The Necromancer

The Necromancer
Ch. 19:Jebakan Fuzikumibaru


__ADS_3

Kawanan Tyrant menyerang ke arah kami.


Shilph yang menembakkan anak panah dalam jumlah banyak mengenai mereka. Tyrant yang terkena tembakan anak panah terjatuh ke permukaan tanah, tak berdaya lalu tiada.


Reita yang menggunakan pedangnya, maju dan menerjang langsung ke arah Tyrant. Tangkisan demi tangkisan dilakukannya dari cakar Tyrant yang kurasa sangat berbahaya jika kami terkena cakar tersebut. Di saat Tyrant lengah, Reita menebas tubuhnya dengan pedang yang kuberikan, sedangkan Friya, dia berada di tengah-tengah barisan diantara kita, melindungi dan memperkuat kami dengan sihir miliknya.


Yah, bisa dikatakan fungsi Friya sebagai pendukung saat ini, bukan penyerang.


Alasannya sederhana, kami bertiga yang sudah termasuk aku adalah penyerang jadi wajar jika aku menjadikannya sebagai peran pendukung dalam membantu pertempuran kami.


Menghindari cakar Tyrant, serudukan dari kepala dan kibasan ekornya, aku sebisa mungkin menangkis dan menahannya.


Tidak terlalu sulit untuk dilakukan namun akan sangat berbahaya jika aku meremehkannya, itulah mengapa kewaspadaan dan kehati-hatian diperlukan saat ini.


"Regard, awas dibelakang!"


Menoleh ke belakang, kobaran api berukuran besar mengarah padaku.


Aku yang melompat menjauh terdiam atas apa yang sebenarnya terjadi, tapi semua itu lenyap begitu aku tahu siapa yang melakukannya padaku.


"Tadi itu nyaris saja ya, Manusia."


"....."


Tampaknya sosok yang kami tunggu telah memperlihatkan dirinya.


Tudung jubah yang menutupi wajahnya telah dia lepaskan jadi kami dapat melihat penampilan dari wujud asli si dalang dari Marionette Makhluk Hidup.


Dia adalah Fuzikumibaru.


Dengan penampilan rambut hitam, sepasang mata berwarna hitam, dan kulitnya yang berubah menjadi kayu dapat dilihat oleh kami. Tak hanya dirinya, ada kelima orang yang kuduga berhasil aku musnahkan sebelumnya. Namun entah bagaimana, dia dapat dengan mudah membangkitkan dan menghidupkan mereka kembali.


Benar-benar kemampuan yang kuinginkan.


"Serang mereka!"


"....."


Seorang pria berotot berlari ke arah Shilph.


Shilph yang dengan cepat menghindar dari tinjunya melompat sejauh mungkin untuk menjaga jarak darinya. Berbeda dengan Shilph, Friya dihadapkan dengan wanita berambut merah yang kuduga dia adalah iblis yang dikendalikan, yang sedang mengeluarkan rentetan sihir berupa [Fire Ball], [Ice Lance], dan [Magic Sword] membuatnya kesulitan untuk berada di posisi bertahan.


Reita, dia dengan mudah menghindari serangan dari pria tua berjanggut yang membawa palu yang dialiri listrik menghantam ke permukaan berkali-kali tiada hentinya.


Dan aku, aku sendiri kesulitan untuk mengatasi hal yang tidak wajar.


Menghadapi seorang vampir yang menggunakan kawanan kelelawar mengerumuni, menyerang tubuhku dan menangkisnya, aku benar-benar terpojok olehnya.


Cih. Ini benar-benar situasi yang sulit.


Terlepas dari diri kami sendiri, ada orang lain yang sedang bertarung melawan Tyrant.


"Jangan khawatir, aku tidak akan berniat membunuh mereka. Aku hanya tertarik pada kalian yang sedang menjalankan misi bersama mereka."


Begitu rupanya ya.


Tampaknya dia berpikir kita adalah petualang yang diincar dan diinginkannya.


Jika sejak awal dia berkeinginan untuk menjadi musuh kami, aku siap untuk menghadapinya tanpa perlu khawatir atas kondisiku. Yang membuatku cemas bukanlah kondisi mereka melainkan kemampuan yang kumiliki sebagai seorang Necromancer.


Aku takut itu akan menyebabkan rumor buruk yang menyebar di kalangan manusia.


Tak hanya akan kehilangan tempat tinggal, kepercayaan, dan pekerjaan, aku juga mungkin akan berakhir seperti Necromancer pada umumnya yang akan kehilangan kendali atas tubuh dan pikiran yang kumiliki yang dapat dikendalikan oleh kegelapan di dalam tubuhku.


Menghindari beberapa sabit merah terang, aku sebisa mungkin mendekat ke wajahnya.


Wanita itu yang tak memiliki ekspresi, lenyap di kawanan kelelawar lalu muncul di tempat tak terduga. Sekali lagi aku menangkisnya, dia kali ini membelah dirinya yang berasal dari kawanan kelelawar yang berjumlah empat pada dirinya.


Ini gawat.


Harus kuakui ini akan menjadi sulit jika mereka menetap di sini.


Satu-satunya cara adalah memberitahukan ini pada Paman Veru agar dia mengatakan pada pasukannya untuk segera pergi dari tempatnya berada.


"....."


Aku mengandalkan dirimu, Paman.


"Semuanya, aku ingin kalian pergi meninggalkan kami!"


"Meninggalkan Ketua Pasukan?"


"Ya."


Paman Veru yang berkali-kali menangkis serangan dari Tyrant, tersenyum dan mengarahkan ekspresi seriusnya pada mereka.


"Serahkan semuanya pada kami dan kembali kemari bersama bala bantuan dari pasukan lain."

__ADS_1


"Baik."


Pasukan yang awalnya kesulitan mempertahankan diri dalam posisi bertahan mulai pergi mengikuti arahan dari Veru.


Namun...


"Takkan kubiarkan kalian pergi dari sini!"


Sial. Ini akan berbahaya jika mereka tiada.


Mendorong sekuat tenaga pada serangan dari vampir yang menjadi lawan aku, aku mengorbankan diri dihadapan mereka dari serangan pria berwajah menakutkan yang membawa pisau belati di kedua tangannya.


"....."


Sakit sekali.


"Apakah kau tidak apa-apa?"


"Ya. Cepat lari dan pergi sejauh mungkin!"


"Baik."


Mereka yang ketakutan atas kondisiku, pergi dan menjauh dari tempat ini.


Sial. Berapa banyak luka yang disebabkan oleh orang ini?


Tubuhku secara mendadak terjatuh, tak dapat digerakkan dan mati rasa. Aku tidak tahu apa penyebabnya, tapi satu-satunya kemungkinan ialah pisau belati yang ada di kedua tangannya tidak lain adalah...


"Tampaknya kau memahaminya ya, Manusia."


"....."


Fuzikumibaru yang mendekati tubuhku, terlihat senang atas kemenangannya.


Cih. Jangan berlagak bahwa kau sudah menang, dasar sombong. Ketahuilah aku sengaja melakukannya karena aku ingin terlihat keren dihadapan mereka hanya dengan mengorbankan diriku sendiri.


"Kau benar-benar lemah sekali ya."


Menendang tubuhku berkali-kali, aku menahan rasa sakit dari racun yang dilapisi di pisau belati milik pria yang menyerang aku tadi.


Haruskah aku gunakan [Booster Heal] terhadap tubuhku ataukah lebih baik seperti ini?


Berpikir berkali-kali, dia dengan kejamnya menendang tubuhku. Rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuh membuatku berulang kali memuntahkan darah.


Sial. Berpikirlah!


Menegaskan diriku sendiri, aku bangkit dari keterpurukan atas rasa sakit yang aku alami sebelumnya.


"Kau benar-benar hebat sekali ya. Namun apakah kau benar-benar berpikir bahwa kau sudah berhasil menang?"


"Entahlah. Aku sendiri tidak tahu, tapi..."


"Aku bisa menang tanpa melakukan apapun terhadapmu saat ini."


Orang-orang yang sebelumnya menyerang mereka beralih ke arahku.


Mulai dari pria berotot yang memukul perut membuat aku terpental jauh ke belakang berkali-kali mengenai pohon. Dilanjutkan oleh wanita iblis yang melancarkan serangannya menggunakan gundukan tanah untuk mengikat pergerakan aku, disertai dengan wanita vampir yang menebas tubuhku beberapa kali dari tebasan sabit miliknya.


Kemudian pria tua berjanggut dengan palu listrik di tangannya memukul permukaan menyebabkan aliran listrik bertegangan tinggi membuat tubuhku sulit untuk menahannya.


Dan yang terakhir, pria yang sebelumnya menusukku dengan pisau belati beracun melemparkan rentetan pisau ke arahku membuat tubuhku kembali dilanda oleh rasa sakit di seluruh tubuh.


"Bagaimana rasanya? Apakah kau marah, benci dan frustasi?"


"....."


Menatap tajam ke arahnya dengan ekspresi kesal, dia tahu bahwa berbicara percuma jadi dia sengaja melepaskan rambutku dan beralih ke ketiga orang yang bersamaku sebelumnya.


"Baiklah. Jika kau benar-benar tidak merasakan rasa sakit, aku bisa melakukan sesuatu pada teman-temanmu."


Menggerakkan kedua lengannya, beberapa lingkaran sihir yang dipijak oleh mereka bersinar terang.


"Ini..."


"Mustahil."


"Mungkinkah dia..."


"Tepat sekali. Aku telah mempersiapkan ini sepenuhnya demi mendapatkan pion penting lainnya agar bisa menaklukkan manusia."


Menaklukkan ya.


Sekali lagi, aku memuntahkan darah berkali-kali.


Sial. Berapa banyak racun yang diarahkan ke tubuhku? Kenapa dia tidak langsung membunuhku?


Tubuhku yang tidak kuat menahan rasa sakitnya membuat pandanganku samar-samar. Aku tidak dapat melihatnya dengan jelas ke arah mereka namun mendengar perkataan mereka yang memanggil namaku berkali-kali lalu sirna.

__ADS_1


Apakah mereka akan menjadi pion baru?


Tak dapat menahannya lebih lama, aku memejamkan mata karena tidak kuat menahan terlalu banyak racun yang berhasil menyebar ke dalam tubuhku dan tebasan yang dilakukan oleh sabit dari gadis vampir.


•••••


Benar-benar lemah sekali.


Fuzikumibaru yang mendekati Regard, memegang wajahnya yang telah memucat lalu melepaskannya.


Dia berpikir bahwa Regard adalah orang yang sempurna yang dapat melawannya namun dugaannya telah salah. Bukannya melawan dirinya, Regard sendiri tidak mampu menahan racun yang menyebar dengan cepat di tubuhnya.


"Regard!"


Veru yang berkali-kali memanggilnya sambil menebas beberapa Tyrant terkejut atas kepergiannya.


Bagi Veru, kesalahannya dapat dilihat. Regard yang telah tiada dan rekan-rekannya yang dikendalikan oleh Fuzikumibaru menandakan bahwa ini adalah akhir dari segalanya.


"Sekarang mari kita lihat!"


Menggerakkan jari-jarinya, Fuzikumibaru mencoba beberapa kemampuan yang dimiliki oleh ketiga gadis yang berhasil menjadi Marionette Makhluk Hidup untuknya seorang.


Mulai dari Friya yang mampu membuat sihir tingkat tinggi berkali-kali, Shilphonia yang mampu melemparkan rentetan anak panah sesuai keinginannya, serta Reita yang mampu membuat elemen di sekitarnya menjadi kekuatan.


Semuanya benar-benar sempurna untuk Fuzikumibaru.


"Baiklah. Mari kita pergi, Semuanya!"


Dirasa tidak ada yang mampu mengalahkan jumlah pion miliknya, Fuzikumibaru memutuskan mengabaikan Veru yang sendirian melawan kawanan Tyrant dalam jumlah yang banyak untuk dilawannya.


"Regard! Regard!"


Setelah berhasil memastikan bahwa Fuzikumibaru menjauh, Veru dengan serius mengeluarkan tebasan berkali-kali hingga akhirnya menyebabkan Tyrant yang ada di sekitarnya musnah dalam sekejap.


"Sadarlah, Regard!"


Berlari langsung ke arah Regard, berkali-kali Veru memukul wajahnya namun dia tidak sadarkan diri.


Tubuhnya yang dingin, serta kulitnya yang pucat membuat Veru yakin bahwa dia telah tiada. Kematiannya yang mendadak membuat Veru menyesal karena berpikir bahwa Regard dapat melakukan sesuatu tanpa perlu diketahuinya.


Baiklah. Sekarang mari serius.


Dibalik pohon yang ada di kejauhan, sosok berjubah hitam yang memperhatikan suasana mengharukan membuat dia tidak tega untuk melihatnya lebih lama.


Prioritas utamanya saat ini adalah menyusul ke tempat Fuzikumibaru bersama beberapa pion yang dimilikinya, sosok itu sebisa mungkin akan mengakhiri semuanya dalam sekejap.


Di lain tempat di dalam penginapan, ketiga gadis sedang menyandarkan punggung mereka di pemandian air panas yang dikhususkan untuk para wanita.


"Apakah tidak apa-apa membiarkan dia sendirian?"


"Tentu."


"Itu benar."


Meskipun kedua temannya berusaha meyakinkannya, ekspresi ragu dapat terlihat jelas di wajah gadis berambut pirang panjang.


Menurutnya, membiarkan teman mereka pergi adalah kesalahan. Bukan hanya akan menyebabkan kerusakan yang mengerikan dan menakutkan, ada kemungkinan lain bahwa Regard akan menjadi murka atas rencana yang disusunnya sebelumnya.


Kembali ke beberapa saat yang lalu.


Di dalam kamar penginapan, Regard mengumpulkan semua orang untuk membicarakan tentang misi berbahaya yang akan dihadapinya.


"Apakah kamu yakin membiarkan dirimu sendirian dalam misi kali ini?"


"Ya, aku akan melakukannya sendiri namun aku membutuhkan bantuan dari kalian."


"Bantuan kami?"


Mengangguk pada pertanyaan Reita, Regard menjelaskan rencananya pada semua orang yang membuat mereka terkejut atas ide barunya yang jelas bukan ide biasa untuk dikemukakan.


"Aku mengerti. Kami hanya perlu melakukan apa yang kamu minta, bukan?"


"Ya. Mohon bantuannya, Teman-teman!"


Mereka bertiga yang tahu bahwa idenya benar-benar brilian membuat mereka mau melakukannya.


Mulai dari Reita yang menggunakan permukaan kayu yang dipijaknya berubah menjadi penampilan manusia yang menyerupai mereka bertiga, Friya yang mentransfer sejumlah mana ke dalam tubuh mereka yang palsu, serta Shilphonia yang menuangkan berbagai macam kemampuan terhadap dirinya yang palsu membuat mereka terlihat sempurna.


Sentuhan terakhir ialah Regard memberikan informasi yang dibutuhkan yang akan dapat diterima langsung oleh mereka bertiga jadi mereka tidak perlu khawatir atas kondisi tak terduga yang terjadi nantinya.


"Baiklah. Dengan begini semuanya telah selesai."


"Ya."


"Benar."


"Aku setuju."

__ADS_1


Setelah semua persiapan selesai, satu-satunya yang mereka perlukan adalah membiarkan Regard bersama diri mereka yang palsu melakukan misi bersama-sama tanpa disadari oleh Veru maupun Ksatria Kerajaan lainnya.


__ADS_2