
Keesokan harinya, semua orang berkumpul di dalam ruangan.
Regard yang berdiri di dekat pintu membiarkan mereka memikirkan nama yang tepat untuk kelompok mereka agar mudah untuk dikenal dan diakui oleh petualang tingkat rendah.
Meskipun Regard meminta ketiga orang untuk memikirkan namanya, mereka tidak menemukan nama yang cocok untuk kelompok mereka sendiri yang membuat Regard menghela nafas panjang dan mengeluh.
"Bagaimana kalau kita pakai nama dari kemampuan yang kumiliki?"
"Maksudmu Necromancer?"
"Ya. Hanya dengan nama Necromancer, aku bisa tambahkan sesuatu di depannya seperti The Necromancer. Bagaimana menurut kalian?"
"Kedengarannya bagus."
"Ya, terdengar sangat keren dan hebat."
"Aku setuju. Namun jika mereka berpikir kita adalah sekelompok orang yang memiliki class Necromancer, apa yang akan kamu lakukan?"
"Bukankah sudah jelas? Kita akan berpura-pura sudah tiada. Itu lebih baik agar penyamaran diri kita berjalan lancar dan sukses."
"Berjalan lancar ya."
"Yah, kurasa itu tidak buruk."
Setelah semua orang menyetujuinya, Regard tersenyum.
Dengan membuat nama baru pada kelompok miliknya, Regard tidak tahu apakah nanti di masa mendatang dia akan mendapatkan anggota baru atau tidak.
Selama dia telah membuat kelompok dan namanya, orang baru yang akan bergabung dengan mereka akan mereka terima asalkan orang tersebut memiliki kemampuan dan kekuatan yang berada di atas rata-rata manusia pada umumnya.
Di siang hari, Regard dan Veru saling bertemu satu sama lain.
Di belakang kota, Veru terkejut bahwa Regard telah membentuk kelompoknya sendiri dengan nama yang cukup unik yang membuatnya kagum atas nama yang digunakannya.
"Aku bersyukur bahwa kau dapat menahan dan menekan kegelapan yang ada. Tapi jika mereka berpikir bahwa The Necromancer adalah orang-orang yang memiliki class Necromancer, apa yang akan kau lakukan, Arthen?"
"Aku akan sebisa mungkin menghindari konflik dan menahan amarah di dalam tubuhku."
"Huh... terserahlah. Selama kau tidak berbuat masalah, aku setuju atas nama tersebut."
Bergegas pergi dari tempatnya, Veru sama sekali tidak berniat untuk menghabiskan waktu di tempat tersembunyi seperti yang dilakukannya sekarang.
Regard yang tahu atas sikap acuhnya Veru, tersenyum. Perlahan-lahan tubuh Veru menghilang di tengah keramaian penduduk kota yang membuatnya senang atas kelompoknya saat ini.
Apa yang akan kita lakukan nanti?
Memikirkan berbagai hal yang ada, Regard mulai menyusun rencananya sendiri.
Berjuang sendiri lebih baik namun itu membutuhkan waktu sedikit lebih lama.
Merenungkan sesaat perkataannya atas usahanya selama ini di tiap malam dalam mengatasi kejahatan yang berkeliaran di Kota Farihiora, Regard sama sekali tidak mengalami kesulitan sedikitpun atas pertarungan yang dilakukannya terhadap mereka.
Bagi Regard, selama dia memiliki topeng besi bertanduk maka orang-orang tidak akan mengenali wajahnya.
Haruskah aku mengajak mereka untuk membantu aku?
Memikirkannya, Regard tidak menemukan jawabannya sama sekali. Satu-satunya pilihan yang dibuatnya adalah menanyakan langsung pada mereka. Hanya itu pilihannya.
Entah apakah mereka mau menerimanya atau tidak, Regard akan menjelaskannya sebisa mungkin agar mereka memahami atas tindakannya selama ini di Kota Farihiora.
•••••
__ADS_1
Di sore hari, Regard dan ketiga gadis berkumpul di kamarnya sekali lagi.
"Apakah ada yang ingin kita bahas?"
"Ya. Mengenai The Necromancer, aku ingin membuat susunan rencana jikalau kalian setuju pada ide aku."
"Aku setuju."
"Aku akan mendengarnya lebih dulu untuk mengetahui apakah ide itu baik atau buruk."
"Aku menerima ide milikmu karena kamu telah menyelamatkan aku sebelumnya, Regard."
Reita dan Shilphonia yang setuju pada perkataannya membuat Regard tersenyum. Berbeda dengan mereka berdua, Friya memutuskan untuk mendengarkannya terlebih dahulu agar tahu rencana apa yang dimiliki oleh Regard.
Apakah itu akan membahayakan dirinya dan orang lain di sekitarnya atau justru sebaliknya, dia sebisa mungkin meluangkan waktunya untuk mendengarkan ide Regard.
"Pertama, aku ingin kalian membantu aku untuk menangani kasus kejahatan yang ada di Kota Farihiora."
"Kasus kejahatan?"
"Apakah banyak sekali kejahatan yang terjadi di Kota Farihiora?"
"Ya. Berdasarkan pengamatan aku, kebanyakan dari mereka yang terlibat adalah seorang pedagang dan sekelompok petualang yang melakukan transaksi diam-diam di malam hari."
"Transaksi seperti apa?"
Mendengar ketertarikan Friya, Regard mulai menjelaskan pada mereka bertiga.
Transaksi yang dimaksudkan olehnya adalah transaksi ilegal baik itu perdagangan budak, penyeludupan barang-barang terlarang, penculikan anak dan ibu, serta berbagai macam jenis kejahatan dijelaskan olehnya.
"Mustahil. Mengapa mereka tega sekali melakukannya?"
"Mungkinkah kamu selama ini melakukannya sendirian?"
"Ya."
Mengeluarkan topeng besi bertanduk di meja, ketiga gadis melihatnya dengan ekspresi terkejut atas topeng menyeramkan dan menakutkan yang mereka lihat.
Tidak seperti Reita yang baru pertama kali melihatnya, Shilphonia dan Friya pernah melihatnya ketika mereka saling bertarung satu sama lain jadi keterkejutan mereka berkurang setelah tahu untuk pertama kalinya Regard menghentikan pertarungan mereka berdua.
"Apakah ada imbalan bagi kami dalam melakukannya?"
"Ada. Dana yang akan diberikan oleh Paman Veru, serta harta rampasan yang dimiliki oleh korban dapat kita ambil setengah dari seluruh penghasilan mereka."
"Setengah?"
"Ya. Dikarenakan setengah hartanya milik orang lain, aku akan menyerahkannya pada Ksatria Kerajaan, Paman Veru untuk membagikan harta tersebut kepada para korban."
Shilphonia yang sebelumnya merasa terkejut kembali tenang ke kondisinya semula.
Menurut Shilphonia, harta sangat diperlukan bagi mereka untuk bertahan hidup di dunia. Tidak peduli apakah dia memiliki paras wajah yang cantik atau tidak, selama dia memiliki uang maka itu sudah cukup untuk bertahan hidup.
Itu sebabnya Shilphonia sempat bereaksi sesaat namun sirna setelah mendengar sisa hartanya untuk disedekahkan kepada korban yang terkena masalah tersebut sebagai bentuk kompensasi.
"Kedua, aku ingin kita melakukan misi petualang agar orang-orang di Guild Petualang tidak mencurigai aku yang tidak pernah terlihat lagi dapat menyebabkan rumor buruk tersebar luas."
"Mengenai Guild Petualang, kami belum bergabung sama sekali jadi apakah tidak apa-apa kalau kami membantumu, Regard?"
"Itu benar. Kalau kami membantumu maka misi itu akan dianggap tidak sah bukan?"
"Tidak. Misi tetap sah jika orang-orang tidak tahu bahwa kalian membantuku dalam melakukan misi tersebut."
__ADS_1
"Bukankah itu curang?"
"Tidak ada kata curang. Selama kita mendapatkan penghasilan sedikit dari misi yang disediakan Guild Petualang, kita juga akan mendapatkan kepercayaan dan reputasi dari para penduduk maupun orang-orang yang telah kita bantu."
"Yah, meskipun kita membantunya sebagai Black Adventure."
Menggaruk pelipis kiri, Regard sama sekali tidak tahu apakah itu adalah tindakan yang tepat untuk meminta persetujuan dari mereka bertiga untuk permintaan yang kedua.
Selama Regard masih berada di Guild Petualang, dia akan terjalin kontrak yang mengharuskan dia melakukan misi untuk tidak dianggap telah tiada oleh para petualang lain yang tidak menyukainya, serta menyebarkan rumor buruk bahwa dia telah berubah menjadi iblis.
Itu sebabnya Regard memutuskan untuk tetap menjalani hari-harinya sebagai seorang petualang pemula agar rumor buruk dapat dicegah sebisa mungkin.
"Hanya itu yang ingin aku sampaikan."
Menyudahi pembicaraan, Regard duduk di kursi yang sebelumnya dia ambil dari kamar Shilph untuk didudukinya.
Selama dia duduk, ketiga orang sedang merenung dan memikirkannya dengan matang atas ide dan rencana yang telah dijelaskan Regard pada mereka.
Bagi Friya, idenya cukup bagus untuk diterapkan. Selain dalam menindaklanjuti kejahatan yang merajalela di perkotaan tempat kelahirannya berasal, itu memudahkan para korban untuk bahagia bila mendapatkan sebagian harta berlimpah dari penjarahan yang dilakukannya meski itu adalah hal yang tidak baik.
Shilphonia tidak berpikiran sama seperti Friya. Menurutnya, selama dia mendapatkan penghasilan tambahan yang cukup dari jarahan yang dilakukan oleh orang-orang yang melakukan kejahatan di kota maka keinginannya akan terpenuhi baik itu pakaian, perlengkapan, serta aksesoris akan dapat dibeli dan dimiliki oleh Shilphonia untuk mempercantik penampilannya lebih dari dirinya sekarang.
Berbeda dengan kedua gadis, Reita cukup sederhana keinginannya yaitu dia hanya mau dirinya berada di sisi Regard sebagai adik tirinya yang baru. Dikarenakan dia sudah tidak lagi memiliki seorang kakak, Reita hanya memiliki kakak barunya yang membuatnya bersedia melakukan apapun baik itu kejahatan maupun kebaikan, Reita dengan tulus melakukan apapun yang Regard minta.
"Kami setuju."
Setelah semua orang menyuarakan persetujuannya, Regard tersenyum dan berdiri.
"Baiklah. Dengan begini keputusan telah dibuat."
Meletakkan ketiga topeng besi dengan penampilannya yang berbeda-beda, ketiga gadis terkejut atas keberadaan topeng tersebut.
"Aku ingin kalian memiliki dan menggunakannya jika diperlukan. Dan juga, aku ingin merubah nama panggilan kalian dalam melakukan aktivitas di malam hari dalam memberantas kejahatan."
"Nama baru ya."
"Kami tidak tahu nama yang cocok untuk kami."
"Itu benar. Terlalu sulit untuk memikirkannya."
Ketiga gadis yang duduk di kursi dan sisi kasur sama sekali tidak menemukan ide untuk membuat nama panggilan baru bagi diri mereka.
"Ngomong-ngomong Regard, aku mengeluh atas panggilan yang kamu lakukan padaku."
"Kenapa?"
"Karena Shilph dan Reita telah memanggilku dengan nama Friya, aku ingin kamu juga melakukan hal yang sama seperti mereka."
"Baiklah."
Mengalihkan pandangannya dengan wajah memerah karena tidak terbiasa, Regard mengelus pelipis kanannya.
"Friya?"
"Ya. Itu bagus."
Mengangguk puas pada panggilannya, Regard batuk sekali lalu merubah ekspresinya menjadi serius.
"Baiklah. Akan aku buat nama panggilan baru kalian."
Dengan diputuskan nama panggilan baru oleh Regard untuk mereka, ketiga gadis merasa senang usai mendengar perkataannya.
__ADS_1