The Necromancer

The Necromancer
Ch. 33,5:Trik dan Tipuan


__ADS_3

Regard POV


"Tuan, apakah kamu bisa merubah penampilan lain dari penampilan yang sekarang?"


"Ya, aku bisa."


"Bisakah kamu berubah menjadi sama seperti Mama?"


"Mama?"


"Ya."


Wajah antusias yang diperlihatkan Fuuya benar-benar membuat aku tidak dapat menatapnya langsung.


Sial. Kalau tahu aku terjebak dalam situasi seperti sekarang, mereka akan menyuruhku berubah menjadi sosok yang lain sesuai keinginan mereka.


"Maaf, aku bisa melakukannya karena kita berada di pemandian umum wanita."


Hanya itu yang bisa kukatakan.


Tapi, aku tidak menyangka akan masuk ke tempat terlarang ya.


Memperhatikan setiap orang yang sedang membasuh tubuh mereka dengan air, melihat mereka berendam, serta berbicara terhadap sesama teman mereka, aku benar-benar tidak tahan dalam memperhatikannya terus-menerus.


Ugh.


Jika aku ingin berkata jujur, aku ingin secepatnya keluar dari zona terlarang yang tidak seharusnya aku masuki.


Alasan aku sengaja mengubah penampilan bukan untuk melihat pemandangan indah sekali seumur hidup, tapi aku melakukannya agar mereka berdua bisa bersama-sama Shilph, Friya, dan Reita.


"Uwah... ada Fuuya dan Sasaki."


"Pagi, Sasaki!"


"Pagi."


"Apakah kalian tidur nyenyak?"


"Ya."


Menghilangkan hawa keberadaan aku dari mereka, perlahan-lahan aku mundur lalu bersandar di pojokan dalam berendam.


Melihat situasi dari kejauhan sangat aman untuk dilakukan daripada mereka harus menyadari bahwa aku ada diantara keduanya tadi, ini benar-benar akan gawat.


"Permisi."


"Ya."


"....."


Ah...


Berhasil selamat dari mereka, aku terjebak dalam situasi lainnya.


Huhu...


"Apakah kamu baik-baik saja? Kamu tampak tidak sehat?"


"Aku baik-baik saja. Beneran kok."


Mengeluarkan kepala aku dan menunjukkan tubuh padanya, dia melihat dengan kagum yang ada di ekspresinya.


Sial. Kenapa aku malah menunjukkan ******** yang ada di bawah dan dadaku?


Menutup ******** dengan berendam, aku menenggelamkan wajah ke dalam air.


Ini benar-benar diluar dugaan.


Aku yang seharusnya bisa menikmati ketenangan dan kedamaian dengan mandi di pemandian umum pria, aku justru malah menetap di tempat yang bukan seharusnya menjadi tempat untukku.


Aku harap waktu cepat berlalu ya.


"Apakah kamu sendirian kemari?"


"Ya, begitulah."


Tu-tunggu... kenapa kamu mendekati tubuhmu padaku?


Baiklah. Akan lebih baik jika aku terus bersikap tenang.


Jika dia tahu aku sedikit aneh, mereka pasti akan menyadari keberadaan aku. Itulah mengapa aku harus tenang dan mencoba untuk meyakinkan diri bahwa aku adalah seorang wanita sama seperti mereka.


Mengeluarkan [Soul Return] dari telapak tangan di dalam air, aku menggunakan [Transparency] untuk memasukkan satu roh ke dalam akal aku untuk terbiasa dalam situasi tak terduga seperti sekarang.


Sip. Berhasil.


Beberapa pengetahuan dan informasi masuk ke dalam kepalaku jadi tidak ada salahnya untuk menetap di pemandian umum wanita dengan semua yang kumiliki sekarang.


Membusungkan dada, aku tersenyum puas pada hasilnya.

__ADS_1


"Hei, bolehkah aku tahu namamu?"


"Nama?"


"Ya. Kamu tampak terlihat berbeda dari wanita lainnya."


"Berbeda? Aku sama seperti wanita pada umumnya kok."


"Tidak."


Dia yang menatap ke arah dadaku membuat aku bingung dan heran.


"Ada apa?"


"Ini yang benar-benar membuatmu berbeda dari yang lain."


Tu-tunggu. Apakah yang kamu maksud adalah sebuah payudara?


"Dia benar-benar besar dan kencang ya."


Ugh....


Menahan mulutku untuk tidak mengeluarkan suara aneh, aku terus-menerus sebisa mungkin menahan rasa sensitif yang menjalar ke seluruh tubuh akibat dia memegang payudara dan menggerakkannya.


"Ah... maafkan aku."


"Uuu..."


Tubuhku telah ternodai olehnya.


Menundukkan kepala, aku terisak tangis atas perlakuan yang tidak senonoh terhadap tubuhku.


Meskipun aku adalah seorang pria, ingatan yang dimasukkan ke dalam kepala adalah seorang gadis yang sensitif yang tidak ingin tersentuh sedikitpun oleh orang lain.


Gadis yang menjaga tubuhnya untuk tetap indah dalam perspektif manapun membuatnya terlihat cantik dalam segi penampilan di seluruh tubuhnya. Tak hanya penampilan tubuhnya, dia juga menjaga agar tubuhnya tidak dapat dilihat oleh siapapun menyebabkan dia mandi diam-diam tanpa sepengetahuan mereka, mengenakan pakaian tanpa ada maid yang menemaninya, serta mengganti pakaian tidur tanpa diketahui oleh siapapun.


Aku malah mengacaukannya.


"Apakah kamu baik-baik saja?"


"Ya."


Mengangkat tubuhku, dia melihat jelas bahwa aku tidak terima atas perlakuannya tadi terhadap dadaku.


Memang benar bahwa payudara yang aku gunakan dalam [Illusion] memiliki ukuran yang lebih besar dari wanita lain menyebabkan aku ditatap terus-menerus oleh lawan jenis ketika kami mau memasuki pemandian.


"Aku benar-benar minta maaf atas perbuatan aku tadi."


"Ya."


Dilihat dari luka yang membekas di tubuhnya, dia pasti kesulitan dalam melakukan aktivitas hariannya karena aku telah menyebabkan dia terluka parah sebelumnya.


Yah, itu bukan salahku.


Jika dia tidak mengajak aku bertanding, aku tidak mungkin mencelakai dirinya seperti sekarang. Tapi, dikarenakan dia yang memulainya duluan di detik-detik terakhir pertandingan, dia berniat untuk mencelakai aku tanpa ampun sedikitpun.


Awalnya aku berpikir dia hanya akan memukul tubuh menggunakan ujung pedang, tapi perkiraan aku sepenuhnya salah.


"Bolehkah aku tahu namamu?"


"Ya. Namaku adalah Yui."


"Yui ya."


Dia yang melihat ke depan, aku tidak tahu apakah dia benar-benar melihat mereka atau justru melihat sesuatu yang tidak aku ketahui.


"Nama yang indah."


"Benarkah?"


"Ya."


Berbalik ke arahku, dia memperlihatkan tubuhnya yang bagian atasnya dapat kulihat.


Dari segi pandanganku, dia memiliki proporsi tubuh yang menakjubkan. Otot-otot yang terbentuk di bagian lengan, payudara yang terbilang berukuran sedang, parasnya yang cantik terpantul karena dibasahi oleh air di wajahnya, serta lekukan kaki dan lengannya benar-benar indah.


Ugh...


Sial. Aku hampir saja melihat sesuatu yang tidak seharusnya aku perhatikan.


"Apakah kamu selalu berlatih?"


"Berlatih? Oh... maksudmu lengan aku yang terlihat seperti ini?"


Menunjukkan kedua otot di lengannya, aku benar-benar takjub bahwa seorang wanita seperti dirinya mampu melatih tubuh sedemikian rupa hingga membentuk otot di kedua lengannya.


"Ya."


"Aku berlatih pedang setiap hari. Terkadang, aku melatih fisik dengan olahraga ringan setiap kali melakukan pemanasan sebelum berlatih pedang."

__ADS_1


Pemanasan ya.


Seingat aku, pemanasan dibutuhkan agar meregangkan otot-otot agar tidak keram maupun mengalami kejadian yang tam diinginkan oleh siapapun yang sedang berlatih.


Aku baru tahu kalau di dunia ini ada pemanasan juga.


"Aku selalu berlari terlebih dahulu, melakukan beberapa gerakan sebelum latihan pedang, serta memanfaatkan dalam mengonsumsi makanan dan minuman yang terdapat kandungan bermanfaat di dalamnya."


Mengangguk berkali-kali, aku setuju pada perkataannya.


Otot yang mudah dibentuk berasal dari latihan fisik dan pola makan yang teratur.


Sama seperti perkataannya, aku dulu di kehidupan lama juga mengalaminya. Yang membedakan adalah kasta antara dirinya denganku di dunia dulu berbeda, dia ada di atas sedangkan aku ada di bawah.


Kenapa aku bisa yakin? Itu karena intuisi aku dalam meyakinkan diri terbilang benar.


Orang ini... Liliana hidup dengan mendedikasikan dirinya di Ksatria Kerajaan agar melindungi dan menjaga kota dari serangan iblis maupun monster. Tugasnya berbahaya namun masih terdapat keringanan di dalamnya.


Sihir dan pedang, itulah yang aku maksudkan enak dalam menjalaninya.


Tidak seperti dirinya, aku berada di kasta terendah.


Setiap hari aku menjalani pekerjaan keras di Kuli Bangunan yang membuat tubuhku terasa lelah dan kantuk setiap kali aku lembur sendirian di tempat pekerjaan. Gaji yang terbilang tidak tinggi namun cukup, itu yang membuatku terus bertahan di pekerjaan.


Aku tahu mengeluh tidak akan ada gunanya. Jadi, aku menjalan rutinitas setiap harinya hingga akhirnya aku berakhir tragis di tempat pekerjaan aku.


Yah, dibalik kesulitan dan kesedihan di masa lalu, aku dapat memiliki kekuatan dan kemampuan yang hebat melebihi makhluk lainnya.


Kegelapan yang dapat dimanfaatkan jika aku berhasil mengendalikannya, kekuatan dan kemampuan yang jauh melebihi batasan manusia, serta kehidupan abadi yang tak akan pernah bisa dibunuh dan dilenyapkan, semuanya benar-benar ada dalam genggaman aku.


"Apakah kamu selalu melatih dirimu dalam latihan pedang?"


"Ya. Aku bersungguh-sungguh dalam diriku agar menjadi Ksatria Kerajaan yang dapat diandalkan melebihi siapapun."


Ksatria Kerajaan yang dapat diandalkan ya.


Entah kenapa sosok Paman Veru muncul dalam benakku. Dia yang terlihat tertawa terbahak-bahak, sikapnya yang terlalu santai dan maniak akan wanita, semua terbayang jelas dalam kepala.


"Aku yakin kamu sudah memiliki impian itu sekarang bukan?"


"Tidak, aku masih belum memilikinya."


Dia yang mengangkat lengan kanan dan memperhatikan telapak tangan yang terbuka, ada kesedihan yang tersirat di wajahnya yang tak sengaja ditunjukkan terhadapku.


"Masih ada orang yang lebih hebat dariku. Dia adalah guruku dan murid yang dibangga-banggakan olehnya."


Murid yang dibangga-banggakan olehnya? Jangan bilang kalau dia melibatkan aku ke dalam urusan dirinya sendiri?


Sial.


Jika aku tahu dia ikut campur dalam masalah ini, aku mungkin akan memberi Paman Veru pelajaran terlebih dahulu karena membuatku terjebak di situasi hidup dan mati olehnya.


"Apakah orang yang dibanggakan oleh gurumu itu hebat?"


"Aku tidak tahu. Selama aku bertanding, aku yakin telah berhasil mencelakainya."


Nadanya terhenti.


Dalam sekejap, dia mendongak ke langit-langit dengan menyandarkan punggungnya di sudut kolam sambil melihat atap pemandian umum.


"Tapi, dia tampaknya berhasil memenangkan pertandingan."


Tentu.


Itu karena aku bergerak lebih cepat dari dirinya.


Jika aku harus katakan, aku lebih lincah dan hebat dari segi kemampuan dan kekuatan. Tapi jika dilihat dari teknik pedang, dia unggul lebih baik daripada aku yang tidak terlalu bagus dan mahir dalam melakukannya.


Kalaupun bisa, aku takkan menunjukkan padanya teknik pedang yang aku lakukan selama berlatih dengan Paman Veru sebelumnya.


"Aku harap dia baik-baik saja ya."


"Apakah dia terluka karena sesuatu?"


"Ya. Selama pertandingan sebelumnya, dia telah aku berhasil aku buat celaka oleh kemampuan dan kekuatan terhebat yang kumiliki."


Kemampuan dan kekuatan terhebat ya.


Dari sudut pandang aku, dia benar-benar jujur dan terus terang dalam mengatakannya.


Fakta dia dapat membuat aku terpojok, aku benar-benar kesulitan dalam menahan diri untuk tidak melepaskan sebagian kekuatan dan kemampuan yang kumiliki.


Sederhananya, dia adalah orang yang mampu membuatku mengeluarkan sebagian dari kemampuan yang kumiliki, meskipun itu hanya sedikit yang aku keluarkan.


"Baiklah. Aku rasa sudah cukup berbicaranya."


"Ya."


Dia yang bergegas bangun duduk di depan kaca dan kursi pendek untuk membasuh tubuhnya.

__ADS_1


Secara keseluruhan, aku mengerti bahwa dia adalah Ksatria Kerajaan yang baik, sopan santun, dan ramah. Tapi dikarenakan dia tidak ingin dibandingkan oleh siapapun, aku yakin dia merasa dirinya dianggap lemah olehnya.


Yah, tidak bisa dipungkiri bahwa Paman Veru akan membandingkan dia dengan diriku karena kami memiliki perbedaan yang cukup jauh.


__ADS_2