The Necromancer

The Necromancer
Ch. 45:Menerobos Masuk


__ADS_3

"Dimana aku?"


Seingat aku, aku sedang istirahat di malam hari tanpa melakukan apapun yang membuatku berakhir di tempat aneh seperti ini.


Tempat yang seluruhnya memiliki warna keemasan, lantai yang berwarna merah muda, serta koridor yang luas dan panjang, aku tidak tahu apakah aku benar-benar mimpi atau tidak.


"Mari kita coba!"


"Aduh... sakit sekali."


Ternyata ini bukanlah mimpi melainkan kenyataan.


Kenyataan ya.


Saat ini, aku tidak tahu berada di mana dan bagaimana caranya aku berakhir di tempat aneh, tapi yang pertama-tama ialah aku ingin mencari tahu terlebih dahulu apakah aku bisa menelusuri koridor yang luas dan panjang ini atau tidak.


"Fufufu... kamu benar-benar orang yang unik ya, Manusia."


Suara ini....


"Apakah kau adalah Stahark?"


"Ya, kamu benar. Selamat datang di istanaku, Golden Castle, istana yang pas untuk kematian kamu."


Dia tertawa terbahak-bahak saat mengatakan itu padaku. Aku tahu maksud perkataannya, dia yang menyediakan panggung padaku menginginkan aku mati di tempat seperti ini.


Dengan kata lain, tidak ada siapapun yang terjebak di dalam istana ini melainkan hanya aku seorang diri.


"Ya, kamu benar. Tidak ada siapapun di istana milikku karena aku tidak membutuhkan mereka, orang-orang yang tidak terlibat dalam hal tersebut."


"Kau benar. Satu-satunya yang kau inginkan hanya aku bukan?"


"Tepat sekali."


Tiba-tiba kabut memenuhi area sekitar, menutupi pandanganku yang tidak dapat melihat apapun yang ada di jarak jauh maupun dekat di sekitarku.


Apa ini? Mungkinkah jebakan?


Mengamati sekeliling, memancarkan aura intimidasi di seluruh tubuhku, aku ingin tahu apakah dia berencana memasukkan monster-monster di dalam kabut untuk menyerang aku atau tidak, aku harus waspada.


Sebenarnya aku bisa menggunakan [Dark Eye] untuk melihat apapun yang ada di sekitar, tapi karena aku tidak ingin menggunakannya maka aku hanya bisa mengandalkan insting bertarung yang kulakukan selama ini.


"Kamu benar-benar memiliki tekad yang kuat, hanya saja apakah kamu dapat mengatasi hal seperti ini di dalam dirimu?"


Seketika kabut yang menutupi pandanganku sirna tergantikan oleh sesuatu yang familiar untuk aku ketahui.


"Ini..."


•••••


"Friya, Shilph, Reita, kalian bertiga bangunlah!"


Di tengah tidurnya yang nyenyak di pagi-pagi buta, Fuuya dan Sasaki yang membangunkan mereka, menggerak-gerakkan tubuhnya untuk membuat mereka terbangun.


Perlahan-lahan, mereka bertiga bangun berkat usaha kedua gadis itu yang membangunkan mereka bertiga. Mereka yang bangun dari tidur nyenyak, mengusap matanya dan melihat ke arah Fuuya dan Sasaki yang terlihat panik sekarang.

__ADS_1


"Apakah ada yang bisa kami bantu?"


"Kenapa kalian membangunkan aku tidur?"


"Apakah ada sesuatu yang terjadi?"


Ketiga gadis itu bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya mereka inginkan dari membangunkan mereka dari tidurnya yang pulas.


Secara keseluruhan, mereka tahu kalau hari ini masih terlalu pagi untuk melakukan aktivitas, akan tetapi mereka berdua, Fuuya dan Sasaki yang membangunkan mereka membuat mereka tidak tahu tentang apa yang diinginkannya.


"Ini gawat! Tuan..."


"Regard telah menghilang!"


Terkejut atas pemberitahuan Fuuya, mereka bertiga yang tidur di kamarnya masing-masing, terbangun dan bergegas pergi menuju ke kamar Regard yang ada di dekat kamar mereka.


Mulai dari Shilphonia, ia berlari dengan cepat menuju ke kamar Regard karena bersebelahan dengan kamarnya, membuka pintunya dan melihat isi di dalamnya. Dengan piyama tidur transparan yang dikenakannya, pakaian dalam yang terlihat dibalik piyama membuat Shilphonia tidak mempedulikan penampilannya sekarang karena menurutnya yang terpenting ialah keberadaan Regard, yang mereka katakan telah menghilang.


Friya yang ikut memasuki kamar setelah Shilphonia, ia berada bersebelahan juga dengan kamar Regard. Bedanya adalah Shilphonia berada di kanan dari kamar Regard sedangkan Friya berada di kiri dari kamar Regard, keduanya saling bersebelahan. Friya yang memasuki kamar, ia tidak merasakan kehadiran Regard melalui mana yang dapat dia rasakan sekarang.


Tidak peduli seberapa keras Friya mencoba mencari tahu apakah mana yang dimiliki Regard dapat dirasakan atau tidak, itu lenyap sepenuhnya dari kasur tempat ia tertidur.


Dan terakhir Reita, ia berada di sebelah kamar Friya bergegas bangun dan masuk ke kamar kakak tirinya, Regard. Sebelum Reita pergi ke kamarnya, alangkah baiknya ia mengganti pakaiannya terlebih dahulu karena dia tidak sopan masuk ke kamar kakaknya sendiri dengan piyama tidurnya.


Lagipula Reita yakin kalau sebelum ia tiba di kamar kakaknya, Shilphonia dan Friya yang sudah memasuki kamarnya dapat mencari tahu penyebabnya jadi dia memutuskan untuk mengutamakan penampilannya terlebih dahulu baru masuk ke kamar kakaknya.


"Apakah ada sesuatu yang terjadi sebelumnya?"


"Aku tidak tahu."


Shilphonia yang tidak mendapatkan jawaban dari Fuuya dan Sasaki, dia hanya menggantungkan kepalanya, menggigit bibirnya yang kesal karena tidak tahu bagaimana bisa Regard pergi dari kamarnya tanpa sepengetahuan mereka.


Menurut Shilphonia, Regard pergi tidak mungkin tidak disadari oleh Fuuya dan Sasaki, yang artinya kalau ia menghilang mendadak seperti yang dialami oleh orang-orang di Kota Lien.


"Mungkinkah..."


"Ya, aku yakin itulah penyebabnya."


"Aku setuju."


Reita yang bersandar di pintu sebelumnya, berjalan mendekati Shilphonia dan Friya yang berdiri di dekat kasur, memperhatikan bekas kasur yang ditiduri oleh Regard sebelumnya, ia merasakan ada bekas jejak melalui pijakan yang disentuh Regard di permukaan kayu.


"Biar bagaimanapun, Regard tidak mungkin pergi sendirian tanpa mengabarkan kami."


"Itu benar."


Friya yang sedari tadi terdiam, ia tiba-tiba teringat akan pembicaraan yang dilakukan oleh sosok yang dikenalnya sebelumnya sebelum dia menetap di Kota Lien.


"Kurasa kita akan mendapatkan jawaban pada orang yang kukenal."


"Benarkah?"


"Ya. Tapi, aku tidak tahu apakah kalian setuju untuk ikut atau tidak."


Shilphonia, Reita, Fuuya, Sasaki, mereka berempat saling bertatapan dengan ekspresi serius, mengangguk sekali pada apa yang mereka yakinkan, mereka memandang Friya yang menunggu jawaban dari mereka.

__ADS_1


"Kami akan ikut denganmu!"


"Baiklah. Kita akan ke tempat itu sekarang, tapi sebelum itu..."


Mendengar persetujuan dari Shilphonia, Friya tersenyum pada jawabannya lalu memandang pakaian mereka, Shilphonia, Fuuya, dan Sasaki yang terlihat tidak mengenakan seragam mereka, Friya mendesah pelan karena tidak tahu harus bagaimana ia mengatakannya.


"Kalian bertiga harus berganti pakaian terlebih dahulu untuk bisa pergi ke lokasi yang akan kita tuju."


"Kamu benar."


"....."


"....."


Shilphonia yang sadar atas pakaiannya mengangguk setuju pada perkataan Friya. Biar bagaimanapun juga, dia tahu kalau tidak sopan berkunjung ke tempat orang lain hanya dengan memperlihatkan pakaian dalam dibalik piyama tidur transparan yang dikenakannya, itu akan membuat lawan jenis memiliki hasrat seksual yang tinggi.


Fuuya dan Sasaki yang melihat tubuh mereka, terutama Fuuya yang tidak mengenakan pakaian apapun melainkan telanjang sepenuhnya, terdiam mematung saat tahu kalau dia tidak bisa kemana-mana dengan tubuh tanpa busana, sedangkan Sasaki yang mengenakan pakaian dalam tanpa piyama tidurnya, ia dengan cepat menutupi tubuhnya yang terlihat oleh mereka, wajahnya yang memerah menandakan kalau ia benar-benar malu untuk mengungkapkan kalau dirinya seperti ini ketika tertidur.


Di sisi lain, di luar Kota Lien, beberapa orang yang menaiki kuda mereka berhenti sejenak melihat ke Kota Lien, kota yang mereka tempati sebelumnya.


"Aku harap kamu baik-baik saja ya, Arthen."


Salah seorang gadis berambut putih panjang yang menaiki kuda memasang ekspresi khawatir atas apa yang dia dan orang itu bicarakan di hari sebelumnya.


Sehari yang lalu.


"Aku akan memasuki ruangan yang disiapkan oleh Stahark tanpa mewaspadai hal apapun."


"Apakah kamu benar-benar yakin bisa melakukannya?"


Dengan ragu-ragu untuk meyakinkan Regard berapa peluang untuk ia bisa masuk ke tempat yang disiapkan Stahark untuknya, Regard hanya menampilkan senyum penuh percaya diri.


"Ya, aku yakin. Biar bagaimanapun ia menginginkan untuk melenyapkan aku sendiri jadi aku tidak mungkin membiarkan kesempatan itu lenyap begitu saja."


Mengulurkan tangan kanannya yang terangkat ke langit-langit, Regard mengepal tangannya menjadi tinju, berpikir kalau ini akan menarik jika Stahark berpikir kalau ia sengaja menurunkan kewaspadaannya hanya demi masuk ke tempat yang disediakan.


Segala skenario yang telah dibentuk oleh Regard, semuanya dapat dia kelola dan wujudkan perlahan-lahan, tapi yang terpenting dari segalanya adalah Regard ingin tahu reaksi Stahark yang berpikir kalau dia adalah orang bodoh yang tidak membiarkan tubuhnya dipenuhi oleh penjagaan ketat, hanya itu yang Regard ingin dengar darinya.


"Aku tidak tahu apakah kamu benar-benar orang normal atau tidak, namun aku ingin memperingatkan dirimu untuk berhati-hati karena musuh yang kamu hadapi adalah Stahark, kamu tahu sendiri dia seperti apa bukan?"


"Ya, aku cukup mengenalnya seperti apa dia."


"Baguslah."


Berjalan mendekati Regard, Liliana yang berhenti di sisinya, ia menampilkan senyuman yang lembut yang membuat Regard berpikir bahwa dia memberikan itu bukan untuk mengasihani dirinya melainkan hak lain dibalik senyumannya.


"Tetaplah hidup dan kembali dengan selamat, Arthen!"


"Ya, aku pastikan bahwa aku baik-baik saja."


Meninggalkan Regard sendirian, Liliana yang tersenyum mengetahui tekad Regard yang membara dari dalam matanya benar-benar tidak terpikirkan kalau kali ini dia mengalah pada Regard.


Alasan ia mengalah padanya bukan karena dia tidak mau melakukan penyelidikan lebih lanjut, tapi karena musuhnya Stahark, Liliana sadar kalau ia bermain-main sedikit saja dengan keberadaan monster tersebut, rekan-rekan di pasukannya akan menjadi sasarannya.


Itulah hal yang tidak diinginkan Liliana dalam menghadapi konsekuensi yang ada di dirinya sendiri.

__ADS_1


Menyelamatkan orang lain dengan mengorbankan prajuritnya sendiri, itu hanya alasan bodoh yang dilakukan oleh pemimpin pasukan ksatria kerajaan lainnya yang tidak bisa Liliana tiru dan lakukan karena setiap nyawa sangat berarti untuknya dan orang-orang terdekat dari mereka.


__ADS_2