
Beberapa hari telah berlalu.
Sejak Regard dan yang lainnya memutuskan untuk menetap beberapa hari di kota modern, Kota Resihei, mereka menukarkan sebagian jumlah uang ke mata uang khusus Resihei yaitu Rupe dalam bentuk kartu membuat mereka puas dalam berbelanja dan makan enak di restoran yang mereka inginkan.
Mereka juga tidak lupa untuk melakukan aktivitas di malam hari sebagai The Necromancer yang melindungi Kota Resihei dari para penjahat terhadap korban yang terkena dampak kejahatan mereka.
"Hari ini kita berhasil mendapat pendapatan yang cukup banyak."
"Ya, kamu benar."
Melemparkan kantong berisikan koin berukuran kecil dan menangkapnya, Regard dan Reita yang terkejut melihat sosok yang mereka kenal sedang mengawasi dan berjalan di sekitar sambil memperhatikan para penduduk kota.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Memperhatikan ada yang tidak beres, secara tidak sengaja tatapan Regard dan orang itu bertemu yang menyebabkan dia terkejut lalu bergegas pergi demi menghindar darinya.
"Tunggu sebentar, Arthen!"
"Ada apa? Apakah kau berpikir bahwa aku telah melakukan kejahatan?"
"Tidak, aku tidak berpikir begitu. Aku hanya terkejut saat tahu bahwa kau telah memiliki nama dalam aktivitas malam yang kau lakukan selama ini."
"Ugh..."
Menyadari bahwa menyembunyikan apapun tidak berguna dari hadapan orang ini, Regard memutuskan untuk menjelaskan apapun tanpa perlu dirahasiakannya.
Di depannya, Veru yang mendengar penjelasan dari Regard mengangguk dan paham atas perkataannya.
Menurut Veru, Regard telah berubah menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Dirinya yang awalnya tertutup dan menyendiri sekarang dapat mengatasinya dengan teman-temannya yang membuat dia bahagia atas perubahannya yang menyeluruh dari diri Regard.
"Apakah telah terjadi sesuatu?"
"Ya, baru-baru ini kami mendapat kabar bahwa dia telah berulah."
"Dia?"
Veru yang mengangguk berjalan menepi dan bersembunyi di balik bayang-bayang kota.
"Ikuti aku!"
"Baik."
Mereka berdua mengikuti Veru yang ikut berjalan menyusuri balik gang perkotaan menuju ke restoran. Masuk ke dalam sambil menempatkan kursi dan mengamankan meja, mereka melanjutkan pembicaraannya.
"Dia? Siapa yang kau maksud?"
"Fuzikumibaru."
"Fuzikumibaru?"
"Ya. Pernahkah kau mendengar tentang Marionette Makhluk Hidup?"
"Marionette Makhluk Hidup?"
Terkejut mendengarnya, ingatan Regard kembali ke beberapa hari yang lalu.
Apa yang dilihatnya saat itu jelas bukanlah hal biasa. Dimana makhluk hidup seperti manusia, vampir, dan iblis dikendalikan sepenuhnya layaknya Marionette dengan tali khusus berupa [Special Rope].
"Berdasarkan pengamatan aku, kau pasti melihatnya bukan?"
"Ya. Beberapa hari lalu, kami menjalani misi melindungi mereka di Desa Juria untuk segera pindah ke Kota Resihei."
"Lalu?"
"Segerombolan monster terdiri dari Troll, Witch, Undead dan Golem, mereka berempat berada di tengah-tengah pertempuran. Dan juga, kelima sosok yang telah berhasil aku musnahkan..."
Mengepalkan kedua tangannya di meja, Regard dengan ekspresi kesal telah salah memperkirakannya sebelumnya.
"Mereka adalah Marionette Makhluk Hidup."
"....."
Veru yang mendengarnya tidak bisa berkata apapun, sebaliknya, dia tidak menyangka bahwa Regard akan bertemu secepat itu pada Marionette Makhluk Hidup yang dikendalikan oleh Fuzikumibaru.
"Apakah Fuzikumibaru sangat berbahaya?"
Reita yang sama sekali tidak mengerti pembicaraan antara mereka berdua, menanyakannya karena penasaran atas sosok yang disebut Veru sebagai Fuzikumibaru.
Veru mengangguk, dia kemudian menjelaskannya pada Reita.
__ADS_1
"Dia adalah makhluk mengerikan yang terdiri dari manusia dan boneka. Tak hanya bentuk dan penampilan, Fuzikumibaru juga ahli dalam membuat perangkap yang menyebabkan orang-orang yang terkena perangkap akan berubah menjadi Marionette Makhluk Hidup."
"....."
Dengan kata lain, membiarkannya hidup adalah kesempatan yang bagus buat Regard bertemu kembali.
Regard yang tahu atas takdir tak terduga seperti sekarang, tersenyum penuh percaya diri. Dirinya yakin ini adalah kesempatan yang tepat untuknya membasmi kejahatan apapun tanpa merasakan efek pada dirinya sendiri.
Apalagi Fuzikumibaru adalah kemampuan yang dirasanya dapat digunakan dalam pertempuran, Regard jadi sedikit tertarik untuk membunuhnya dengan cepat dan mudah tanpa hambatan sedikitpun.
"Jadi, dimana Fuzikumibaru berada?"
"Ini..."
Menunjukkan selembar kertas yang disobek oleh Veru di atas meja, mereka berdua melihatnya.
Di kertas tersebut terdapat tulisan Death Forest yang letaknya tidak jauh dari Kota Resihei. Meskipun tidak jauh dari kota, Regard berpikir kalau pergi ke tempat itu tanpa persiapan apapun akan menyulitkan diri mereka masing-masing jadi dia memiliki satu ide.
"Maukah kau aku temani?"
Tersenyum pada dirinya sendiri, tawaran yang diberikan Regard sangat menggiurkan Veru.
Di satu sisi, Veru sengaja menjelaskannya agar dia ikut bersamanya. Tapi, dia sendiri tidak yakin atas kemampuan teman-temannya sekarang yang dapat mengakibatkan diri mereka dikendalikan oleh Fuzikumibaru dengan mudah.
Itulah sisi buruk yang Veru takutkan.
"Apakah kau yakin ingin menemani kami?"
"Ya. Tapi sebelum itu, aku ingin berbicara dengan mereka terlebih dahulu."
"Berbicara?"
"Ya."
Menurut Regard, bahaya akan langsung ditemuinya begitu masuk Death Forest. Bukan untuk dirinya sendiri, tapi teman-temannya yang telah dia percayai akan terkena dampaknya bagi Fuzikumibaru.
Tak hanya mereka akan berubah menjadi Marionette Makhluk Hidup, mereka juga akan menghabisi dan memusnahkan musuhnya tanpa ampun layaknya boneka tak berperasaan.
Itulah yang ditakutkan oleh Regard.
Dia tampaknya memahami situasinya ya.
Memperhatikan ekspresinya yang terlihat cemas dan khawatir, Veru yakin Regard dapat memikirkannya dengan mudah rencana untuk menyingkirkan musuhnya.
•••••
"Reita, bisakah kau sampaikan pada mereka tentang pembicaraan tadi?"
"Baiklah. Kamu sendiri mau apa, Kak Regard?"
"Aku akan mencari cara agar kalian tidak dapat dikendalikan."
"Baik. Aku harap kita dapat segera pergi usai kamu menemukan caranya."
"Ya, serahkan padaku."
Meninggalkan aku sendirian, aku memasuki gang kecil untuk berpikir kembali bagaimana cara agar bisa mengalahkan Fuzikumibaru.
Pion yang dimilikinya sebelumnya, mereka sangat kuat dan hebat jadi sulit bagiku dalam menghadapinya. Ditambah lagi dengan dia yang mampu membuat jebakan untuk makhluk hidup agar menjadi Marionette Makhluk Hidup miliknya.
Cih. Ini benar-benar akan menjadi pertarungan yang sulit untuk dilakukan.
Jika aku sendiri yang ditugaskan, aku mampu membasmi mereka kapanpun yang aku inginkan selama aku memiliki kemampuan sebagai seorang Necromancer.
Tapi, ini menyangkut tentang teman-temanku.
Jika mereka dikendalikan dan berubah menjadi Marionette Makhluk Hidup, mereka pasti akan memusnahkan dan membasmi siapapun yang menghalangi jalan Fuzikumibaru.
Ya, aku yakin itulah yang terjadi.
Apakah ada cara dalam menghadapinya?
Sembari keluar dari gang kecil, aku berjalan di pinggir kota, aku terus-menerus melihat ke arah toko-toko yang dilewati.
Kebanyakan toko yang terlewati adalah toko yang dihuni oleh robot-robot pekerja yang memiliki kecerdasan layaknya seorang manusia dan tampilan yang sama seperti manusia. Tak hanya sama, mereka juga dapat diandalkan yang membuat Kota Resihei dipenuhi oleh banyak sekali robot di dalamnya.
Robot ya.
Itu dia.
__ADS_1
Sepertinya ini akan menjadi menarik jika aku terapkan sihir dan kemampuan baru dalam mengantisipasi jebakan yang disiapkan Fuzikumibaru.
•••••
Di jalan setapak menuju Death Forest, pasukan ksatria dan sekelompok petualang yang berasal dari The Necromancer berjalan di tempatnya masing-masing.
Dimulai dari pasukan ksatria yang memimpin jalan, kelompok The Necromancer mengikutinya di barisan paling belakang.
"Apakah mereka dapat diandalkan?"
"Ya, aku yakin kita dapat mengatasinya dengan mudah."
"Aku harap begitu."
Bagi kebanyakan ksatria, mengandalkan petualang yang meragukan adalah kesalahan terbesar mereka. Namun karena Veru yang mengatakannya pada mereka, mereka tidak dapat membantah maupun menolaknya, sebaliknya, selama Veru yang mengatakannya baik-baik saja, mereka yakin mereka dapat memenangkan pertarungan dengan mudah.
"Apakah cara ini akan berhasil?"
"Ya. Jangan khawatir, kita akan tahu setelah berhasil masuk ke dalam perangkapnya."
"Kamu benar-benar menyiapkannya dengan matang ya."
"Tentu. Aku tidak mau temanku menjadi pengikutnya."
"....."
Mendengar perkataan jujur dari Regard mengenai hubungan pertemanan, Friya dan Reita mengalihkan pandangannya dari Regard. Wajah mereka yang memerah menyebabkan mereka malu atas kata-katanya tadi.
Itu sebabnya mereka terkejut mendengarnya karena mereka telah dipercaya dan dilindungi sejauh ini berkat bantuan Regard.
"Semuanya, berhenti!"
"....."
"Apakah kalian merasakannya?"
"Ya, aku merasakannya."
"Aku juga."
Sebelum dapat memasuki area Death Forest, pasukan ksatria kerajaan dan The Necromancer merasakan ada sesuatu yang tidak biasa seperti ada yang mengintai dari balik pohon yang ada di kedalaman, pandangan mereka sepenuhnya waspada atas hal-hal tak terduga yang akan terjadi pada mereka.
"Lanjutkan perjalanan dan berhati-hatilah!"
"Baik."
Veru yang sedari tadi merasakan aura yang dipancarkan sangat berbeda dari biasanya, menelan ludahnya karena dia tidak menyangka bahwa pasukannya dan The Necromancer akan disambut secara terbuka oleh lawan mereka.
Berbeda dengan Veru, Friya yang merasakan ada yang tidak beres dalam jumlah mana yang dapat dirasakannya merasa kalau musuhnya tidak hanya ada di sekitarnya, tapi juga ada di jarak yang jauh dari mereka dengan mana dalam jumlah yang banyak.
Sedangkan Reita, dia mampu mengetahuinya berdasarkan pijakan tanah yang dirasakannya. Ada sekitar lima puluh ekor monster bersembunyi di balik pohon, dan ada juga kelima sosok yang disertai dengan satu sosok yang menunggu kehadiran mereka.
Ini benar-benar menyenangkan.
Layaknya sebuah mainan, Regard tidak sabar untuk memainkan permainannya dengan mudah tanpa ada celah dimana dia harus mengalahkan mereka satu-persatu.
Apalagi dengan banyaknya pasukan yang dibawa oleh Veru, Regard ragu jika dia mengeluarkan seluruh potensinya sebagai seorang Necromancer, dia akan dianggap sesat oleh seluruh manusia yang ada yang pernah ditemuinya.
Dia sebisa mungkin memainkan perannya sendiri kali ini.
Itulah mengapa Regard tidak takut atas bahaya apapun, sebaliknya, dia dengan penuh percaya diri yakin bahwa ini akan menjadi kemenangan mutlak untuknya.
"Ini...."
Satu-persatu monster yang muncul dari balik pohon memiliki kawanan mereka sendiri.
Bentuk monster tersebut mirip seperti Tyrannosaurus yang disebut sebagai Tyrant bersiap untuk mengepung dan memangsa mereka bersama kawanan yang mereka bawa.
"Semuanya, tetap tenang dan mari hadapi bersama-sama!"
"Ba-baik."
Menyiapkan perisai, para pasukan ksatria yang memegang tombak bersiap-siap untuk melakukan perlawanan. Berbeda dengan pasukan ksatria yang berada di barisan depan, di barisan tengah terdapat pasukan ksatria yang membawa pedang membuat mereka siap untuk menerjang langsung ke arah musuh.
"Friya!"
"Ya, serahkan padaku!"
Merapalkan mantra sihir, Friya mengarahkan tongkat sihirnya ke arah para ksatria yang berada di barisan depan.
__ADS_1
Tubuh ksatria perlahan-lahan bersinar terang berwarna keemasan. Diikuti dengan perisai yang muncul di sekitar tubuh mereka, mereka dengan bangga yakin akan dapat membalikkan situasi yang terpojok sekarang.
Shilphonia yang mengeluarkan busur dan anak panah bersiap untuk membidik segerombolan Tyrant yang akan menyerang mereka. Begitu juga dengan Reita, dia dengan pedang yang sebelumnya Regard berikan bersiap untuk melakukan kemampuan pedangnya yang diberi sedikit pengetahuan oleh Regard melalui ingatannya.