The Necromancer

The Necromancer
Ch. 44,2:Pertemuan Tak Disengaja (2)


__ADS_3

"Seandainya kamu bergabung sejak awal dengan iblis, aku yakin kamu akan mendapatkan kekuasaan mutlak di dalamnya yang tidak pernah kamu miliki di kehidupan yang sama seperti sekarang."


"Maaf, aku tidak tertarik terhadap hal tersebut."


"....."


Alih-alih gadis itu sengaja membesarkan perkataannya tentang manfaat bergabungnya ke dalam ras iblis, gadis itu sebenarnya ingin sekali menjauhkan ancaman yang akan membahayakan nyawanya, tapi karena adanya penolakan dari pria dihadapannya, gadis itu terlihat kesal atas jawabannya tadi.


"Kenapa kamu tidak tertarik untuk bergabung?"


"Aku sudah memiliki semua yang kumiliki dalam hidupku. Mulai dari; penghasilan harian, penghasilan kejutan, teman-teman yang setia, serta kehidupan yang tenang dan damai, aku memiliki semuanya."


Kedua tangan Regard yang dibentangkan di kedua sisi, dia tersenyum atas kelebihannya yang sudah dimilikinya sejak lama.


Baik itu penghasilan dari misi harian Guild Petualang, penghasilan dari jarahan, teman-teman yang terbilang kuat dan hebat, serta kehidupannya yang tenang tanpa diketahui siapapun tentang dirinya yang merupakan seorang Necromancer, itu adalah nikmat yang ada pada Regard sekarang.


Berbeda dengan dirinya dulu yang lemah, tak memiliki kekuatan dan kemampuan, serta memukul monster membutuhkan kepintarannya, Regard justru senang atas manfaat dari Necromancer tersebut.


"Kamu benar-benar tidak waras ya."


"Ya, begitulah."


Memunggungi Regard, gadis berambut merah muda panjang itu berjalan tiga kali, terhenti sejenak sambil menoleh ke arah Regard, tersenyum padanya.


"Bagaimana kalau aku tunjukkan sesuatu yang menarik?"


"Apa maksudmu?"


Tidak menanggapi pertanyaan Regard, gadis itu menjentikkan jarinya membuat tali-tali merah panjang yang terhubung ke setiap tempat, bergerak cepat seolah-olah seperti ditarik oleh sesuatu lalu terhenti saat jentik jari dibunyikan kembali.


"I-ini..."


Terkejut atas apa yang dilihatnya, Regard berkeringat atas penglihatannya dalam mengetahui kalau semua itu benar-benar ulah dari gadis yang ada di hadapannya.


"Bagaimana? Apakah kamu sekarang mengerti bahwa aku lebih kuat dari mereka?"


Sembari menunjukkan itu padanya, gadis berambut merah muda panjang yang menatapnya, tersenyum penuh kemenangan.


Menurut gadis berambut merah muda panjang, dia tidaklah kalah dalam segi kepintaran dan kekuatan. Terlepas dari siapapun musuhnya, dia dapat dengan mudah membuat musuhnya bertekuk lutut adalah apa yang ingin dia perlihatkan pada Regard.


Selama Regard memperhatikan kekejaman yang dilakukan oleh gadis dihadapannya, dia tidak bisa terlihat tenang dan biasa, sebaliknya, perasaannya yang takut dan cemas, mengkhawatirkan kondisinya jika sesuatu terjadi terhadapnya nanti.


"....."


Sayangnya kecemasan yang dimiliki oleh Regard perlahan-lahan sirna dari dalam dirinya tergantikan oleh senyum yang melebar di bibirnya, menandakan bahwa dia terlihat puas atas penampilan yang diperlihatkan oleh gadis itu terhadapnya.


Mulai dari kondisi setiap penduduk kota yang menghilang yang terdapat anggota tubuhnya terpotong seperti; lengan, kaki, kepala, tubuh setengah dari atas kepala hingga kaki maupun pinggang, semua itu benar-benar pertunjukkan yang luar biasa untuk Regard lihat.


Terlebih lagi dengan darah yang membasahi pakaian dan tubuh mereka, serta aliran darah yang menetes membasahi permukaan yang dilewatinya, itu membuat Regard terlihat senang atas pemandangannya.


"Kamu... apakah kamu benar-benar seorang manusia?"


Ragu atas keyakinannya terhadap Regard yang berpikir kalau dia adalah seorang manusia, gadis itu yakin kalau class yang dimiliki oleh Regard, Class Necromancer telah mempengaruhi mental dan pikirannya tanpa disadarinya.


"Ya, aku adalah seorang manusia, setidaknya itulah yang orang-orang lihat terhadap penampilan aku."


Dengan bangga menyanjung dirinya sendiri, Regard langsung merendahkan dirinya dengan wajah keberatan, pasrah atas dirinya yang berbeda dari manusia pada umumnya, dia juga menghela nafas panjang.


Bagi Regard, dia bukanlah seorang manusia melainkan manusia yang memiliki sifat iblis. Mulai dari roh yang dapat dilihatnya, kekejamannya dalam membunuh para penjahat, menyiksa untuk menginterogasi terhadap pelaku penculikan, serta membunuh musuhnya tampa ampun, itu bukanlah hal yang dimiliki oleh manusia pada umumnya.


Apapun yang ada di dirinya, Regard tidak keberatan sama sekali.

__ADS_1


"Yang lebih penting lagi, kenapa kau menginginkan pembicaraan ini terhadapku?"


"Entahlah... aku sendiri tidak tahu."


"Tidak tahu?"


"Ya. Menurutku, kamu luar biasa dari segi fisik maupun sihir, tapi kamu memiliki kelemahan ya."


"Kelemahan?"


Memicingkan matanya yang tajam pada gadis berambut merah muda panjang, gadis dihadapannya tersenyum lebar yang tampak puas atas rasa penasaran yang dimiliki oleh Regard.


"Ya, kelemahan yang kamu miliki adalah kehidupan lama yang belum bisa dilupakan."


"....."


Saat mendengar jawabannya dari gadis di depannya, ekspresi Regard berubah menjadi dingin, tahu atas maksud apa yang dikatakan oleh gadis berambut merah muda panjang tadi.


"Keputusasaan, kebencian, dan dendam, semua ada pada dirimu terhadapku, orang yang telah menghancurkan segalanya di tempat tinggal kamu sebelumnya."


"Ya, kau benar. Saking benci dan kesalnya, aku ingin sekali membunuhmu."


Aura yang terpancar di tubuh Regard terlihat begitu kuat sampai ke gadis berambut merah muda panjang yang dapat merasakan aura tersebut, aura antara intimidasi dan membunuh, keduanya menjadi satu.


Walaupun gadis itu dapat merasakannya, dia tidak bergeming maupun meringkuk dengan kedua lututnya, sebaliknya, dia hanya tersenyum seolah-olah sudah menduga itulah yang terjadi.


"Yah, aku hargai atas apa yang kamu perlihatkan terhadapku, tapi..."


Secara tiba-tiba, tubuh gadis itu tenggelam ke permukaan tanah yang terdapat cairan hitam layaknya pasir penghisap yang perlahan-lahan menghisap tubuhnya ke dalam.


"Kita tidak akan melakukannya sekarang karena aku harus menyiapkan tempat yang pas terlebih dahulu."


Memejamkan matanya, tubuhnya yang telah tenggelam menyisakan leher dan kepalanya membuat Regard hanya memandangnya biasa tanpa melakukan pengejaran dengan tergesa-gesa karena itu akan berakibat buruk dan fatal.


Dalam sekejap, ekspresi yang diperlihatkan berubah dengan cepat dari sebelumnya. Ekspresi yang memperlihatkan kebencian, kekesalan, dan kepuasan tersendiri terlihat di wajah gadis itu membuat Regard mendesah pelan, tidak menyangka kalau dia memiliki sifat seperti itu.


Seandainya Regard tahu sejak awal, ia tidak mungkin tertipu oleh sikapnya yang diam dan tenang yang mudah diajak berbicara, tapi apa boleh buat, semuanya sudah terlambat jadi Regard tidak bisa mencegahnya.


"Pada akhirnya, dia menghilang ya."


Mendongak ke langit-langit malam, Hiragaki tersenyum kecil atas ketidaktahuannya dalam mengetahui bahwa Stahark berniat untuk menemuinya sendiri.


Padahal dia berpikir awalnya dia akan bertemu Stahark nanti di pertarungan yang akan terjadi, tapi siapa sangka kalau Stahark menemuinya lebih awal, Regard jadi berpikir untuk berhati-hati atas kata-kata Stahark tadi terhadapnya.


•••••


Regard POV


Mmmmmm...


Sudah pagi ya.


Merenggangkan tubuhku, aku mengubah posisi tidurku menjadi duduk lalu melihat ke arah jendela yang terlihat jelas kalau mentari sudah mulai terlihat menandakan hari sudah pagi.


"Aku harus berhati-hati mulai sekarang."


Sejak kemunculan Stahark yang datang kepadaku, dia ingin aku bergabung dengan mereka, para iblis agar bisa menjadi rekannya, tapi sayangnya aku menolaknya, dia tidak punya pilihan selain menganggap aku sebagai musuh.


Apalagi dengan kata-katanya sebelumnya, dia ingin mempersiapkan panggung untukku sekaligus makam untuk kematian aku yang pas untuk kumiliki.


"Benar-benar menarik."

__ADS_1


Saking menariknya, aku tidak sabar seperti apa panggung yang disiapkannya untukku.


Suatu saat nanti, kau juga akan membayar atas perbuatan yang telah kau lakukan terhadap kami sebelumnya, Stahark. Entah dengan cara apapun, aku akan membuatmu tetap hidup atau membangkitkan dirimu sekali lagi, aku akan lakukan berbagai macam siksaan yang pas untukmu.


Itulah tujuanku saat selesai berurusan denganmu.


"Baiklah. Sekarang lebih baik jika aku segera mandi."


Benar. Aku baru ingat tentang satu hal.


Saat aku menggunakan kemampuan [Fenrir Mode], tubuhku berubah menjadi sosok yang bukan diriku sendiri, tapi sosok yang mirip seperti Fuuya namun dalam penampilan yang lebih dewasa.


Mungkinkah aku berubah menjadi Ibu Fenrir?


Jikalau aku benar-benar menjadi Ibu Fenrir, mungkin seluruh tubuh dan sikapku akan terlihat sama persis sepertinya. Bahkan penampilan aku yang diperlihatkan tidak mengenakan pakaian apapun, aku bingung mengapa itu bisa terjadi.


Apakah ada semacam sihir khusus yang membuat pakaianku lenyap seketika saat menggunakannya?


Aku benar-benar tidak tahu sama sekali tentang kemampuan itu, tapi sebaik mungkin aku akan menggunakannya saat aku berada dalam kondisi terdesak nanti.


"Yah, akan sangat merepotkan jika aku hanya menggunakan itu saja."


Menggunakan lebih banyak kemampuan akan memberatkan tubuhku, namun di sisi lain itu sangat menguntungkan aku karena aku memiliki kemampuan khusus yang dimiliki oleh orang-orang yang menjalin kontrak denganku.


"Semuanya berada dalam genggamanku."


Itulah perasaan yang dapat aku katakan bagus untuk diriku sendiri.


Yah, meskipun Necromancer adalah class terkutuk, tapi aku bersyukur memilikinya karena itu akan menguntungkan diriku dalam mempelajari berbagai macam hal yang ada, terutama dalam mempelajari kemampuan maupun teknik yang dimiliki oleh setiap orang yang telah aku bunuh sebelumnya maupun orang yang menjalin kontrak denganku.


"Pagi, Regard!"


"Pagi."


"Ya, pagi kalian berdua."


Untungnya mereka tidak sadar tentang pertemuan aku dan Stahark, aku bisa bernafas lega.


Sebelum aku tiba di penginapan semalam, sebisa mungkin aku membersihkan seluruh tubuhku dari aroma mencurigakan agar tidak terendus oleh penciuman Fuuya yang berbahaya dan tajam, itulah mengapa aku dapat selamat dari kecurigaan mereka tanpa ada pertanyaan sedikitpun.


Kalaupun ada pertanyaan, mereka telah menanyakan itu padaku sebelumnya.


"Mengapa kamu lama sekali?"


"Apakah kamu ada urusan mendadak dengan Ruslan?"


Sesuatu seperti itu ditanyakan oleh Reita dan Fuuya yang mengkhawatirkan aku, sedangkan Sasaki sendiri, dia terlihat lebih melekat denganku saat aku menjauh dari dirinya.


Hasilnya seperti yang dapat dibayangkan, Fuuya dan Sasaki yang tertidur pulas denganku di dekatku, mereka berdua membiarkan kedua *********** mengenai tubuhku tanpa mereka sadari semenjak mereka tertidur pulas.


"Huh..."


Benar-benar hari yang buruk, tapi menyenangkan untukku melihat wajah mereka yang peduli terhadapku.


"Hari ini aku akan mandi bersamamu, Regard."


"Aku juga."


"Baiklah-baiklah, kalian boleh mandi bersamaku."


Lebih baik aku mengikuti perkataan mereka daripada menolaknya, mereka akan terlihat sedih nanti.

__ADS_1


Tapi untuk mandi bersama mereka, aku juga diharuskan dalam menggunakan penampilan lain yang berbeda dari penampilan asliku, itulah yang merepotkan untuk dilakukan.


__ADS_2