka, para penduduk Kota Lien."


Hydra, aku sendiri tidak tahu apakah penampilannya sama seperti yang ada dalam buku-buku fantasy yang seringkali aku baca di masa muda atau tidak, aku ragu untuk memutuskan seperti apa penampilannya.


Terlepas dunia ini sudah tidak ada para naga, aku yakin kebanyakan orang berpikir mereka telah tiada. Tapi, aku juga tidak tahu apakah menganggap para naga masih ada atau tidak, aku sendiri belum tahu pasti karena aku tidak pernah dibacakan cerita oleh kedua orangtuaku maupun buku-buku yang ada di perpustakaan sebelumnya.

__ADS_1


"Tuan, bisakah kamu kemari?"


"Baiklah."


Mengikuti lambaian tangannya, wanita berambut biru itu menyentil dahi milikku dengan pelan membuatku terdiam sejenak saat itu sedang dilakukan.


Itu bukanlah sentilan biasa, itu adalah memori yang dimiliki olehnya dalam menghadapi iblis yang mengancam Kota Lien.


"Bagaimana? Apakah kamu sudah paham?"


Aku mengerti.


Dia bukanlah penduduk kota di Kota Lien, dia adalah salah satu naga legenda yang melindungi kota ini dari berbagai macam masalah, Hydra.


Terlihat dari seluruh aura yang diperlihatkannya, mana dalam jumlah banyak yang mengalir keluar dari dalam tubuhnya, serta ingatan yang diberikan padaku tentang pertarungannya melawan iblis itu, Stahark membuatku merasa dia adalah orang yang perlu diwaspadai.


"Kenapa kau memberikan aku ingatan mengenai pertarungan antara kau dan dia?"


"Aku hanya ingin kamu tahu bahwa dia sulit untuk dikalahkan."


"Sulit untuk dikalahkan ya."


Secara tidak sadar, aku menampilkan senyuman dan terkekeh pada kata-katanya.


Memang benar, iblis sulit dikalahkan, termasuk Stahark yang menurut ingatan dari Hydra, dia adalah iblis paling berbahaya.


Stahark yang memiliki kemampuan untuk menghisap mana musuhnya menjadikan senjata penting untuk melawan musuhnya, itu adalah hal yang merepotkan. Apalagi jika aku secara tidak sengaja menunjukkan seluruh kemampuan aku padanya, cepat atau lambat, dia akan langsung menyerapnya dengan mudah.


"Ada satu hal lagi yang ingin aku peringatkan padamu, Tuan."


"Apa itu?"


"Mengenai Kota Lien..."


•••••


Menurut Regard, perkataan Hydra ada benarnya, perkataan tentang Kota Lien yang telah dipasang beberapa jebakan oleh Stahark membuatnya penasaran dan memeriksanya, ternyata setiap tempat memiliki tali merah tipis yang saling berhubungan, menggantung di setiap bangunan-bangunan yang ada, dan dapat membunuhnya jika orang tersebut terkena perangkapnya dan menghilang.


Ini bisa dikatakan sebagai tindakan cerdik dan licik.


Terlepas dari iblis yang seharusnya hanya membantai seluruh kota dengan gerombolan monster, Stahark tidak seperti itu menurut Regard. Cara dia bergerak diam-diam, mengamatinya dari balik kegelapan, dan memutuskan untuk tidak mengganggu siapapun benar-benar berbeda dari iblis lain yang selama ini Regard lawan.


"Aku harap masalah ini dapat berlalu dengan mudah ya."


Sambil bergumam seperti itu dengan nada pelan, wajahnya mendongak ke langit-langit yang terlihat kalau bulan tertutup oleh awan membuat seluruh area di sekitarnya gelap.


"Sepertinya kau sedang menikmati waktu sendirian ya, Nak."


"Ya. Kau sendiri kenapa ada di tempat seperti ini, Tuan?"


Secara mengejutkan bagi Regard, sosok itu entah bagaimana caranya, dia tiba di belakang Regard.


Sosok itu tidak mengatakan apapun melainkan hanya tersenyum padanya saat tahu seluruh kekuatan dan kemampuannya terbilang lebih baik daripada dirinya di masa lalu yang dia latih sebelumnya.


Dia tidak lain adalah Raja Iblis, yang Regard sendiri tidak mengerti kenapa dia bisa hadir di Kota Lien yang seharusnya diawasi oleh Hydra.


"Bolehkah aku tahu mengapa kau kemari, Nak?"


"Sederhana, aku ingin tahu kenapa Stahark sengaja memainkan peran ini dalam melakukan hal buruk pada mereka."


"Apakah kau membencinya?"


"Tentu. Dia adalah akar dari masalah ini. Membiarkan reputasi dari grup milikku buruk, menganggap bahwa kami adalah orang-orang tersesat, tidakkah menurutmu juga sama?"


Awalnya Regard yang mengatakannya secara acuh tak acuh berubah menjadi kekesalan karena dia sadar bahwa usahanya dalam memberantas kejahatan dibalik malam gelap adalah rutinitas yang dilakukannya berhari-hari.

__ADS_1


Dia sendiri tidak mengharapkan apapun atas kegiatannya, sebaliknya, dia hanya ingin membantu orang-orang agar mereka tidak mengalami nasib seperti dirinya di masa lalu sekaligus dia ingin tetap mempertahankan sosok manusia di dalam dirinya dengan berbuat kebaikan terhadap orang-orang yang membutuhkan bantuannya.


Tapi, Stahark dengan mudah merebut segalanya hanya dalam waktu singkat.


Kota Lien yang diteror oleh mereka yang mengaku sebagai The Necromancer, Regard tidak bisa maafkan karena telah membantai hampir dari seluruh penduduk yang mati dan menghilang olehnya untuk bisa dimaafkan, satu-satunya yang bisa Regard lakukan adalah menyiksanya lebih parah agar dia dapat merasakan bahwa keputusasaan lebih berarti segalanya daripada kematian itu sendiri.


"Jadi, ada apa kau datang kemari?"


"Aku ingin memberitahu tentang apa yang akan kau lakukan setelah membalas dendam padanya."


"Apa maksudmu?"


"Maksudku ialah tentang perjalanan milikmu yang akan berakhir usai melakukan balas dendam nanti."


Mendengar kata-katanya diulang, Regard masih belum paham atas maksudnya.


Dia yang bangun dari duduknya, membalikkan punggungnya ke arah sosok hitam berjubah yang tampaknya sedang memperhatikan dirinya yang memandangnya dengan kesal.


"Jadi, beritahu aku tentang maksud dari perkataan kau tadi."


"Baik."


Sosok hitam berjubah itu menjelaskan secara keseluruhan pada Regard tentang tujuan berikutnya yang membuat Regard tidak menyangka bahwa dia harus melalui semua ini secara langsung, yang dia pikir sebelumnya adalah akhir dari segalanya, ternyata merupakan awal yang baru saja dimulai.


"Aku mengerti."


"Aku hanya perlu melakukan itu bukan?"


"Ya."


"Baiklah."


Membelakangi sosok Raja Iblis, dia kembali mendongak ke langit-langit malam yang mulai terlihat cahaya bulan yang muncul dari balik awan.


•••••


"Pagi, Kalian berdua!"


"Pagi."


"Pagi."


Di dalam kamar penginapan, Regard yang sedari tadi duduk di kursi di dekat meja dalam kamarnya, menoleh ke arah mereka, menyapa keduanya dengan senyum ramah di wajahnya yang cerah.


"Bagaimana tidur kalian?"


"Cukup nyenyak."


"Ya. Aku sendiri tidak tahu berapa lama aku tertidur."


Mendengar perkataan Fuuya dan Sasaki, Regard tersenyum kecil pada keduanya yang masih mengusap matanya yang berjalan mendekatinya dengan mulutnya yang masih menguap.


"Kalian pergilah mandi terlebih dahulu."


"Baik."


"Kamu sendiri bagaimana, Regard?"


"Aku sudah selesai melakukannya. Lihatlah!"


Secara keseluruhan, Fuuya memperhatikan penampilan Regard yang sudah terlihat rapih mulai dari; ujung rambutnya yang tersisir rapih yang masih basah, pakaiannya yang sudah terganti oleh t-shirt panjang berwarna putih, celana abu-abu panjang yang dikenakan, serta sepatu kulit berwarna coklat benar-benar terlihat bagus untuk menganggap bahwa dia sudah mandi terlebih dahulu tanpa sepengetahuannya.


"Bagaimana?"


"Ya, aku rasa kamu benar."

__ADS_1


Meskipun Fuuya kecewa tidak bisa mandi bersama Regard, dia memutuskan untuk pergi bersama Sasaki menuju ke pemandian umum wanita agar bisa selesai dengan segera untuk kembali ke dekat Regard.


Sasaki hanya tersenyum melihat ekspresi kekesalan dan kekecewaan dari saingannya, dia diam-diam tertawa pelan tanpa disadari oleh Fuuya tentang dirinya yang ditertawakan dari belakang oleh Sasaki.


__ADS_2