The Necromancer

The Necromancer
Ch. 50,3:Serangan Balik (3)


__ADS_3

Friya POV


Selama kami menunggu hal dalam waktu tertentu sesuai arahan dari Nek Ryadu, beliau menyuruh kami untuk berkumpul tepat di depan permukaan air yang dalam dan tinggi.


Beliau menjelaskan pada kami kalau besar kemungkinan Regard, teman kami akan kehilangan kendali pada tubuhnya yang akan tertelan oleh kegelapan, Nek Ryadu akan berperan sebagai pelindung sekaligus harapan agar bisa menyadarkannya dari kegelapan tersebut.


Sebetulnya aku ingin membantunya juga, tapi apa yang dikatakannya benar-benar membuatku tidak bisa menyangkalnya sama sekali.


"Jangan membantuku karena itu akan membuatmu kehilangan nyawa dan kehidupan yang kamu miliki sekarang!"


Hanya itu kata-kata yang dapat aku ingat dari beliau, aku benar-benar merasa kalau nyawa Nek Ryadu sama pentingnya denganku, aku tidak setuju atas pemikirannya.


"Apakah dia baik-baik saja?"


"Ya, dia baik-baik saja."


Menolehkan pandangannya ke Reita dan Fuuya yang saling berdiri di dekatnya satu sama lain, aku hanya bisa menampilkan senyum kecil yang kemungkinan besar kegelisahan masih terpampang jelas di wajahku.


"Jangan khawatir, dia tidak akan apa-apa."


"Sasaki..."


Di dekatku, Sasaki yang memainkan kipas lipatnya, ia menutup mulutnya yang mencoba menenangkan aku, kupikir begitu karena dia adalah orang yang peka terhadap sekitarnya.


Walaupun dia bukan Sasaki asli melainkan Ookami, aku benar-benar salut atas kebijakan dan keramahannya terhadap siapapun, dia benar-benar diagungkan oleh siapapun yang memujanya di masa lalu, itulah kelebihannya.


"Benar bukan, Stephani?"


"Jujur aku ingin mengatakan hal buruk padamu, tapi karena Sasaki tidak membiarkan aku melakukannya, aku rasa dia benar. Mustahil bagi Regard untuk tertelan oleh kegelapan, itu adalah hal yang tidak masuk akal."


Di sisi lain, Shilphonia yang penampilannya terlihat buruk daripada dirinya yang kukenal, ia terlihat rumit dj wajahnya yang membuatku berpikir kalau dia tidak menyukai siapapun yang ada diantara kami, aku menduga ia memiliki perasaan terhadap Regard.


Nek Ryadu yang mengetuk tongkatnya sebanyak dua kali, pusaran air yang dalam dan tinggi sebelumnya terlihat mulai mengering seperti semula. Dihadapan kami tergantikan oleh aspal yang terlihat sudah tak terpakai, beliau turun ke bawah, merosot dengan kedua kakinya dalam momentum yang tepat, berhenti sejenak.


"Kira-kira apa yang dilakukan Nenek Tua itu? Apakah dia berpikir kalau dirinya masih muda?"


Bisakah kamu hentikan kata-kata kasar kamu terhadap Nek Ryadu, Shilphonia? Biar bagaimanapun dia telah menyelamatkan kalian bukan? Setidaknya aku ingin kalian tunjukkan harga diri kalian terhadapnya.


Aku ingin mengatakan itu padanya namun aku menahannya menggantinya dengan senyum tipis do wajah terhadap Shilphonia, ia benar-benar tidak memperhatikan aku melainkan menganggap aku tidak ada di dekatnya.


Benar-benar deh. Mengapa aku bisa bertemu dengan sifat menyebalkan dari kepribadian Shilphonia yang berbeda?


Ingin sekali aku mengeluh atas sikap dan kata-kata buruk yang dilakukan oleh Shilphonia atau lebih tepatnya Stephani, itulah yang dikatakan oleh Sasaki yang dikendalikan oleh Ookami, aku rasa bisa memakluminya adalah hal yang wajar.


Terlepas dari siapapun memiliki masa lalunya masing-masing, ada beberapa diantara temanku yang memiliki kepribadian unik, terutama pada Sasaki. Dia di satu sisi terlihat ramah dan baik terhadap siapapun, tapi di sisi lain dia terlihat bijaksana dan berwibawa dalam tindakannya baik itu; berpikir, berjalan maupun tertawa, ia benar-benar terlihat berbeda dari Sasaki biasa.


Apalagi dengan tubuhnya yang terlihat berbeda, tubuhnya yang awalnya tidak terlihat seperti wanita dewasa, ia berubah menjadi tinggi dengan tubuh idealnya yang mungkin lebih besar dari aset milikku sendiri, aku benar-benar iri atas kelebihannya tersebut.


Tapi karena aku tidak terlihat begitu mempedulikannya, aku hanya bisa memakluminya dan membuang iri tersebut jauh-jauh karena kami sudah menjadi teman, aku tidak bisa membiarkan rasa iri dan cemburu membutakan hati dan pikiranku.


"Friya, kemari!"


"Baik."


Aku melompat dari tempatku berada, mengaktifkan [Wind Walk] yang membuatku mampu bergerak di udara, aku turun layaknya menuruni anak tangga di suatu kerajaan, aku menghampiri beliau yang sedang menungguku.


"Tolong tunggu sebentar!"


Nek Ryadu yang memegang tongkat kayu yang digunakan untuk berjalan menggunakan kedua tangannya, beliau memejamkan matanya, bergumam pelan dengan kalimat-kalimat panjang yang belum pernah aku mengerti sebelumnya, beliau arahkan tongkat sihirnya ke depan yang menciptakan lubang yang menampilkan tempat yang berbeda.


"I-ini..."


"Sekarang ambillah ini dab tahanlah!"


"Baik."


Menancapkan tongkat sihir yang diberikan Nek Ryadu, aku menahannya dengan kedua tanganku karena aku mengikuti tindakannya dalam melakukannya tadi, aku melihat dia memasuki lubang berukuran besar yang diciptakan olehnya, terlihat Regard di dalamnya yang terjatuh tanpa henti di udara yang hampa dan kosong.


•••••

__ADS_1


Nek Ryadu yang melompat tinggi dengan kedua kakinya yang kecil, lompatannya tersebut terbilang cukup tinggi yang menangkap tubuh Regard, ia merapalkan mantra sihir pada tubuhnya menggunakan [Levitation], tubuh Regard melayang di atas telapak tangannya.


Kamu telah berjuang cukup keras, Nak.


Mengetahui bahwa tidak ada tanda-tanda kegelapan mengendalikan tubuhnya, Nek Ryadu hanya memberikan senyum sesaat pada Regard yang tak sadarkan diri, ia kemudian membawanya keluar yang melayang di udara memasuki portal dimensi yang dibuatnya yang ditahan oleh Friya menggunakan tongkat sihir sekaligus tongkat kayu miliknya.


"Lepaskan sekarang, Si Besar!"


"Baik."


Ikuti arahan dari Nek Ryadu, Friya melepaskan tongkat yang ia tancapkan ke aspal, menciptakan portal yang menembus ke dimensi lain yang terlihat runtuh pada bangunan yang dimilikinya menjadi lenyap, Nek Ryadu mendekati Friya, memeluknya sejenak sambil mengelus-elus belakang tubuhnya.


"Kerja bagus, Si Besar!"


"Terimakasih."


Friya yang tidak terbiasa mendapatkan pujian, pandangannya teralihkan ke arah lain.


Stephani yang mengacuhkan Friya bersikap biasa, Reita yang tersenyum atas ******** Friya yang tidak dapat ditahan, Fuuya yang hanya mendecih kesal atas sikap Friya yang dipuji, serta Sasaki yang terkekeh pelan dibalik kipasnya yang terbuka, semua elf juga turut senang saat mengetahui kalau Nek Ryadu dan Friya, kedua pemimpin elf mampu melakukan yang terbaik demi membawa Regard kembali.


Meskipun di dalam hati para elf terdapat keraguan tentang class Necromancer yang dimiliki oleh pemuda yang dibawa oleh Nek Ryadu, mereka tetap yakin kalau pria tersebut bukanlah pria yang mampu terbawa oleh kegelapan yang ada melainkan pria kuat yang tangguh dalam menghadapi masalah apapun.


"""""Regard!"""""


Kelima gadis yang ada di tempatnya masing-masing mulai mendekati Nek Ryadu yang meletakkan Regard di permukaan aspal.


Regard yang masih tidak sadarkan diri membuat mereka berlima terlihat sedih atas apa yang terjadi pada dirinya. Mereka yang merasa bersalah, menyesali perbuatannya untuk meninggalkan Regard di sana sendirian, termasuk Stephani dan Sasaki, kedua gadis itu yang masih sanggup berdiri bersamanya sebelumnya justru meninggalkannya yang membuat Regard terlihat seperti sekarang.


"Jangan khawatir, dia baik-baik saja! Dia hanya kelelahan."


Dengan langkah ringan yang dibuatnya, Nek Ryadu yang berjalan melewati mereka membuat mereka berlima menoleh ke arah Nek Ryadu yang melewati mereka, mereka saling memandang satu sama lain, tersenyum lega saat tahu kondisi Regard baik-baik saja.


Ya ampun. Kamu benar-benar populer di kalangan para gadis ya, Nak. Bahkan elf seperti Si Besar sangat mengkhawatirkan dan mencemaskan dirimu.


Menoleh sejenak ke arah Regard yang masih memejamkan matanya, Nek Ryadu hanya memberi senyum kecil padanya yang takjub atas usaha dan tekadnya yang melebihi kegelapan itu sendiri.


Padahal sebenarnya Regard yang hampir kehilangan kendali pada tubuh dan pikirannya oleh emosi kegelapan, Kuma yang memberikan kekuatan dan kemampuannya membuatnya dapat menjadi dirinya sendiri yang sama sekali tidak diketahui oleh Nek Ryadu tentang kehadiran tamu tak terduga melainkan Nek Ryadu menganggap itu sebagai usaha yang Regard lakukan untuk kebajikan yang dilakukannya selama ini.


•••••


Apakah aku berhasil mengalahkan Stahark?


Ya, kamu berhasil melakukannya.


Apa dia benar-benar tiada sekarang?


Tentu. Dia telah tiada berkat dirimu.


Mengapa suaramu muncul di kepalaku?


Sederhana. Kamu dan aku, kita telah terhubung satu sama lain mulai hari ini dan seterusnya.


Terhubung?


Seingat aku, aku tidak pernah melakukan apapun melainkan hanya menerima kekuatan dan kemampuan dari Shigase Kuma, gadis iblis berambut putih panjang, ia menawarkan kerjasama padaku agar menyingkirkan Stahark dari dunia ini.


Apa yang kau inginkan dariku? Bukankah seharusnya kerjasama kita sudah usai?


Usai? Jangan bercanda! Aku belum memutuskannya sama sekali tentang kerjasama kita yang berakhir hari ini.


Ya ampun. Kenapa aku harus berhubungan dengan sesuatu yang tidak kukenal dan ketahui?


Terlebih lagi dia adalah Raja Iblis yang ada di Dark Castle di masa sekarang, aku yakin dia adalah keturunan langsung dari Raja Iblis yang pernah melatihku dalam mempelajari kekuatan dan kemampuan Necromancer yang kumiliki.


Berkatmu, aku dapat terbebas dari ancamannya. Tidak hanya dia yang musnah, itu memudahkan aku agar bisa menghancurkan siapapun musuhku, aku akan melenyapkan umat manusia mulai sekarang. Terimakasih.


Melenyapkan?


Sudah kuduga kalau alasan dia melakukan ini padaku bukan karena ketulusannya dalam membantuku, tapi ada tujuan lain dibalik semua itu.

__ADS_1


Tujuannya terungkap sekarang, tujuan yang diinginkannya adalah menghancurkan umat manusia, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi untuk kedua kalinya sama seperti yang ditampilkan oleh Shigase Kuma di ruang bawah tanah sebelumnya, di Kota Fiasfa.


Tekad yang bagus. Aku suka itu.


Huh? Apa yang bagus? Aku hanya tidak ingin siapapun mengalami hal serupa seperti yang kumiliki di waktu kecil. Keputusasaan, kehampaan, kebencian, dendam, kemurkaan, itu adalah emosi yang dipendam dalam diriku sendiri saat tahu bahwa aku telah kehilangan segalanya saat Stahark dan para penduduk desa telah tiada, termasuk tempat tinggal aku.


Lain kali kita bertemu, kamu dan aku.... kita berdua akan menjadi musuh. Apakah kamu mengerti?


Musuh ya.


Entah apakah aku benar-benar mampu mengalahkannya yang sama tingkatannya denganku atau tidak, aku berpikir kalau melawannya adalah satu-satunya pilihan agar bisa menyelamatkan dunia dari kehancuran.


Itulah tujuanku menghadapinya.


Jawaban yang bagus. Aku suka atas tekad yang kamu miliki.


Tiba-tiba suara itu lenyap dari kepalaku, seluruh kegelapan yang membuat tubuhku mengambang di udara tiada akhirnya, secercah cahaya muncul yang perlahan-lahan mulai menerangi seluruh area di sekitarku.


"Ini..."


Sebuah hutan yang kukenal, hutan yang pernah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari aku dalam bekerja, hutan yang berada di Desa Fiasfa, kabut tebal yang mengelilingi hutan terlihat jelas, begitupun dengan cuacanya yang masih terlihat pagi, tidak ada tanda-tanda keberadaan musuh seperti iblis maupun monster ada di dalamnya.


Apakah aku tiada?


Berdasarkan ingatanku, usai mengalahkan Stahark, tubuhku sudah mencapai batas yang membuatku sulit untuk digerakkan, aku tumbang usai melenyapkannya jadi aku yakin kalau alam lain yang kulihat sekarang adalah akhir dari perjalanan aku.


"Kita bertemu lagi ya, Nak!"


Suara ini...


Aku rindu atas suara ini.  Suara yang telah menemaniku sejak aku masih bayi hingga tubuh menjadi anak lelaki kecil, suara ini selalu menjaga, menghidupkan, menghibur, serta menemaniku dikala aku sedang membutuhkan perhatiannya.


"Lama tidak bertemu, Nak!"


"Ibu... Ayah..."


Sudah beberapa tahun aku tidak bertemu mereka, aku langsung menghampiri kedua orangtuaku di dunia ini, memeluk mereka dengan erat, mereka ikut membalas pelukan aku.


"Kamu sudah tumbuh besar ya, Regard."


"Itu benar. Kau terlihat berbeda dari kami, Nak."


Itu tidak benar. Aku ini adalah anak kalian jadi mungkin aku sama persis seperti kalian.


"Tidak, kamu tidak sama seperti kami melainkan kamu memiliki penampilan dirimu sendiri."


Penampilan diriku sendiri?


Aku tidak mengerti atas apa yang Ibu dan Ayah katakan, mungkin mereka berpikir aku adalah anak asuh mereka yang ditemukan tiba-tiba seperti anak pungut yang seringkali kulihat dalam sinetron di televisi, kurasa itu anggapan aku atas kata-kata mereka.


"Dengarkan aku, Nak, kamu telah menjadi dewasa hari ini hingga seterusnya. Kamu yang mampu menetap di jalan yang sama, jalan kebaikan, tidak goyah maupun bimbang sedikitpun atas usaha yang kamu lakukan selama ini."


Ibu....


Ingin sekali aku menangis dihadapannya, aku menahannya.


Entah akan seperti apa jika aku menangis dihadapan mereka, mereka akan beranggapan aku sama seperti diriku di masa lalu, aku menahan tangis tersebut di lain hari di saat aku sendirian, aku lebih memilih untuk tersenyum bahagia dihadapan mereka.


"Jujur saja Ayah kagum terhadapmu, Nak. Kau berubah menjadi pria yang berani, peduli, dan penuh tanggungjawab terhadap apa yang kau miliki, Ayah suka itu."


Ayah....


Meskipun Ayahku memiliki kepribadian keras, suka berteriak kencang, tegas, dan disiplin dalam segala hal yang menyangkut pekerjaannya, dia benar-benar Ayah yang baik yang pernah kumiliki di dunia baru ini.


"Kemari, Nak!"


"Ya."


Setelah aku menyudahi pelukan, mereka mempersilahkan aku untuk memeluk mereka sekali lagi.

__ADS_1


Jujur saja aku tidak ingin membiarkan momen ini terlewati, sebisa mungkin aku ingin bersama mereka untuk selama-lamanya jika perlu. Jika tidak, aku akan ingat atas pertemuan tak terduga ini dalam benakku untuk selama-lamanya.


__ADS_2