The Necromancer

The Necromancer
Ch. 45,3:Menerobos Masuk (3)


__ADS_3

Dihadapan mereka, Thunro yang terlihat sedang menangkis kedua tangannya ke depan, terlihat sebuah dinding batu yang berada di depannya yang memancarkan percikan kilat berwarna kuning di sekitar dinding batu dengan cahayanya yang membuat mereka terlihat menakutkan dan mengerikan.


Thunro yang menghembuskan nafasnya melalui sela-sela di hidungnya mengangkat kedua tangannya ke atas, memukul permukaan tanah yang ada di depannya usai dinding dihadapannya lenyap.


Gundukan tanah berjumlah banyak yang mengarah pada mereka yang disertai dengan kilatan petir yang menyambar di permukaan tanah menyebar ke segala arah ke arah mereka membuat mereka terlihat bersiap-siap untuk menghadapinya.


"Friya, Reita!"


"Ya."


"Dimengerti."


Reita yang mengarahkan salah satu lengannya ke depan lalu terangkat membuat permukaan tanah yang ada di sekitarnya berubah berkat [Change Material] menjadi batu dalam jumlah banyak yang berlapis-lapis melindungi mereka dengan bentuk lingkaran.


Diikuti oleh Friya yang mengerahkan sejumlah mana di sekitar tubuhnya yang berwarna biru cerah, ia mengarahkan tongkat sihirnya ke depan yang telah dialiri oleh mana miliknya yang berkumpul di ujung tongkat sihirnya lalu lenyap seketika.


Selang beberapa detik setelah sejumlah mana di ujung tongkat sihirnya lenyap, beberapa [Magic Barrier] terbentuk melapisi batu yang melindungi mereka menjadi beberapa lapis membuat bagian itu sulit untuk ditembus hanya dengan serangan kecil.


Sihir itu sendiri tidak lain adalah [Ultimate Barrier], sihir turunan dari [Magic Barrier] yang telah diberikan mantra sihir oleh Friya dengan singkat dan cepat melalui hatinya.


*Dum!


Hantaman dari gundukan tanah yang disertai dengan percikan kilat yang menyambar di permukaan tanah yang menyebar ke segala arah saling beradu pada bebatuan dan [Magic Barrier] yang melapisi bebatuan tersebut.


Dilihat dari getarannya, itu terbilang cukup kuat untuk dirasakan oleh Thunro, namun berbeda dengan mereka yang berada di kedalaman yang didalam bebatuan dan [Ultimate Barrier] yang diciptakan oleh Friya.


Alih-alih itu terasa kuat dan hebat pada getarannya, itu justru tampak seperti getaran yang ringan yang dalam hitungan detik lenyap begitu saja.


"Apakah sudah selesai?"


"Masih belum."


"Ya, kita tinggal tunggu waktu yang tepat untuk membalasnya."


"Baiklah."


Mendengar perkataan Friya dan Reita yang mampu merasakan keberadaan dari kekuatan yang masih dirasakan oleh mereka pada gundukan tanah dan percikan kilat yang masih saling beradu dengan bebatuan dan [Magic Barrier] yang mereka berdua pasang sebelumnya, Shilphonia yakin kalau keputusan menunggu akan tiba.


Selama Shilphonia menunggu, ia dengan cepat memejamkan matanya mencoba untuk berkomunikasi dengan kepribadiannya yang lain yang ada di dalam tubuhnya.


"Jadi, kenapa kamu kemari?"


"Aku ingin kamu membantuku. Apakah kamu bisa melakukannya?"


"Apa yang kamu inginkan dariku? Aku tidak sekuat diriku di masa lalu untuk menghadapinya. Kalaupun bisa, aku hanya dapat menahan gerakannya."

__ADS_1


"Fufufu... tidak masalah. Asalkan kamu bisa menahannya untuk bergerak, itu sudah lebih dari cukup."


Terkejut atas permintaan yang terdengar singkat dan mudah, Stephani masih tidak mengerti atas apa yang dipikirkan Shilphonia dalam meminta bantuannya kali ini.


Biasanya Shilphonia selalu meminta bantuan untuk bertukar tubuh dan tempat seperti yang terjadi pada 'Perburuan Malam', kali ini Shilphonia tidak meminta hal tersebut yang membuat Stephani menatapnya penuh kecurigaan.


"Berhentilah menatapku seperti itu, Stephani! Aku akan jelaskan semuanya agar kamu memahami maksud dari perkataan aku tadi."


"Baiklah. Aku akan mendengarnya terlebih dahulu."


Mendekati Shilphonia, Stephani mendekatkan wajahnya dan telinganya padanya sambil memfokuskan pada pendengarannya untuk mengetahui rencana apa yang dimiliki Shilphonia dalam membantu hal kecil yang diinginkannya, Stephani tetap mendengarkannya hingga selesai.


"Apakah kamu mengerti?"


"Ya, aku akan melakukannya untukmu tanpa imbalan apapun. Ingat, hanya untuk kali ini saja, apakah kamu paham?"


"Ya, aku paham."


"Baguslah kalau kamu memahaminya."


Dengan cepat, Stephani yang mengulurkan tangannya ke depan ke dada Shilphonia memberikan sedikit mana dari dirinya untuk ditransfer pada Shilphonia agar ia bisa menggunakan kekuatannya untuk sementara waktu dalam menahan gerakan monster Thunro.


Shilphonia yang merasakan sensasi mana dalam jumlah dikit di tubuhnya, tersenyum. Dia yakin kalau ini akan berguna untuk pertarungan nanti, Shilphonia dengan penuh percaya diri berpikir kalau ini akan berhasil sepenuhnya tanpa kesalahan sedikitpun.


"Sekarang kembalilah!"


"Ya-ya, terserah kamu saja."


Alih-alih mengabaikan perkataan tulus Shilphonia, Stephani merasa senang di dalam hatinya saat tahu kalau Shilphonia, kepribadian satunya lagi sudah bertumbuh dan berkembang melebihi apa yang diduganya selama ini.


Awalnya Stephani berpikir kalau Shilphonia akan terus-menerus meminta bantuannya padanya selama dia membutuhkan Stephani, tapi perkiraannya sepenuhnya salah. Shilphonia yang sudah tidak memerlukan dirinya lagi membuat Stephani yakin kalau suatu saat dia dapat mengandalkan dirinya sendiri dengan segenap kekuatannya tanpa perlu bantuan darinya, yang membuat Stephani dapat bersantai lebih lama di dalam tubuhnya tanpa perlu kerepotan mengatasi masalah yang dimilikinya.


Walaupun di dalam hatinya ada rasa iri dan cemburu atas dirinya yang tidak diperlukan oleh Shilphonia, hati Stephani tetap berusaha tegar agar dia tidak terlihat lemah di depannya saat ini maupun seterusnya.


Setelah serangan dari gundukan tanah dan kilatan petir yang menyambar di permukaan tanah yang menyebar ke segala arah, Friya dan Reita yang menghilangkan semua perlindungan membuat mereka memperhatikan kondisi Thunro yang sedang terdiam.


Sekarang waktunya!


Dengan satu kali gerakan tangan yang terulur ke depan yang diarahkan ke Thunro, Shilphonia yang telah memanggil rentetan rantai berwarna keemasan yang muncul dari permukaan tanah dan beberapa lingkaran sihir berhasil mengunci pergerakan Thunro.


"Kalian, bersiap-siaplah untuk melakukan serangan terkuat!"


"Ya."


"Terimakasih, Shilph!"

__ADS_1


"Serahkan padaku!"


Berbeda dengan Friya yang tetap memberikan perlindungan pada masing-masing dari tubuh mereka, [Ultimate Barrier], Reita yang dengan cepat mengaktifkan kedua bebatuan yang muncul di kedua sisinya untuk berjaga-jaga melindunginya saat mendekati Thunro, dia juga menambahkan beberapa [Golem Arm] yang ada di depan dan belakangnya yang berjumlah 4 tangan golem, Reita berniat untuk melakukannya.


Tak hanya [Golem Arm], Reita yang menambahkan beberapa kemampuan lainnya, [Wind Slash] yang telah diperkuat di ujung pedangnya berwarna hitam pekat pemberian dari Regard, ia menebasnya sekali ke arah dada Thunro menyebabkan angin berhembus kencang.


Tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, Reita yang memutar tubuhnya untuk melakukan serangan kedua, dia menggunakan [Wind Slash] yang diletakkan di ujung pedang miliknya, ia menebasnya sebanyak tiga kali pada tubuh Thunro menyebabkan area di sekitarnya mulai berhembus angin kencang yang mampu membuat butiran debu sekaligus percikan kilat yang mengenai tubuh Thunro terlihat seperti kabut yang dipenuhi kilatan petir di dalamnya.


Selesai dilakukan oleh Reita, Sasaki yang terbang ke langit-langit di dalam hutan yang berada lebih tinggi di atas pepohonan, ia membidikkan Thunro menjadi targetnya, berniat untuk menembaknya.


Beberapa misil yang mengarah pada Thunro dalam jumlah banyak berhasil mengenai tubuhnya dibalik asap hitam akibat reaksi elemen antara angin dan petir, ledakan terdengar keras.


Sebelum misil itu mengenai tubuh Thunro, Thunro yang mengeluarkan bongkahan batu besar berjumlah banyak mengarahkannya ke sekitar tubuhnya yang membuatnya dapat bertahan dari serangan Sasaki sebelumnya.


"Sekarang giliran aku!"


Di sekitar Shilphonia dan Friya, Fuuya yang mengerahkan sejumlah mana dalam jumlah banyak di sekitar tubuhnya, berniat untuk mengakhiri pertarungan ini lebih cepat dari sebelumnya.


Mana berwarna biru muda yang keluar membentuk sebuah tampilan seperti Fenrir dapat dilihat jelas oleh Shilphonia dan Friya, mereka dikejutkan dengan penggunaan mana Fuuya yang terlalu berlebihan dalam menggunakannya.


Alih-alih itu digunakan untuk mengakhiri pertarungan yang terjadi sekarang, sebenarnya Fuuya memiliki dua tujuan yang berbeda yang sengaja mengerahkan segala kemampuannya pada mereka.


Pertama, Fuuya berinisiatif untuk menunjukkan pada mereka bahwa dia tidak ada niat untuk membiarkan dirinya jatuh menjadi orang yang terlemah dari mereka, sebaliknya, Fuuya yang menunjukkan kekuatan dan kemampuannya berkeinginan untuk diakui bahwa dia tidak segan-segan menghabisi siapapun yang berani menantangnya, Fuuya akan mengerahkan seluruh kemampuannya dalam pertarungan melawan orang yang menantang tersebut.


Kedua, Fuuya berkeinginan untuk segera mengakhiri waktu yang sia-sia terbuang saat ini. Satu-satunya pikiran yang terus memenuhi benaknya adalah kondisi Regard, sosok yang telah menemaninya selama ini di kamar sekaligus orang yang dapat memahami rasa sakit dari kesepian yang dirasakan Fuuya, Fuuya takut kalau semuanya terlambat saat mereka tiba di tempat Regard berada.


Satu kesalahan yang akan berakibat fatal bagi Fuuya adalah kehilangan Regard.


Dengan ketiadaan Regard, ia yakin kalau dirinya akan kembali ke dirinya di masa lalu yang dipenuhi kesepian dan kesunyian yang membuatnya berada di dalam kegelapan dan keterpurukan yang ada seperti masa lalu yang ditunjukkan pada Regard sebelumnya.


Maka dari itu, Fuuya menolak untuk menghabiskan waktu lebih lama dalam pertarungan karena dia sudah muak atas semuanya jadi dia akan mengerahkan segala kemampuannya di pertandingan ini demi Regard dan dirinya sendiri, keduanya adalah prioritas utamanya.


•••••


Shilphonia POV


Kuat sekali.


Apakah kekuatan dan kemampuan Fenrir setingkat dengan kemampuan Regard?


Aku tidak tahu atas apa yang terjadi sebelumnya di Gunung Baurme pada pertarungan antara Regard dan Fuuya, tapi satu-satunya yang aku yakini sekarang adalah Fenrir ini tidak dapat diremehkan sedikitpun.


Akan seperti apa nasibku nanti saat kami pertama kali bertemu dan bertarung, aku tidak tahu. Dilihat dari sejumlah mana di tubuhnya yang dikeluarkan, aku mungkin akan berakhir kesulitan untuk mendapatkan jarak jauh saat menghadapinya.


Secara keseluruhan, aku dan Fenrir memiliki perbedaan dalam menyerang. Aku menyerang dari jarak jauh sedangkan Fenrir, dia memiliki serangan di jarak dekat, kami berdua saling bertentangan satu sama lain.

__ADS_1


"Mari kita mulai pertarungan ini, Monster Sialan!"


Dengan mana yang dilihat memiliki bentuk seperti Fenrir, Fuuya melesat cepat dari tempatnya berada menuju ke golem tersebut.


__ADS_2