The Necromancer

The Necromancer
Ch. 16,5:Misi Pertama Reita


__ADS_3

Di malam hari, sekelompok petualang yang terdiri dari empat kelompok mulai melakukan investigasi ke tempat yang tidak jauh dari desa yaitu Kota Resihei.


"Semuanya, tetap tenang dan jangan panik!"


"Kalian semua aman bersama kami."


"Jangan khawatir, kami akan membawa kalian menuju ke Kota Resihei."


Masing-masing dari petualang yang membangunkan para penduduk, meminta untuk tenang dan jangan panik maupun berdebat agar mereka bisa keluar dari desa dengan lancar tanpa ada kendala apapun.


Mereka mengikuti perkataan para petualang. Diam dan tenang, mereka berjalan sesuai arahan yang diberikan oleh para petualang jadi mereka tidak khawatir dan cemas atas kondisi mereka nantinya.


"Ini gawat!"


"Ada apa, Regard?"


"Mereka tidak terlihat seperti kawanan melainkan gerombolan monster akan mengarah ke desa."


"Apakah mereka monster berbahaya?"


"Tidak. Dilihat dari jumlahnya sekitar seratus... tidak, lima ratus monster yang terdiri dari Troll, Witch, Undead, dan Golem."


"Bukankah itu berbahaya?"


Menatap ke Shilphonia, Regard tidak tahu apakah ini situasi yang mudah untuk dilewati atau tidak.


Selama dia tidak ingin terlihat mencolok, sebisa mungkin dia tetap menjalani hari-harinya sebagai seorang petualang pemula. Tidak peduli apapun yang terjadi pada orang-orang, Regard akan bersikeras untuk tetap di jalannya sendiri.


"Jangan khawatir, aku merasa kalau kelompok Colorful Adventure mampu mengalahkan jumlah mereka."


"Aku harap begitu."


Sepanjang jalan, Regard yang berada di barisan belakang, Shilphonia yang sedikit jauh dari tempat Regard, Friya yang berada jauh dari Shilphonia, dan Reita yang berada di paling depan menuntun para penduduk yang pergi bersama keluarga dan kerabat mereka untuk tidak salah jalur demi keselamatan mereka.


Meskipun Regard terlihat tenang, pikirannya tetap saja merasa risih atas banyaknya segerombolan monster yang akan menyerbu Desa Juria, desa kecil yang sama seperti Desa Elforia.


Seharusnya monster yang datang hanya sedikit, tapi ini justru sebaliknya, banyak dan cukup kuat jika dihadapi oleh Black Adventure.


Mungkinkah ada Stahark di belakang semuanya?


Seolah-olah dia dapat merasakan kehadiran tak terduga melalui [Shadow Clone] yang telah di [Transparency] sebelumnya, dia tidak menemukan keberadaan dirinya di manapun melainkan hanya ada lima sosok yang tertutup oleh jubah hitam dan tudung di kepala mereka membuat Regard tidak dapat mendekati mereka untuk melihat wajahnya.


•••••


Regard POV


Berdasarkan apa yang kurasakan, mereka bukanlah monster biasa.


Melompat dari cabang pohon satu ke cabang pohon lainnya, aku mengamatinya dengan seksama. Meskipun aku berhasil menggunakan [Shadow Clone] dan [Transparency], aku tidak tahu apakah diriku yang asli dapat menuntun mereka ke kota dengan selamat.


Selain itu...


Petualang yang ikut dalam misi adalah Colorful Adventure jadi harapanku ialah mereka dapat mengatasi kekacauan yang dilakukan oleh segerombolan monster ini tanpa ada yang mati maupun cedera.


Yah, kalaupun mereka tidak dapat mengatasi semuanya, cepat atau lambat aku harus turun tangan.


Namun..


Tampaknya bulan kali ini lebih indah dari sebelumnya ya.


"....."


Keempat sosok yang aku amati bertudung dan berjubah berada di tengah-tengah mereka.


Aku penasaran siapa mereka. Apakah mereka musuh atau teman, aku yakin menganggap mereka sebagai teman adalah hal yang bodoh. Apalagi jika mereka bertindak untuk menyelamatkan mereka, aku tidak tahu seberapa banyak persentase keselamatan mereka yang dapat terjamin saat ini.


Satu-satunya yang kuinginkan adalah mereka menemukan solusinya.


"Aku mengandalkan kalian, Para Petualang."


Memejamkan mataku, aku duduk bersandar di pohon sembari menunggu kabar dari diriku yang lain.


•••••


Di lain tempat yang tidak jauh dari pengungsian para penduduk, kelima cloning Regard mengawasi area di sekitar agar tidak terjadi sesuatu kepada para petualang pemula dan para penduduk desa.


Selama dia mengamati situasi, dia tidak menemukan satupun tanda-tanda kedatangan seseorang yang artinya semua berjalan lancar tanpa kendala apapun.


Meskipun perasaan lega sempat menyelimuti hatinya, Regard sebisa mungkin berhati-hati agar dirinya tidak ceroboh dengan menganggap semuanya baik-baik saja seperti perkiraannya.


"....."


Di jarak yang cukup jauh, kobaran api dapat dilihat di ketinggian pohon.


Menurut Regard, kobaran api itu terletak di Desa Juria, desa dimana sebelumnya para penduduk tinggal yang sekarang telah kosong menyisakan para petualang dari tingkat Colorful Adventure yang kemungkinan besar sedang menghadapi gerombolan monster.


"....."

__ADS_1


Salah satu Regard yang berada di ketinggian pohon, mengangguk ke cloning yang lain. Cloning yang lain paham atas maksud dari tindakannya lalu mengirimkan pesan melalui [Mind Reading] pada Regard yang asli.


Ini gawat!


Ada apa?


Mereka telah tiba di Desa Juria.


Apakah di sana baik-baik saja?


Ya, mereka dapat mengatasinya tanpa kesulitan sedikitpun.


Sembari menuntun sisa-sisa para penduduk desa, Regard lega mendengar bahwa mereka dapat mengatasinya tanpa ada yang terluka maupun tiada.


Tetap lanjutkan pengawasan!


Baik.


Setelah mengatakan itu, Regard yang menatap Shilphonia mengangguk. Shilphonia yang memahami anggukan tersebut kemudian mengarahkannya pada Friya, kemudian Friya mengarahkannya ke Reita.


Ketiga gadis yang didekatnya paham atas maksud dari gerakannya tadi.


Setelah cukup lama mereka menuntun para penduduk desa, mereka akhirnya bernafas lega karena tidak ada satupun musuh yang mendekat maupun mengacaukan tatanan barisan yang tertib yang dilakukan oleh para penduduk desa.


"Kemana kalian akan pergi?"


"Kami akan memeriksa keadaan sekitar. Kalian pergilah terlebih dahulu untuk mengamankan para penduduk desa."


"Baik."


"Kami mengandalkan kalian."


"Ya."


Kelompok Regard dan Kelompok Yuta berpisah dengan tujuan yang berbeda.


Kelompok Regard masuk ke kedalaman hutan untuk memeriksa kondisi sekitar, sesuatu seperti itu adalah alasan belaka untuk meyakinkan kelompok di dekat mereka, Kelompok Yuta, sedangkan Kelompok Yuta, mereka pergi mengikuti jalan setapak menuju ke Kota Resihei.


"Shilph, Friya, Reita, aku ingin kalian memeriksa ke area yang berbeda!"


"Kau sendiri bagaimana, Regard?"


"Apakah kamu akan langsung menerjang ke arah musuh?"


"Tidak, aku akan memanfaatkan pion yang kumiliki untuk mencari tahu sejauh mana barisan belakang mereka."


Ketiga orang yang ada di dekat Regard menghilang tanpa jejak. Berlari secepat mungkin, Regard menghentikannya dan terdiam.


Waktu saat ini adalah waktu tepat untuk menguji kemampuan dan kekuatan barunya yang lain.


Untuk berjaga-jaga, Regard mengirimkan [Mind Reading] ke cloning lainnya untuk mulai bertindak segera sebelum sosok berjubah dapat memanfaatkan mereka.


Tersenyum kecil, Regard merasa bahwa malam ini akan dipenuhi pertempuran di dua tempat yang berbeda.


Di Desa Juria, sekelompok petualang yang terdapat sepuluh kelompok sedang menghadapi Troll dalam jumlah banyak. Tak hanya Troll, Witch yang ada di barisan belakang memperkuat Undead dengan sihir mereka, melindungi dan menguatkan serangan, serta mempercepat langkah kaki mereka meskipun semuanya sia-sia.


Undead sendiri berada di barisan depan. Mereka dengan sisa-sisa kehidupan yang telah sirna, kulit kering, mata kosong berwarna putih maju dengan berani ke arah musuh untuk mengalihkan perhatian petualang dari Troll.


Sayangnya usahanya sia-sia.


Tidak ada satupun dari mereka yang terpancing akan perhatian mereka, sebaliknya, mereka dengan cepat menghabisi Troll beserta Undead dalam sekejap.


Berbeda dengan kedua monster yang mampu diatasi, Golem dalam jumlah banyak melemparkan batu dan memukul tanah menjadi gundukan tanah yang mengarah pada mereka.


Mereka yang menghindari serangannya, dibekali oleh [Heaven Protection] yang berasal dari Cleric yang mampu membuat mereka kebal dari serangan Troll yang membuat mereka lengah sebelumnya.


Heaven Protection, sihir pelindung yang diberkati oleh rahmat para Dewa dan Dewi yang ada di dunia ini, sihir ini mampu menangkal berbagai macam serangan fisik yang ada sekaligus serangan sihir, keduanya mampu ditahan selama 1 menit.


"Kalian, bantulah kami!"


"Baik."


Di barisan belakang, para Magic Caster mulai melakukan mantra sihir untuk membuat pelindung dan penguatan terhadap barrier yang akan melindungi mereka.


[Divine Area], [Ultimate Barrier], [Perfection Defense], dan yang terakhir ialah [Reflection] dikerahkan oleh mereka kepada para petualang yang berada di barisan depan.


[Divine Area] yang mampu membuat area di sekitar tiap kelompok yang ada berubah menjadi cahaya hijau muda. Efeknya ialah area tersebut mampu memperkuat statistik dan mana mereka dalam kondisi tertentu sebanyak dua kali lipat dari biasanya.


[Ultimate Barrier] yang memunculkan berlapis-lapis dari sihir turunan [Magic Barrier] membuat mereka menerjang langsung ke musuh tanpa mengkhawatirkan pertahanan karena mereka telah terlindungi oleh [Magic Barrier] dalam jumlah banyak yang berlapis-lapis di sekitar mereka.


[Perfection Defense] yang mampu menguatkan pertahanan dari tiap-tiap kelompok yang berada di barisan depan sekaligus menguatkan [Magic Barrier] membuat mereka tak tertembus.


Dan yang terakhir ialah [Reflection] berguna untuk membalikkan serangan fisik dari Troll maupun Undead ke arah mereka semula tanpa menyebabkan efek apapun membuat mereka yakin tidak ada yang bisa mengalahkan mereka.


"Haruskah kita membantunya?"


"Tidak, kita akan mengawasinya terlebih dahulu."

__ADS_1


"Itu benar. Aku yakin Regard pasti sedang melakukan sesuatu saat ini."


Di tempat yang berbeda di dekat Desa Juria, Shilphonia, Friya, dan Reita sedang mengawasi situasi yang ada untuk memperkirakan bantuan yang akan mereka lakukan.


Sebelum mereka membantunya, Reita yakin saat ini Regard sedang melakukan sesuatu di kejauhan yang tidak mereka bertiga sadari.


Aku harap kamu baik-baik saja, Regard.


•••••


Regard POV


Begitu rupanya.


Ternyata mereka bersembunyi di balik pohon untuk menunggu pertarungan akhir agar mereka bisa menghancurkan semangat yang dimiliki oleh para petualang.


Benar-benar menarik.


Mengubah penampilan pada diriku, aku menyamar sebagai seorang wanita berambut hitam panjang dan berkulit putih.


Baiklah. Waktunya untuk berpesta.


Mengubah pakaian yang dikenakan menjadi jubah hitam sama seperti mereka, aku menutup penampilan menggunakan topeng besi bertanduk yang biasa digunakan selama aktivitas malam hari di Kota Farihiora.


[Burst Trap]


Mengarahkan pandangan ke beberapa tempat, ledakan dan getaran tanah berguncang kuat melebihi sebelumnya.


Aku yakin mereka pasti menyadari ada yang tidak beres di sini jadi aku akan mempersingkat waktu demi menyelesaikan misi ini dengan mudah dan berhati-hati.


Dibalik kumpulan debu yang menyebar, aku melihat keempat sosok yang sama seperti yang pernah ditemui sebelumnya di Hutan Milant. Pria berotot dan gagah, wanita berambut merah panjang dengan kuping runcing dan tajam, pria kurus dengan wajah seram dan menakutkan, serta wanita dengan rambut merah muda disertai dengan gigi taring, dan kulit pucat dapat terlihat jelas olehku.


Berbeda dengan keempat sosok tadi, satunya tidak pernah aku ketahui jadi ini pertama kalinya aku melihat mereka merekrut anggota baru.


Benar-benar takdir yang aneh ya.


Bertemu kembali dengan mereka, aku yakin kalau ini bukanlah suatu kebetulan.


Jika ini ditakdirkan untuk bertarung, aku siap melakukannya. Namun aku tidak yakin terhadap satu hal yaitu mampukah mereka mengatasi kegilaan dan kemurkaan yang akan aku lampiaskan atas perbuatan mereka sebelumnya padaku atau tidak, aku yakin mereka tidak sanggup melakukannya.


Sebelum dapat bergerak, pria berotot dan gagah berlari menerjang ke arahku.


Aku sebisa mungkin menghindari setiap pukulan yang dikerahkan. Pukulan itu terlihat cukup kuat jadi aku sebisa mungkin menghindarinya.


Namun...


Secara tiba-tiba, kawanan kelelawar mengerumuni aku membuat jangkauan pandangan terganggu.


Gawat!


Melompat dan menggunakan [Air Step] dan [Wind Walk], aku dengan cepat mengeluarkan bola hitam di kedua tanganku untuk memunculkan [Black Sword].


Ini akan menjadi pertempuran yang menarik.


Menyilang kedua pedang di depan, aku mengangkat mereka ke langit-langit. Di ujung pedang terdapat cahaya putih yang bersinar terang layaknya lampu sorot di malam hari yang gelap gulita.


Perlahan-lahan cahaya lampu sorot itu membesar dan menyilaukan.


Sebelum akhirnya membesar, aku arahkan pedang tersebut ke mereka, sekelompok orang yang tertutup oleh jubah hitam.


"Rasakan ini!"


Menggunakan [White Aura] berskala besar ke arah mereka, ledakan sempat terjadi begitu besar.


Efeknya begitu kuat sehingga aku tidak tahu bahwa [White Aura] selain dapat memperkuat tubuh dengan meningkatkan berbagai statistik yang ada, dia juga mampu digunakan sebagai senjata yang mematikan.


Apakah berhasil?


Menggunakan [Dark Eye], aku tidak menemukan tanda-tanda bahwa mereka terjatuh, sebaliknya, ada gundukan tanah yang berlapis-lapis yang di dalamnya terdapat empat orang yang berlindung dari serangan tadi.


Hanya empat orang, satunya lagi tidak melakukan apapun melainkan terdiam di tempat yang jauh.


Mereka benar-benar hebat dalam pertahanan ya.


Namun...


Mengeluarkan kristal es di telapak tangan, aku mengarahkan kristal yang perlahan-lahan membesar ke langit-langit.


Area di sekitar mulai berubah dari cuaca yang biasa menjadi cuaca bersalju, hembusan es yang mampu membekukan pohon dan permukaan tanah, serta badai salju yang melanda tanpa henti membuat aku berpikir ini akan menjadi akhir bagi mereka.


Mengaktifkan [Acceleration], aku memijakkan kaki di pijakan transparan yang telah diaktifkan sebelumnya, [Air Step] dan memperhatikan mereka.


Sekarang apa yang harus kulakukan?


Menunggu dan membiarkan mereka kemari, aku ragu mereka akan selamat tanpa terluka sedikitpun dari keempat orang yang kuat dan hebat yang menjadi lawan aku.


Tidak ada pilihan lain.

__ADS_1


__ADS_2