The Necromancer

The Necromancer
Ch. 31:Nama Baru dan Ingatan Hu-Machina


__ADS_3

Hari itu...


Aku bermimpi bahwa Lost Town adalah kota hidup yang telah aku dan kelompok aku hancurkan.


Di tengah kobaran api yang tinggi dan membara, teriakan keputusasaan, kebencian, dan dendam dapat aku rasakan dari tiap-tiap orang yang berhamburan di setiap tempat.


"Kenapa kamu diam saja, Namusa?"


"Aku... aku tidak tahan lagi."


Salah satu orang yang ada di langit-langit yang sedang aku perhatikan, dia adalah orang yang telah dibunuh oleh Tuan dan dimasukkan jiwaku ke dalamnya.


"Kamu..."


Menampar dan memukulnya berkali-kali, wanita di depannya menarik pakaian di lehernya dengan ekspresi kesal.


"Jika kamu tidak mau meneruskannya, kamu akan menerima konsekuensinya."


Melepaskan genggaman di pakaiannya, wanita itu mengancamnya.


Tentu aku tahu atas maksud dari konsekuensinya karena aku dan dia, kami telah menjadi satu dalam segala hal yaitu pengalaman hidup dan memori yang kami miliki, keduanya saling tumpang tindih di dalam tubuh baru.


Tragedi terus berlanjut tiada henti.


Setiap penduduk kota yang berhamburan, orang-orang dari mereka selalu membunuhnya. Baik itu memenggal kepala, memotong lengan dan kaki, serta melenyapkan mereka tanpa tersisa apapun.


Melihat pemandangan yang mengerikan dan menakutkan, ada dua sisi yang sedang kurasakan.


Di satu sisi, aku ingin mimpi ini segera berakhir usai aku bangun secepatnya. Di sisi lain, aku ingin membuang jauh ingatan yang terus berulang kali aku lihat.


Setelah menyaksikan tragedi yang ada di Lost Town, seluruh kelompok mereka yang terbang di langit tersenyum puas atas hasil yang memuaskan dari menghancurkan dan membunuh para korban tak bersalah.


"Namusa..."


Tepat di saat kata-kata itu diucapkan oleh wanita yang berada di depan mereka, yang aku duga sebagai seorang pemimpin, tidak, dia adalah pemimpin dari pasukan mereka, melesat dengan kecepatan tinggi lalu menusuk tepat di dadanya.


"....."


Sebagian ingatan yang kumiliki bergegas memeriksa dadaku, tidak ada apa-apa yang terjadi di sana seperti bekas lubang yang membesar maupun darah tidak dapat dilihat olehku.


Kenapa aku harus bertindak aneh seperti ini?


Aku sendiri tidak percaya bahwa aku bergerak sesuai apa yang diperlihatkan di ingatan yang ditunjukkan langsung padaku.


Setelah berhasil menusukkan pedang besi tajam yang berasal dari mesinnya, aku memperhatikannya dengan jelas. Menjauh dari tempatku, wanita itu memerintahkan setiap anggota di pasukannya untuk segera melenyapkan aku.


Rentetan misil ditembakkan dari beberapa anggota pasukan mereka yang terdapat banyak melayang di udara memenuhi langit-langit malam lalu mengenai tubuhku.


"Guh...."


Sebisa mungkin aku menghindar dan berpindah tempat dengan cepat, namun usahaku gagal.


Setidaknya, itulah apa yang kulihat.


Di beberapa tempat, orang-orang itu mengepung diriku, menusuk pedang mereka di beberapa anggota tubuh lalu dengan ekspresi tanpa simpati dan perasaan, melepaskan pedangnya yang membuat darah mengalir deras dari luka yang mereka buat.


Terjatuh ke permukaan tanah, aku tidak dapat menggerakkan tubuh.


Tidak tahu apakah itu keberuntungan atau kebetulan, diriku yang ada di dalam ingatan, dia dengan segera bangkit setelah seluruh pasukannya pergi meninggalkan dirinya.


Sial.


Mengutuk atas dirinya sendiri, aku yakin kekesalan dan kebencian menyelimuti hatinya.


Fakta dia telah berkontribusi penuh atas pekerjaannya selama ini telah membuatnya dibutakan oleh kehancuran dan hawa membunuh yang terus mengalir dalam darahnya, tidak bisa dilupakannya.


Bunuh, hancurkan, dan musnahkan.


Kata-kata itu membisik di telingaku, menyuruh aku untuk mengikuti apa yang seharusnya dilakukan sejak awal.


Apakah ini kutukan?


Tidak, ini adalah aturan yang dibuat sejak awal.


Ingatan samar-samar yang berhasil diperlihatkan di benakku, seorang wanita dan pria berada di kejauhan.


Mereka adalah orang yang kami kenal sebagai King dan Queen pada kelahiran yang berhasil menumbuhkan aku dan mengembangkan bakat yang ada di dalam diriku.


"Mereka..."


Di tengah kobaran api, diriku yang satunya yang berjalan untuk meninggalkan kota berhenti sejenak.


Luka yang berhasil diderita perlahan-lahan sembuh, begitupun dengan mental yang sebelumnya telah hancur oleh kekejian mereka, semua dapat dipulihkan.


Huh...


Kenapa aku harus terus-menerus melihat kejadian ini?


Aku sudah tidak kuat untuk melihatnya.


Tuan, tolonglah aku!


•••••

__ADS_1


Malam panjang terus berlanjut.


Setiap orang yang tertidur pulas di tiap-tiap kamar yang dibuat oleh Friya, diselimuti oleh selimut kasur dan kasur kanopi yang nyaman.


"Baiklah."


Di tempat yang sedikit jauh, Regard membuka telapak tangannya.


Sihir hitam berkumpul di telapak tangan, menari-nari lalu membesar membentuk sebuah benang besar yang melilit satu sama lain.


Berdasarkan kemampuan dan kekuatan, aku mampu memperoleh apapun dari Necromancer yang berhasil aku kalahkan.


Melenyapkan benang-benang di telapak tangannya, Regard mengepalkan dan membuka telapak tangan, tersenyum pada perubahannya yang mendadak cepat.


Terlepas dari kekuatan dan kemampuannya yang hebat, dirinya tidak perlu khawatir atas kematiannya nanti.


Kemampuan baru telah diperolehnya.


"Necromancer Demon ya."


Sepengetahuannya, Necromancer di bagi beberapa definisi yang berbeda-beda. Mulai dari Necromancer Human, Necromancer Demon, dan Lord of Necromancer, ketiganya memiliki definisi masing-masing.


Necromancer Human adalah Necromancer dimana seseorang dibatasi dalam kemampuan dan kekuatan yang dimiliki dan diperoleh. Meskipun terdengar kuat dan hebat melebihi makhluk apapun, ada batasan tertentu dalam menggunakan beberapa kemampuan di Necromancer.


Kemampuan yang paling penting yang sulit untuk dipertahankan dalam waktu lama adalah [Infinity Spirit] yang akan menguras dan mengurangi seluruh energi dan mana dalam jumlah banyak menyebabkan seseorang akan dikendalikan oleh kegelapan di dalam dirinya.


Necromancer Demon adalah Necromancer dimana seseorang tidak dibatasi dalam menggunakan kemampuan dan kekuatan yang sebelumnya terbatasi, sekarang tidak terbatas dalam segalanya.


Baik itu [Infinity Spirit] dan kemampuan lainnya yang mematikan dan menakutkan, orang tersebut tidak akan mengalami efek apapun dari kegelapan. Sebagai gantinya orang tersebut akan sedikit mengalami perubahan pada sikap dan pikirannya yang perlahan-lahan menjadi iblis.


Dan yang terakhir ialah Lord of Necromancer.


Lord of Necromancer adalah Necromancer terkuat dan terhebat melebihi kemampuan dan kekuatan yang ada pada makhluk apapun. Jauh melebihi batas rata-rata dan umum, Lord of Necromancer bisa dikatakan setara dengan Raja Iblis.


Dengan kata lain, seseorang yang mencapai tingkat Lord of Necromancer adalah tingkat tertinggi dari tingkatan Necromancer lainnya.


Benar-benar mengerikan ya.


Alih-alih dia senang atas kemampuan dan kekuatannya yang sudah tidak dibatasi, Regard memilih untuk tetap menjadi dirinya yang lama.


Perkiraannya yang akan benar-benar terjadi, sekarang telah menjadi kenyataan.


"Tuan... Tuan... Tuan...."


"Sasaki!"


Melesat cepat menggunakan [Acceleration], Regard berada di depan Sasaki, sambil memeluk erat tubuhnya yang dalam posisi duduk.


"Jangan khawatir, aku ada di dekatmu."


"....."


Di dalam salah satu kamar, insting seorang gadis dibangunkan oleh hal yang tidak diinginkannya.


Keluar dari kamar menuju ke halaman depan yang luas membentang ke permukaan di hadapan mereka, gadis itu terdiam sesaat atas apa yang dilihatnya.


Sudah kuduga...


Tidak terima atas kedekatan yang dilakukan oleh Regard pada Sasaki, gadis berambut biru tua panjang, Fenrir berjalan perlahan-lahan ke arah mereka.


"Regard..."


Tanpa ada alasan lain, dia memeluk punggung Regard.


Mengarahkan wajahnya yang mengejek pada Sasaki yang terlelap tidur, Fenrir yakin itu hanya strategi darinya dalam mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari Regard.


Fenrir tahu karena dia dulu seringkali dekat dengan Regard jadi dia tidak terkejut atas strategi Sasaki yang mencoba untuk mendekatinya dengan cara sama seperti yang dilakukannya.


"Apakah kau tidak bisa tidur, Fenrir?"


"Ya. Aku selalu bermimpi buruk akhir-akhir ini."


Dipenuhi dengan kebohongan belaka, Fenrir semakin melekatkan wajahnya di punggung Regard.


Regard yang tahu situasinya, mendesah pelan.


Dia tidak tahu apakah seekor Fenrir bisa mengalami mimpi buruk yang sama atau tidak. Selama Fenrir masih mengalami trauma atas masa lalunya, Regard ada di sisinya untuk menghiburnya.


Itulah mengapa Regard tidak mengatakan apapun melainkan diam.


•••••


Matahari yang menyengat di tengah Dataran Miju, sekelompok orang beristirahat sejenak.


Mengeluarkan sebagian persediaan dari dalam [Dimension Portal], Regard menyediakan bahan-bahan yang diperlukan yang berhasil dia beli di Kota Resihei sebelumnya dengan membekukan setiap bahan yang ada agar tidak cepat layu dan tidak enak saat disantap dan dinikmati.


"Sepertinya kita akan kembali saat malam tiba."


"Ya."


"Apakah kamu memiliki persediaan sebanyak ini?"


"Tentu."

__ADS_1


"Hei Regard, apakah kamu mau latihan bersamaku?"


Menghentikan dirinya dari menyantap beberapa potongan daging dari tusuk kayu yang disediakan oleh Reita, Regard mengalihkan pandangannya ke Fenrir.


"Mungkin kita akan berlatih di malam hari saat kita sudah mencapai Kota Resihei."


"Baik."


Mengelus-elus kepalanya di sisi kanan Regard, Sasaki yang memperhatikannya memeluk tubuhnya di sisi kiri yang tidak mau kalah dari saingan barunya, Fenrir terhadap perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh tuannya terhadap dirinya.


"Mereka benar-benar manja sekali ya."


"Ya."


Shilphonia dan Friya yang memperhatikannya hanya menganggap bahwa mereka terlihat seperti anak-anak yang butuh kasih sayang dari kedua orangtuanya, sama halnya Regard yang memperlakukan mereka berdua terlalu baik.


Berbeda dengan kedua gadis yang duduk bersebelahan, Reita yang menatapnya penuh iri, berharap kalau dia akan mendapatkan waktu lebih lama untuk berduaan bersama kakak tirinya yang baru, Regard.


"Apakah kamu baik-baik saja, Reita?"


"Ya, aku baik-baik saja."


Sebisa mungkin Reita menjaga ketenangannya di permukaan agar orang-orang tidak curiga terhadap kedekatannya bersama Regard yang akan membuat Shilphonia dan Friya iri atas hubungan yang mereka buat layaknya persaudaraan satu sama lain.


Di lain tempat, di Kerajaan Eruguard, beberapa Ksatria Kerajaan yang berpatroli di ruang bawah tanah memeriksa setiap tahanan yang ada dibalik jeruji besi.


Setiap kali mereka melewati sel tahanan, mereka selalu mendapati tahanan yang berada di dalamnya terlihat menatap mereka, membencinya dan menghina mereka dengan kata-kata kasar dan kotor.


"Ini..."


"Apa yang terjadi?"


"Tahanan yang ada di sini...."


"Mustahil."


Beberapa Ksatria Kerajaan yang memperhatikan ada yang salah dengan salah satu tahanan, bingung atas apa yang sebenarnya terjadi.


Selama mereka berpatroli di ruang bawah tanah, situasi aman tanpa ada siapapun yang dapat membobol sel tahanan dan kabur dari pandangan Ksatria Kerajaan yang menjaga sel tahanan tanpa mereka sadari.


Dibalik kota yang ramai, seorang pria tersenyum atas kebodohan yang dimiliki oleh penjaga tahanan di ruang bawah tanah.


Dirinya yang melemparkan kunci ke atas dan ditangkap olehnya, berharap bisa menjadikan ini sebagai pelajaran penting untuk mereka agar tidak lengah sedikitpun meski sudah aman dari tahanan yang berniat melarikan diri.


"Sekarang waktunya aku untuk ikut bersama dirimu, Nak."


Dengan senyum percaya diri, pria itu dengan cepat sirna dari tempatnya berada tanpa ada yang menyadari bahwa dirinya sebelumnya ada di sekitar mereka.


•••••


Cahaya bulan yang menyinari kegelapan malam dapat dilihat di Kota Resihei.


Sepasang mata yang mengintai dari balik kegelapan, menerobos masuk ke setiap jalan untuk mengawasi kondisi di sekitar. Tidak ada tanda-tanda bahwa mereka menyadarinya membuat sosok berjubah hitam dengan topeng di wajah mereka menerjang langsung ke arah mereka dan membunuhnya.


Darah mengalir di permukaan, bercak darah yang terdapat di dinding juga dapat dilihat, yang dapat diartikan setiap orang yang mereka bunuh adalah penjahat yang beraksi di tengah malam di waktu orang-orang tertidur lelap dalam mimpinya.


"Bagaimana? Apakah kau mampu mengatasinya?"


"Ya. Sejauh ini mereka hanyalah manusia lemah."


Membuka topeng besi berbentuk serigala yang menutupi wajahnya, seorang gadis kecil dengan wajah yang tersenyum memandang mereka dengan rendah tanpa ada minat sedikitpun yang terlihat dari balik matanya yang berwarna perak.


"Kerja bagus."


Mengelus-elus kepalanya yang tertutup oleh tudung jubah, gadis kecil itu terlihat senang atas kebaikan yang dilakukan oleh sosok yang mengenakan jubah hitam dan topeng besi bertanduk kepadanya.


Setelah menunggu beberapa saat, rekan-rekannya yang berhasil membantai dan membunuh beberapa penjahat yang beraksi di malam hari membuat sosok bertopeng besi bertanduk menanyakan ini pada mereka.


"Apakah semuanya baik-baik saja?"


"Ya. Berdasarkan laporan yang kami dapatkan, beberapa petualang dari Colorful Adventure dan bandit yang berasal diluar kota berhasil diketahui bekerjasama dengan bangsawan dari berbagai kota yang ada."


"Apakah hanya itu?"


"Tidak, ada lagi."


Salah satu sosok yang membuka topeng besi berbentuk wajah raja menampilkan wajah Friya yang melaporkan situasinya ke Regard. Friya yang menyudahi pembicaraannya, menoleh ke sosok bertopeng besi berbentuk banteng untuk menjelaskan sisanya.


"Demi-human yang dikumpulkan berhasil kami amankan. Tak hanya Demi-human, harta yang mereka miliki kebanyakan dari hasil penjualan yang mereka lakukan terhadap Demi-human."


"Aku mengerti."


Di salah satu sisi Regard, sosok berjubah hitam dengan topeng besi berbentuk monster melepaskannya yang menampilkan sosok Sasaki di dalamnya yang memeluk Regard dengan erat.


Wajahnya yang terlihat ketakutan, disertai dengan air mata yang menetes dari matanya yang berkaca-kaca meyakinkan Regard bahwa Sasaki dulu pernah mengalami hal serupa seperti kejadian kali ini.


"Jangan khawatir, nyawa mereka sudah berhasil dicabut yang telah aku kumpulkan."


Memperlihatkan di salah satu tangannya yang terbuka, gumpalan jiwa-jiwa yang melayang berwarna hitam seolah-olah terlihat seperti angin yang tercemar yang dapat mereka lihat.


"Sekarang mari kita kembali."


"Baik."

__ADS_1


"Ya."


Lenyap dari tempat mereka berada, tidak ada yang tahu kemana mereka pergi melainkan hanya orang-orang dari The Necromancer yang tahu arah tujuan mereka untuk pergi.


__ADS_2