
Regard POV
Ini benar-benar gawat.
Stahark memiliki kemampuan dan kekuatan yang melebihi batasan wajar yang ada pada makhluk lainnya, sama seperti kemampuan Necromancer milikku.
Yang membuatku penasaran ialah darimana dan bagaimana caranya ia mendapat sejumlah kekuatan dan kemampuan yang dapat digunakannya dengan mudah tanpa diketahui darimana asalnya mendapatkan kekuatan dan kemampuan tersebut, itulah yang perlu dipahami olehku.
Berpikir sejenak, aku sekarang berada di ruangan kehampaan yang tidak ada satupun tanda-tanda keberadaan makhluk hidup melainkan hanya aku seorang diri, aku mungkin menyebutnya sebagai Dimensi Shilph, itulah yang aku gunakan sebelumnya pada salah satu cloning milikku.
Beberapa saat yang lalu.
Saat dia berhasil menghancurkan ketiga cloning buatan aku sebelumnya yang menyerangnya dari tiga arah; kiri-kanan dan belakang, aku sempat menggunakan [Transparency] dan [Shadow Clone] untuk melarikan diri ke belakang, menciptakan [Dimension Portal] yang kudapatkan dari Shilph, aku memasukinya untuk kabur terlebih dahulu dari pertarungan.
Memang aku tahu kalau kabur adalah tindakan pengecut yang tidak dapat melanjutkan pertarungan, tapi bukankah itu aneh jika menyebutnya sebagai pertarungan adil diantara kita?
Maksudku ialah bagaimana cara Stahark memanipulasi seluruh kemampuan dan kekuatannya yang ada, aku berpikir dia tidak benar-benar berniat menggunakan kemampuan dan kekuatan aslinya untuk melawanku melainkan hanya bermain-main denganku, itulah yang membuatku kesal padanya.
Lupakanlah tentang itu. Sekarang yang perlu dilakukan adalah kembali atau menetap di Dimensi Shilph, keduanya harus kupikirkan dengan matang.
Andaikan aku keluar dari Dimensi Shilph, aku ragu jika Stahark berpikir kalau aku telah tiada. Mungkin saja dia menungguku diluar lalu menyambut aku dengan rentetan serangan yang tak terduga, aku akan kewalahan dalam menghadapinya.
Andai aku memilih menetap di Dimensi Shilph, aku ragu jika aku membiarkan Stahark beranggapan aku telah tiada, mungkin dia akan melarikan diri ke tempat lain, menghancurkan tempat ini dengan mudah beserta orang yang terjebak di dalamnya, aku akan tetap tiada tanpa disadari olehnya maupun teman-temanku yang berada diluar menunggu kedatangan aku, aku sudah gagal untuk bisa bebas dari tempat ini.
"Sial. Terlalu banyak hal yang perlu kupikirkan dengan matang."
Saking banyaknya, aku sama sekali tidak tahu harus bagaimana dalam menghadapinya di situasi seperti ini.
•••••
"Baiklah. Waktunya untuk aku membantu mereka."
"Apa maksudmu, Nyonya Ryadu?"
Di dalam tenda berukuran besar yang melebihi tenda-tenda lainnya, seorang nenek tua yang tubuhnya membungkuk yang berjalan pelan bagaikan siput yang mengarah keluar pintu, tongkat kayu yang menuntunnya membuatnya mudah untuk berjalan.
Sebelum dapat menghentikan langkahnya, nenek tua itu, Nek Ryadu yang mengalihkan pandangannya ke arah mereka, tersenyum sejenak untuk membuat mereka penasaran atas apa yang akan dilakukannya, ia dengan segera melanjutkan kembali jalannya yang menuju ke depan, ke tempat dimana aliran air jernih yang masih terlihat di bekas saluran air yang sebelumnya mengering menjadi basah, Nek Ryadu berhenti.
"Mungkinkah anda akan masuk ke tempat itu sekali lagi?"
"Tidak bisa, Nyonya. Jika anda masuk ke dalam tempat itu maka siapa yang akan mengurus dan membantu kami, benar bukan, Semuanya?"
"Itu benar."
"Mohon maafkan atas kesalahan yang kami perbuat, Nyonya."
"Ampuni kami!"
Mendengar seluruh elf yang mencegahnya untuk tidak bertindak gegabah, mereka rela melakukan apapun meski bersujud dihadapan sesepuh elf, meminta maaf padanya, harapan mereka, para elf adalah mereka tidak ingin kehilangan pemimpin untuk kedua kalinya sama seperti sebelumnya di Desa Elf, mereka rela berbuat apapun demi melindungi Nek Ryadu, satu-satunya pemimpin yang tidak dapat tergantikan oleh siapapun.
Nek Ryadu yang sedari tadi terdiam, dia mendongakkan kepalanya ke langit-langit ruangan bawah tanah, tertawa geli atas kata-kata mereka yang tidak masuk akal, ia membalikkan tubuhnya ke mereka, menatap semua elf yang memperhatikan dirinya.
"Dengarkan aku, Semuanya, apakah aku ada niatan untuk pergi ke tempat mereka, tempat dimana tingkat kesulitannya tinggi melebihi reruntuhan yang pernah aku jelajahi?"
__ADS_1
Bertanya pada mereka tentang keinginan yang dilakukan oleh Nek Ryadu, elf lain yang berada di belakang terdiam. Sebagian ada yang saling berbisik bersama teman di sampingnya, dan sebagian lainnya ada yang merenungkan perkataannya, berpikir sejenak, Nek Ryadu yang memperhatikannya hanya menggelengkan kepalanya sekali.
"Aku tidak ada niat untuk melakukannya. Kalaupun ada, aku berencana untuk mengurungkan niatku karena itu akan membahayakan keselamatan dan kehidupan aku, serta kehidupan kalian, elf yang kehilangan pemimpin."
Berjalan ke salah satu pasangan yang ada di depannya, diarahkan tongkat kayu yang memukul perut kekar yang dimiliki oleh elf pria yang berkulit coklat, Nek Ryadu menampilkan senyum di wajahnya yang menghadap padanya.
"Mungkin aku bisa menyerahkannya padamu, tapi aku tidak berniat untuk menyerahkannya secepat itu lalu pensiun sejak awal."
"Ya, anda benar, Nyonya."
"Biar bagaimanapun juga, anda adalah pemimpin terhebat kami."
"Bersorak untuk pemimpin kami yang lama, Nyonya Ryadu!"
Sorakan dilakukan serentak oleh elf lain yang membuat sepasang kekasih yang ada di dekat Nek Ryadu menyunggingkan senyum penuh kebahagiaan atas kepercayaan yang diberikan oleh Nek Ryadu terhadap mereka untuk menggantikan kepemimpinannya nanti di suatu saat ketika dia memutuskan untuk pensiun.
"Baiklah. Kurasa cukup untuk berbicaranya."
Membelakangi mereka dan berjalan mendekati pusaran air yang masih terlihat di kelima pusaran air dihadapannya, Nek Ryadu yang mengetuk tongkat kayunya sebanyak tiga kali membuat lima pusaran air yang terlihat sebelumnya menjadi satu dalam pusaran air yang besar yang tiada duanya untuk dilihat.
Jika ada salah satu elf yang mendekati pusaran lalu melongo ke bawah untuk mengetahui kedalamannya maka elf tersebut akan terjatuh dan terjebak ke tempat yang berbeda, tempat yang dimana Stahark tinggal dan berada selama ini yang dapat membuatnya kesulitan untuk kembali hidup-hidup tanpa luka maupun kehilangan nyawanya.
Aku harap ini dapat membantu kalian.
Setelah mengatakan itu dari lubuk hatinya, Nek Ryadu membalikkan tubuhnya lalu berjalan mendekati kerumunan elf yang sedang terdiam memperhatikannya, ia yang awalnya terlihat serius menampilkan senyuman di wajahnya.
"Mari kita kembali dan buat hidangan meriah untuk kedatangan mereka nanti."
Mendengar perkataan yang yakin dari Nek Ryadu, seluruh elf yang mendengarnya penuh teriakan semangat yang tinggi, mereka bergegas kembali ke tenda-tenda mereka, memeriksa pasokan daging, sayuran, dan buah-buahan untuk disajikan pada mereka saat tiba nanti, semua elf sibuk, terkecuali Nek Ryadu yang masih terdiam di tempatnya berada.
Satu-satunya yang masih tidak dimengerti oleh Nek Ryadu bukanlah tentang Stahark melainkan seorang pria yang dengan mudahnya tiada, pikiran Nek Ryadu menentang kalau ia mati dengan mudah adalah hal yang wajar.
Terlepas dari class yang dimilikinya sebagai seorang Necromancer, class abadi yang memungkinkan siapapun untuk tidak dapat tiada dengan mudah, ini benar-benar jauh diluar perkiraan Nek Ryadu.
Apakah Nak Necromancer merencanakan sesuatu yang tak terduga atau sebaliknya, Nek Ryadu penasaran akan hal tersebut.
Walaupun ia penasaran atas apa yang akan dilakukannya, cepat atau lambat dia akan mengetahuinya nanti. Kalaupun tidak dapat diketahui menggunakan [Clairvoyant] yang dapat meramal masa depan dengan mudah, Nek Ryadu tetap akan menanyakan ini padanya nanti usai membantu mereka meskipun hanya sedikit perbantuan yang dilakukannya.
•••••
Retakan tiba-tiba terbentuk di setiap garnet merah, dinding, dan langit-langit ruangan diikuti dengan getaran yang tinggi yang mengguncang seluruh tempat yang ada membuat Stephani dan Sasaki yang menelusuri koridor istana, mereka terdiam sejenak, bertanya-tanya atas apa yang sebenarnya terjadi, mereka benar-benar kebingungan.
"Ini...."
"Mustahil..."
Saat retakan yang merambat ke segala permukaan lantai, Stephani dan Sasaki yang melihat celah-celah dari garnet merah, dinding dan langit-langit ruangan yang terbuka yang memasukkan mereka ke dalam jurang kegelapan yang ada di bawahnya, mereka terperosok dengan cepat.
"Cih... ini tidak bisa dibiarkan."
Mengepakkan sayap hitamnya yang membentang luas, Stephani yang terbang sembari menghindari bongkahan batu yang terjatuh ke bawah, ia sebisa mungkin memfokuskan diri pada perlindungan dirinya agar tidak terjatuh bersamaan bongkahan batu yang menabraknya.
Begitupun dengan Sasaki, ia yang mengarahkan lengannya ke bawah mengaktifkan [Flame Shield], membuat pelindung berbentuk lingkaran yang mampu menghancurkan bongkahan batu yang akan menindih tubuhnya, ia dapat selamat berkat kemampuan dari Goddess of Wolf yang mengendalikan tubuh Sasaki.
__ADS_1
Berbeda dengan kedua gadis yang bertahan hidup, Friya, Reita, dan Fuuya yang masih tidak sadarkan diri terjatuh ke bawah ke dalam jurang kegelapan bersamaan dengan reruntuhan bangunan yang menjadi pondasi [Golden Castle].
"Sialan... berani-beraninya dia menghancurkan dan mengacaukan semuanya."
Menggigit jarinya atas apa yang dilihatnya melalui tampilan kristal, Stahark yang benci atas bantuan yang tidak dikenal yang ikut campur ke dalam masalah mereka, ia tidak akan memaafkannya maupun membiarkannya begitu saja.
Selama mereka terjebak di dimensi yang berbeda, Stahark yang mengubah niat dan tujuannya, ia memutuskan untuk melenyapkan dan menghabisi mereka semua dengan cepat, ia tidak akan membiarkan satupun dari mereka lolos dalam keadaan sehat maupun keluar dari tempat ini hidup-hidup.
"....."
Masih dalam ruangan gelap yang tidak ada siapapun, menyilang lengannya di dada sambil merenung sejenak, Regard masih belum bisa memutuskannya sama sekali.
Apapun yang terjadi, ia yang menginginkan untuk menyembunyikan keberadaannya sebagai seorang Necromancer tidak akan membiarkan Stahark mengetahui seluruh kekuatan dan kemampuannya. Apalagi dengan menghisap semua yang ada di dirinya, Regard takkan membiarkan hal tersebut terjadi.
"Baiklah. Sudah aku putuskan untuk tidak membiarkan ia melakukan seenaknya terhadapku."
Berniat untuk mengakhirinya, Regard yang memutuskan untuk kembali ke Golden Castle, ia yang keluar dari [Dimension Portal] kembali ke istana yang sudah tiada apapun di sekitarnya melainkan hanya kegelapan yang tidak memiliki pijakan, serta kelima gadis yang dikenalnya, ia dikejutkan atas hal tak terduga yang ada di depannya.
"Kalian... bagaimana bisa kalian kemari?"
"Ah... Tuan..."
"....."
"Syukurlah kalau kamu selamat dan tetap hidup, Regard."
Mendapatkan pelukan hangat dari Sasaki yang Regard ketahui bukanlah Sasaki melainkan Goddess of Wolf yang terlihat dari jumlah ekornya yang delapan ekor, ia diam penuh kebingungan atas pelukan tersebut.
Begitupun dengan Shilphonia yang berubah menjadi Stephani, ia sama sekali tidak mengerti atas apa yang mereka bicarakan dan khawatirkan, keduanya benar-benar membuatnya bingung dalam diam.
"Lupakanlah tentang itu! Kita harus segera keluar dari tempat ini."
"Ya, kau benar."
Melihat ketiga gadis yang tergeletak tak sadarkan diri, Regard yang memutuskan untuk melepaskan pelukan Sasaki, ia berjalan ke depan menelusuri kegelapan yang ada di sekitarnya, bahkan pijakan yang ada di bawahnya, mereka berdua dan Regard tidak dapat melihatnya.
"Kalian pergilah! Biarkan aku yang menghadapinya."
"Apakah kamu yakin?"
"Ya, aku yakin."
Setelah menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke belakang sambil mengatakan penuh percaya diri tanpa mengenal takut sedikitpun, Stephani dan Sasaki yang mengetahuinya hanya memberikan senyuman penuh pada Regard, percaya kalau dia akan menyelesaikannya dengan mudah.
"Sekarang pergilah dan bawa mereka keluar!"
"Tapi, bagaimana caranya untuk bisa keluar?"
"Itu benar. Bukankah sulit untuk melakukannya dari dalam?"
"Ah...."
Tercengang atas perkataan Sasaki dan Stephani, Regard tidak dapat melakukan apapun karena dia tahu dia tidak bisa terbebas dari dimensi ini menuju ke dunia dimana mereka berada.
__ADS_1
Entah bagaimana caranya, tidak ada satupun yang terpikirkan oleh Regard yang membuat mereka berdua menduga bahwa itulah yang terjadi. Stephani yang memegang keningnya dengan kedua lengannya menyilang di dada, serta Sasaki yang dikendalikan oleh Goddess of Wolf yang terkekeh kecil sambil menutupi mulutnya dengan kipas lipatnya, mereka berdua benar-benar mengira Regard dapat mengetahui jalan keluarnya namun sayangnya tidak seperti yang mereka perkirakan.