
"Shilph, Friya, aku ingin kalian memesan penginapan terlebih dahulu untuk malam ini."
"Berapa kamar yang harus kami pesan?"
"Tiga kamar sudah cukup."
Dikarenakan Fuuya dan Sasaki tidak mungkin tertidur bersama mereka, aku terpaksa harus menjalani hari-hari yang sama; tidur bertiga bersama mereka, membiarkan mereka memelukku, dan menyerahkan urusan malam tanpa perlu beraktivitas adalah kegiatan yang harus dijalani.
"Baiklah. Kami akan pergi untuk memesannya."
"Ya."
Melambaikan tangan pada mereka, kami pergi ke Guild Petualang untuk mengkonfirmasi bahwa kedatangan kami untuk memastikan surat misi yang diselenggarakan dari Kota Lien mengenai grup The Necromancer.
Entah siapa yang mengirimkan surat seperti ini ke Kota Resihei, aku yakin orang itu adalah berasal dari penduduk di Kota Lien.
"Permisi, bolehkah kami mengkonfirmasi sesuatu padamu?"
"Ya."
Seorang gadis berambut hitam pendek yang mengenakan seragam resepsi guild menyudahi layanannya ke pria dan berjalan menuju kami.
"Apakah ada yang bisa saya bantu, Tuan?"
"Ya."
Menyodorkan kertas misi yang kami ambil sebelumnya ke gadis yang ada di meja resepsionis, gadis itu melihatnya dan terdiam sejenak.
"Bolehkah saya tahu siapa yang meletakkan surat ini?"
"Aku tidak tahu karena itu ada di Guild Petualang Kota Resihei."
"Baiklah."
Setelah ekspresinya yang cemas berubah kembali tenang, aku yakin dia sedang memikirkan dan merasakan sesuatu yang sulit untuk dipahami.
"Ini adalah surat ilegal jadi aku tidak menyarankan kalian untuk menelusurinya lebih lanjut."
"Aku mengerti."
Gadis berambut hitam yang merobek kertas yang telah aku berikan membiarkan potongan-potongan terjatuh ke lantai tanpa perlu dibersihkan olehnya.
Aku tahu karena aku memperhatikannya.
Entah siapa yang benar-benar meletakkan itu di Kota Resihei, aku yakin itu aneh untuk diketahui oleh orang seperti kami. Misalnya seperti; apakah ada orang lain dari petualang Black Adventure maupun Colorful Adventure yang tahu misi ini, mereka sama sekali tidak mau mengambilnya dan memilih untuk mengambil misi lain.
Huh...
"Terimakasih atas informasinya."
"Ya."
Kembali ke mereka, Reita, Fuuya, dan Sasaki yang memperhatikan wajahku terlihat khawatir atas pembicaraan yang mereka dengar sebelumnya dari percakapan kami.
"Bukankah itu keterlaluan?"
"Ya. Terlepas dari surat misi itu ilegal, setidaknya mereka tetap membiarkan kami untuk mencari tahunya sendiri."
"Tidak perlu."
Jika kita melakukannya dengan sukarela dan mengumumkan ini pada orang-orang, mereka berpikir kami hanya sekelompok petualang idiot yang berusaha untuk bertingkah layaknya pahlawan namun berakhir sebagai badut dalam pertunjukan bagi mereka.
"Kita hanya perlu melihatnya."
"Melihatnya?"
"Ya."
Menyaksikan apa yang terjadi lebih dulu adalah tindakan yang tepat.
Seandainya kita langsung bertindak untuk mencari tahu, kita akan dicurigai sebagai dalang yang beraksi di malam hari. Apalagi nama grup yang telah dibuat olehku ialah The Necromancer, aku yakin mereka pasti akan membenci kami nantinya.
"Apakah kalian petualang baru?"
"Ya."
"Bisakah kita berbicara sejenak di sana?"
Pria bertubuh gemuk dengan senyum mesem yang terlihat jelas di bibirnya menunjukkan kursi yang ditempati oleh beberapa rekan mereka yang sedang melambaikan tangan pada kami.
Apa yang diinginkannya? Mungkinkah dia ingin memiliki mereka? Tidak, aku tidak boleh menebaknya berdasarkan wajah dan sikap mereka.
__ADS_1
"Apa yang ingin kalian bicarakan pada kami?"
"Ya. Adakah hal mendesak mengenai suatu hal?"
"Itu benar."
Setelah kami tiba di kursi kelompok milik pria gemuk, dia duduk di kursi sedangkan rekan-rekannya bangun dari kursi dan mulai mendekati kami.
"Maaf jika teman kami kurang sopan, hanya saja kami meminta kalian kemari untuk memberikan informasi."
"Informasi?"
"Ya. Di malam hari, orang-orang menghilang dari kota. Pedagang, penduduk, dan ksatria kerajaan terkadang menghilang dengan noda darah yang mengering di pagi hingga siang hari."
Sepertinya ini akan jadi ancaman besar bagi Kota Lien untuk menghadapi masalah ini.
Terlepas dari siapa yang sengaja menggunakan nama The Necromancer, aku yakin tujuan mereka ialah mengundang kami untuk datang agar kami terjebak dalam mainannya.
Benar-benar rencana yang mudah ditebak.
"Apakah ada lagi?"
"Berdasarkan informasi yang diberitahukan oleh ksatria kerajaan pada kami, mereka ingin kami untuk tidak keluar di malam hari, terutama tengah malam karena itu dapat membahayakan nyawa kami."
Ini rumit sekali ya.
Pertama, ada The Necromancer yang berkeliaran sama seperti kami di tengah malam saat orang-orang terlelap dalam tidurnya. Kedua, tujuan dan maksud mereka dalam membunuh orang-orang tidak bersalah masih menjadi pertanyaan. Ketiga, mereka yang menculik dan melenyapkan keberadaan orang benar-benar sulit untuk diketahui apa keinginan mereka dalam melakukannya.
Cih.
"Regard..."
"Jangan khawatir, aku tidak apa-apa."
Tampaknya Fuuya yang tidak mempedulikan mereka tetap memperhatikan aku yang mengklik lidahku dengan pelan tadi.
"Apakah hanya itu?"
"Ya."
"Itu yang bisa kami berikan pada kalian."
"Tuan-tuan, jika kalian berkenan untuk membiarkan aku memberikan rasa terimakasih, aku ingin memberikan ini pada kalian."
"Tu-tunggu, Regard! Itukan..."
"Jangan bilang kalau kamu..."
Reita dan Sasaki yang tahu bahwa aku mengeluarkan sekantong koin dari saku seragamku, mereka berpikir aku melakukannya karena aku sukarela memberikan ini pada mereka.
Nyatanya tidak semudah itu, mereka yang sengaja memberikan informasi ini menginginkan untuk mendapatkan imbalan seperti uang dari kami karena aku tahu melalui wajah mereka, wajah yang terlihat tersenyum lebar dan kedua telapak tangan yang menggosok-gosok menandakan bahwa mereka mengharapkannya.
Apa yang akan terjadi jika aku tidak memberikannya pada mereka? Tentu saja mereka akan memberikan aku pelajaran.
"Ini dia, Tuan-tuan."
"Terimakasih banyak!"
"Aku benar-benar bersyukur pada kebaikan yang kau berikan pada kami."
"Ya, aku juga sama."
Lebih baik membiarkan situasi ini menjadi biasa daripada mencari keributan di kota baru yang kami singgahi.
"Mari kita pergi."
"Ya."
"Tentu."
•••••
"Shilph, maukah kamu yang memesan kamar penginapan?"
"Kamu mau kemana, Friya?"
"Aku baru ingat ada sesuatu yang ingin aku beli terlebih dahulu."
Di tengah perjalanan dalam mencari penginapan, Shilphonia yang memperhatikan punggung Friya yang perlahan-lahan menjauh, menghela nafas panjang atas sosoknya yang menghilang di kejauhan.
Menurut Shilphonia, sikap Friya terlihat aneh saat dia tiba-tiba ingin pergi untuk menghindari dirinya berduaan bersama Shilphonia. Entah apakah karena dia pernah meniduri Regard sebelumnya atau tidak, Shilphonia yakin dia pasti masih terlihat ragu padanya.
__ADS_1
Apakah dia ada keperluan?
Setahu Shilphonia, Friya telah membeli beberapa kebutuhan seperti pakaian, bahan-bahan makanan yang diawetkan menggunakan es untuk dibekukan, serta beberapa alat memasak juga Friya beli sebelumnya di Kota Resihei.
Tapi kali ini benar-benar terlihat aneh, Friya tidak menunjukkan apapun yang benar-benar membutuhkan sesuatu, tapi ada makna dibalik tindakannya yang tidak Shilphonia ketahui apa itu.
Setelah lama berjalan, Friya tiba di ruang bawah tanah, ruangan terbuka yang dahulunya digunakan sebagai saluran pembuangan air yang sekarang sudah tidak terpakai, terlihat jelas dari air-air yang sudah tiada yang mengering dalam waktu beberapa bulan lalu menandakan bahwa saluran air ini sudah tidak digunakan oleh Kota Lien.
"Apakah kalian ada disini?"
"Ya."
Satu-persatu elf mulai keluar dari beberapa tenda yang mereka pasang sebelumnya, mengerumuni Friya dengan ekspresi lega bahwa itu adalah ras yang sama seperti mereka, ras Elf.
"Gimana kabar kalian?"
"Kami baik-baik saja. Kau sendiri bagaimana, Nona?"
"Aku juga baik-baik saja."
"Apakah orang itu memperlakukan dirimu dengan baik?"
"Ya, dia telah memberikan aku kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya."
Maksud dari salah seorang gadis yang mengatakan tentang dia merujuk pada Regard, orang yang memutuskan untuk membiarkan Friya ikut bersamanya dalam petualangannya nanti.
Friya yang mendengarnya tersenyum, senang atas kondisi mereka yang baik-baik saja. Terlepas dari semua yang ada di sekitar terlihat kurang menjanjikan, Friya berpikir kehidupan yang mereka jalani cukup sulit dalam bertahan hidup, tapi rupanya perkiraannya salah.
"Apakah Nek Ryadu ada?"
"Ya."
"Biar aku yang mengantarkan kamu ke kemah Nek Ryadu."
"Baik. Mohon bimbingannya."
Mereka yang berjalan-jalan menyusuri kemah tiba di ujung jalan yang terdapat tenda berukuran lebih besar dari tenda-tenda lainnya, tenda yang memiliki pernak-pernik di atas, beberapa bendera yang ada di sudut atas tenda, serta beberapa tiang-tiang di kedua sisi bertuliskan "Sepuh Elf" terpampang jelas dalam huruf-huruf yang besar.
"Nek Ryadu, apakah kamu ada di dalam?"
Mengetuk pintu kain tenda berkali-kali, kancing tenda terbuka dengan sendirinya. Dari dalam terlihat sosok yang sedang keluar dari tenda, menampilkan sosok rapuh yang bisa tumbang dengan senyuman di wajahnya yang menyambut ramah atas kedatangan Friya.
"Silahkan duduk, Nak!"
"Baik."
Mereka berdua yang duduk di sisi saluran air yang saling berdekatan, terdiam sejenak karena mereka sudah lama tidak bertemu satu sama lain.
"Apakah kamu baik-baik saja bersama mereka?"
"Ya. Mereka adalah orang yang dapat dipercaya jadi aman untukku ikut bersama mereka. Selain itu..."
"....."
Dibalik matanya yang terlihat sipit karena usianya, Nek Ryadu mengintip dibalik matanya yang menoleh ke Friya untuk membiarkan dia menceritakannya terlebih dahulu tentang apa yang ingin dikatakannya.
"Aku telah salah memperkirakannya sebelumnya, Regard Arthen, orang yang kupikir adalah orang yang ditelan kegelapan oleh class Necromancer miliknya, dia mampu mempertahankan kesadaran manusianya dan membantu orang-orang tidak bersalah dari kejahatan yang terjadi pada mereka."
"Ya, kamu benar."
Bangun dari duduknya, Nek Ryadu berjalan dengan tongkat sihirnya yang berfungsi sebagai tongkat tambahan.
"Kita tidak perlu melihatnya dari luar melainkan dari dalam. Tergantung dari orangnya, apakah dia terlihat berbahaya atau tidak, kita harus memastikannya terlebih dahulu."
"Ya, kamu benar, Nek."
Mendengar kata-kata nasihatnya, Friya menundukkan kepalanya dan menutupi wajahnya dengan poni rambut pirang depannya, malu atas kesalahan yang pernah dibuatnya di masa lalu yang ingin melenyapkan Regard tanpa peduli pada para elf yang masih tinggal di Desa Elf di Fairy Forest.
Nek Ryadu yang mendengarnya, membalikkan punggungnya menatap Friya, berjalan mendekatinya, dan mengelus-elus kepalanya.
"Kamu sudah tumbuh dewasa dari kesalahan yang kamu miliki sebelumnya ya, Si Besar."
Tersenyum pada kata-kata yang disampaikan Nek Ryadu, Friya tentu ingat alasan mengapa dia dipanggil"Si Besar " oleh Nek Ryadu tidak lain adalah dirinya yang sudah tumbuh berkembang dari dirinya waktu kecil di masa lalu.
Dikarenakan dia selalu dirawat dan diurus oleh Nek Ryadu, dia tahu banyak tentang kesukaan, ketidaksukaannya, serta hobi yang dimiliki Friya membuat dia merasa senang saat memiliki orang tua sementara seperti Nek Ryadu.
"Bolehkah aku tanya sesuatu, Nek?"
"Ya. Apa yang ingin kamu tanyakan?"
Wajah Friya yang terlihat serius, dia mulai menanyakan satu pertanyaan yang kemungkinan besar ada kaitannya dengan teror di Kota Lien selama ini.
__ADS_1