The Necromancer

The Necromancer
Ch. 46,5:Menghadapi Takdir (5)


__ADS_3

Berkat tradisi yang diturunkan oleh sejarah Fenrir, bila ada seseorang yang tiada, Fuuya yang mendapatkan kekuatan dan kemampuan barunya sebagai seorang pemimpin mengamuk dengan kuat, menghancurkan penghalang dan gelombang kejut menggunakan [Wind Burst] membuat seluruh petualang terkejut saat mengetahuinya.


"Cepat mundur dan pergi dari sini!"


Sebelum dapat bergerak cepat meninggalkan Gunung Baurme, para petualang yang dicabik-cabik dan ditebas oleh kedua cakar Fenrir yang bergerak cepat menggunakan [High Acceleration] membuat tubuh mereka terkoyak-koyak, daging yang dipotong-potong secara acak, darah menyembur keluar menyebabkan pemandangan menakutkan dan mengerikan terlihat di atas salju.


Itu adalah awal baru bagiku.


Fuuya yang menyaksikan dirinya di masa lalu, sadar kalau kebencian dan kekesalan yang diarahkan pada manusia membuatnya memutuskan untuk menjadikan mereka sebagai kawanan Fenrir, mengendalikan pikiran dan tubuh mereka untuk membuat pertahanan mutlak yang tidak bisa Ibunya buat sebelumnya, itu adalah kesempurnaan dalam rencananya.


Hanya saja Fenrir yang mengetahui kalau ketidakhadiran anak lelakinya di masa lalu, ia yang sedang terlelap tidur saat semuanya direbut dari dirinya; kawanan Fenrir dan Ibunya, memimpikan tentang anak lelaki yang pernah mencoba untuk menemaninya dulu yang tubuhnya bersimbah darah, pakaiannya yang compang-camping, anak lelaki itu tersenyum padanya.


"Maaf, aku tidak bermaksud untuk memberitahu mereka tentang keberadaan kau di gua. Aku hanya dipaksa untuk berbicara pada mereka, mereka terus menyiksa aku jika aku membungkam mulutku hingga akhirnya aku berbicara saat ajal akan datang menjemput diriku."


Mendengar kata-kata itu dari anak lelaki dihadapannya, sejak awal Fenrir yang ada di masa lalunya yakin kalau itulah yang terjadi.


Dirinya yang tidak terkejut atas kehadiran manusia yang tiba-tiba datang ke Gunung Baurme, memasuki gua es tempat mereka berdiam diri, melenyapkan kawanan Fenrir dan Ibunya, itu semua terjadi berawal dari anak lelaki yang ada di depannya.


Fenrir sendiri tidak menyalahkannya atas apa yang dia katakan. Selama dia berkata jujur padanya maka itu sudah cukup, Fenrir hanya tersenyum padanya, menatapnya penuh dengan keramahan di wajahnya.


"Tidak apa-apa. Sekarang beristirahatlah dengan tenang!"


"Ya, terimakasih atas pengertiannya."


Perlahan-lahan partikel keemasan muncul di tubuh anak lelaki itu yang membungkus seluruh tubuhnya lalu lenyap saat itu terbang ke udara.


Pada akhirnya, aku dan dia tidak dapat melakukan apapun.


Kesal atas kelemahannya di masa lalu, Fuuya yang menyaksikan dirinya di masa lalu mengepalkan kedua tangannya, berniat untuk mengakhiri penglihatan ini karena dia sudah melihat seluruh kejadian yang terjadi padanya sebelumnya.


Aura berwarna putih yang memancar dari dalam tubuhnya menyebar ke segala arah, memaksakan kehendaknya untuk dapat membebaskan diri dari belenggu masa lalu, retakan-retakan mulai terlihat lalu pecah dengan sendirinya.


"Ternyata cukup efektif."


Tersenyum atas keyakinannya yang dapat keluar dari masa lalunya, Fuuya yang memandang pohon besar dihadapannya menampilkan senyuman percaya diri.


Dengan mengeluarkan [Fenrir Army], beberapa kawanan Fenrir yang terbuat dengan warna putih salju yang transparan berlari ke arah pohon berniat untuk mencabik-cabik akar dan batang pohon yang besar yang berada di tengah ruangan.


"Tidak berhasil ya."

__ADS_1


Saat tahu kalau usahanya sia-sia, Fuuya yang tidak yakin apakah dia harus menghancurkan pohon yang ada di penglihatannya atau mengabaikannya, ia memilih untuk berjalan meninggalkan ruangan ini dengan segera menuju ke tempat dimana orang yang membutuhkan bantuannya ditemukan, Regard Arthen, itulah kekhawatirannya yang ada di hatinya saat ini.


•••••


Sasaki POV


Menjauh! Menjauh dariku!


Setiap kali aku mundur, Tuanku selalu berjalan mendekati aku.


Tubuhnya yang dipenuhi dengan aura kegelapan, aku merasakan firasat tidak enak pada dirinya yang berbeda dari biasanya.


Apakah ini mimpi belaka ataukah kenyataan? Aku tidak tahu.


Jika ini benar-benar mimpi maka aku sudah terbangun sejak awal, begitupun sebaliknya, jika ini adalah kenyataan maka aku tidak yakin apakah aku harus melawan Tuanku sendiri, aku ragu bisa mengalahkannya.


"Kenapa kau menjauh dariku? Kau adalah budak aku bukan?"


"Tidak, aku bukanlah budak kamu. Aku adalah..."


Tu-tubuhku...


"Hahahaha. Itu benar bahwa kau adalah budak aku. Lihatlah dirimu sendiri! Kau tidak bisa mengabaikan tubuhmu yang secara keseluruhan mengikuti keinginanku untuk diam dan tidak bergerak, itu benar-benar berguna sekali."


Aku paham. Ini semua karena Tuanku yang menyuruhnya untuk diam tanpa mengatakannya secara langsung, aku jadi tidak dapat melakukan apapun.


"Sekarang aku bisa ada di dekatmu, dan..."


I-ini...


Mustahil. Kenapa... kenapa Tuanku menusuk tubuhku? Bukankah aku adalah orang yang telah diselamatkannya?


Ah... ah....


Setiap kali aku memikirkan momen-momen yang menyenangkan untuk dikenang, entah kenapa hatiku terasa sakit saat melihat Tuanku yang ada di depanku berniat membunuhku dengan mudah.


Apakah aku akan tiada? Kenapa ini harus terjadi padaku?


Tidak ada jawaban apapun yang dapat aku ketahui, hanya kematian yang menungguku sekarang.

__ADS_1


Maafkan aku, Fuuya, aku tidak bisa berada di dekatmu lagi dan Tuanku, Tuan Regard, maafkan aku.


•••••


Sasaki yang ditusuk oleh [Black Sword] di tangan kanan Regard ke tubuhnya memejamkan matanya, menangis penuh penyesalan dan tersenyum bahagia karena ini adalah akhir dari hidupnya.


Sayangnya hal itu tidak berlangsung lama, seluruh tubuhnya yang tiba-tiba mengeluarkan aura keperakan yang menyebar ke segala arah menyebabkan Regard yang menusuk di depannya sirna dengan cepat.


"Fufufu... sayangnya aku tidak bisa membiarkan dirimu tiada, Diriku."


Ekor yang muncul perlahan-lahan dalam jumlah delapan ekor membuat sosok Sasaki lenyap tergantikan oleh sosok baru, sosok [Goddess of Wolf], ia hanya terkekeh kecil sambil menutupi mulutnya dengan salah satu lengannya, lucu atas pemandangan yang dilihatnya sekarang.


Bisa dikatakan ini adalah mimpi buruk yang sengaja ditampilkan, mimpi yang menurut [Goddess of Wolf] tidak hanya berasal dari Sasaki melainkan dari jiwa-jiwa yang dimasukkan ke dalam tubuh Sasaki yang membenci sosok Regard, menciptakan ilusi menakutkan yang melebihi mimpi dan kenyataan yang ada.


Tidak peduli dilihat dari situasi yang ada, setiap kali [Goddess of Wolf] mengulurkan tangannya ke arah Regard, rentetan angin yang muncul di ketiga ekornya yang menembakkan menembus tubuhnya yang membuat Regard tiada, kembali dibangkitkan layaknya hal yang tidak masuk akal.


"Aku mengerti. Ini adalah hal yang merepotkan."


Padahal ia yang ingin tertidur lelap di tubuh Sasaki dipaksa untuk melakukan hal yang merepotkan, [Goddess of Wolf] menghela nafas panjang, mendengus kesal karena dia yang benci bekerja keras diharuskan untuk melakukannya.


"Tidak ada pilihan lain, hanya untuk kali ini saja aku membantu dirimu, Penerus aku!"


Mengangkat tangan kanannya tinggi ke langit-langit, seluruh aura keperakan yang terpancar di seluruh tubuhnya membuat hembusan angin kencang menerpa ke setiap tempat yang ada di dekatnya.


Bahkan Regard, tuannya yang bangkit dari jatuhnya dari hembusan angin yang membuat tubuhnya terpental tidak mampu membuat jarak antara dirinya dan [Goddess of Wolf] dekat satu sama lain, hanya bisa memandangnya kesal dan benci atas jarak yang diciptakannya cukup jauh.


"Benar. Bencilah aku sepenuhnya, Tuanku. Karena bagaimanapun juga, kamu bukanlah dia, kamu hanyalah kepingan dari masa lalu jiwa-jiwa yang menyatu di tubuh ini, Tubuhku."


Retakan mulai terlihat lalu pecah dengan sendirinya saat seluruh mana dikeluarkan olehnya membuat [Goddess of Wolf] dan Sasaki yang ada di dalam tubuhnya tak sadarkan diri terbebas dari kenangan buruk yang dimiliki oleh jiwa-jiwa lain yang menganggap Regard sebagai kejahatan yang tidak dapat dimaafkan.


"Apa yang harus kulakukan sekarang?"


Bingung atas dirinya yang tidak tahu apakah menyudahinya di tempat ini atau memutuskan untuk membantunya kali ini, [Goddess of Wolf] menyilang kedua lengannya di dada, berpikir sejenak sambil merenungkan langkah apa yang akan dilakukannya mulai hari ini.


Akankah dia membantu Sasaki, penerus dari dirinya atau diam melihatnya tersakiti dan terjatuh di tempat tidak diketahui, kedua pilihan itu sulit untuk ditentukan.


"Baiklah. Tidak ada pilihan lain selain menyelesaikan ini semua."


Memutuskan untuk menjaga sekaligus melindungi dirinya, [Goddess of Wolf] yang berniat untuk mengakhiri permainan yang menakutkan dan menyeramkan yang terjadi pada dirinya yang tertidur lelap tidak bisa membiarkan ia tersakiti dan terjatuh untuk kedua kalinya lebih dari insiden yang ditunjukkan sebelumnya padanya.

__ADS_1


__ADS_2