
Sebelum kami berangkat, kami memutuskan untuk pergi menjelajahi Lost Town.
Akan sangat disayangkan jika kami tidak mendapatkan apapun di tempat ini. Sebaliknya, aku berharap ada sesuatu yang bisa diperiksa di kota meski tahu kota ini telah lama lenyap dari muka bumi.
"Aura ini..."
Tubuhku merasakan sensasi yang aneh.
"Ada apa, Tuan?"
"Apakah kamu baik-baik saja, Regard?"
Di dekatku, kedua gadis yang menemaniku terlihat khawatir dan cemas atas kondisi aku.
Aku tidak bisa mengatakan pada mereka bahwa aku merasakan sensasi aneh dalam tubuhku. Seakan-akan ada yang menariknya keluar, aku tidak tahu apakah kota ini menyedot energi dan emosi gelap dari diriku untuk mengamuk atau sebaliknya.
Semakin kami berjalan, tidak ada tanda-tanda kalau sesuatu ditinggalkan di kota.
Oh, aku lupa kalau saat ini kami terpecah menjadi tiga.
Aku, Fenrir, dan Sasaki ada di bagian utara. Shilph menjelajahi bagian barat. Friya dan Reita menjelajahi bagian timur.
Mungkin aku harus menggunakan pendeteksi khusus agar mengetahui apa yang sebenarnya disembunyikan dan dirasakan tadi, cuma itu terlalu berbahaya jika aku salah melakukannya.
Jiwa-jiwa gelap yang masih berkeliaran di sekitar kota, aku tahu mereka sedang mencoba menarik emosi gelap dari diri seseorang, terutama seorang Necromancer agar kehilangan kendali.
Aku tahu karena aku dapat merasakannya.
Keputusasaan, kebencian, dendam, kesedihan, itulah apa yang dirasakan oleh jiwa-jiwa yang berkeliaran memenuhi kota ini.
Ugh...
Tekanannya terlalu berat.
Setiap kali aku melangkah lebih jauh, tubuhku terasa lebih berat dari biasanya.
"Apakah kamu baik-baik saja, Tuan?"
"Perlukah aku membantumu?"
Mengangkat tanganku sebagai bentuk penolakan, mereka tidak bisa melakukan tindakan apapun selain melihatku.
Sial. Ada sesuatu yang tidak beres di dalam kota.
Tidak seperti biasanya ketika aku masuk untuk pertama kalinya, pada kesempatan ini aku benar-benar tidak menyangka diriku akan terasa berat dan emosi dalam tubuhku seolah-olah ditarik keluar.
Mungkinkah ada dalang dibalik semua kejadian ini?
Satu-satunya perkiraan aku adalah orang yang mengendalikan jiwa-jiwa ini kemungkinan besar adalah seorang Necromancer.
Kalau tidak, mustahil jika kota ini dapat dibentuk sedemikian rupa menjadi mewah dan indah untuk dilihat oleh mata telanjang, sedangkan mata Necromancer tidak dapat dibohongi.
"Hancurkan... bunuh... musnahkan..."
Derap langkah kaki terdengar dari kejauhan.
Perlahan-lahan mendekat, dan mendekat ke arah kami hingga akhirnya muncul sosok pria yang tubuhnya tidak dapat diselamatkan melihat ke arah kami.
"Hancurkan... bunuh... musnahkan..."
Dengan kecepatan yang tidak masuk akal, aku sebisa mungkin menghindari serudukan dari tubuhnya ke arah kami.
Apa yang terjadi?
Tidak ada tanda-tanda bahwa seseorang menyerang kami.
Buktinya pria tadi seolah-olah terlihat bagaikan ilusi. Datang dan pergi, itulah apa yang bisa dijabarkan olehku dalam situasi tadi.
"Ada apa, Tuan?"
"Apakah sesuatu terjadi?"
Mustahil.
Bahkan mereka sama sekali tidak menyadarinya?
Ada yang aneh. Entah apakah tubuh dan pikiran aku mulai dibutakan oleh ilusi yang tidak dapat mereka lihat atau tadi adalah kejadian yang nyata, aku sama sekali tidak mengerti.
Selama aku tidak mengetahuinya, aku harus berhati-hati jika pria tadi muncul kembali.
•••••
Di Lost Town bagian timur, Friya dan Reita sedang memeriksa kondisi sekitar. Mata mereka yang mengitari setiap lokasi yang terlewat benar-benar tidak menemukan apapun selain kota tak berpenghuni.
"Suasananya lebih mengerikan ya."
"Ya. Aku harap kita dapat segera pergi sekarang."
Keduanya yang merasakan perasaan tidak enak membuat hati mereka waspada atas kemungkinan yang terjadi.
Langkah kaki terdengar dari kejauhan. Perlahan-lahan mendekat, dan mendekat hingga akhirnya menampakkan sosok pria yang tubuhnya kurus kering, wajahnya yang cekung, kulitnya yang tampak tulang-tulang di tubuhnya, serta matanya yang merah berada tepat dihadapan mereka.
"Hancurkan.... bunuh... musnahkan..."
Itu...
"Ada apa, Friya?"
Terkejut atas kebingungan yang terjadi, Reita menatap temannya.
Friya yang tahu bahwa Reita tidak melihat apapun, menggelengkan kepalanya. Hatinya merasa waspada atas mana dalam jumlah banyak yang ada pada tubuh pria tersebut.
__ADS_1
"Raaaaaarrrrh..."
Dengan kecepatan yang tinggi, Friya mendorong tubuh Reita ke permukaan.
Dikarenakan ketidaktahuan Reita, dia bertanya-tanya atas apa yang terjadi namun dia tidak bisa menanyakan pada Friya mengenai sikapnya yang aneh.
Meskipun dia tidak menanyakan apapun pada temannya, secara samar-samar Reita dapat merasa hawa keberadaan yang tipis yang perlahan dapat dirasakan namun sirna sesekali, begitulah yang terjadi berulang kali.
Di Lost Town bagian barat, Shilphonia yang melangkah maju tidak merasakan apapun.
Sekilas ada perasaan aneh kalau seseorang mengikutinya, namun ketika dia berbalik ke belakang, dia tidak menemukan apa-apa yang mengikutinya.
Shilphonia, berhati-hatilah!
Berhati-hati?
Ya. Aku merasakan ada energi dan hawa jahat yang mengikuti dirimu.
Mendengar perkataan Stephani dari dalam dirinya, Shilphonia yakin itu bukanlah kebohongan melainkan kenyataan.
Setiap kali Shilphonia melangkahkan kakinya untuk terus berjalan, derap langkah kaki seringkali terdengar di telinganya.
Terdiam, Shilphonia keheranan.
Matanya yang tidak dapat mengetahui apapun tidak bisa melihat hal yang tidak ada. Berbeda dengan dirinya, Stephani yang ada di dalam tubuhnya mampu merasakan hawa keberadaan yang tipis dan samar-samar dari seseorang yang mengikuti Shilphonia.
Stephani sengaja tidak memberitahu apapun pada Shilphonia.
Menurut Stephani, dia hanya akan mengamati situasi yang ada dari dalam diri Shilphonia agar mengetahui sejauh mana dia mampu memahami situasi dan kondisi yang terjadi sekarang.
Seandainya Stephani membantu Shilphonia, itu sama saja dia membiarkan dirinya ikut campur dalam permasalahan yang harusnya diselesaikan oleh Shilphonia.
Itulah mengapa Stephani hanya memperingatkan Shilphonia tanpa menjelaskan tentang sosok yang tipis dan samar-samar dirasakannya.
Di dalam Kerajaan Eruguard, seorang raja duduk di tahta miliknya. Kursi yang dihiasi oleh permata, dilapisi oleh emas, dan kain merah yang ada pada kursi membuatnya tampak indah dan cantik untuk dirinya duduk di singgasananya sendiri.
Di jarak yang jauh di permadani merah yang berada di tengah-tengah lantai yang terbuat dari marmer, pasukan ksatria berkumpul, berlutut dihadapan raja yang mereka hormati dan muliakan.
"Apakah ada laporan terbaru?"
"Tidak, masih terlalu sedikit informasi yang kami dapatkan dari kejadian yang ada di Gunung Baurme."
"Begitu ya."
Pria berusia 65 tahun, berkulit kendur, bertubuh gemuk, berambut uban, dan sepasang mata berwarna biru cerah diarahkan ke bawah, merenungkan sesaat.
Menurut pria yang duduk di singgasananya, kejadian yang terjadi sebelumnya sangat aneh untuk dianggap sebagai kebetulan belaka.
Gunung Baurme yang dahulunya ditempati oleh keberadaan Fenrir, sekarang tidak ada satupun dari mereka yang menghuni gunung maupun gua yang berada di wilayah tersebut.
"Bagaimana kabar Veru Sukijane?"
"Dia... dia sedang dalam istirahat panjang."
Mulai dari Dark Knight Hero, The Necromancer, Fenrir yang sudah tidak terlihat, ketiganya terasa janggal dan aneh untuk dipercayai oleh Raja. Apalagi dengan tidak ada perkataan apapun dari Veru, ksatria terhormat yang luar biasa hebat tidak terbuka padanya yang benar-benar membuatnya kecewa atas ketidakjujurannya.
Di kedalaman gua di ruang bawah tanah, seorang pria duduk di sisi kasur memandang makanan yang disiapkannya.
Tunggu aku, Arthen. Aku pastikan akan ikut denganmu.
Matanya yang dipenuhi tekad atas ketidakadilan yang ada pada manusia, pria yang termenung sama sekali tidak dapat membiarkan mereka tahu atas apa yang terjadi.
Selama Regard aman, Veru yakin itu berguna untuknya menjauh dari kerajaan maupun orang-orang yang akan memanfaatkan keberadaannya sebagai kekuatan mutlak di dunia manusia.
Terlebih Veru tahu tentang sekali pakai dibuang, yang artinya setelah mereka menggunakan Regard, sang Necromancer, dirinya akan dibuang oleh mereka.
Itulah kenyataan yang dapat Veru simpulkan sejauh ini.
•••••
Regard POV
Sial. Tubuhku terasa semakin berat.
Secara tidak sadar, aku terjatuh ke permukaan. Sebelum mereka menyadari ada yang tidak beres, mereka mengangkat tubuhku, membantu sebisa mungkin dengan membopong kedua tanganku secara bersebelahan untuk bisa melanjutkan perjalanan.
Apakah kota ini semakin gelap?
Mendongak ke langit-langit yang terlihat malam mulai muncul, aku sama sekali tidak tahu kondisi diluar kota.
"Guhak!"
"Tuan..."
"Regard..."
Organ dalam tubuhku terasa ditekan sangat kuat dan hebat.
Tapi, tidak ada satupun tanda-tanda seseorang mengikuti kami maupun menyerang aku, yang artinya semua yang terjadi berasal dari kegelapan yang ada di kota.
Kegelapan ya.
Secara mengejutkan, ingatan itu kembali ke pikiranku.
Kobaran api yang membakar segalanya, nyawa yang tak bersalah dibunuh satu-persatu oleh mereka, musuh yang kuat yang sulit untuk dikalahkan, serta keputusasaan dan kebencian yang mendalam yang dapat dirasakan, semuanya kembali terasa jelas di kepalaku.
Apakah kamu benar-benar menginginkan kekuatan lebih?
Suara ini...
Jauh dari dalam diriku, suara yang tampak seperti gadis yang lemah lembut menawarkan aku sebuah kekuatan.
__ADS_1
Siapa kau?
Kamu tidak perlu tahu siapa aku.
Tubuhku terasa semakin sesak dan berat.
Apakah aku akan kehilangan kesadaran?
Memejamkan mataku secara perlahan-lahan, aku tidak tahu apa yang terjadi berikutnya tapi aku menyerahkan semuanya pada mereka meski tidak ada yang tahu aku akan tidak sadarkan diri.
Dimana ini?
Fufufu... kamu benar-benar menarik ya, Manusia.
Siapa itu? Keluarlah!
Tidak ada satupun suara yang datang setelah aku membentaknya.
Keheningan dan kesunyian yang mendalam menyisakan kegelapan yang tiada artinya dapat aku lihat.
Ugh....
Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.
Apa-apaan ini?
Kamu tahu... aku sedikit tertarik pada kelebihan yang kamu miliki sekarang, Manusia.
Sesuatu mengelus-elus wajahku. Terasa lembut dan harum, itulah yang dapat aku cium dari aromanya dan rasakan sensasinya begitu dia menyentuhku.
Apakah dia musuh?
Tidak ada jawaban apapun.
Selama dia tidak memberitahu identitas aslinya padaku, aku ragu untuk mempercayainya sebagai seorang teman daripada musuh.
"Cepat atau lambat, kamu akan tahu kebenarannya."
Seluruh tempat tiba-tiba berubah menjadi terang.
"....."
"Ada apa?"
"Apakah kamu bermimpi buruk, Regard?"
Di kedua sisi, Fenrir dan Sasaki melihatku dengan ekspresi khawatir dan cemas.
Mimpi ya.
Terasa terlalu nyata untuk disebut mimpi.
Jika itu bukanlah mimpi, lantas apa yang membuat kami bisa saling bertemu satu sama lain di kegelapan tersebut?
Sial.
Tidak ada jawaban yang dapat ditemukan.
Berapa banyak aku memikirkannya, aku tidak menemukan titik terang sedikitpun atas mimpi sebelumnya dan apa yang terjadi di Lost Town.
"Hancurkan.... bunuh... musnahkan..."
Mereka...
Secara tidak disengaja, aku melihat kalau mereka tampak nyata di depanku.
Pria yang terlihat lusuh dan berjalan terhuyung-huyung, tubuhnya yang kurus dengan kulitnya yang terlihat tulang-tulang, wajahnya yang cekung, serta matanya yang berwarna merah, semuanya dapat dilihat jelas olehku.
"Hancurkan... bunuh... musnahkan..."
Ini...
Secara keseluruhan energi dan hawa keberadaan mereka melambung tinggi di langit-langit dan saling menyatu dalam jumlah banyak, memenuhi seisi kota lalu merubahnya menjadi malam hari.
Aku mengerti sekarang.
Mimpi tadi bukankah kenyataan melainkan ilusi.
"Kalian berdua, pergilah!"
"Pergi?"
"Tapi, bagaimana kondisimu?"
"Aku baik-baik saja."
"....."
Mereka berdua melihatku, terdiam dan menundukkan wajah mereka.
Aku tahu ini sedikit lebih tegas dan galak terhadap mereka. Tapi apa boleh buat, pertarungan ini akan menjadi pertarungan yang berbeda dari yang kami lakukan selama ini.
Pria yang ada di depanku dalam jumlah banyak, dia bukanlah lawan yang bisa diremehkan oleh mereka.
"Pergilah! Kumohon, beritahu mereka bahwa tempat ini berbahaya."
"Baik."
"Dimengerti."
Dalam sekejap mereka pergi dan menghilang dari tempat mereka berada sebelumnya.
__ADS_1
Sekarang...
Apa yang harus kulakukan?