
"Aneh sekali."
Di dalam penginapan khusus para ksatria kerajaan, seorang gadis berambut putih panjang sedang merenung sejenak atas pernyataan yang mereka, para bangsawan berikan pada dirinya selama kejadian yang terjadi seminggu yang lalu yang dibahas dua hari sebelumnya.
Dua hari yang lalu.
"Ini benar-benar rumit."
"Rumit?"
"Ya."
Pria itu menjelaskan pada gadis berambut putih panjang yang sedang kebingungan atas keputusan yang dilakukan oleh para bangsawan bahwa mereka tidak akan menindaklanjuti investigasi pencarian yang dilakukan oleh The Necromancer di Ibukota Finier.
Apakah itu berbahaya atau tidak, mereka tidak akan mau melakukannya sebelum tahu bahwa The Necromancer merupakan ancaman besar bagi mereka dan Ibukota Finier.
"Aku mengerti."
Meskipun terdengar sulit untuk diterima, gadis berambut putih panjang tidak dapat melakukan apapun karena dia tidak punya hak untuk bertindak maupun melakukan tanpa perintah dari mereka.
"Apa yang akan kau lakukan, Ketua Liliana?"
"Aku akan menunggu sebisa mungkin sampai mereka muncul di permukaan di Ibukota Finier bagian tengah."
"Baiklah."
Memegang pundak dari gadis berambut putih panjang, Liliana, pria itu tersenyum dan pergi memasuki ruangan kembali tanpa peduli padanya.
Menyudahi ingatannya, Liliana terdiam.
Menurut Liliana, keputusan yang tepat adalah menunggu hasil dari mereka.
Kenyataan yang ada bukanlah dia diperintahkan untuk menginvestigasi penyelidikan lebih lanjut pada penduduk kota di Ibukota Finier yang kemungkinan ada dari mereka yang melakukan penyamaran sebagai The Necromancer, sebaliknya, mereka tetap menutup mata hingga mereka mengetahui bahwa The Necromancer adalah ancaman besar.
Di sepanjang jalan di Ibukota Finier bagian tengah, seluruh petualang, penduduk kota, serta para pedagang berbaris sejajar dan saling berbicara satu sama lain membuat suasana menjadi ramai dan berisik.
"Kemana kita akan pergi?"
"Kita akan mengetahui dimana bisa mendapatkan misi melalui informasi yang tersedia."
Setelah cukup lama mereka berjalan, mereka memasuki bangunan besar yang tinggi yang bertuliskan "Guild Petualang" yang di dalam aula terdapat banyak sekali para petualang yang sedang mengobrol satu sama lain.
"Mereka ramai sekali ya."
"Ya."
Seorang gadis yang ada di sisi pria berambut putih, Sasaki terlihat sedikit ragu untuk masuk ke dalam aula guild yang tidak biasa dimasukinya.
Meskipun Sasaki dulunya sering masuk ke dalam aula guild dengan tubuhnya yang lama yaitu Demi-human, dirinya ragu jika dia masuk ke aula guild dengan tubuhnya yang baru yaitu Hu-Machina akan menghebohkan setiap petualang yang menyadari keberadaannya yang berbeda dari makhluk manapun.
"Jangan khawatir, Sasaki! Meskipun kamu adalah saingan aku, kamu harus berani dan tahu bahwa aku ada di sisimu."
"Fuuya..."
Dengan bangganya gadis berambut biru tua panjang membusungkan dadanya, tersenyum atas rasa percaya diri yang benar-benar tinggi.
Menurut gadis berambut biru tua panjang, dia akan melakukan apapun pada orang yang sengaja melakukan tindakan kekerasan maupun keburukan yang tidak akan pernah dimaafkan pada saingannya, Sasaki dalam satu tujuan.
"Apakah kita akan baik-baik saja?"
"Ya."
Tidak ada satupun dari orang-orang yang menyadari kehadiran mereka di sekitar petualang lain yang ada di aula umum.
Kebanyakan dari mereka awalnya menatap sekilas pada kehadiran Regard, Reita, Fuuya dan Sasaki, tapi setelah itu mereka mengabaikannya dan kembali ke pembicaraan mereka dalam kelompoknya masing-masing.
"Baiklah. Mari kita lihat."
Di depan mereka berempat terdapat papan yang terdapat beberapa lembar kertas misi yang tertempel. Misi-misi itu sendiri mereka yakini sudah termasuk dalam kategori Black Adventure yang artinya tidak ada satupun misi dari Colorful Adventure maupun White Adventure yang ada di papan yang mereka lihat.
"Bagaimana kalau kita ambil yang ini?"
"Ini?"
"Ya."
Memperhatikan dan merenung sejenak, Regard tidak tahu apakah itu kebetulan atau tidak pada misi yang diambil oleh Reita, adik tirinya dalam menunjukkan misi yang ada di papan tanpa menyobek dan memberikannya padanya.
"Bagaimana kalau kita melakukannya?"
"Ya. Kebetulan karena kita sedang akan bertujuan ke Bukit Erlin, kita juga harus menyelesaikan misi ini bukan?"
Mendengar perkataan dari Fuuya dan Sasaki, Regard mencoba meraba-raba kemungkinan yang ada.
Pertama, Regard ingin melakukan misi sekaligus menyelidiki tentang reruntuhan yang ada di Bukit Erlin. Dengan menyelesaikan misi, dirinya, Reita, dan Fuuya tidak akan dicurigai oleh mereka para Colorful Adventure dalam melakukan misi yang hanya khusus di Black Adventure jadi aman untuk dilakukan.
Kedua, ada kemungkinan Regard akan mengabaikannya dan memilih untuk melakukannya tanpa mengambil misi apapun di Black Adventure. Tingkat persentase yang lebih singkat namun juga berbahaya. Singkat dalam waktu menyelesaikan yang hanya fokus pada reruntuhan, tapi berbahaya jika dia dan kedua gadis yang menjadi Black Adventure akan dicurigai dan diwaspadai oleh petualang dari Colorful Adventure yang akan membuat kehidupan mereka tidak tenang dan damai oleh rumor buruk yang akan menyebar.
Hanya itu kedua pilihan yang dapat Regard simpulkan.
Di satu sisi, dia menyukai untuk memilih pilihan kedua namun sangat berbahaya untuk dilakukan. Di sisi lain, dia ingin berhati-hati dan bermain aman dalam melakukan penjelajahan reruntuhan dengan menyelesaikan misi ringan namun membutuhkan waktu lama agar bisa menuntaskan penjelajahan reruntuhan usai menyelesaikan misi yang diambilnya.
__ADS_1
"Bagaimana?"
"Baiklah. Kita ambil yang ini."
Merobek dan membawa untuk dikonfirmasi ke resepsionis guild, pelayan gadis yang sebagian robot dalam penampilan manusia yang telah diprogram memberitahu mereka bahwa itu tidak sedang dikerjakan oleh siapapun di Black Adventure.
"Terimakasih dan berhati-hatilah!"
"Ya."
"Tentu."
"Sampai nanti."
Meskipun mereka tahu bahwa di depannya adalah ai yang diprogram tampak seperti manusia, mereka tetap melakukan yang terbaik layaknya menyapa manusia pada umumnya.
•••••
Di kedalaman hutan, siluet yang tertutup oleh jubah berwarna coklat terdiam di tempatnya berada dan mendongak ke langit-langit dimana dia melihat ranting dan daun yang menutupi langit-langit di sore hari.
"Cepat atau lambat, kita akan bertemu."
Dengan senyum yang terlihat dibalik tudung jubah, siluet itu melompat ke atas pohon dan menghilang dalam sekejap.
Di luar hutan di bagian utara, Regard yang menggunakan [Black Sword] menebas beberapa monster yang ada di dalam dari area tersebut. Monster-monster itu sendiri memiliki penampilan seperti pohon, ular yang berkamuflase, serta rumput yang mampu bergerak dan memanjang layaknya tentakel.
"Ini benar-benar mudah sekali ya."
Tidak dapat takjub maupun bangga atas apa yang dilakukannya, Regard hanya bisa menguap dan bosan atas tindakan yang biasa dia jalani selama di Black Adventure.
Sebisa mungkin Regard yang melakukannya tidak menggunakan kemampuan dan kekuatan sebanyak mungkin melainkan tekniknya dalam memainkan pedang.
Di dalam hutan bagian barat, seorang gadis berambut biru tua panjang sedang berburu pada monster yang berhasil dibunuhnya. Mulai dari Megret, seekor monster pohon yang berhasil dihancurkan beberapa tubuh kayunya oleh cakar miliknya, Ciel, seekor monster rumput yang dapat bergerak dengan tubuhnya berwarna hitam dibalik rumput hijau berhasil dicabik-cabik berkali-kali olehnya, dan Limy, seekor monster kecil yang memiliki bentuk seperti wortel berjalan berhasil dilenyapkan oleh taringnya.
"Menjijikkan sekali."
Setiap kali gadis berambut biru tua panjang menggigit Limy dengan taringnya, dia selalu meludahkan ke permukaan karena rasanya sangat tidak enak daripada daging yang diburunya selama ini di Gunung Baurme.
Mengendus keberadaan Regard, gadis berambut biru tua panjang, Fuuya dengan senyum yang menyeringai mulai bergerak cepat ke arah dia berada.
Di hutan bagian timur, Shilphonia dan Reita yang menggunakan kemampuan minimum dalam berburu saling kerjasama satu sama lain. Mulai dari Shilphonia yang berperan sebagai pendukung dengan anak panahnya yang berhasil menjatuhkan beberapa Grela, monster sejenis kupu-kupu berwarna hijau transparan yang terbang, dan Reita yang berperan menghabisi musuh seperti Megret yang mencoba mendekati Shilphonia dengan pedang dan teknik yang diberikan oleh Regard terhadapnya.
"Mereka lemah sekali ya."
"Ya."
Terdiam sejenak usai membunuh beberapa Megret, Reita merasa ada sesuatu yang berada di kejauhan yang tampaknya kuat untuk dirasakan.
"Merasakan? Adakah sesuatu di kejauhan?"
"Ya. Ada dua orang yang keberadaannya begitu kuat, dan satunya lagi berada di tempat Friya berada."
"Ada tiga?"
"Ya."
Meskipun Shilphonia tidak mengerti dan merasakannya, dia yakin kalau ketiga orang yang dirasakan oleh Reita bukanlah teman maupun petualang melainkan musuh yang akan mereka hadapi.
Apalagi Shilphonia telah diberitahu oleh Regard tentang keberadaan Fallen Angel Lucifer yang dirasakan sebelumnya ketika dia berhasil membunuh kawanan Wyvern yang menyerang Ibukota Finier bagian utara, Shilphonia yakin ini bukanlah hal mudah untuknya mengingat dia dan Lucifer saling kenal satu sama lain ketika masih berada di Istana Langit dahulu.
Di hutan bagian selatan, Friya yang dengan mudahnya menggunakan kemampuan rendah yaitu [Magic Blade] yang mampu memotong tubuh Megret dan menembakkan beberapa [Ice Crystal] dan [Fire Ball] ke Grela membuat dia tidak terlihat mengeluh melainkan sebaliknya, dia berhati-hati atas kehadiran seseorang yang perlahan-lahan mendekat ke arahnya.
Apakah ini musuh atau...
Meraba-raba sebisa mungkin, keringat sempat mengalir di wajahnya. Rasa cemas dan khawatir menjadi satu dalam hatinya yang dia sendiri tidak tahu apakah dia harus mencobanya atau tidak, dia bingung dalam bertindak.
"Kamu..."
Menyipitkan matanya pada seorang pria yang berdiam tepat dihadapannya, Friya sama sekali tidak menyangka bahwa dia akan bertemu dengan orang yang dikenalnya.
"Apakah kau kemari bersama Arthen?"
"Ya."
Pria yang ada dihadapannya sedari tadi mengitari sekitar hutan dimana di berdiri untuk mencari keberadaan seseorang yang dikenalnya namun dia tidak menemukannya sedikitpun.
Aneh sekali ya.
Pria itu yang terus-menerus mencari keberadaan orang yang dikenalnya tidak tertarik pada Friya yang sedang menajamkan matanya ke dirinya yang curiga atas kehadirannya mendadak di tempat ini.
Apakah dia iblis atau dikendalikan oleh sesuatu?
Meraba-raba kemungkinan yang ada, Friya yang mencengkram tongkat sihirnya bersiap-siap untuk melakukan sesuatu pada pria tersebut.
"Baiklah. Sampai nanti lagi, Furuhiora."
"Tu-tunggu..."
Sebelum dapat menghentikannya, pria itu menghilang dalam sekejap dari tempatnya berada.
•••••
__ADS_1
Regard POV
Bersandar di pohon sejenak, aku duduk sambil berpikir untuk melakukan apa nantinya.
Kembali mengingat atas pembicaraan yang aku lakukan dengan Shilph, dia ingin ikut secara sukarela bersama teman-temannya yang lain jadi aku tidak tega melarang mereka.
Alasan Shilph ikut mungkin ada kaitannya dengan dia yang kenal dengan Fallen Angel yang aku dapatkan ingatan melalui Wyvern yang aku minum darahnya dan menyantap daging saat sedang sendirian.
Reruntuhan ya.
Memori itu kembali teringat atas apa yang sedang kupikirkan selama aku sendirian dulu dalam menjelajahi Reruntuhan Sylvia.
Aku yang berharap memiliki rekan dalam petualangan benar-benar terwujud sekarang. Aku tidak apakah itu bagus atau tidak, tapi setidaknya semuanya menyenangkan dan menyerukan akhir-akhir ini.
Ya ampun.
Kalau diriku yang dulu dan sekarang, aku lebih memilih untuk menikmati waktu yang sekarang tanpa perlu sendirian lagi dalam menjelajahi.
Tapi tetap saja, mereka yang memiliki kehidupan suatu saat akan mati jadi aku harus bisa mengantisipasi atas bal tersebut bisa kembali seperti sekarang. Meskipun ada taruhan di dalamnya, aku sama sekali tidak peduli asalkan mereka bisa kembali hidup dan melakukan hak mereka masing-masing.
"Hmmm..."
Perlahan-lahan suara langkah kaki mendekat dan mendekat.
Siapa?
Dilihat dari jumlah mana yang dimilikinya, dia benar-benar kuat. Begitupun dengan aroma yang berhasil terendus dan didengar, dia adalah orang itu terlihat familiar.
"Regard...."
"Sasaki?"
Apa yang ada di depanku ialah Sasaki yang seharusnya berada di bagian tengah hutan sekarang justru berada di tempatku.
"Cih. Curang sekali kamu, Sasaki. Kamu merebut Regard dari pelukan yang akan kulakukan."
"Hehehe."
Ah... sudah kuduga kalau ini yang akan terjadi.
Seperti biasanya, Fuuya dan Sasaki berkumpul satu sama lain. Setiap ada Sasaki pasti ada Fuuya, begitupun sebaliknya yang membuat aku terbiasa atas pola sehari-hari mereka.
"Kita ketemu lagi ya, Arthen."
"....."
"....."
"Manusia!"
Suara ini... jangan bilang...
Perlahan-lahan suara itu mendekat dan mendekat ke arah kami hingga akhirnya penampilannya dapat terlihat jelas oleh kami bertiga.
"Yo, kita ketemu lagi, Arthen. Bagaimana kabarmu?"
"Apakah dia kenalan kamu?"
"Tidak, aku tidak yakin."
Jika dilihat dari kemunculannya, dia tidak sama seperti Paman Veru yang kukenal.
Aura yang dipancarkan, ketidakhadiran yang tidak dapat dirasakan, didengar dan diendus benar-benar aneh sekali.
Apakah dia dikendalikan oleh kegelapan atau seseorang mengendalikannya dari kejauhan sama seperti Fuzikumibaru?
"Fuuya, Sasaki, aku ingin kalian segera kembali ke Shilph dan yang lainnya agar memberitahukan ini pada mereka bahwa aku akan menyusul."
"Apakah kamu yakin Regard?"
"Ya."
"Jangan bilang kamu akan menghadapinya?"
"Entahlah."
Tampaknya ini akan menjadi sesuatu yang serius.
Entah dia adalah orang yang kukenal atau tidak, selama dia masih mencurigakan, ada kemungkinan aku akan melenyapkan dan menghabisinya tanpa sisa meski dia adalah Paman Veru.
"Baiklah."
"Berhati-hatilah, Tuan!"
"Ya."
Mengeluarkan pedang hitam dari kabut hitam, [Black Sword] di tangan kananku, aku menjulurkan ke arahnya dan bersiap bertarung dengannya.
Dia juga sama. Di tangannya terdapat pedang berwarna keperakan yang ada di pinggangnya sebelumnya dipegang dan diulurkan padaku menandakan dia siap untuk bertarung.
"Mari kita lakukan yang terbaik."
__ADS_1
"Ya."