The Necromancer

The Necromancer
Ch. 47,2:Keputusasaan Regard (2)


__ADS_3

"I-ini..."


Stephani yang berada di ujung ruangan yang terdapat banyak kristal yang memantulkan penampilannya, penampilan seperti; rambut hitam panjang, gaun hitam yang dikenakannya, sepatu hak tinggi berwarna hitam dengan stocking hitam panjang, semua terpancar melalui cermin yang mengitarinya.


Berhati-hatilah, Stephani!


Ya, aku tahu itu.


Merasakan adanya firasat tidak enak atas apa yang diperlihatkan di cermin, pandangan Stephani yang mengitari seluruh kristal yang memperlihatkan dirinya, ia mengeluarkan salah satu pedang berwarna hitam legam yang muncul tiba-tiba di tangannya, tidak ada tanda-tanda serangan maupun jebakan terlihat olehnya.


Itu dia!


Tepat sebelum dia diserang, Stephani yang buru-buru melompat dan memutar tubuhnya ke belakang terkejut melihat apa yang ada dihadapannya sekarang.


"Mustahil. Bagaimana bisa itu dibuat sedemikian rupa seperti dirimu, Shilphonia?"


Apa!? Aku tidak tahu. Aku hanya berpikir kalau itu hanya tiruan aku.


Tiruan?


Tidak yakin atas apa yang dikatakan oleh Shilphonia di dalam tubuhnya, ada hal lain yang tidak diketahui Stephani dari keberadaan yang mirip persis seperti Shilphonia, ia dengan penampilan yang sempurna; berambut pirang panjang, bergaun putih, sepatu hak tinggi berwarna putih dengan stocking putih yang panjang, itu benar-benar menggambarkan deskripsi yang sesuai dengan kepribadian Shilphonia.


"....."


Sebelum dapat melakukan apa yang akan dilakukan oleh Shilphonia, Stephani yang berlari menjauh mengganti pedang yang ada di tangannya yang berwarna hitam menjadi coklat tua, ia dengan segera melemparkannya ke lantai, menciptakan beberapa gerbang pintu yang melindunginya dari setiap sisi, senyum menghiasi wajahnya.


Saat gerbang pintu terbuat beberapa lapis yang melindungi Stephani, Shilphonia yang mengeluarkan sepasang sayap berwarna putih, ia dengan cepat mengeluarkan busur dan anak panah miliknya, membidiknya ke arah gerbang pintu berada, anak panah yang terbuat dari sihir melesat dengan cepat.


Anak panah yang berwarna biru laut yang awalnya hanya terdapat satu anak panah perlahan-lahan berubah menjadi beberapa anak panah yang melesat mengenai gerbang pintu yang ada di depannya.


Tidak menutup kemungkinan yang ada, Shilphonia yang telah menambahkan kemampuan lainnya di dalam kemampuan [Multiple Arrow], [Burst Arrow] yang membuat anak panah berwarna biru laut sebelumnya menjadi warna merah layaknya lahar, perlahan-lahan terang yang menyebabkan itu meledak, mengakibatkan rentetan ledakan itu menghancurkan setiap gerbang pintu yang terbuat.


Stephani yang mengetahui guncangan tersebut, melompat dan menggerakkan lengan kanannya menaik, menciptakan [Golden Chain] yang mengikat tubuh Shilphonia, ia berniat untuk melancarkan beberapa pedang yang melayang di belakang punggungnya, Stephani mengarahkan lengan kirinya ke Shilphonia yang membuat beberapa bilah pedang melesat cepat ke arah Shilphonia.


Shilphonia yang kesulitan mengerakkan tubuhnya, matanya yang tidak mengenal rasa takut yang terpancar tekad bertahan hidup, ia dengan ekspresi yang terlihat panik sebelumnya perlahan-lahan tersenyum.


Saat beberapa bilah pedang berada di 3 meter dari tempat Shilphonia berada, [Heaven Protection] tercipta. Sebuah pelindung berbentuk setengah lingkaran yang berwarna putih transparan mampu menangkis beberapa bilah pedang yang diarahkan Stephani membuat Stephani mengklik lidahnya, kesal atas kemampuannya yang sama seperti Shilphonia yang ada di dalam tubuhnya.


Tanpa melakukan gerakan sedikitpun, Shilphonia yang mengaktifkan [Unlimited Blade] yang memunculkan sejumlah pedang yang melayang di langit-langit yang membebaskan ia dari ikatan rantai emas yang dilakukan oleh Stephani, ia hanya menatap Stephani dengan senyum ringan yang membuat Stephani berpikir kalau Shilphonia adalah musuh yang benar-benar harus dihadapinya sekarang.


Entah bagaimana itu bisa tercipta, Stephani bertanya-tanya dalam dirinya, tapi kebingungan dan rasa penasaran yang tercipta sebelumnya di benaknya dihilangkan terlebih dahulu, ia memutuskan untuk fokus pada pertarungan yang ada di antara mereka satu sama lain.


Di sisi lain di lain tempat, Friya yang menghentikan langkahnya dihadapan kristal dalam jumlah banyak, kabut tebal mulai terlihat di bawah kakinya yang perlahan-lahan membungkus tubuhnya kembali.


Apakah ilusi yang sama seperti sebelumnya?


Berpikir kalau ilusi yang akan diperlihatkan oleh Stahark terhadapnya, Friya yang siap untuk menerimanya karena dia tahu kalau itu hanya ilusi belaka, dia tidak ragu untuk keluar lagi seperti kondisinya yang lalu.

__ADS_1


Tidak menutup kemungkinan yang terjadi nantinya, pandangan Friya yang dikejutkan usai kabut tebal sirna yang memperlihatkan salah satu siluet yang dikenalnya yang perlahan-lahan terlihat siapa dia, Friya tercengang dalam diam.


"Nek Ryadu...."


Sosok yang berada di depannya, seorang nenek yang bertelinga runcing, berambut putih, bertubuh kecil yang bungkuk, kulit-kulitnya yang mengendur, serta matanya yang sipit yang tampak seperti mata kantuk, itu adalah Nek Ryadu, sesepuh elf yang dikenal Friya.


Kenapa dia bisa ada disini?


Terheran-heran atas kehadirannya, tidak ada satupun percakapan yang dilakukan oleh Friya maupun Nek Ryadu, sebaliknya, mereka berdua yang diam dalam hening hanya saling memandang satu sama lain.


"Mungkinkah..."


Sebelum dapat mengoreksi atas apa yang terjadi, Nek Ryadu yang menghilang dari tempatnya berada, pandangan Friya mengitari seluruh ruangan, mencari tahu dimana keberadaan Nek Ryadu yang membuatnya waspada atas apa yang akan dilakukan Nek Ryadu terhadapnya.


"....."


Nek Ryadu yang tidak terlihat masih membuat Friya kebingungan dimana dia berada, dia tidak menemukannya sama sekali.


Apakah dia....


Tepat disaat Friya mendongak ke langit-langit ruangan, Nek Ryadu yang melayang di udara yang berada tepat diatasnya, turun ke arahnya.


Dengan tongkat kayu yang dituntunnya sebelumnya yang berubah menjadi [Magic Blade], Nek Ryadu menebas Friya secara horizontal dan vertikal yang terus-menerus dilakukannya. Friya yang sebisa mungkin menghindari serangannya, dia terus tidak melakukan serangan balasan, sebaliknya, ia ingin tahu jauh mana tempat ini menciptakan Nek Ryadu yang sama persis seperti dirinya, Friya ingin menilainya terlebih dahulu.


Jika itu sama persis seperti Nek Ryadu maka Friya tidak segan untuk menghadapinya dengan kekuatan penuh, sebaliknya, jika ini adalah produk gagal yang menyerupai Nek Ryadu maka Friya tidak berniat untuk mengalahkannya melainkan hanya mempermainkannya semata.


•••••


Dihadapan Reita, seorang pria yang dikenalnya yang telah tiada sejak ia masih kecil berdiri dengan wajahnya yang tertutup poni depannya, ia yakin itu adalah sosok yang pernah menjadi keluarganya, sosok kakaknya, Daffa.


Kakaknya yang menatapnya dengan tatapan kosong dan tak berekspresi berlari ke arah Reita. Di tangannya yang muncul pedang yang terbuat dari tulang-tulang yang terbentuk di lantai yang memadat menjadi pedang, diarahkan ke wajah Reita yang berniat untuk menghancurkan wajah cantiknya.


Reita yang sempat terdiam beberapa saat, dia dengan segera menghindar tusukan pedang tulang, [Blade of Skeleton], hembusan angin kecil terasa di sisi Reita.


Jadi, inikah yang harus aku hadapi dari sekarang?


Melawan kakaknya, Daffa adalah hal tak terduga bagi Reita.


Meskipun hatinya terasa berat untuk menjadikan kakaknya sebagai lawan, tidak ada pilihan lain selain menyerangnya untuk bisa bertemu dengan Regard, kakak barunya, Reita terpaksa melakukannya.


Daffa yang sadar kalau Reita tidak bergerak, mundur menjauh darinya. Dengan lompatan sekali yang kuat pada pijakannya, retakan terbuat di garnet merah yang membuat Reita hendak menyerangnya terdiam.


Dilihat dari seluruh gerakan pada Daffa, Reita yang penasaran mengapa gerakannya monoton dan kaku, perkiraannya adalah Kak Daffa yang tampak seperti boneka membuat Reita menguatkan tekadnya yang berusaha untuk melawannya.


Daffa yang memijak pada lantai di depannya membuat jeruji tulang muncul yang mengarah ke Reita. Melompat ke udara, Reita yang salto dengan cepat mengeluarkan pedang dari sarungnya, berniat untuk menebas kemungkinan yang ada yang akan dilakukan oleh Daffa.


Menduga Reita yang melompat ke udara tidak memiliki pijakan, Daffa yang mengeluarkan kedua persegi tulang-tulang di sisinya, menembakkan jarum-jarum tulang berukuran kecil dalam jumlah banyak tiada henti ke Reita.

__ADS_1


Dengan jarum-jarum tulang yang berjumlah banyak, Daffa yang berpikir kalau Reita akan tiada karena dia tidak dapat menghindar maupun bergerak bebas saat tubuhnya melayang di udara.


Reita yang memperhatikan jarum-jarum tulang melesat cepat, dia dengan cepat mengarahkan salah satu lengannya ke garnet merah menciptakan [Golem Arm] yang muncul dari retakan garnet merah yang berada di belakang kakinya, Reita memijak tangan golem yang terbuat dari bebatuan, menerjang langsung ke arah jarum-jarum tersebut.


Pedang yang masih dipegang oleh tangan kanannya, Reita dengan cepat mengibaskan ke depan, membuat seluruh jarum-jarum tulang berhamburan ke lantai yang membuat Daffa yang memperhatikannya, tidak menyangka kalau Reita dapat melakukannya.


"Sayangnya kamu tidak bisa membunuhku ya, Kak Daffa."


Tidak ada jawaban apapun darinya, Reita tidak berharap kalau Daffa yang tampak seperti boneka menjawabnya melainkan Reita mengatakan padanya agar emosi yang dipendamnya lepas dari lubuk hatinya.


Di sisi lain, Fuuya yang dengan cepat menghindar dari rentetan bunga es yang mengembang di lantai, udara dingin yang berhembus melalui bunga es yang diciptakan oleh Ibu Fenrir membuat area sekitarnya menjadi berkabut salju.


Bagaimana cara aku melawannya?


Secara keseluruhan, Fuuya yakin kalau kekuatan dan kemampuan Ibunya sama seperti dirinya, keduanya memiliki kesamaan dalam jumlah yang setara. Tidak peduli bagaimana hasilnya nanti, pikiran Fuuya yakin kalau hasilnya akan seri untuk mereka berdua.


Kalaupun tidak, dirinya yang tahu kalau itu atas bantuan orang lain, Fuuya sama sekali tidak yakin itu dapat dilakukan oleh orang lain, khususnya Regard, seorang pria yang ditemuinya sebelumnya di dalam dirinya, ia ragu jika dia datang untuk membantunya kali ini.


"Maafkan aku, Bu!"


Dengan mengaktifkan [High Acceleration], tubuhnya yang melesat cepat bagaikan kilat, muncul di depan Ibunya, memukulnya dengan tangan kanannya, Ibu Fenrir menangkisnya dengan mudah.


Ekspresi yang dihasilkan oleh Ibu Fenrir masih sama, biasa dan kosong, Fuuya yang tahu itu akan terjadi, dia mulai menciptakan [Ice Lotus] yang melayang tepat di depan mereka, mengembang di udara dengan bunga es yang menghalangi mereka.


"....."


Melihat Ibu Fenrir yang tetap memandangnya dalam tatapan kosong dan tak berekspresi, Fuuya juga ikut menatapnya, mereka terdiam sejenak lalu berlari ke arah satu sama lain, ekspresi yang diperlihatkan Fuuya adalah kekesalan dan kebencian.


Ibu Fenrir yang mengaktifkan [Fenrir Army] menciptakan kawanan Fenrir yang berwarna putih salju transparan, kawanan Fenrir berniat menyerangnya. Fuuya yang tersenyum, ia menghindar dengan cepat ke samping, tubuhnya yang melompat dan melayang, memutar tubuhnya yang menyebabkan [Wind Burst] pada kawanan Fenrir yang diciptakan oleh Ibu Fenrir, mereka semua lenyap dengan mudah tanpa tersisa satupun.


•••••


Regard POV


"Selamat datang di singgasana aku!"


Ruangan ini...


Ruangan yang terlihat seperti Aula Tahta, terdapat banyak hal yang sama persis seperti yang dilihat dalam film-film anime yang pernah aku tonton; kursi merah yang kedua sisinya dilapisi warna keemasan, tangga yang terdapat karpet merah yang kedua sisinya berlapis emas, serta lampu kristal yang menggantung di atas diikuti dengan hiasan bingkai foto yang ada di kedua sisi di ruangan, aku cukup terkejut atas keindahan dan kecantikan yang disajikan oleh Stahark padaku.


Andai saja dia tidak berniat untuk menghabisi dan menyiapkan makam untukku, mungkin aku sudah berteman baik sejak lama dengannya. Tapi sayangnya dia memihak pada iblis, aku tidak mungkin bisa bekerjasama dengan iblis sepertinya yang telah menteror orang-orang yang tidak bersalah, menghancurkan tempat tinggal aku, aku tidak bisa memaafkan bagian itu jauh dari lubuk hatiku.


"Ekspresi yang bagus. Aku suka itu."


Apakah aku membuat ekspresi kesal dan marah? Aku tidak tahu.


Yang terpenting sekarang adalah waktunya untuk melawan Stahark, aku tidak akan membiarkan kesempatan ini pupus begitu saja saat datang lebih cepat dari yang aku perkirakan sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2