
Reita POV
"Akan kuberi kalian pelajaran!"
Beberapa bongkahan batu yang menembak ke arah mereka, aku tidak akan membiarkan kesempatan itu datang untuk mereka, kawanan goblin yang mendekatiku.
Tidak hanya bongkahan batu, aku juga menembakkan beberapa rentetan kristal es, bola api, tebasan angin menggunakan kedua tanganku yang mengibaskan ke arah mereka, tembakan kristal biasa, serta beberapa tangan golem yang meremukkan tubuh mereka, aku melakukan semuanya.
Tidak peduli apakah ini masa lalu yang diperlihatkan berdasarkan penyesalan aku atau tidak, satu-satunya yang kuinginkan adalah melenyapkan kawanan goblin dengan penuhi kesadaran, aku ingin membalas dendam atas kematian Kak Daffa sebelumnya.
Walaupun aku sendiri sudah tidak lagi dikendalikan seperti diriku di masa lalu, aku tetap berusaha mengingat sosok yang menjadi pengganti Kak Daffa, Kak Regard, dia memiliki kesamaan denganku.
"Kalian lemah sekali. Tidak adakah yang bisa menandingi aku?"
Tidak ada yang menjawab pertanyaan dariku karena seluruh goblin telah musnah sepenuhnya tak tersisa oleh kekuatanku.
Payah, itu yang dapat aku rasakan dari betapa lemahnya mereka.
Sekarang yang perlu kulakukan adalah bagaimana cara bisa terbebas dari ruangan ini? Ruangan yang membuatku terus-menerus berada di masa lalu yang telah kehilangan Kak Daffa, serta penyesalan aku yang kehilangan kendali atas tubuhku terhadap kekuatan dan kemampuan baru, aku ingin secepatnya pergi ke tempat dimana Kak Regard berada.
"Aku akan membantumu keluar dari tempat ini."
Suara ini... jangan bilang kalau...
"Ya, itu aku."
Seluruh waktu berhenti berputar, terkecuali aku yang melihat ke sekeliling tidak tersisa, asap yang membumbung tinggi di kedalaman gua juga ikut terhebat, aku tidak melihat siapapun ada di sekitar melainkan hanya ada aku seorang diri.
"Baiklah. Kurasa lebih baik jika aku menampakkan diriku dihadapan dirimu, Reita."
Perlahan-lahan sebuah partikel yang terbentuk entah dari mana berwarna putih dan keemasan menampilkan sosok yang kukenal, sosok dari kakak baru yang kumiliki, Kak Regard, ia menampilkan senyum padaku.
"Lama tidak bertemu, aku ingin mengatakan itu tapi tidak untuk saat ini."
Kenapa dia bisa ada dihadapan aku? Bukankah seharusnya dia berada di tempat lain? Bagaimana caranya dia bisa muncul tiba-tiba di tempat seperti ini?
Berbagai pemikiran itu memenuhi benak kepalaku tanpa ada yang terjawab sedikitpun. Tidak peduli bagaimana aku mencoba menerkanya, aku tetap tidak menemukan jawaban atas apapun.
"Aku tahu kalau kau memiliki banyak pertanyaan, tapi bisakah kau menyimpannya untuk nanti? Ada hal penting yang ingin kukatakan padamu."
"Apa?"
Kak Regard tidak mengatakan apapun padaku melainkan hanya menunjukkan tepat ke arah tubuhku tanpa mengetahui maksud dari tunjukkan tangannya kepadaku.
"Kau bisa keluar kapanpun asalkan kau menggunakan kekuatan dan kemampuan yang kau miliki dari diriku."
Hah? Kekuatan dan kemampuan Kak Regard?
Aku tidak memiliki apapun yang berkaitan dengan class Necromancer miliknya. Jangankan untuk memilikinya, ada kemungkinan besar aku akan kehilangan kendali pada tubuhku karena sejarah yang ada, dimana orang yang memiliki class Necromancer akan kehilangan kendali pada tubuh, pikiran, dan hatinya, aku tidak mungkin memilikinya.
"Kau benar, kau tidak memilikinya. Tapi itu sebelumnya, karena sekarang kau memilikinya maka kau berhak menggunakannya."
Tanpa mengatakan apapun, di tangan Kak Regard yang mengarah padaku yang diselimuti oleh aura berwarna ungu gelap, tubuhku mulai dibungkus oleh aura tersebut.
Hangat dan nyaman, itulah sensasi yang kurasakan sekarang. Dimana tidak ada rasa sakit atas apa yang aku pikirkan sebelumnya, aku benar-benar hanya merasakan ketenangan dan kedamaian itu sendiri.
"Sekarang gunakanlah semuanya! Biarkan kekuatan dan kemampuan dari pemberianku mengamuk sesuka hatimu!"
Ya, aku akan gunakan sebaik mungkin.
•••••
Mengikuti perintah dari kakaknya, Reita dengan matanya yang terpejam membiarkan emosi negatifnya meluap-luap menguasai seluruh tubuhnya.
__ADS_1
"Hiiiyaaaa!"
Aura kegelapan yang muncul dari dalam tubuhnya menyebar ke segala arah menutupi area sekitar yang sebelumnya menampilkan masa lalu dari penyesalannya, kabut tebal yang muncul juga diselimuti oleh kegelapan yang membuat Reita ditelan kegelapan hanya terus berteriak penuh semangat atas emosi negatifnya meluap-luap keluar.
Retakan mulai terlihat dan pecah saat kekuatannya jauh melebihi batas wajar membuat Reita terbebas.
"Ini...."
Terperangah melihat kehebatan yang dilakukan oleh kekuatan pemberian dari kakaknya, Regard, Reita hanya memandang kedua tangannya dalam diam, berpikir akan sangat menakutkan jika dia terus-menerus ditelan oleh kegelapan yang menguasai tubuhnya.
"Kerja bagus, Reita."
Langkah kaki yang perlahan-lahan mendekati Reita berhenti tepat di depannya, yang mengelus rambut birunya yang panjang, senyum ditampilkan oleh sosok itu, senyum hangat yang tidak memiliki emosi apapun yang terlintas dari wajahnya.
"Kau adalah adik tiri terhebat yang kumiliki."
Perlahan-lahan sosok yang menyerupai Regard bercahaya putih dan keemasan berubah menjadi partikel lalu menghilang, Reita mencoba menggapai salah satu partikel cahaya namun gagal untuk menggenggamnya karena itu sirna dengan cepat.
Terimakasih, Kak Regard.
Berkat bantuan dari Regard, Reita yang memutuskan untuk menguatkan tekadnya berjalan meninggalkan ruangan, mengabaikan pohon besar yang ada di tengah ruangan yang telah layu dan kering sepenuhnya akibat kekuatan dari pemberian Regard padanya sebelumnya.
Di lain tempat, Fuuya yang terus terdiam di gua es, tempat dia berteduh bersama kawanan Fenrir, mereka menunggu kembali badai salju yang turun mereda.
Saat badai salju mulai mereda, kawanan Fenrir, Fuuya, dan Ibunya yang melakukan aktivitas berburu terhadap hewan-hewan, monster-monster yang ada di sekitar teritorial mereka, mereka mengejarnya dan menerkamnya tanpa ampun yang membuat persediaan atas stock makanan mereka menumpuk di dalam gua es.
Apakah dia sudah menyerah?
Menoleh ke belakang sebelum masuk ke dalam gua es, tidak ada siapapun di sekitar melainkan hanya Fuuya seorang yang memperhatikan tidak ada tanda-tanda kedatangan anak lelaki yang ditemuinya di hari sebelumnya.
Fuuya yang masuk ke dalam gua, dia berinisiatif untuk beristirahat sejenak menunggu kedatangan kawanan Fenrir lainnya, beserta Ibunya tiba di gua untuk memulai santapan daging yang mereka kumpulkan sekarang yang telah dipersiapkan untuk makan malam.
•••••
"Ini..."
Sudah kuduga ini yang akan terjadi.
Pemandangan yang kulihat sekarang berubah menjadi hal yang paling aku takutkan.
Seluruh kawanan Fenrir yang tubuhnya bersimbah darah tergeletak di permukaan tanah, Ibu yang tidak ada di gua, serta aku yang berada di sana yang tiba di depan mulut gua, aku bergegas masuk ke dalam gua untuk memastikan apakah Ibu ada di dalam atau tidak.
"Dia tidak ada."
Saat aku melihat diriku di masa lalu, perasaan kesal, benci, jengkel memenuhi hatiku membuatku memutuskan untuk mencarinya ke segala tempat untuk mengetahui dimana Ibu berada.
Tidak tahu atas apa yang menanti diriku, aku terus mencarinya, menghabisi monster-monster yang menghadang, melenyapkan manusia yang kutemui, aku terburu-buru untuk mencari keberadaannya karena Ibu penting untukku.
Selama dia baik-baik saka, aku akan senang untuk memeluknya dan mengajaknya pergi dari tempat tinggal kami untuk memulai hidup baru, entah apakah sulit atau tidak, kami hanya harus menjalaninya bersama-sama.
Hanya saja...
"Ibu...."
Tepat di kedalaman hutan yang tak kukenal, Ibu diikat kedua lengan dan kakinya menggunakan rantai besi yang terpasang di keempat sisi di permukaan tanah, aku mendekatinya dan mencoba untuk berbicara dengannya.
"Menjauh dariku, Nak!"
"Tapi, Bu..."
"Sudah kukatakan menjauh maka menjauh dariku!"
Kata-kata Ibu yang terdengar menyakitkan membuatku sakit hati. Karena tidak sanggup menerimanya, aku putuskan untuk pergi meninggalkan Ibu menuju ke rumahku, gua es yang menjadi tempat tinggal aku.
__ADS_1
"Yah, aku sudah menebak ini yang akan terjadi."
Setelah kembali ke gua es, aku mungkin akan kembali ke tempat Ibu atau menetap di sini untuk melupakan atas apa yang Ibu katakan padaku, kedua pilihan itu berada di tanganku di aku yang masib kecil dulu.
Tapi, pilihan yang aku buat saat itu adalah aku menetap di gua tanpa mengkhawatirkan dan mempedulikan Ibuku yang telah merendahkan aku sebagai anaknya sendiri hingga akhirnya hal buruk terjadi padaku.
"Apakah disini tempatnya?"
"Ya, ini tempatnya."
"Bagus."
Mereka yang datang di Gunung Baurme, sekelompok manusia yang terdiri dari para petualang dan salah satu pedagang yang berada di tengah-tengah mereka berjalan mendekati gua, menemukan aku yang kecil yang terbangun sambil menatap penuh kekesalan terhadap kehadiran mereka.
"Ini adalah Fenrir muda. Dilihat dari wajah dan tubuhnya, mungkin aku bisa menjualnya dengan harga tinggi."
"Kau benar, Tuan. Tak hanya dia, Ibunya adalah aset berharga yang dapat membuatmu menjadi kaya."
Tidak dapat aku maafkan, itulah yang memenuhi pikiranku.
Tanpa mempedulikan keselamatan atas tubuhku, aku melompat ke arah mereka, berniat untuk mencabik-cabik wajah dan tubuh mereka untuk dilenyapkan, mereka dengan licik membawa Ibu ke depan untuk melindungi mereka.
"....."
"Bagaimana? Apakah kau berniat untuk membunuh Ibumu sendiri? Ibu yang telah mengandung dan melahirkan dirimu."
"Cih...."
Saking liciknya, aku tidak dapat melakukan apapun pada mereka melainkan hanya terdiam di tempatku berada, mereka dengan cepat menghembuskan angin menggunakan sihirnya padaku membuatku terpental jauh.
"Kalian..."
Tanpa menyia-nyiakan kesempatan yang mereka miliki, aku yang ada di masa lalu yang sedang terkapar sambil menatap mereka penuh kebencian membuat Ibuku terjatuh ke permukaan tanah bersalju, mereka dengan cepat menyiksanya tanpa ampun.
Sabetan dari alat yang tidak diketahui, pedang yang menyayat kulit di punggung, sihir angin yang merobek-robek dan mencabik-cabik daging di dalam tubuh Ibu, mereka dengan cepat menyembuhkannya dan mengulangi hal serupa seperti yang sebelumnya mereka lakukan kepada Ibu membuatku benci atas kekejaman yang mereka tunjukkan pada kami.
"Kalian..."
Aku yang ada di masa lalu melompat ke arah mereka namun gagal karena ada dinding penghalang yang membuatku tidak dapat melenyapkan mereka, aku kebingungan saat itu tanpa mengetahui bahwa mereka sejak awal sengaja mempersiapkan dinding penghalang agar bisa memisahkan aku dan Ibuku.
Benar-benar tidak manusiawi.
Walaupun mereka adalah manusia, mereka tidak memiliki perasaan apapun saat terus-menerus menyiksa Ibuku, sebaliknya, hanya ada iringan tawa, sorakan, dan kesenangan di wajah mereka, aku yakin mereka hanya memikirkan soal harga jual yang mereka taruh di diri kami sebagai Fenrir.
Setiap kali aku melompat ke arah mereka, gelombang kejut juga ditambahkan yang membuatku terpental setiap mencoba untuk melenyapkan mereka.
Ibuku yang ada di dekat mereka terus-menerus disiksa dan disembuhkan secara perlahan-lahan yang menyebabkan sorot mata Ibuku terlihat gelap, putus asa atas kondisinya saat ini.
"Fenrir... lari dan pergilah!"
"Tapi, Bu, aku tidak ingin meninggalkan dirimu."
Aku yang masih kecil telah kehilangan banyak kawanan Fenrir sebagai temanku, tidak ingin ikut kehilangan Ibuku yang telah merawat dan mengurusku dengan baik selama ini.
Tidak peduli bagaimana aku melihatnya, Ibu tampaknya sudah tidak sanggup untuk bertahan lebih lama.
"Nak, dengarkan aku, mulai saat ini dan seterusnya kamu adalah pemimpin baru dari Fenrir, tolong jaga dirimu baik-baik dan bertahan hiduplah seorang diri!"
Mendengar kata-kata Ibu tadi, aku merasa senang sekaligus sedih.
Itu adalah tradisi lama bagi keluarga kami, Fenrir, bila ada pemimpin kami tiada maka penerusnya akan dilanjutkan kepada anak yang dimiliki oleh pemimpin sebelumnya, sesuatu seperti itu sudah aku ketahui sejak lama.
"Berisik! Cepat mati dan pergilah ke alam sana!"
__ADS_1
Dengan beberapa tusukan pedang yang menancap di punggung Ibuku, rasa kesal mulai meluap-luap yang membuatku bangkit dari diriku yang lemah menjadi baru.