The Necromancer

The Necromancer
Ch. 45,8:Menerobos Masuk (8)


__ADS_3

Shilphonia, Reita, Fuuya, dan Sasaki masuk terlebih dahulu ke tenda besar yang ada di sudut ruangan di ruang bawah tanah, di belakang Sasaki yang masuk beberapa detik lalu, Friya ikut masuk lalu menutup tenda dengan mengancingkan beberapa kancing yang ada.


"Nek Ryadu, apakah kamu sedang tidur?"


Friya yang muncul di paling belakang usai keempat gadis tadi terduduk di aula tenda, mereka melihat kalau Nek Ryadu sedang duduk di sofa sambil memejamkan matanya. Friya yang menduga kalau Nek Ryadu sedang tertidur, ia dengan segera pergi ke dapur untuk mengambil wajan batu untuk dipukul kepalanya agar tersadar dari tidurnya.


"Si Besar ya."


"....."


Belum sempat mengenai kepala Nek Ryadu, wajan batu yang berada beberapa inci dekat kepalanya, mata Nek Ryadu yang terbuka menyipit ke arah Friya, Friya dengan segera menyembunyikan wajan batu dari hadapan Nek Ryadu di belakang tubuhnya, ia menyunggingkan senyuman mesem terhadapnya.


"Kalian sudah datang ya."


"Ya."


"Begitulah."


"Tentu."


Turun dari sofa ke permukaan tenda, Nek Ryadu yang berjalan bungkuk ke arah mereka terhenti sejenak, memandang mereka penuh senyum di wajahnya yang membuat keempat gadis bertanya-tanya, termasuk Friya yang ikut berada di dalam aula tenda, ia juga sama seperti keempat gadis tadi.


"Sebelum aku dapat membawa kalian pindah ke tempat Nak Necromancer berada, aku ingin kalian mengetahui beberapa hal terlebih dahulu."


Dengan menjelaskan secara rinci semua yang diketahui oleh Nek Ryadu terhadap mereka, mereka yang mendengarnya terkejut dalam diam, berpikir kalau ini akan sangat berbahaya jika mereka tetap membiarkan Regard pergi, ia akan tiada tanpa sepengetahuan mereka.


Apalagi musuhnya adalah Stahark, keempat gadis dan Friya yang berpikir bahwa monster tersebut lebih kuat dari makhluk apapun bisa mengalahkan Regard, bahkan melenyapkannya dengan mudah dapat dilakukan, hati mereka cemas dan khawatir atas kondisinya seperti apa sekarang.


"Baiklah. Tunggulah beberapa menit, aku akan segera keluar!"


"Baik."


"Mari kita pergi, Teman-teman!"


Reita yang berteriak keras terhadap ketiga gadis, mereka ikut keluar bersamaan dengannya yang memimpin di barisan depan. Friya yang ingin segera pergi, dia diberhentikan oleh Nek Ryadu yang memegang pakaiannya, ia menoleh ke belakang ke bawah, Nek Ryadu menatapnya dengan serius.


"Apakah ada sesuatu yang ingin kamu katakan padaku, Nek?"


"Ya. Ini tentang Nak Necromancer."

__ADS_1


"....."


•••••


Selesai semua orang berkumpul diluar tenda, Nek Ryadu yang memegang tongkat kayu untuk menuntunnya berjalan, ia dengan segera berjalan di depan mereka berhenti tepat di depan saluran air yang sudah kering tidak terpakai, ia memukul tongkat kayunya dua kali ke permukaan aspal.


Air yang tadinya mengering karena tidak ada sisa air, mulai terlihat. Kedalaman air yang cukup dalam dan tinggi membuat aspal yang ada di ketinggian ikut setara dengan permukaan air yang mendadak muncul, Nek Ryadu dengan segera memukul tongkat kayunya sekali ke permukaan aspal.


Saat tongkat kayu dipukul sekali dengan ujung tongkat bawahnya, langkah kaki Nek Ryadu berjalan di atas air, mengambang menuju ke pertengahan di permukaan air, ia terhenti sejenak.


"Kalian kemari!"


Mengikuti kata-kata Nek Ryadu, Shilphonia yang berjalan terlebih dahulu, Friya yang ada di kanan Shilphonia, Sasaki yang ada di kanan Friya, Reita yang ada di kiri Shilphonia, Fuuya yang ada di kiri Reita, kelima gadis menuju ke dekat tempat Nek Ryadu berada.


"Tunggulah sebentar!"


Menancapkan tongkat kayunya ke permukaan air sekali lagi sama seperti memukul tongkat di permukaan aspal, pusaran air tornado terlihat di depan Nek Ryadu yang berjumlah lima pusaran air, mereka berlima terkejut atas apa yang Nek Ryadu lakukan benar-benar luar biasa, terkecuali Friya.


Friya yang sejak kecil sudah lama hidup bersamanya, ia tahu kalau guru sihirnya yang pernah membimbing dirinya di masa lalu, Nek Ryadu merupakan guru sihir terhebat melebihi guru manapun. Ia mengajarkan berbagai macam hal seperti; mengendalikan mana di dalam tubuh, mengeluarkan mana dari dalam tubuh, membayangkan bentuk apapun sihir yang dapat terlintas di pikiran, serta terus-menerus mempertahankan porsi latihan yang sama, itulah yang diajarkannya.


Friya yang juga tahu saat sedang melakukan latihan sihir, ia dikejutkan dengan Nek Ryadu yang dapat melakukan sesuatu hanya dengan satu sihir, suatu wilayah yang terkena jangkauannya yang luas dapat hancur dalam seketika, mengerikan dan menakutkan untuk dilihat, itulah apa yang Friya pahami dari sosok Nek Ryadu, guru sihirnya dulu.


"Ya, kami akan mengingatnya, Nek."


Reita yang mewakili suara dari keempat gadis lainnya, ia memberikan senyuman hangat padanya sebagai rasa terimakasih, Nek Ryadu tersenyum atas sifatnya yang mengingatkan ia atas Friya di masa lalunya.


Kelima gadis berjalan mendekati pusaran air tornado, mereka berhenti tepat di dekat pusaran air di depan mereka. Shilphonia berada di tengah, Friya di kanan Shilphonia, Sasaki di kanan Friya, Reita yang berada di kiri Shilphonia, serta Fuuya yang ikut berada di kiri Reita, mereka menatap penuh pada pusaran air tornado yang siap mereka masuki.


"Sekarang pergilah!"


"Baik."


"Oke."


"Ya."


"....."


"Siap."

__ADS_1


Kelima gadis yang melompat memasuki pusaran air tornado yang mengombang-ambing tubuh mereka di dalamnya, mereka tidak basah sama sekali pada pakaian yang mereka kenakan, mereka tetap kering sepenuhnya. Di ujung bawah pusaran air tornado, terlihat dimensi yang terbuat dari Nek Ryadu, itu memiliki warna keemasan yang menyilaukan, mereka berlima masuk ke dalamnya lalu tertutup pintu dimensi tersebut, membuat mereka yang berhasil masuk belum tentu bisa keluar dengan mudah begitu saja.


•••••


Ryadu POV


Aku harap kalian baik-baik saja ya.


Mengingat kembali atas apa yang kukatakan pada mereka, aku tidak mengatakan hal spesial melainkan hanya memperingatkan mereka terhadap beberapa hal.


Pertama, aku ingin mereka untuk tidak mengharapkan berada di tempat yang sama satu sama lain di dalam dimensi ciptaan Stahark. Dikarenakan Stahark mampu menciptakan berbagai macam dimensi yang berbeda-beda dengan lokasi yang sama, ada kemungkinan kalau mereka akan berada di situasi yang sama seperti yang pernah dialami olehku bersama rekan-rekan aku dahulu.


Kedua, musuh yang ada di dalam dimensi buatan Stahark bukan hanya Stahark, ada juga monster lainnya yang dapat mereka lawan yang sulit untuk dibayangkan. Tergantung dari situasi yang ada, jika mereka memiliki penyesalan di masa lalu maka lawan mereka adalah masa lalu.


Ketiga, bayang-bayang atas masa lalu yang terdapat penyesalan, aku yakin itu akan mempengaruhi mereka di dalam dimensi ciptaan Stahark. Aku memberitahu mereka untuk terus maju untuk tidak tergoda maupun sedih atas penyesalan yang mendalam atas masa lalu mereka masing-masing.


Semua itu aku katakan dengan terus terang, aku hanya bisa mengandalkan mereka untuk bertemu dengannya atau Stahark sendirilah yang menghancurkan dimensi tersebut, aku rasa pilihan kedua adalah hal yang masuk akal.


Kalaupun Stahark tidak bisa melakukannya, aku sendirilah yang akan turun tangan nantinya.


"Apakah mereka baik-baik saja?"


Mendongak ke arah kiri, aku melihat sepasang elf suami-istri yang sedang mencemaskan kondisi mereka di dalamnya.


Aku paham atas kekhawatiran dan kecemasan yang mereka berikan pada kelima gadis yang belum lama mereka kenal, terkecuali Si Besar, dia adalah Wakil Pemimpin Elf menggantikan diriku di Desa Elf sebelumnya, mereka, para elf yang ada di Kamp Kumuh milik kami benar-benar terlihat takut atas apa yang menimpa mereka.


"Jangan khawatir, aku yakin mereka benar-benar aman untuk saat ini."


"Benarkah?"


"Ya. Kalaupun tidak, aku akan segera menyelamatkan mereka nanti."


Menggunakan sihir dalam jumlah banyak terhadap mereka, menciptakan dimensi agar menghubungi dimensi ini dengan dimensi Stahark, aku telah menghabiskan sejumlah mana dalam ukuran yang besar, aku ingin beristirahat sejenak sembari memulihkan mana milikku terlebih dahulu.


•••••


Duduk dan bersandar di dinding di ruang bawah tanah, Nek Ryadu yang memejamkan matanya sejenak, ia menunggu mana dalam tubuhnya pulih sepenuhnya.


Mereka, para elf yang memperhatikannya dengan segera membawa tubuhnya menggunakan tandu, mereka serentak bergotong royong membawa tubuh Nek Ryadu masuk ke dalam tenda, mereka meletakkan tandu di permukaan tenda di aula tenda, mereka dengan cepat mengangkat tubuh Nek Ryadu ke atas sofa untuk mengistirahatkan diri terlebih dahulu.

__ADS_1


Mereka, para elf sudah memahami hal ini terus-menerus terjadi setiap kali Nek Ryadu menggunakan kekuatannya yang besar dengan sejumlah mana berukuran besar, ia selalu berakhir istirahat penuh pada tubuhnya sendiri, mereka sudah biasa menanganinya jadi tidak ada satupun dari diri mereka yang terlihat keberatan.


__ADS_2