The Necromancer

The Necromancer
Ch. 25:Anggota Baru


__ADS_3

Hmmm...


Saat sadarkan diri, Regard melihat bahwa dirinya telah berada di dalam kereta kuda.


Di dalam kereta, teman-temannya tersenyum padanya menanti kesadarannya agar mereka tidak mengganggu tidur pulas yang dinikmatinya.


"Regard!"


"....."


Di dekatnya, Shilphonia memeluk tubuhnya. Air mata yang tiada henti mengalir membasahi pipinya membuat Regard yakin dialah satu-satunya yang mencemaskan dan mengkhawatirkan kondisinya selama dia tidak sadarkan diri.


"Apakah dia sudah sadar?"


"Belum."


"Dia masih membutuhkan waktu lama untuk bisa sadar dari tidurnya yang lama."


Memperhatikan kalau tubuh Fenrir telah berubah menjadi manusia seutuhnya, Regard yakin ini ada kaitannya dengan perbuatan yang mereka lakukan terhadapnya untuk membuatnya terlihat seperti manusia.


Tapi, dia tidak mau menanyakan apapun.


Yang terpenting bagi Regard sekarang adalah dia bisa menikmati waktu istirahat di sepanjang jalan di dalam kereta hingga tiba di Kota Resihei.


•••••


"Dia telah dikalahkan dan lenyap?"


"Ya. Ini semua berkat bantuan dari seseorang yang hebat."


Melemparkan kantong kain berisikan koin dalam jumlah banyak di satu lengannya, Veru dengan bangga mengumumkan bahwa Fenrir berhasil dikalahkan.


Walikota Resihei dan Kanae yang tahu itu mustahil terjadi bertanya-tanya siapa yang dapat mengalahkan dan melumpuhkannya.


Terlepas dari cuaca yang dingin menyebabkan mereka sulit untuk bertarung, ada kemungkinan lain kalau Fenrir adalah ras terkuat melebihi ras manapun.


Itu sebabnya mereka sama sekali tidak percaya atas apa yang terjadi.


Namun...


"Lihatlah ini!"


"....."


Genangan darah yang tercampur permukaan salju berhasil dibawa oleh Veru menggunakan kantong plastik transparan membuat mereka sadar itu bukanlah kebohongan belaka.


Veru sama sekali tidak memberitahu tentang dimana Fenrir berada. Jika dia menjelaskan bahwa Fenrir dibawa oleh Regard, perjanjiannya yang dibuat sebelumnya akan sirna menyebabkan dia tidak lagi dipercaya olehnya.


Itulah mengapa Veru tetap diam menyembunyikan fakta yang ada.


Kalau ada salah satu diantara mereka yang sadar bahwa Regard yang melakukannya, entah akan jadi seperti apa nantinya, Veru berharap kalau perkiraan itu tidak akan terjadi.


Di lain tempat di dalam penginapan, Regard yang menunggu kesadaran Fenrir membuat mereka bertiga yang berada diluar kamar penginapannya mengintip dari balik pintu dengan ekspresi cemas dan khawatir atas kondisi Regard.


Regard tidak mau makan dan minum sama sekali sejak mereka tiba di pagi hari di dua hari sebelumnya. Sebaliknya, dia hanya menunggu Fenrir sadar agar dia dapat menikmati makanan dan minuman yang ada di penginapan.


"Apakah kita akan membiarkannya terus-menerus seperti ini?"


"Tidak ada pilihan lain bukan?"


"Itu benar. Jika Regard sudah putuskan sesuatu, dia akan sulit untuk dibicarakan."


Mereka bertiga yang paham atas sifatnya hanya bisa pasrah pada keadaan yang berharap Fenrir dapat segera sadar.


"....."


"Yo, kau sudah sadar rupanya."


Bangun dari tidurnya, pandangannya mengarah ke sekitar kamar lalu menatap Regard yang penuh kebingungan.


"Dimana ini?"


"Kau berada di Kota Resihei."


"Kota Resihei? Maksudmu kota dimana manusia berada?"


"Ya."


Mendengar perkataan yang tidak mau diterimanya, Fenrir menggenggam erat selimut yang menutupi tubuhnya.


Regard yang memahami kebenciannya belum sirna dari hatinya, memegang lengannya dan tersenyum padanya. Fenrir yang melihatnya terkejut atas senyum tulus yang diarahkan padanya.

__ADS_1


"Semuanya baik-baik saja. Jika kau mau bersama kami, kami dapat membawa dirimu lebih baik dari hidupmu sebelumnya."


"Lebih baik?"


"Ya."


Mengalihkan pandangan ke arah pintu, ketiga gadis yang sebelumnya mengintip, panik dan mencoba untuk melarikan diri namun gagal.


"Cepat kemari!"


"Baik."


Ketiga gadis memasuki kamar.


Fenrir yang memperhatikannya, bertanya-tanya mengapa Regard repot-repot membawa mereka ke dalam kamar.


"Jelaskan padanya tentang apa yang selama ini kujalani!"


"Baik."


Shilphonia yang maju ke depan menjelaskannya dengan detail atas apa yang terjadi pada Regard, dirinya, dan kedua gadis di dekatnya.


Sembari menunggu Shilphonia menyelesaikan penjelasannya, Regard memutuskan untuk pergi ke lantai dasar penginapan untuk segera mengonsumsi makanan dan minuman agar memuaskan perutnya dari rasa lapar.


Sejak dua hari berturut-turut tidak makan dan minum, Regard hanya mengandalkan persediaan darah di botol kaca kecil yang disiapkannya dalam kondisi tertentu.


Duduk di kursi di lantai dasar, dengan sandwich dan teh hangat yang ada di meja, Regard memakannya dengan lahap. Setelah menyantap sandwich, Regard melanjutkan untuk memakan daging sapi bakar yang dioleskan saus khusus di bagian lemaknya membuatnya terasa nikmat.


Aku harap dia dapat menerimanya ya.


Satu-satunya yang mengkhawatirkan dirinya adalah Fenrir tidak mau menerima kenyataan yang ada sekarang.


Fakta Regard dapat dipercayai olehnya karena dia sendiri bertemu Fenrir di dalam masa lalunya yang membuatnya dengan senantiasa menceritakan kejadian menyeluruh atas masa lalu yang dialaminya.


Tapi, Regard yakin kasusnya akan berbeda terhadap ketiga gadis yang ada di kamarnya.


Baik itu Elf, Malaikat, dan Manusia, ketiganya masih sulit untuk diterimanya dengan mudah tanpa ada pendekatan khusus jadi Regard menduga ini mungkin membutuhkan waktu yang cukup lama nantinya.


Meskipun dia berpikir itu akan membutuhkan waktu lama bagi Fenrir untuk membuka hatinya pada mereka, harapan Regard saat ini ialah dia mau menerimanya yang mempercepat hubungan pertemanan antara satu sama lain.


•••••


Regard POV


Terasa sangat menyebalkan jika aku terus-menerus mengandalkan Shilph yang bisa dipastikan dia akan kesal dan benci atas ketidakhadiran aku dalam penjelasannya.


Yah, skenario terburuknya dia akan menceramahi aku begitu banyak jadi aku tidak terkejut atas sikapnya.


Mengetuk pintu berkali-kali, aku memasuki kamarku.


Mereka semua memperhatikan aku dengan wajah bingung, terkecuali Fenrir. Dia yang memandang aku dengan ekspresi sedih berlari ke arahku lalu memelukku.


"Kamu benar-benar mengalami masa lalu yang sulit ya, Regard."


Tunggu. Kenapa kau malah bersimpati terhadapku?


Mengarahkan pandangan ke Shilph, dia menggelengkan kepalanya seolah-olah menandakan bahwa usahanya dalam meyakinkannya telah sia-sia.


Begitu aku menatap Reita, dia juga sama. Hal berlaku terjadi terhadap Friya, yang sama seperti Shilph dan Reita yang menggelengkan kepalanya seakan-akan usaha mereka telah membuahkan kegagalan.


"Kamu pasti lebih sakit daripada masa lalu aku bukan? Kemari sebentar!"


Tu-tunggu! Apa yang kau lakukan?


Tanpa disadari Fenrir meletakkan kedua lengannya ke wajahku, mengarahkan kepalaku ke dadanya yang datar, dan memelukku.


Tindakannya dalam melakukan ini memang benar-benar tak terduga. Layaknya seorang ibu yang mengasihi anaknya, aku tahu dia akan bertindak seperti itu padaku.


Sudahlah.


Menyerah lebih baik.


Yang tersisa adalah bagaimana cara untuk meyakinkan mereka bahwa aku tidak tertarik terhadap hal-hal seperti dada kecil maupun dada besar?


Itulah yang perlu dipikirkan.


Fenrir yang menenangkan diri, duduk di sisi kasur.


Meskipun tanda-tanda di tubuhnya tidak terlihat berkat bantuan mereka, aku yakin dia merasa aneh jika melihat dirinya sendiri sebagai seorang manusia.


"Apakah kamu membawa aku kemari karena suatu hal?"

__ADS_1


"Ya. Aku ingin kau merubah sudut pandang dari masa lalu yang kau alami."


"Merubah? Jangan bercanda! Aku takkan bisa melupakan apapun atas kesalahan yang telah mereka perbuat pada kami."


Shilph yang tiba-tiba mendekatinya, memeluknya dengan erat.


Dia saat ini paham atas rasa sakit yang dialami oleh Fenrir namun dalam kasus yang berbeda.


Shilph yang dikhianati oleh kenyataan yang ada dari para tetua membuatnya terlempar ke muka bumi, sedangkan Fenrir sendiri dia dikhianati oleh manusia yang awalnya dapat dipercaya telah menerkamnya diam-diam yang membuat hampir dari seluruh keluarganya lenyap, terkecuali dirinya sendiri.


"Lepaskan aku!"


Meronta-ronta karena dada Shilph yang besar, Fenrir berusaha melepaskan pelukannya.


Sayangnya dia tidak mampu melakukannya.


Semakin dia menolak untuk dipeluk, wajah Shilph seakan-akan senang atas dirinya yang mencoba mendekatinya dengan cara aneh seperti yang biasa dilakukannya.


Benar-benar hebat untuk gadis sepertinya.


"Apakah malam ini kita akan memulai aktivitas seperti biasa?"


"Tidak perlu. Kita akan memulainya beberapa hari lagi."


"Aktivitas? Apakah ada sesuatu yang biasa kalian lakukan?"


Melepaskan pelukannya yang erat, Shilph mengangguk pada pertanyaan Fenrir tadi.


"Setiap malam, kami memiliki tugas dalam mengeksekusi penjahat di kota agar para korban tidak kehilangan orang-orang terdekat mereka."


Tunggu! Bukankah lebih baik jika kalian tidak usah menjelaskannya saat ini?


Ugh...


Tampaknya sudah terlambat.


Fenrir yang terlihat antusias di kedua matanya yang bersinar terang, bisa dipastikan dia menantikan detik-detik dimana dirinya akan mengamuk di malam hari.


Sudahlah.


Lebih baik menjelaskan pada mereka bahwa operasi malam The Necromancer dibatalkan karena kami tidak bisa melanjutkan eksekusi saat bersama Fenrir.


Ada kemungkinan dia akan mengamuk yang menyebabkan para penjahat mati tanpa ampun dalam sekejap yang menyebabkan kami akan dilirik oleh Ksatria Kerajaan karena amukannya yang dapat merusak sebagian dari Kota Resihei.


Skenario itu bisa aku bayangkan saat ini.


Paman Veru yang akan memarahi dan menceramahi aku membutuhkan waktu untuk bisa lolos dari semuanya yang memerlukan waktu lama.


"Kita akan melakukannya lain waktu karena aku telah menyiapkan beberapa cloning di setiap tempat dan sudut."


"Baiklah."


"Jika itu mau kamu maka..."


"Ya, kami tidak bisa menolaknya."


Terimakasih atas pengertian kalian.


"....."


Ada apa dengan tatapan seperti itu?


Seolah-olah melihatku dengan wajah memelas, tatapannya seakan memberitahu aku untuk mengajaknya dalam perburuan di malam hari.


Jujur saja ini akan beresiko tinggi untuk mengajaknya dalam berburu di malam hari dalam mengurangi kejahatan yang menyebar di kota.


Apalagi dengan kebencian dan amukan yang dimiliki oleh Fenrir, cepat atau lambat, jejak kita akan diketahui oleh Ksatria Kerajaan yang kemungkinan mereka akan melakukan sesuatu pada kami karena telah bertindak jauh tanpa sepengetahuan mereka.


"Kau tidak boleh ikut karena kau masih memerlukan waktu untuk bisa menerima kelebihan dan kekurangan yang ada pada sudut pandang yang kau miliki."


"Baiklah."


Telinganya yang layu di kepalanya menandakan dia secara paksa menerima kata-kataku.


Itu bagus.


Jika dia menolak dan bertindak sesukanya, aku penasaran akan seperti apa jadinya nanti. Tapi selama dia menurutinya, itu aman dan baik untukku agar tidak menghentikan amukannya secara paksa karena itu merepotkan untuk dilakukan.


"Setelah kau berhasil membuka sedikit hatimu terhadap manusia lainnya, aku akan mengajakmu ikut dalam perburuan malam. Apakah kau paham?"


"Ya, aku mengerti."

__ADS_1


Sekali lagi, dia memelukku dengan erat layaknya seekor peliharaan yang pernah aku miliki sebelumnya. Entah dimana dirinya sekarang, aku harap kami dapat bertemu lagi usai kembali ke Kota Farihiora.


__ADS_2