The Necromancer

The Necromancer
Ch. 40,1:Belenggu dan Kebebasan (1)


__ADS_3

"Selamat datang kalian semua!"


Dihadapan mereka terlihat ketiga sosok yang menyambut kedatangan mereka dengan senyum ramah di kedua wajah mereka, terkecuali pria dengan zirah berwarna perak yang terlihat kesal atas kehadiran seseorang diantara mereka.


"Kanae..."


"Kau benar-benar datang ya, Kawan."


Diantara mereka, pria dengan pakaian kasual terlihat kesal atas kehadiran temannya yang ikut bersama mereka, para iblis dalam menghabisi manusia yang ada di sekitarnya.


Setahu pria dengan pakaian kasual, Veru, Kanae tidak pernah berpikir untuk bergabung dengan iblis maupun bekerjasama dengan mereka. Setiap kali dia mendengar kata iblis, Kanae langsung dengan cepat menolaknya dan berniat untuk membunuh mereka.


Tapi, apa yang dilihatnya sekarang adalah situasi yang tidak diinginkan oleh Veru dalam mengetahui kebenaran yang ada.


"Kau akhirnya datang ya, Shilphonia."


"Ya, aku datang kemari untuk menyelesaikan masalah diantara kita."


"Menyelesaikan? Apakah kamu benar-benar berpikir kalau kami akan memaafkan dirimu karena telah membuat kami seperti sekarang?"


"Entahlah. Aku sendiri tidak tahu, tapi aku yakin kalian pasti juga ingin membicarakan sesuatu terhadapku bukan?"


"Kau benar-benar percaya diri sekali ya."


Diantara mereka, seorang gadis berambut pirang panjang dan sepasang mata berwarna merah muda yang sedang berbicara dengan mereka, kedua sosok yang diduga oleh Shilphonia sebagai Fallen Angel membuat dia yakin bahwa mereka juga ingin berbicara lebih dengannya.


"Kalian bisa atasi salah satunya, biarkan aku atasi yang pria berambut putih."


"Baik."


Shilphonia yang melompat langsung dan mengeluarkan pedang untuk menebasnya, pria berambut putih pendek dengan cepat mengeluarkan sepasang sayap hitam yang telah menahan tebasan pedang berwarna keemasan dari Shilphonia.


"Mari kita menyingkir dari hadapan mereka!"


"Sesuai perkataan dirimu, Nona!"


Dengan tawa dan terkekeh pelan atas kata-kata Shilphonia, pria itu dengan cepat mendorong pedang Shilphonia lalu menghilang dari tempatnya. Shilphonia juga sama, dia dengan segera menghilang dan menjauh dari tempat mereka untuk membiarkan mereka melawan gadis yang diduga sebagai Fallen Angel sama seperti dirinya dan pria yang dilawannya.


"Kita akan akhiri ini sekarang, Sobat."


"Ya, kau benar."


Veru dan Kanae yang perlahan-lahan berjalan menjauh dari tempat mereka memegang pedangnya masing-masing.


Kanae yang memegang pedang berwarna hitam pekat yang terlihat kabut hitam di sekitarnya, Veru yang memegang pedang berwarna perak yang terpancar aura keperakan di sekitarnya, keduanya terdiam dan saling memandang satu sama lain.


"....."


"....."


Tak lama setelah beberapa detik mereka memejamkan mata, mereka menerjang langsung yang membuat udara di sekeliling berhembus kencang karena keduanya yang saling menghantam pedang mereka masing-masing.


"Aku penasaran apakah kau lebih kuat dariku atau tidak, aku yakin kau akan kalah."


"Apakah kau benar-benar berpikir begitu?"


"....."


Di salah satu lengannya, Veru mengeluarkan tiga bola yang langsung ditebas oleh salah satu lengan Kanae membuat bola tersebut meledak dan menghasilkan cahaya yang menyilaukan mata.


"Kuh...."


"Seperti yang diharapkan dari dirimu, kau bahkan tidak mengerti atas pola serangan milikku."


Dengan melemparkan pedang ke depan Kanae, pedang itu memancarkan aura menyilaukan yang kemudian meledak dalam jangkauan luas membuat kawah kecil.


Tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, Veru dengan cepat mengeluarkan beberapa bubuk mesiu yang ditebarkan dan korek api yang dimilikinya untuk menciptakan kobaran api yang tak dapat dipadamkan.


"Selamat tinggal, Kawan!"

__ADS_1


Melemparkan korek api ke bubuk mesiu yang telah tersebar ke sekitar Kanae, rentetan ledakan terjadi berkali-kali membuat Kanae yang dilindungi oleh pelindung transparan kesulitan untuk mempertahankannya dalam posisi diam.


Veru yang memperhatikan kobaran api, terdiam dan melamun atas ingatan yang dimilikinya semasa kecil bersama temannya, Kanae.


Beberapa tahun yang lalu.


Ketika mereka masih berumur 8 tahun, Veru dan Kanae seringkali berkunjung ke Kerajaan Eruguard untuk melakukan aktivitas mereka masing-masing.


Veru yang memiliki kedua orangtuanya bekerja sebagai pemahat patung raja, dia datang ke kerajaan untuk memberitahu bahwa patung telah dibuatnya. Sedangkan Kanae sendiri, dia memiliki seorang ayah yang telah menjadi ksatria kerajaan yang dihormati dan dipandang baik oleh orang-orang di sekitarnya karena dia begitu peduli pada orang-orang lemah yang membutuhkan bantuan mereka.


Keduanya menghabiskan waktu untuk bertemu satu sama lain, belajar pedang bersama Ayah Kanae, dan menghabiskan waktu untuk bercerita masing-masing mengenai keinginan mereka di masa depan.


Veru yang memiliki keinginan untuk menjadi orang yang kuat dan hebat, dia berencana untuk mendedikasikan hidupnya sebagai pria populer yang diidamkan oleh para wanita. Kanae yang memiliki keinginan untuk menjadi ksatria terkuat melebihi ayahnya, dia ingin melindungi yang lemah dengan segenap kemampuan yang dimilikinya agar mereka tidak mengalami nasib buruk seperti yang terjadi pada orang-orang dari kota-kota lain.


Keduanya terus menjalani aktivitas mereka hingga mereka beranjak dewasa yang mulai sibuk terhadap aktivitas mereka masing-masing.


Veru yang mulai memfokuskan diri sebagai petualang, Kanae yang fokus pada pelatihan Ksatria Kerajaan, keduanya tidak dapat bertemu yang membuat mereka saling jauh satu sama lain.


Aku harap kau benar-benar tidak melupakannya.


Ingatan yang telah dilenyapkan olehnya membuat Veru sedih atas hak temannya yang memihak pada iblis daripada manusia.


"Jangan pikir kau telah berhasil menang, Veru!"


"....."


Tercengang atas rentetan tebasan berwarna hitam yang diarahkan di setiap sisi membuat Veru tidak dapat melakukan apapun melainkan terdiam saat mengetahuinya.


Di lain sisi, seorang gadis yang masih menatap keberadaan mereka terkekeh dan tertawa atas apa yang dilihatnya.


"Kalian terlihat menyedihkan sekali. Berpikir bahwa kalian dapat mengalahkan aku, apakah kalian tidak takut kalau diri kalian akan tiada?"


Tidak ada kata-kata jawaban dari mereka yang membuat gadis itu tersenyum lebar atas dugaannya.


Baginya, mereka hanyalah sekumpulan sampah tak berguna yang sengaja disuruh untuk melawannya. Sampah tetaplah sampah, itulah pola pikir yang dimiliki oleh gadis yang memperhatikan mereka dengan seksama.


"Lihat dan saksikanlah kekuatan terhebat aku!"


Kedua tangannya yang membentang di kedua sisi diangkat ke langit-langit yang membuat bola berwarna hitam ke atas dan berubah menjadi dimensi hitam yang memunculkan monster kuat yang berjumlah banyak berjatuhan ke permukaan tanah.


"Ini gawat!"


"Ya, kamu benar."


"Mari kita lakukan sesuai rencana."


"Baik."


Kumpulan monster yang mengelilingi mereka membuat gadis itu tertawa puas pada mereka yang tidak dapat melakukan apapun.


Seorang gadis elf yang memegang tongkatnya memukulnya sekali ke permukaan membuat seluruh tubuh mereka yang ada di sekitarnya dibungkus oleh cahaya kehijauan, kemerahan, dan keemasan.


Tak hanya cahaya, beberapa pelindung seperti [Ultimate Barrier] juga dapat terlihat yang memiliki [Magic Barrier] berlapis-lapis melindungi tubuh mereka yang kemudian transparan, beberapa kemampuan tambahan seperti [Reflection] juga ditambahkan yang terlihat seperti keempat kristal berbentuk shield yang mengelilingi tubuh mereka masing-masing, serta di kepala mereka yang terdapat ketiga titik berwarna perak dapat terlihat oleh gadis tersebut.


"Mari kita lakukan, Teman-teman."


"Ya."


"Baiklah."


"Dimengerti."


Reita yang berada di sisi kanan, Friya yang berada di belakang, Fuuya yang berada di depan, serta Sasaki yang berada di sisi kiri, keempatnya berada dalam formasi yang mereka buat sendiri.


"Waktunya untuk berburu."


Aura keperakan muncul menyelimuti tubuh Fuuya.


Fuuya yang berlari menerjang langsung ke arah kumpulan monster, dia dengan cepat mengeluarkan beberapa Fenrir transparan yang berwarna perak menerjang ke arah mereka, mencabik-cabik tubuh dengan cakarnya dan menggigitnya.

__ADS_1


Berbeda dengan beberapa Fenrir transparan, Fuuya yang mengeluarkan rentetan jarum dari ekornya menyebabkan beberapa monster membeku yang kemudian dia hancurkan dengan hantaman yang kuat menggunakan kedua lengannya yang diperkuat dengan aura keperakan.


Reita yang masih terdiam, dia mengeluarkan rentetan kristal yang mengarah ke langit-langit. Rentetan kristal yang jatuh dari langit membuat seluruh permukaan berubah menjadi jarum berukuran panjang yang memiliki warna beragam jenis yang tiada hentinya menusuk tubuh beberapa monster yang berada dalam jangkauan serangannya.


Tidak melewatkan kesempatan yang ada, Reita juga mengeluarkan [Arm Golem] yang ada di kedua sisinya yang melindungi dirinya dari pukulan dan cakaran monster di sekitarnya lalu menghantam tubuh mereka membuat keberadaan mereka hilang yang hanya menyisakan darah.


"Giliran aku!"


Sasaki yang terbang ke langit-langit mengeluarkan rentetan rudal dalam jumlah banyak, melepaskannya secara bersamaan membuat monster yang terbang seperti monster kelelawar dan burung, serta beberapa monster aneh lainnya tewas akibat ledakan skala besar yang dibuatnya.


Tak hanya rentetan rudal, Sasaki juga mengeluarkan sepasang pedang yang muncul di kedua lengannya yang menebas beberapa monster di dekatnya dengan mudah tanpa perlu mengeluarkan maupun mengerahkan kemampuannya sedikitpun.


Di barisan belakang, Friya yang dengan cepat menggunakan [Meteorit] membuat langit-langit menjadi gelap yang kemudian menghancurkan permukaan yang ada di sekitar menjadi kawah membuat kumpulan monster lenyap tanpa tersisa satupun.


Tidak hanya [Meteorit] yang digunakannya, Friya juga menggunakan beberapa kemampuannya seperti [Thunderbolt] yang mampu melumpuhkan sejumlah monster dalam skala kecil yang kemudian menggunakan [Wind Cutter] untuk membelah tubuh monster menggunakan tebasan angin kuat yang mampu melenyapkan mereka dengan mudah.


"Aku tidak menyangka kalau kalian ternyata cukup kuat."


Terkejut atas kekuatan yang tidak bisa dianggap remeh, gadis itu tersenyum dan mulai turun dari langit-langit ke permukaan tanah lalu melenyapkan beberapa monster yang tersisa untuk tidak dilanjutkan lagi pertarungan mereka.


"Tapi, kalian akan berakhir kali ini."


Di depan gadis itu terlihat garia tipis berwarna hitam yang perlahan-lahan melebar. Dari dalam dimensi hitam yang melebar, terlihat sosok yang mirip seperti malaikat tanpa kepala, kaki dan tangan melainkan hanya ada tubuh dan sepasang sayap yang belum dibentangkan.


Ketika lengan gadis itu menyentuhnya, cahaya keperakan bersinar terang memenuhi tempatnya berada.


Sepasang sayap yang sebelumnya tidak membentang mulai membentang luas di langit-langit dengan warna putih yang indah. Beberapa diantara mereka yang terbang ke langit-langit dan beberapa bulu lagi jatuh ke permukaan tanah.


"Inilah akhir dari hidup kalian!"


Selesai cahaya menyilaukan itu sirna, terlihat dihadapan mereka sosok yang berbeda yang tidak terlihat seorang gadis lagi melainkan sosok yang menyerupai malaikat dengan wujud menyeramkan.


Sosok itu sendiri memiliki penampilan seperti gadis yang sama namun memiliki beberapa perbedaan. Mulai dari sepasang sayap berwarna putih yang membentang luas, bandana yang dikenakan terdapat hiasan sayap putih dan lingkaran emas yang ada di atas kepalanya mengambang dengan warnanya yang redup kehitaman, sepasang lengan dilengkapi dengan zirah tangan berwarna perak, sepasang kaki yang dilengkapi dengan pelindung berwarna hitam pekat dapat terlihat, serta tubuhnya yang dibalut dengan cahaya berwarna perak yang menyilaukan dengan bentuknya yang indah dan cantik membuat mereka terpesona akan keindahannya.


Di kedua lengan sosok itu terlihat pedang berukuran besar yang tampak seperti tombak dan perisai yang dipegang lengan kiri memiliki bentuk aneh antara perpaduan malaikat dan iblis dapat terlihat jelas.


"Mari kita mulai pertarungannya."


•••••


Regard POV


Mereka benar-benar terlihat serius sekali ya.


Dari kejauhan, aku melihat bahwa pertarungan mereka sedang sengit satu sama lain.


Mulai dari Shilph yang melawan Lucifer, mereka berempat yang melawan Nanami, Paman Veru yang melawan Paman Kanae, ketiganya benar-benar cukup sengit dalam pertarungan antara hidup dan mati.


Jika salah satu diantara mereka lengah, mereka akan tiada. Itulah apa yang dapat aku perkirakan dari pertarungan mereka.


Sekarang apa yang harus kulakukan?


Cloning yang berhasil aku buat sebelumnya telah lenyap, begitupun dengan musuh yang berhasil aku musnahkan, tidak ada lagi kesibukan yang dapat kulakukan.


Haruskah aku membantu mereka?


Membantu atau tidak, aku lebih memilih melewatkannya.


Mereka yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi sulit untuk aku membantu mereka. Kalaupun aku mengikuti keinginan egois aku, mereka pasti akan membenciku.


Aku tidak mah itu terjadi jadi aku enggan untuk melakukannya.


Walaupun mereka adalah temanku, aku tetap tidak mau melakukannya karena mereka sendiri yang meminta aku untuk tidak ikut campur dalam urusan mereka.


Benar-benar membosankan sekali.


Tidak ada aktivitas maupun kegiatan, satu-satunya yang dapat kulakukan adalah melihat pertempuran mereka dari kejauhan.


Akankah mereka berhasil memenangkannya atau tidak, aku sendiri tidak tahu pasti mana yang menang dan kalah nantinya.

__ADS_1


Untuk sementara waktu, aku akan menjadi penonton.


__ADS_2