
"Baiklah. Aku akan mengajaknya berkeliling. Apakah kau mau melakukannya setelah sarapan pagi?"
"Ya."
"Baguslah."
Lebih baik jika aku membiarkan mereka bertiga berada di kamar tanpa aku ganggu.
Aku sendiri akan pergi ke kamarku, membaca buku lalu mulai menganalisa berbagai kemampuan sihir yang berhasil didapat sebelumnya dari Furuhiora.
"Tunggu!"
"....."
"Ada apa, Reita?"
"Apakah ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan dengannya?"
"I-itu... a-aku..."
Dia benar-benar aneh sekali ya.
Aku pikir dia mencegah aku keluar karena dia ingin berbicara denganku, tapi saat melihatnya ragu dan bingung, aku bisa yakin dia tidak mau membicarakan ini terhadap siapapun.
"Ikutlah denganku ke kamar, Reita!"
"Baik."
Dengan ekspresinya yang senang, dia mengikuti aku dari belakang.
"Aku harap kamu tidak berbuat aneh terhadapnya, Regard."
"Ya. Jika ada laporan dari Reita bahwa kamu berbuat aneh, aku dan Shilph akan menghukum kamu."
"Ya, aku paham. Baiklah. Sampai nanti."
Lebih baik menyetujui perkataan mereka daripada tidak sama sekali.
Lagian mana mungkin aku mau melakukan tindakan aneh terhadap seorang gadis biasa yang lugu dan ceria, aku tidak akan terbawa nafsu seperti Paman Veru.
Daripada aku melakukannya, aku memilih untuk membaca buku hingga sarapan pagi tiba untuk kami makan lalu pergi untuk mengajaknya berkeliling, hanya itu rencana yang telah aku tetapkan sebelumnya.
"Silahkan duduk!"
Memberikan kursi padanya, dia duduk di kursi meja belajar sambil melihat ke arahku.
Aku mengabaikannya dan memilih untuk membaca buku yang telah dibeli di perpustakaan dalam diam.
"Hei Regard, apakah kamu selalu menghabiskan waktu dengan membaca buku?"
"Ya, begitulah. Aku melakukannya karena aku ingin menghindari hal-hal tertentu dari hadapan publik."
"Apakah itu ada kaitannya dengan kemampuan dan kekuatan yang kamu miliki?"
"Tepat sekali."
"Begitu rupanya ya."
Aku masih tidak melihat ke arahnya jadi aku bisa pastikan bahwa nadaku terdengar sedikit acuh padanya yang membuat dia merasa tidak akan menanyakan apapun tentangku lagi.
Itu bagus di satu sisi, namun di sisi lain aku tidak yakin apakah dia benar-benar berguna untuk kami atau tidak.
"Bolehkah aku tanya sesuatu padamu, Reita?"
"Ya."
"Mengapa kau tidak kembali ke Kota Asfa?"
"I-itu... aku tidak bisa kembali karena aku sudah tidak memiliki siapapun lagi di dekatku."
Tidak ada siapapun lagi di dekatnya ya.
Itu wajar.
Setelah merasakan penderitaan yang menyakitkan, orang seperti dirinya pasti merasa percuma jika dia tinggal di tempat yang sama seperti yang dilakukannya sebelumnya.
Tak hanya dia akan ingat atas kenangan bersama keluarganya, dia juga akan mengalami emosi yang bergejolak di dalam hatinya.
Yah, dia sama sepertiku jadi aku mulai memahaminya perlahan-lahan.
Entah apakah ini kebetulan atau tidak, aku ingin sebisa mungkin mengetahui jawabannya langsung melalui mulutnya sendiri.
Aku pastikan dia menjelaskannya padaku tanpa ada satupun yang terlewati.
Aku berjanji akan membuat dia mengakui semuanya.
Selama beberapa menit kami diam dalam pikiran masing-masing, sarapan pagi tiba di kamar.
Salah satu pelayan di penginapan memberikan kami menu sederhana untuk kami makan di pagi hari. Bisa dikatakan makanannya tidak terlalu berat melainkan ringan yaitu roti kering yang ditaburi keju diatasnya, disertai dengan teh hangat yang ada di cangkir, keduanya adalah sarapan pagi terbaik yang biasa aku makan setiap harinya.
Sedangkan Reita, aku memberikan dia menu makanan yang berat, mulai dari; ayam panggang berukuran besar, sayur-sayuran, daging sapi bakar, serta beberapa makanan pencuci mulut lainnya seperti kue dan jelly dapat dilihat olehku.
Minumannya sendiri terdapat dua jenis yaitu susu dan air putih yang keduanya berada di gelasnya masing-masing di atas mejanya.
"Apakah ini tidak berlebihan?"
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Kau sudah tidak sadarkan diri selama beberapa saat yang lalu jadi wajar jika kau membutuhkan energi yang besar untuk melakukan aktivitas di pagi hari."
"Itu benar. Tapi..."
Ekspresinya yang ragu membuatku merasa percuma bahwa dia masih tidak mau menyantapnya.
Alasan aku memesan makanan mewah dan enak hanya untuknya adalah aku ingin dia santai dan menikmati apapun yang dimakannya tanpa perlu memikirkan balas budi terhadapku.
Yah, bisa dikatakan dia hampir sama sepertiku dulu.
Hari dimana aku telah kehilangan segalanya, aku dibawa oleh Paman Veru untuk tinggal di Kota Farihiora. Di Farihiora, aku mendapatkan perlakuan khusus darinya mulai dari perhatian dan kasih sayang dia berikan terhadapku.
Dia bahkan sengaja memberi aku makanan dan minuman yang enak dan lezat, serta mengajarkan aku teknik pedang yang dikuasainya untuk tidak mengandalkan kemampuan Necromancer yang ada di dalam tubuhku.
"Makanlah! Aku tidak ingin kau terlihat sakit."
"Baiklah."
Dengan ekspresi pasrah dan helaan nafas yang dapat terdengar, dia menyantap makanannya.
Tidak hanya Reita, Shilph memiliki menu yang terbilang enak dan nikmat yaitu sepasang daging sapi bakar dengan kecap dan saos, disertai dengan minuman jus jeruk terasa menyegarkan, sedangkan Furuhiora memiliki menu yang sederhana yaitu sayur-sayuran yang masih segar, serta sop jernih tanpa daging di dalamnya, ditambah dengan air putih di gelas membuatnya sangat sederhana untuk dinikmati.
Alasan mengapa Furuhiora meminta aku untuk tidak memesan makanan mewah dan mahal ialah dia ingin menghindari lemak yang berlebihan di tubuhnya nanti. Dengan mengurangi lemak di makanan dan minumannya, Furuhiora mengatakan dia dapat bergerak bebas dan cepat seperti biasanya tanpa kendala apapun.
Yah, aku paham atas tubuh gemuk yang akan membuat siapapun membenci dirinya atas halangan yang menantinya. Tapi, aku tidak tahu apakah diet bagi elf itu wajar atau tidak, aku hanya berharap kalau dia sesekali dapat menikmati makanan yang sama seperti manusia pada umumnya.
•••••
"Wah... indah sekali."
Di tengah keramaian kota, Reita yang terlihat bahagia atas struktur bangunan kota yang berada di abad modern membuatnya berdebar-debar.
Berbeda dengan Kota Asfa yang masih belum terlihat modern seperti sekarang, Reita hanya bisa terkagum pada keindahan dan kecantikan kota yang ada di Farihiora.
"Bagaimana menurutmu?"
"Indah sekali."
Tersenyum pada jawabannya, Regard melanjutkan perjalanannya.
Kali ini dia akan membawa Reita ke tempat dimana pemandangan dapat dilihat dari ketinggian sebagai ganti dimana dia pernah memperlihatkan ini pada Shilphonia dan Friya, Regard akan melakukannya terhadap Reita agar dia tidak pilih kasih dalam memberi perlakuan khusus pada mereka.
"Kita telah sampai."
"Ini...."
Membentangkan tangannya, Reita memutar tubuhnya. Ekspresinya yang penuh kebahagiaan dan senang dapat dilihat oleh Regard yang membuatnya lega bahwa kondisinya sudah membaik.
Awalnya Regard berpikir meminum darah makhluk hidup dapat menyebabkan efek pada orang tersebut, tapi tampaknya perkiraannya salah.
Reita yang telah diambil sedikit darahnya tidak mengalami apapun, yang artinya dia masih perlu belajar banyak hal di perjalanannya nanti untuk tahu sejauh mana kemampuan dalam [Blood Drain] miliknya dapat bekerja terhadap makhluk hidup lainnya.
Regard tidak sabar untuk mencoba dan melakukannya di lain hari.
Untuk saat ini, satu-satunya tujuan ialah membiarkan Reita menikmati waktu istirahatnya untuk menenangkan dirinya dari kehidupan masa lalunya yang suram.
Hanya itu yang bisa Regard lakukan.
Selama beberapa menit mereka menghabiskan waktu menikmati pemandangan alam di sekitar Kota Farihiora, mereka melanjutkan perjalanan ke Guild Petualang.
Regard yang memimpin jalan, dibelakangnya terdapat Reita yang mengikutinya.
Kakak...
Melihat punggungnya dari belakang, Reita menggelengkan kepalanya untuk menepis bayang-bayang sosok kakaknya yang pergi memunggunginya.
Bagi Reita, punggung yang dimiliki oleh Regard hampir sama seperti kakaknya, Daffa yang tegap dan lurus. Tak hanya itu, caranya dalam berjalan dan berbicara beberapa hal sebelum mereka melanjutkan perjalanan membuat Reita berpikir dia sama seperti kakaknya.
Reita mengingat kembali perkataan yang disampaikan oleh Regard sebelumnya.
"Kita akan pergi ke Guild Petualang. Tapi sebelum kita pergi, aku ingin kau berjanji satu hal padaku."
"Berjanji?"
"Ya. Tolong rahasiakan tentang masa lalu dan kekuatan yang kumiliki sekarang dari hadapan umum."
"Kenapa harus dirahasiakan? Bukankah kamu itu kuat?"
Mengepalkan kedua tangannya, Reita tidak bisa menerimanya.
Menurutnya, Regard sangat kuat dan hebat yang mampu diakui oleh siapapun. Terbukti jelas dari perkataan Shilphonia dan Friya yang memberitahu dia diselamatkan oleh Regard dari amukan yang tiada hentinya membuat dia merasa percuma untuk menyembunyikan kemampuan yang dimiliki oleh Regard.
"Aku tidak mau terlihat mencolok, dan aku hanya seorang petualang pemula jadi mereka berpikir kalau aku adalah orang yang lemah. Itulah mengapa aku ingin kau berjanji untuk mengikuti perkataan aku."
Menatap tajam dengan ekspresi serius pada Reita, Regard yakin ini bisa mempertegas dirinya bahwa dia tidak main-main dalam perkataannya.
Reita yang mengetahui ekspresi serius dan tatapannya mengalihkan pandangannya, dan mengangguk sebagai jawaban ya jadi Regard tidak melanjutkan tatapannya karena dia akan celaka jika sesuatu terjadi padanya ketika mereka kembali ke penginapan.
Hanya itu yang bisa Reita ingat.
"Ini dia tempatnya."
"Besar sekali."
"Ya. Dikarenakan mereka memiliki empat lantai di Guild Petualang jadi wajar jika tempat ini besar dan tinggi."
__ADS_1
Memasuki pintu masuk Aula Guild Petualang, seluruh petualang yang tadinya sedang berbicara satu sama lain, bersorak penuh kesenangan, bercanda tawa, serta curhat terhenti sesaat melihat ke arah Regard yang bersama dengan seorang wanita di belakangnya.
"Kenapa dia sering membawa wanita ya?"
"Apakah dia tidak tahu malu?"
"Orang lemah seperti dirinya seharusnya tidak membawa banyak gadis kemari."
Beberapa bisikan yang terdengar di setiap tempat mencapai telinga mereka berdua membuat Reita ingin bertindak untuk mencegah omongan buruk mengenai Regard keluar. Tapi sebelum Reita melakukannya, tangan Regard menghentikannya yang membuat dia menuruti perkataannya lalu terdiam.
"Mari lanjut ke Resepsionis Guild."
"Baik."
Tidak dapat melakukan apapun pada pembicaraan buruk mereka terhadap Regard, Reita hanya kesal dan marah atas ketidakberdayaannya dalam mengatasi emosinya sendiri.
Melihat sekilas ke arah Regard, Reita sekali lagi melihat sosok kakaknya yang ada pada diri Regard. Kebaikan, kerendahan hati, mudah bersosialisasi, serta sopan santun yang dilakukannya benar-benar sama persis dengan apa yang kakaknya lakukan sewaktu masih hidup.
Kenapa aku harus mengingatnya lagi?
Setiap kali Reita mengingat itu di pikirannya, dia menggigit bibirnya, kesal atas ingatan yang tidak dapat dilupakannya.
•••••
Reita POV
Hari itu...
Hari dimana Ayah telah tiada.
"....."
Sejak meninggalnya Ayah, Ibu selalu sedih atas kematiannya. Aku dan Kak Daffa juga sama, kami berdua sedih atas kepergiannya.
Ayah telah tiada di medan perang. Dia berjuang sebagai umat manusia dalam pertempurannya melawan pasukan iblis yang berada di wilayah terdekat dari desa kami.
Selama setahun lebih, aku sudah tidak merasakan apapun tentang perhatian dan kasih sayang yang dimiliki oleh orang-orang yang masih memiliki ayah mereka.
"Aku harap kau tidak iri terhadap mereka ya, Reita."
Di sisiku, Kak Daffa selalu menyemangati dan mendukung aku jadi aku tidak iri terhadap mereka yang masih memiliki seorang ayah di dalam keluarganya.
Selain Kak Daffa, aku juga masih memiliki seorang Ibu jadi aku tidak akan sendirian.
Sayangnya semua itu tidak berlangsung lama.
Sekitar beberapa bulan, pasukan iblis tiba di desa kami. Kebanyakan dari para penduduk tewas oleh keganasan dan kekejian yang dilakukan oleh iblis terhadap manusia.
"Cepat kita pergi dari sini, Reita, Daffa!"
"Ya."
"Baik."
Kami bertiga berlari melewati pemukiman penduduk yang telah terbakar dan hancur oleh kekejaman mereka.
Sebelum kami sempat mencapai pintu gerbang keluar desa, Ibuku tersandung dan terjatuh menyebabkan kami terhenti sejenak untuk membantunya berdiri.
Tapi....
Hal tak terduga terjadi dihadapan kami.
Ayah kami yang kami pikir telah tiada berubah menjadi iblis. Tubuhnya yang berubah menghitam, sepasang tanduk di kepala dan ekor yang ada di belakangnya, serta tubuhnya yang kekar dan berotot membuat kami ketakutan.
"Manusia... manusia..."
Dengan senjata kapak besar, Ayah mendekati Ibu yang terlihat ketakutan.
Aku tidak dapat melakukan apapun, begitupun Kak Daffa karena kami berdua tidak memiliki apapun untuk bisa melawan makhluk yang telah menjadi keluarga kita sebelumnya, seorang ayah kami.
"Manusia..."
Tepat di saat kapak itu terangkat tinggi di atas kepalanya, sosok itu hendak menebas Ibu.
Aku tidak tahu apakah kami akan berakhir di tempat ini atau tidak, aku harap seseorang menolong kami. Jadi, aku terus-menerus berharap dalam batin atas orang yang mau membantu kami di situasi mendesak seperti sekarang.
Begitu harapanku terwujud, kepala dari sosok yang menyerupai Ayah terjatuh ke permukaan tanah. Darah yang menyembur keluar dari lehernya, serta wajahnya yang terlihat terkejut benar-benar membuat kami tidak tahan untuk melihatnya.
"Apakah kalian baik-baik saja?"
"Ya. Terimakasih atas bantuannya, Tuan Ksatria."
"Tidak masalah. Itu sudah menjadi tugas—"
Tepat disaat kata-katanya terhenti, kami bertiga dikejutkan dengan lubang yang berlumuran darah di bagian jantung dari Paman Ksatria yang menyelamatkan kami.
Tubuh paman itu tumbang lalu tiada dalam sekejap.
"Benar-benar menyedihkan sekali ya."
Dihadapan kami, seorang wanita dengan gaun hitam yang terlihat anggun dan cantik, serta sabit yang dipegangnya benar-benar terlihat menakutkan, berjalan mendekati Ibu.
"Daffa, Reita, aku ingin kalian segera pergi dari sini jadi kalian bisa hidup bahagia diluar sa—"
Tebasan mengenai tubuh Ibu yang menyebabkan dirinya terbelah menjadi dua. Darah mengalir keluar dari bekas tebasan tersebut yang menyebabkan genangan darah terlihat oleh kami berdua.
__ADS_1
Aku dan Kak Daffa, kami berdua dengan ekspresi sedih, berteriak sambil berlari ketakutan.
Sejak saat itulah, aku kehilangan kasih sayang dan perhatian dari seorang ibu.