
Di cuaca yang sejuk dan hangat, sup sangat pas untuk dijadikan sarapan pagi. Setiap orang menerima porsinya masing-masing. Jika ada yang mau menambah porsi, Regard dengan siap memberikannya.
"Bagaimana makanannya?"
"Enak."
Di sekitar mereka, seorang gadis berambut putih pendek menyeruput kuah sup yang diminumnya. Terasa hangat dan pas pada bumbunya, itulah perasaannya saat menikmatinya.
Shilphonia yang memperhatikan gadis berambut putih pendek, menggeser duduknya ke arah Regard dan membisikkan sesuatu padanya.
"Apakah kamu yakin membiarkannya menetap?"
"Apa maksudmu?"
"Tidakkah kamu menyadarinya? Dia adalah musuh kita. Ada kemungkinan dia akan melawan kita nantinya."
Meskipun mereka saling berbisik satu sama lain, gadis berambut putih pendek menyadari pembicaraan mereka.
Namun, dia secara acuh melanjutkan sarapan paginya dengan lahap. Setelah selesai sarapan pagi, dia meletakkan mangkuk di atas permukaan lalu bersiap untuk pergi.
"Tunggu sebentar!"
"Ada apa?"
"Apakah kau kemari untuk mengintai kami?"
"Apa maksudmu?"
"Tidak tahu ya."
Mengacuhkan Regard, gadis itu berjalan memunggunginya dan pergi cukup jauh dari tempatnya berada.
Regard yang memperhatikan punggungnya, dia hanya terdiam. Ekspresinya yang kesal dan benci diarahkan padanya tanpa dihilangkan jelas dari wajahnya sendiri.
"Regard!"
Senyum sempat menghiasi wajahnya sebelum dirinya sirna dari tempatnya berada.
Trang!
Benturan keras saling berhadapan satu sama lain.
Regard dengan [Black Sword] di tangan kanannya, dan gadis berambut putih pendek dengan sejenis mesin berbentuk runcing yang panjang layaknya pedang di atas pergelangan tangannya, keduanya saling beradu satu sama lain.
"Menarik."
Menambahkan tumpuan berat pada kaki dan tangannya, gadis itu berusaha sekuat mungkin untuk menahannya.
Sayangnya usahanya sia-sia.
Sebelum dapat menahannya lebih lama, Regard dengan cepat menendang perutnya yang menyebabkan gadis itu terlempar cukup jauh ke permukaan tanah, membenturkan tubuhnya berkali-kali.
Menghilang dari tempatnya berada, Regard dengan segera mengeluarkan [Ice Lance] dalam jumlah banyak yang diarahkan dari udara menuju ke arahnya.
Gadis itu sebisa mungkin menggunakan mesin berbentuk persegi panjang yang menyerupai perisai untuk melindunginya dari tembakan tombak es yang tiada henti.
"Dia kuat sekali."
Sebelum menggunakan mesin berbentuk senapan dalam jumlah banyak, Regard lagi-lagi menendang tubuhnya ke langit-langit, permukaan tanah, dan samping yang dilakukannya tanpa ampun.
Mereka berlima yang memperhatikan sikap Regard yang berubah menjadi kejam dan agresif sama sekali tidak menduga ini akan terjadi, termasuk Sasaki.
Dia sama sekali belum pernah mengetahui bahwa tuannya, Regard akan mengeluarkan amarah dan kebenciannya lebih dari apapun untuk dirinya sendiri dan keselamatannya.
Apalagi Regard telah mengatakan padanya, dia akan melindungi Sasaki tidak peduli apapun yang terjadi nantinya.
Dengan kata lain, Sasaki terharu pada kepedulian tuannya selama ini.
"Guh..."
Rentetan bola api, disertai dengan sambaran kilat berkali-kali menghantam permukaan, diikuti oleh gundukan tanah yang berkali-kali mengenai tubuh gadis berambut putih, dirinya tidak mampu menahannya sebaik mungkin.
"Enyahlah!"
Tepat dibelakangnya, kekuatan dan kemampuan penuh Regard dikerahkan.
Dirinya yang berubah menjadi sosok Fenrir memiliki penampilan yang sama seperti Fenrir. Mulai dari rambutnya yang tiba-tiba memanjang dan berubah warna dari putih menjadi biru, sepasang telinga serigala dan ekor panjang yang lebat muncul, bulu-bulu tangan dan kaki yang terlihat, serta taring dapat dilihat oleh mereka berlima.
Tak hanya penampilan, tubuh Regard telah sepenuhnya berubah menjadi sosok wanita dewasa yang telanjang bulat memperlihatkan tubuhnya tanpa sehelai pakaian di dirinya.
Dum!
Terlempar akibat tendangan kuat dari kemampuan fisik yang dimiliki Fenrir, gadis itu memuntahkan darahnya berkali-kali saat dia terjatuh di permukaan tanah.
Mengaktifkan [Fenrir Mode], tubuh Regard yang diselimuti oleh api biru dalam jumlah banyak membentuk penampilan Fenrir raksasa yang siap untuk menerjangnya. Diikuti oleh [Infinity Spirit] yang diaktifkan, dia dengan cepat menjadikannya sebagai sepasang sayap yang bersamaan dengan bentuk Fenrir.
"Inilah akibatnya jika kau melenyapkan orang terdekatku."
Hembusan angin yang terpancar kuat di sekitarnya dapat dirasakan. Diikuti dengan hembusan es yang terasa dingin dan badai salju yang tiada henti menyelimuti area di sekitar benar-benar membuat mereka tercengang atas apa yang akan Regard lakukan.
"Regard!"
Berisik!
__ADS_1
Mengangkat salah satu lengannya, dinding es yang terbentuk layaknya taring menutupi penglihatan mereka.
"Sekarang waktunya kau lenyap, Hu-Machina."
Melesat bagaikan kilat, Fenrir menelan musuhnya tanpa ampun. Kobaran api yang menggerogoti tubuh Hu-Machina perlahan-lahan membakar dan melenyapkan seluruh tubuhnya hingga tak tersisa.
Sebelum tubuhnya lenyap, Regard menggunakan rentetan bulu-bulu sayap dari [Infinity Spirit] yang melesat dengan kecepatan tinggi menembus kulit Hu-Machina menyebabkan darahnya menetes sebelum akhirnya tubuh Hu-Machina lenyap sepenuhnya.
Selesai melakukannya, Regard menghilangkan seluruh kemampuan dan kekuatannya.
Tubuhnya yang terhuyung ke tanah, menahan kesadarannya sebisa mungkin untuk tidak diambil alih oleh kegelapan di dirinya sendiri. Mengambil botol kecil dari [Dimension Portal], Regard dengan terburu-buru meminum darah dari beberapa botol lalu menyudahinya.
Sebisa mungkin Regard mengubah kembali sosoknya menjadi seorang pria dan melenyapkan sosok Fenrir dewasa yang berkelamin wanita tanpa pakaian sedikitpun sebelumnya.
"Ini...."
"Luar biasa."
Tepat ketika dinding es berbentuk taring lenyap, mereka mendapatkan seluruh permukaan tanah yang disebabkan oleh pertarungan mereka berubah drastis menjadi medan pertempuran.
Mulai dari tanah yang retak, gundukan tanah yang terlihat, tombak es di bekas retakan, kawah besar yang berhasil dibuat benar-benar membuat mereka terdiam beberapa saat.
"Maaf membuat kalian terganggu."
Sebelum akhirnya mereka sadar, mereka tidak mengatakan apapun melainkan menerimanya dengan senang.
"Tuan..."
Secara mengejutkan Sasaki memeluk Regard dengan erat. Tangis sempat terlihat di wajahnya, begitupun nadanya yang terisak-isak oleh tangisannya tadi, Regard yakin dia terharu atas kepeduliannya dalam kondisinya sekarang.
"Apa yang akan kita lakukan nanti?"
"Sepertinya kita akan menginap untuk semalaman lagi."
"Lagi?"
"Ya. Ada sesuatu yang ingin aku coba lakukan."
"Baiklah."
Dengan itu mereka telah melupakan keberadaan dari gadis berambut putih pendek yang sebelumnya berada di tengah-tengah mereka layaknya angin lalu yang berhembus kencang.
•••••
Regard POV
Sekarang waktunya menguji.
Menggunakan [Shadow Clone], aku mengubah penampilannya berkat [Illusion] yang dapat terlihat jelas kalau dihadapan aku seorang gadis berambut putih pendek yang tidak ada jiwa di dalam dirinya.
"Ya. Tapi, apakah ini aman?"
"Ya, serahkan padaku."
"Baiklah."
Memukul perutnya saat dia terbaring dan memejamkan matanya, aku mengeluarkan jiwanya yang telah berhasil digenggam olehku.
Jiwanya terlihat bergerak-gerak dengan unik.
Entah sudah berapa lama, aku terbiasa melihat jiwa-jiwa keluar dari tubuh seseorang. Apakah karena class aku sebagai seorang Necromancer ataukah karena aku selalu menggunakan kemampuan ini pada mereka, aku sendiri tidak tahu.
Yang terpenting saat ini adalah melakukan ritual khusus dari class aku sendiri agar Sasaki bisa mendapatkan tubuh yang lebih baik.
Meletakkan jiwanya ke dalam tubuh Hu-Machina, aku mulai mengaktifkan [Infinity Spirit] disaat yang bersamaan.
Lingkaran sihir mulai membentang luas di permukaan yang dipijak lalu menyebar dengan warna ungu gelap yang perlahan-lahan mulai mengeluarkan cahaya yang menyilaukan.
"[Curse of The Death]."
Ini adalah sihir kebangkitan yang mengerikan.
Jiwa-jiwa yang bermunculan dari lingkaran sihir mulai memasuki tubuh Hu-Machina sekaligus menyatu bersama jiwa Sasaki.
Menahannya di posisi ini, aku menggerakkan tangan ke perutnya seolah-olah mendorongnya. Lingkaran sihir disertai dengan tulisan-tulisan mulai muncul beberapa garis di tempat aku mendorongnya.
Garis-garis itu perlahan-lahan mulai menyebar lalu sirna dalam sekejap bersamaan dengan lingkaran sihir yang ada di bawah pijakan kaki kami yang berhenti bersinar terang.
Apakah berhasil?
Memeriksa detak jantung yang normal, nafasnya yang teratur, dan denyut nadi yang dapat dirasakan, semuanya berjalan lancar.
Sekarang tinggal menunggu dia sadar.
Merebahkan tubuhnya ke permukaan, aku duduk di dekatnya.
Mungkin dia akan terbangun dengan kepribadian yang berbeda dari Sasaki yang biasanya. Berkat campuran jiwa yang berhasil menyatu satu sama lain, ada kemungkinan dia bisa memiliki kepribadian ganda seperti Shilph atau satu kepribadian.
Yang terpenting saat ini adalah mengamati situasi yang akan terjadi pada dirinya.
"....."
"Bagaimana kondisimu?"
__ADS_1
"....."
Dia melihatku lalu melihat ke arah lain.
Setelah terbangun dari tidurnya dalam posisi duduk, dia menggerakkan tangannya dan jari-jarinya.
Apakah dia masih belum bisa memahami dirinya sendiri?
Aku tidak tahu bagaimana cara untuk memastikannya, tapi setidaknya aku hanya perlu memperhatikan kondisinya sekarang. Apakah berjalan baik atau gagal, semua akan terjawab nanti.
•••••
"Tuan, apakah itu kamu?"
"Ya.".
Dengan senyum ringan di wajahnya, Regard mengangguk.
Gadis berambut putih pendek dengan segera memeluknya dan menangis dengan keras. Hatinya yang takut kalau dia akan tiada untuk kedua kalinya tidak ingin itu terjadi.
"Selamat datang kembali, Sasaki!"
"Ya."
Dalam pelukan hangat yang erat, keduanya bertukar emosi yang mendalam dari perasaan mereka masing-masing.
Sasaki yang dapat hidup kembali usai jiwanya dipindahkan ke tubuh barunya merasa bahagia atas kepedulian tuannya, Regard.
Regard juga sama. Dirinya berpikir bahwa kepribadiannya akan berbeda dari sebelumnya, tapi sepertinya perkiraan itu telah salah.
Ketika Regard mengetahui reaksi dan perasaan Sasaki terhadapnya, dia tahu betul di depannya bukanlah Sasaki baru yang diciptakannya melainkan Sasaki yang dikenalnya selama ini.
"Bagaimana rasanya?"
"Semuanya baik-baik saja."
Memegang kepalanya, Regard mengangkat tubuhnya dan menyuruhnya untuk tidur.
Sasaki mengikuti sarannya. Dia dengan segera dituntun oleh Regard menuju ke kamarnya untuk bisa beristirahat tenang di tubuhnya yang baru.
Tepat di keesokan hari, di siang yang cerah dengan mentari yang bersinar terang yang menyebabkan terik dari sinarnya terasa panas, semua orang berkumpul di lapangan.
"....."
Kebanyakan dari mereka kebingungan atas kehadiran seseorang yang ada di tengah-tengah mereka yang sebelumnya mereka pikir telah lenyap oleh kemurkaan Regard.
Tapi, orang itu dengan senyum ringan melambaikan tangan pada mereka layaknya tidak terjadi apa-apa di kemarin malam.
"Baiklah. Mungkin ini sedikit membingungkan bagi kalian, tapi aku akan menjelaskan tentang kehadiran orang ini."
Regard yang menatapnya, mengangguk. Begitupun dengan gadis di sisinya yang ikut memperhatikan tatapannya, tersenyum dan mengangguk.
"Namaku adalah Sasaki. Aku adalah teman lama dari Regard."
"Teman lama?"
"Mungkinkah..."
"Jangan bilang kalau kamu..."
Sebagian besar ekspresi terkejut dapat dilihat jelas oleh mereka.
Mereka yang berpikir bahwa tindakan atas perpindahan jiwa itu mustahil ternyata dapat dengan mudah dilakukan Regard tanpa efek samping apapun.
Batuk sesaat, Regard mulai memasang ekspresi serius ke arah mereka.
"Mungkin ini sedikit mengejutkan kalian, tapi setidaknya semua berjalan lancar."
"Itu benar. Berkat Tuan, aku dapat dihidupkan kembali di tubuh yang hebat ini."
Mengeluarkan bilah pedang dari mesinnya yang muncul di salah satu tangannya, Sasaki menebas udara kosong yang seolah-olah terlihat lebih keren.
Semua orang yang memperhatikannya, terkagum. Tepuk tangan terdengar berkali-kali hingga akhirnya mereda.
"Baiklah. Sekarang waktunya kita untuk pergi."
"Ya."
"Baiklah."
Melanjutkan perjalanan, mereka berjalan menuju ke lokasi berikutnya yang tidak jauh dari Dataran Miju.
"Sasaki?"
"Tuan, kamu terasa lembut sekali."
"....."
Secara mengejutkan orang-orang yang berjalan, Regard sama sekali tidak menyangka bahwa sikap manja Sasaki dapat dirasakannya sekarang.
Di sisi satunya, Fenrir mendesis seolah-olah terlihat kesal dan benci atas kehadiran musuh barunya yang tampak menjengkelkan karena telah memeluk tubuhnya melebihi perkiraannya.
"....."
__ADS_1
Melihat senyum yang dipancarkan di bibir Sasaki, Fenrir semakin kesal dan benci padanya.