
Dalam perjalanan pulang ke Kota Farihiora, Regard dan seorang gadis berambut pirang panjang, Shilphonia Autheurus saling berbicara satu sama lain.
"Apakah kau yakin membiarkan Stephani untuk menetap di tubuhmu?"
"Ya, dia telah berjuang sejauh ini demi diriku jadi aku tidak ingin dia menolak permintaan aku."
"Itu sebabnya kau ingin menetapkan diri dengan mengikuti aku ya."
"Ya."
Mendesah pelan atas perkataan Shilphonia, Regard sama sekali tidak menyangka kalau seseorang akan ikut dengannya dalam berpetualang bersamanya.
Regard akui kalau Shilphonia memiliki kemampuan dan kekuatan yang melebihi batas wajar jadi dia bisa saja menerimanya, tapi yang membuatnya tetap keberatan bukan karena keberadaan Shilphonia melainkan keberadaan Stephani yang masih belum dapat ia pahami.
"Jangan khawatir, cepat atau lambat kamu akan memahaminya nanti."
"Aku harap begitu."
Meskipun dia sendiri keberatan atas perkataan Shilphonia, Regard yakin kalau suatu saat nanti perkataannya ada benarnya jadi dia sengaja setuju padanya.
"Oh ya Shilphonia, bolehkah aku memanggilmu dengan nama Shilph?"
"Shilph?"
Terkejut mendengarnya, wajah Shilphonia memerah, sikapnya yang sebelumnya tenang menjadi panik dan cemas atas panggilan barunya.
"Tenanglah, Shilph! Aku sengaja memanggilmu dengan nama ini karena aku kesulitan untuk memanggil namamu yang panjang."
"Be-begitu ya."
Tertawa atas kata-kata Regard, Shilphonia sendiri justru malu pada sikapnya. Dia yang seharusnya memahami maksud dari perkataan Regard telah sepenuhnya salah paham.
Maksud dari Regard yang Shilphonia perkirakan adalah Regard sengaja memanggil nama barunya dengan nama Shilph sebagai hubungan dekat dari pertemanan mereka, tapi sepertinya itu hanya perasannya belaka.
"Baiklah, kamu boleh memanggilku dengan nama Shilph."
"Terimakasih."
Hening sempat terjadi di antara keduanya.
Shilphonia yang kebingungan mengenai topik apa yang akan dibicarakan hanya bisa melirik Regard dalam diam tanpa mengatakan apapun. Regard juga sama, dia tidak tahu topik apa yang dapat ia bicarakan padanya.
Secara keseluruhan, Regard sendirian terpana pada kecantikan yang dimiliki oleh Shilphonia. Mulai dari rambut pirang panjang, sepasang mata berwarna merah, berkulit putih, serta memiliki tubuh yang ideal yaitu berdada besar, bertubuh kurus dengan pinggang ramping, serta memiliki bokong yang membesar membuat Regard yakin dia adalah sosok yang cantik yang dapat diidolakan siapapun yang melihatnya.
Meskipun Regard terpana pada kecantikannya, dia sadar bahwa Shilphonia bukanlah seorang manusia melainkan malaikat jadi dia memutuskan untuk tidak memikirkannya lebih lanjut karena itu akan membahayakan Shilphonia dan dirinya sendiri.
"Ngomong-ngomong Shilph, kenapa kau bisa dikurung di Reruntuhan Sylvia?"
"Itu..."
"Ada apa?"
"Sebenarnya ini adalah rahasia yang tidak dibolehkan untuk diceritakan, tapi karena kamu ingin tahu tentang alasan mengapa aku dikurung di dalam reruntuhan, aku akan menceritakannya."
"Apakah kau yakin?"
"Ya, aku sudah memutuskannya tadi."
Tersenyum pada kata-katanya, Regard dengan ekspresi bingung tidak tahu harus bagaimana. Haruskah dia bangga dan senang karena dapat mendengar cerita sebenarnya dari Shilphonia? Ataukah justru dia merasa bersalah karena memaksa Shilphonia untuk berterus terang menceritakan alasan dia dikurung di Reruntuhan Sylvia?
Shilphonia menjelaskan pada Regard semuanya tanpa dirahasiakan sedikitpun.
Mendengar penjelasannya, Regard mengangguk dan paham.
Dia telah tahu sebenarnya tentang perasaan Shilphonia yang tersakiti karena perjuangannya yang sia-sia, perjuangan yang dimana seharusnya tidak ada masalah ternyata ada masalah sejak awal dia ditugaskan. Itu sebabnya Shilphonia yang menentang kehendak Para Tetua membuat dia berubah menjadi Stephani, sosok yang bertentangan dengan kepribadiannya yang menghancurkan sebagian dari Istana Langit dan membunuh beberapa teman-temannya dari ras yang sama, Malaikat.
Namun, semuanya berubah ketika Para Tetua marah yang menyebabkan Shilphonia diharuskan untuk turun ke bumi dan menyandang gelarnya sebagai Fallen Angel Stephani di dalam reruntuhan sambil menunggu kedatangan seseorang yang dapat membebaskannya.
"Maaf atas sikap Stephani selama pertarungan sebelumnya."
"Tidak apa-apa. Menurutku itu adalah hal yang wajar."
"Wajar?"
"Ya. Melindungi dirimu dan bertahan, aku juga pasti akan melakukan hal serupa sepertinya jika aku berada dalam posisi sama seperti Stephani."
__ADS_1
Tersenyum mendengar kata-kata dari Regard, Shilphonia senang dia memahaminya.
Perasaan bersalah telah sepenuhnya lepas dari dalam diri Shilphonia yang membuatnya bebas tanpa memikirkan perasaan keberatan dan terpaksa yang dimiliki Regard dalam membawanya ke Kota Farihiora.
•••••
Regard POV
Memasuki gerbang kota, aku dan Shilph bergegas menuju ke Guild Petualang.
"Apakah aku harus mendaftarkan diri sebagai seorang petualang?"
"Ya, kau bisa melakukannya jika kau mau. Tapi jika kau tidak mau, aku tidak akan memaksamu."
Mendengar kata-kataku, Shilph terdiam dan merenung.
Mungkin baginya, masuk Guild Petualang sebagai seorang petualang sangat sulit untuk dilakukan.
Apalagi Shilph adalah seorang malaikat yang telah menentang suatu aturan yang ditetapkan di langit membuatnya jatuh ke bumi sebagai Fallen Angel jadi aku tidak akan terkejut jika dia tidak mau melakukannya.
"Tuan, anda sudah kembali!"
"Tuan!?"
Tanpa aku sadari, Sasaki berlari dan melompat ke arahku.
Dia memelukku dengan erat. Saking eratnya, aku kesulitan untuk melepaskan pelukannya dari tubuhku.
Mau bagaimana lagi, dia mungkin khawatir atas kondisiku selama ini jadi aku akan membiarkannya untuk sementara waktu.
"Aku tahu kalau Tuan akan selamat jadi aku tidak mungkin sedih atas kepergian kamu."
"Ya, terimakasih sudah mencemaskan aku."
"....."
Benar, aku harus menjelaskan ini pada Shilph agar dia tidak salah paham.
Selama beberapa menit aku membiarkan Sasaki memelukku, dia menyudahinya dan melepaskan pelukannya lalu berdiri.
"Maafkan aku atas sikapku yang berlebihan tadi."
"Ya."
Baiklah.
"Sasaki, bisakah kau jelaskan keberadaan dirimu padanya?"
"Padanya?"
Memperhatikan penampilan Shilph, Sasaki terkejut. Dia terdiam beberapa saat lalu mengalihkan pandangannya ke arahku.
Ekspresinya yang terlihat sedih dan panik membuatku yakin kalau dia takut aku akan melupakannya jadi aku membalas sikapnya dengan menggelengkan kepalaku sebagai jawabannya.
"Syukurlah."
Menghela nafas karena lega, dia dengan segera mendekat ke Shilph dan mulai menjelaskannya.
Selama dia menjelaskan tentang masa lalunya dan alasan mengapa dia bisa ada bersamaku, aku memutuskan untuk melaporkan misi ke Guild Petualang agar mereka bisa memetakan Reruntuhan Sylvia untuk petualang lain dalam menjelajahi tempat tersebut.
"Baik. Ini dia imbalannya, Tuan!"
"Terimakasih!"
"Ya, saya juga berterimakasih kepada anda. Berkat anda, para petualang lain dapat menjelajahi reruntuhan dengan selamat tanpa ada bahaya di dalamnya."
Dia benar. Satu-satunya bahaya adalah keberadaan Hellhound yang menghuni di lantai terdalam di Reruntuhan Sylvia.
Tapi, dia sudah tiada jadi aku yakin monster lain tidak akan ada yang sekuat dan sehebat seperti Hellhound di tempat lain. Kalaupun ada, aku sudah membasminya sejak awal.
Kembali ke tempat Shilph dan Sasaki, aku yakin mereka sudah selesai berbicara satu sama lain.
Terlihat dari mereka yang menunggu kedatangan aku membuatku merasa mereka sedang mendekatkan diri satu sama lain.
Kalau dipikir-pikir ini adalah kondisi yang unik. Sasaki memiliki teman berbicara selain dari diriku, aku harap dia dapat senang dengan kehadiran teman barunya, Shilph di dekatnya.
__ADS_1
"Bagaimana? Apakah kamu sudah selesai melaporkannya?"
"Ya, aku sudah selesai."
"Ngomong-ngomong Shilphonia, apakah kamu tidak mau mendaftarkan diri sebagai seorang petualang?"
"I-itu... bagaimana mengatakannya ya."
"Dia tidak mau mendaftarkan diri karena dia tidak ingin terkekang oleh urusan yang ada di Guild Petualang, Sasaki."
"Benarkah, Tuan?"
"Berhentilah memanggilku Tuan, itu akan membuat orang-orang salah paham atas hubungan kita selama ini."
"Ya, kamu benar."
Ya ampun. Ini benar-benar sulit sekali.
Jika aku berada di situasi yang sama seperti orang pada umumnya, aku mungkin akan berakhir bahagia karena memiliki dua harem dalam kehidupan baru yang kujalani. Tapi, aku sama sekali tidak merasakan apapun.
Selama aku belum dapat membalaskan dendam atas apa yang menimpa keluarga, penduduk, dan tempat tinggal aku, aku belum bisa senang dan bahagia di kehidupan sekarang.
Benar.
Satu-satunya harapanku ialah membalas dendam atas apa yang dilakukan Stahark sebelumnya padaku.
Dengan melakukan itu, aku dapat menjalani kehidupan yang lebih baik daripada kehidupan yang sekarang yang hanya memfokuskan diri untuk membalaskan dendam padanya.
"Oh ya, Arthen, aku mendapatkan informasi baru tentang insiden lain yang terjadi di Fairy Forest."
"Fairy Forest?"
"Aku rasa aku pernah mendengarnya sebelumnya."
"Apakah kau yakin pernah mendengarnya?"
"Ya. Setahuku, Fairy Forest adalah hutan yang dihuni oleh para Elf di dalamnya yang melindungi dan menjaga habitat mereka dengan ketat dan kuat untuk tidak bisa dimasuki oleh siapapun yang memasuki hutan tersebut."
Kedengarannya cukup membahayakan jika kita pergi ke Fairy Forest.
Apalagi kalau kita bertemu dengan sekelompok Elf, aku yakin kita akan dijadikan sandera lalu diinterogasi oleh mereka. Jika berhasil menjawabnya dengan terus terang, kami akan dibebaskan hidup-hidup. Jika tidak, kami akan dibunuh oleh mereka.
Membayangkan atas apa yang akan terjadi, aku mengurungkan niat untuk datang ke Fairy Forest.
Sejujurnya aku bisa saja menghancurkan dan melenyapkan tempat tersebut, tapi karena aku tidak mau membuat masalah terhadap siapapun, aku putuskan untuk tidak berhadapan dengan ras manapun di masa mendatang.
"Bolehkah aku tahu tentang apa yang terjadi?"
"Ya. Menurut beberapa informasi yang aku dengar di Aula Guild, mereka mengatakan kalau Fairy Forest telah diserang oleh pasukan iblis dan Stahark."
Stahark?
Monster itu...
Aku telah menemukannya.
"Baiklah. Kita akan segera ke Fairy Forest untuk melakukan perburuan. Bagaimana menurutmu, Shilph?"
"Kedengarannya bagus."
"Tapi, Arthen... jika kamu melakukan sesuatu yang buruk terhadap mereka, kamu tidak akan bisa kemba–"
"Jangan khawatir, aku akan melakukan apapun agar bisa kembali ke tempat ini lagi nanti. Serahkan semuanya padaku!"
"Arthen..."
Sudahlah. Jangan memandang aku dengan tatapan penuh harap begitu.
Aku tidak bisa menatapnya terlalu lama karena itu akan menyakiti hatiku. Alasannya ialah aku sama sekali tidak ada niat mengambil inisiatif untuk berbuat buruk terhadap mereka.
Yah, kalau aku diharuskan untuk melakukannya, aku akan melakukannya jika berada dalam situasi terdesak. Entah cara apa yang akan aku gunakan, aku pastikan semuanya akan kulakukan untuk bisa kembali ke Kota Farihiora, kota tempat tinggal baruku.
Aku berjanji atas hal itu.
"Sebelum kita pergi, kita akan beli pakaian terlebih dahulu."
__ADS_1
"Eh... eeeeehhhh?"
Membeli pakaian sangat dibutuhkan jadi aku lebih mempedulikan penampilan Shilph untuk terlihat lebih cantik daripada dengan penampilannya yang sekarang.