Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 10. Mimpi


__ADS_3

Malam harinya ....


Alexias*


Pertemuanku pertama kali dengan seorang wanita asing. Wanita yang tidak kukenal, tetapi ia adalah satu-satunya wanita yang membuatku tergoda dan terbuai. Sampai-sampai kami pun menghabiskan waktu semalaman bersama.


Awalnya, pada malam itu aku diundang oleh seseorang teman lama. Karena aku merasa lelah setelah perjalanan dinas dari luar negeri. Aku pun berpamitan untuk istirahat sesaat.


Aku ke parkiran dan masuk dalam mobil. Ezra menawarkan diri menemaniku. Namun, aku menolaknya. Aku memintanya menggantikanku bicara dengan temanku itu dan mengatakan jika aku tidak bis berlama-lama karena tubuh ini sangat lelah.


Aku menyandarkan punggung dan kepalaku, kupejamkan mataku. Baru sekitar lima menit aku menikmati kenyamanan. Aku mendengar pintu mobil terbuka. Saat kubuka mata ini, sudah ada seseorang yang duduk di sampingku.


Dia adalah seorang wanita. Dari racaunya ia sepertinya sedang dalam keadaan setengah sadar. Ia mulai berisik, bahkan sampai melepaskan mantelnya dan melemparkanya ke wajahku.


Deg ... deg ... deg ....


Jantungku berdegup. Saat kuhirup aroma wangi ringan yang khas dari mantel yang terlempar di wajahku. Kuambil mantel itu, kuhirup lagi aromanya. Sungguh, ini aroma yang enak. Sangat lembut dan terasa manis. Tidak menusuk hidung.


Aku menegurnya. Nyatanya dia hanya menatapku dan menganggap ucapanku lelucon saja. Wanita itu bahkan semakin berani, ia mengusap wajahku lalu tersenyum lebar.


"Wah, kau tampan sekali. Kau artis, ya? perawatan di mana?" begitulah ucapannya yang kuingat.


Entah itu pujian atau ejekan. Aku tidak merasa kesal sekalipun meski sudah dipermainkan seperti itu. Baru kali ini ada seseorang yang berani mempermalukanku, menyentuhku asal, sampai bicara sembarangan.


Aku, Alexias Owen. Adalah seseorang yang sangat waspada dan hati-hati. Aku juga sangat, sangat teliti. Tidak ada seorang wanita pun yang berhasil menggodaku. Anehnya, hanya dengan satu ciuman saja semuanya seakan melenyapkan pertahananku.


Aku mencoba mengusirnya, tetapi wanita itu terus menempel seperti lem padaku. Aku pun bicara asal jika aku akam memalukan hal yang tidak akan terbayangkan olehnya. Aku akan memakannya. Dengan polosnya ia menantangku balik dan bertanya bagaimana bisa aku memakannya. Sungguh konyol, wanita aneh, tetapi juga unik.

__ADS_1


Jika kuamati lebih detail, wajahnya sangat cantik. Dibalik rambut hitam yang tergurai menutupi sebagaian wajahnya. Mata indahnya seakan mengikat tubuhku. Hidung mancungnya mungil, mataku turun menatap bibirnya. Bibir merah yang lembab. Rasanya ingin kucicipin lagi.


Aku menciumnya lagi. Kali aku benar-benar merasakan bibirnya. Deru napasnya hangat. Samar kudengar suara rintihan dari bibirnya yang sedikit terbuka.


Wah, ini gila. Wanita dihadapanku sudah membuat otak seorang Alexias memikirman hal kotor. Semakin dalam ciuman kami, semakin aku bertindak lebih. Aku tidak bisa lepas dari jeratnya.


Aku memeluknya sesaat, kuhirup aroma tubuhnya. Wangi yang sama, seperti wangi yang menempel di mantel. Entah ini aroma parfum atau sabun mandi. Yang jelas aroma ini begitu memikatku.


Wanita itu memandangku, ia mengusap lembut wajahku dengan jemarinya. Ia lalu mengecup bibirku beberapa kali. Tak mau dipermainkan, aku pun menahan kecupannya dan langsung melahap bibir seksinya itu. Ciuman kami semakin dalam dan memanas. Suhu tubuhmu meningkat, jantungku juga tidak berhenti berdegup. Rasanya, aku ingin melakukannya detik itu juga.


Karena tempat yang tidak mungkin. Aku pun langsung membawanya pergi dari parkiran bar. Kami mencari sebuah hotel yang paling dekat.


Sesampainy di hotel, aku langsung cek in. Kubawa wanita penggoda imut ini ke kamar. Tidak terlihat rasa takut sedikitpun dimatanya. Ia justru terlihat lebih liar daripada yang di mobil.


Tanpa aba-aba, wanita ini langsung mendorongku jatuh ke atas tempat tidur. Dengan cepat ia menindihku dan kembali menggodaku. Kami pun berciuman lagi, kali ini ciuman kami terlampau buas.


***


Mataku terbuka lebar. Apa yang terjadi? rupanya hanya sebuah mimpi. Sekian lama kejadian itu berlalu, aku kembali memimpikannya. Wanita itu, bayangannya bagaikan hantu yang selalu mengikatku.


Aku melihat jam di dinding kamarku. Jam sudah menunjukan pukul dua dini hari. Segera menatap nakas samping tempat tidurku. Sayang sekali, gelasku kosong. Aku pun turin dan beranjak dari tempat tidur. Aku kuluar kamar untuk mengambil air minum.


Pikiranku tertuju pada seseorang. Yang tidak lain adalah wanita itu. Wanita yang mengupahku setelah ia menggodaku. Sial! wanita itu pikir aku pria panggilan, ya. Beraninya dia merendahkanku.


Sebenarnya, selama enam tahun ini aku memcarinya. Aku mengerahkan seluruh tenagaku, tetapi hanya sedikit informasi yang aku bisa dapatkan. Sempat aku kembali ke bar dan bertanya pada pemilik bar, tetapi mereka yang ada di bar tidak mengenalnya.


Informasi yang kudapat adalah, ia merupakan wanit cantik dan seksi. Beraroma lembut juga menanngkan. Nakal, liar dan buas. Satu hal yang kuingat jelas. Ada tahi lalat sebesr biji kacang hijau di dada kirinya. Ya, aku tidak akan salah mengingat tanda itu.

__ADS_1


Aku sudah di dapur, aku menuang air minum dari teko air ke gelas lalu meminumnya. Tidak lama, aku mendengar suara langkah kaki. Semakin lama, langkah itu sakin dekat.


"Oh, Alex. Kau terbangun, ya?" tanya Agatha.


Kulihat dia sedang memegang gelas. Rupanya ia ingin mengambil air minim juga.


"Ya, aku baru saja bermimpi buruk." Jawabku.


"Apa yang kau mimpikan?" tanya Agatha.


"Kejadian masa lalu yang tidak ingin di ingat. Namun juga kurindukan." Jawab Alexias


"Kejadian apa, itu? Kau aneh sekali, Lex." sahut Aggatha.


Aku melirik ke arah Agtha. Aku merasa tenang saat ada Agatha di sisiku. Sejak kecil, kami bahkan tidak pernah terpisah. Kami selalu bersama. Kemanapun dan kapanpun.


Agatha adalah Kakak kembarku. Selisih waktu kelahiran kami hanya lima menit saja. Ia adalah perempuan yang cantik dan sempurna. Hingga membuat semua mata terpana.


Sayangnya, kecantikan dan kesempurnaan yang Ia punya. Tidak sesempurna kisah asmaranya. Tiga tahun lalu, Agathan menikah dengan seorang Tuan Muda yang berstatus tinggi. Dari pernikahannya, ia pun di karuniai Tuhan hadiah istimewa sekaligus kado yang mengeringkan.


Tepat di hari kelahiran kami, da berita duka yang datang. Suami Agtha meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Tepat di saat itu juga, Agath tengh mengndung.


Janin di rahimnya tidak bertahan lama. Setelah ia jaruh menggelinding di tangga saat sedang menuruni anak tangga.


Duka mendalam dirasakan Agatha. Yang bisa kulakukan sebagai saudara hanya menghiburnya. Penderitaan yang berat, tetapi Agatha masih terlihat ingin berusah tegar. Bibirnya bisa tersenyum lebar, meski air mata berjatuhan.


Tragis, itulah kata yang sungguh ingin kuucapkan. Tetapi tertahan dalam rongg mulutku.

__ADS_1


*****


__ADS_2