
Reine dipanggil oleh Hanson untuk datang ke rumah sakit. Setibanya Reine di ruangan tempat Hanson dirawat, Marlyn langsung menegur keponakannya itu dan bertanya beberapa hal terkait kepergian Reine sebelumnya.
"Jadi, bagaimana?" tanya Marlyn.
"Apa?" tanya Reine.
"Apa yang terjadi? bukankah kau bilang 'Apapun yang terjadi, kau harus mendapatkan Evan?' apa yang kau lakukan, kau menemuinya?" tanya Marlyn mentap Reine yang duduk di sofa.
Reine menggelengkan kepala, "Aku tidak menemui Evan, Bi. Tapi, aku menemui orang tuanya langsung dan menceritakan semuanya. Aku benar-benar tidak tahu harus apa. Aku melakukan apa yang kupikirkan begitu saja," jelas Reine.
"Lalu? apa kata orang tuanya? kenapa kau tidak bicarakan denganku lebih dulu Reine. Aku kan bisa pergi denganmu menemui orang tua Evan." Marlyn ingin Reine bisa bersikap terbuka padanya. Karena sejauh ini, Reine hanya bertindak sesuai apa yang ia inginkan saja.
"Aku bisa atasi itu, Bibi. Keluarga Evan merasa kasian padaku. Mereka menanggapi keluhanku dengan baik. Evan juga sudah diminta menikahiku. Kami akan menikah secepatnya." kata Reine tersenyum senang.
Marlyn memalingkan wajah menatap Hanson. Hanson menatap Marlyn lalu, menggelengkan kepalanya perlahan.
"Anak ini, hal sepenting itu dia tidak melibatkanku sebagai Paman. Aku dan Marlyn merawatnya sejak lama, tetapi ia justru menyepelekan kami. Keterlaluan," batin Hanson.
"Dia kenapa seperti, ini? dia bertindak semaunya lagi. Saat kami tahu sesuatu, hanya ada hal buruk yang terjadi." batin Marlyn.
"Reine ... " panggil Hanson.
"Ya, Paman. Ada apa?" tanya Reine manatap Hanson, Pamannya.
"Apa kau selama ini membantu Evan secara diam-diam? sampai akhirnya Evan bisa menguasai seluruh perusahaan dan menjadi Direktu?" tanya Hanson bersuara lembut.
Reine kaget, "A-apa? si-siapa, siap yang mengatakan itu?" tanya Reine lagi.
"Jawab saja, dan kau tidak perlu banyak bicara." kata hanson geram.
Reine menunduk. Ia bingung. Ia tidak tahu apa ia harus mengakui atau tidak. Tapi, jika ia diam, maka Hanson tidak akan tinggal diam.
"I-i-iya. A-aku membantunya. Tapi, Paman. Aku sungguh tidak punya alasan lain selain ingin membantunya." kata Reine takut-takut.
"Apa kau tahu, apa yang kau lakukan? aku bahkan membohongi kami dan memalsukan beberapa dokumen demi Evan. Aku memang menganggapnya mampu dan pekerj keras. Tapi, aku tidak sangka dia punya pikiran licik seperti ini. Dia hanya memaafkanmu, Reine. Kau hanya batu pijakannya. Kau tidak sadar dengan hal itu?" Hanson mengatakan apa yang ingin ia katakan. Meski ia tahu, mungkin saja kata-katanya akan menyakiti Reine.
"Tidak, Paman. Evan bukan orang seperti itu. Dia tidak memanfaatkanku. Akulah yang berkenan membantunya secara cuma-cuma. Bukan salahnya, itu salahku." kata Reine. Ia langsung berdiri dari duduk dan menghampiri Hanson dan Marlyn.
"Reine, apa yang kau lakukan? bagaimana bisa kau seperti ini, Nak?" Marlyn menatap Reine.
"Jangan membelanya, Reine. Apa kau tau, apa yang sudah dia lakukan sekarang? kau terbukakan oleh cinta." kata Hanson.
Reine tiba-tiba merasa kesal, "Lalu, apa? ya, dia salah. Lalu, apa?" tanya Reine menatap Hanson tajam.
Marlyn kaget, "Reine, jaga sikapmu!" sentak Marlyn. Ia merasa Reine sudah keterlaluan pada suaminya. "Apa-apaan kau? begitukah sikapmu bicara pada orang tua?" kata Marlyn melebarkan mata menatap Reine.
__ADS_1
"Aku kesal, Paman terus menyalahkan Evan. Aku sudah katakan, akulah yang salah. Salahkan saja aku, jangan Evan. Evan tidak salah, aku yang salah!" kata Reine terus membela Evan.
Hanson kesal. Ia ingin sekali maraha pada Reine. Saat ingin bicara, tiba-tiba saja pintu ruangan terketuk dan terbuka. Semua mata lalu menatap arah pintu secar bersamaan. Mereka ingin tahu, siapa orang yang mengetuk pintu lalu, masuk.
Begitu Lora masuk, semua mata melebar. Hanson, Marlyn dan Reine terkejut. Lora merasa canggung. Ia sekilas menoleh ke arah belakang, seakan mencari seseorang. Tidak lama muncul Alexias di belakang lora. Keduanya masuk dalam ruangan, langsung menemui Marlyn dan Hanson.
"Lo-lora ... " panggil Marlyn.
"Lora ... " panggil Hanson.
Lora tersenyum, "Ya, Pa, Ma. Ini aku, Lora." jawab Lora lembut.
Marlyn membelai wajah Lora, "Kau ... kau datang, Nak. Anakku ... " kata Marlyn menangis memeluk Lora. Marlyn tersedu-sedu. Ia seakan menyesali perbuatannya enam tahun lalu. "Maafkan Mama, Nak. Maaf ... " lanjutnya bergumam.
Lora mengusap dan menepuk punggung Mamanya, "Maafkan Lora juga, Ma. Lora juga salah." jawab Lora.
Cukup lama keduanya berpelukan, sampai akhirnya pelukan terlepas. Marlyn kembali meraba wajah Lora dengan lembut. Ia memandangi wajah cantik putrinya itu.
"Kau semakin cantik, Nak." puji Marlyn.
"Mama juga," balas Lora, memuji Mamanya.
Lora menatap Hanson, "Bagaimana keadaan Papa? di mana yang sakit?" tanya Lora.
Hanson menangis, "Ini sungguh kau, kan. Kau Lora putriku?" kata Hanson. Seakan tidak percaya apa yang dilihatnya.
Hanson langsung merengkuh tubuh Lora, memeluk Lora erat. Hanson menangis. Napasnya terdengar berat. Mata Lora sudah berkaca dan panas. Ia tidak sangka, pertemuannya dengan kedua orang tuanya akan mengharukan.
Pelukan terlepas, "Kau baik-baik saja, kan? di mana kau enam tahun ini?" tanya Hanson.
"Nanti aku akan ceritakan. Sekarang aku mau tau keadaan Papa. Kenapa Papa begini?" Lora ingin mendengar apa yang terjadi dari mulut Papanya sendiri.
Hanson menatap Lora sedih, "Bukan apa-apa, sayang. Kau tidak perlu cemas atau khawatir. Papa baik-baik saja." alasan Hanson. Tidak ingin Lora tahu jika penyebab semuanya adalah Evan.
"Paman kurang sehat saja, Lora. Kau apa kabar? senang bertemu denganmu, saudariku." sahut Reine, menyapa Lora.
"Aku tidak bertanya padamu, Reine. Aku bertanya pada Papaku. Biarkan Papaku yang menjawab pertanyaanku." kata Lora dingin, tanpa menatap ke arah Reine.
Reine kaget, "Hah? apa ini? dia siapa? seperti bukan Lora yang kukenal dulu. Kenapa kata-katanya dingin seperti itu?" batin Reinr bertanya-tanya dalam hati.
"Lo-lora ... hahaha ... maaf jika kau tersinggung, karena aku menyela. Aku tidak mau kau khawatir dan cemas. Keadaan Papamu baik-baik, saja. Tidak ada yang membahayakan." kata Reine..
Reine yang tidak tahu apa-apa, bicara seolah tahu segalanya. Ia bahkan tidak tahu keadaan Hanson yang sesungguhnya seperti apa. Mendengar uacapan Reine, membuat Lora kesal. Lora memalingkan wajah menatap Reine.
"Kau tahu apa?" sahut Lora melebarkan mata.
__ADS_1
Reine juga melebarkan mata, "A-apa? tahu apa? apa ma-maksudmu?" gumam Reiene bingung.
"Siapa bilang Papaku baik-baik saja? kau tidak tahu 'kan, Papaku kena serangan jantung. Dan semuanya karena ulahmu juga kekasihmu itu." Sentak Lora tidak bisa menahan diri.
"Apa maksudmu? kau jangan seenaknya menuduh Evan. Evan tidak ada hubungannya sama sekali dengan ini. Kau baru datang dan langsung mencari gara-gara, ya." kata Reine kesal.
Lora mengernyitkan dahi, "Aku, cari gara-gara? kau ini masih bermimpi atau memang sengaja menutup matamu, Reine? semua salah Evan. Evan yang sudah buat Papaku jadi seperti ini. Kau jangaan bela pria b*r*ngs*k sepertinya." kata Lora dengan nada suara lantang.
"S*al*n! kau ini tahu apa, hah? kau hanya wanita yang tidak dicintai Evan. Apa kau kecewa karena Evan lebih memilihku dibandingkan denganmu? Ya, kau pasti kecewa, kan." kata Reine, sengaja mengungkit masa lalu.
Lora tersenyum masam, "Apa? kau mengira aku iri hati, begitu? Reine, dengarkan ini baik-baik. Aku tidak iri padamu. Kau boleh mengambil Evan dan silakan lakukan apa saja yang kau inginkan bersamanya. Aku dulu memang menyukainya, tetapi sekarang tidak lagi. Rasaku padanya, seketika sirna saat tahu, sepupuku sendiri yang menjadi cela." tegas Lora menyindir Reine.
"Cela? maksudmu, apa? ucapanmu semakin lama semakin tajam, ya." Reine menatap ke arah alexias, "Kau hebat juga, ya. Dicampakakan Evan, jatuh dalam pelukan pria lain. Untung saja ada yang masih mau denganmu. Wanita yang sudah dipakai pria asing, yang entah siapa." ejak Reine.
"Reine, jaga bicaramu!" sentak Marlyn. "Haruskah kau bicara begitu pada Lora? kau ini kenapa sebenarnya?" kata Marlyn.
"Cukup, cukup! kalian jangan ribut di sini. Ini rumah sakit, bukan di rumah." kata Hanson, mencoba menjadi penengah.
Alexias kesal, ia ingin sekali marah. Namun, Lora menahannya. Lora memegang erat tangan Alexias. Lora masih berhadapan dengan Reine.
"Kau sudah puas bicara?" tanya Lora. Reine hanya mengernyitkan dahi setengah kaget, karena Lora tidak bereaksi seperti dugaanya.
Lora mendekatkan wajahnya ke wajah Reine, "Jika sudah selesai kau boleh pergi. Aku mau bicara hanya pada Papa dan Mamaku tanpa adanya pengganggu sepertimu." kata Lora.
Kata-kata Lora bagaikan pisau yang menusuk bagi Reine. Reine kesal, ia langsung pergi begitu saja meninggalkan ruangan.
Lora menarik napas dalam, lalu mengembusakan napas perlahan. Ia sudah sangat menahan diri untuk tidak murka pada Reine. Memikirkan jika Reine sedang mengandung membuat Lora dua kali berpikir untuk bertengkar denga Reine.
***
Di luar, di parkiran. Reine masuk dalam mobilnya sambil marah-marah. Ia mengumpat dan memaki Lora.
"Dasar wanita j*l*ng! berani sekali dia mengusirku. Dia kira dia siapa?" kesal Reine.
Reine terdiam. Ia memikirkan sesuatu. Ia teringat akan Alexias, yang berdiri diam di samping Lora.
Reine mengernyitkan dahinya, "Siapa, ya? pria tadi tampan juga. Lebih tampan dari Evan. Arrghhh s*al! kenapa Lora selalu beruntung di dekati pria tampan?" keluh Reine.
Pikiran jahat terlintas dipikiran Reine. Bibirnya tiba-tiba saja tersenyum lebar. Ia seperti sedang merencankan sesuatu.
"Pria tadi tidak tahu masa lalu Lora, kan. Bagaimana jadinya, jika aku bongkar masa lalu Lora padanya. Pria itu pasti akan langsung memutuskan hubungan dengan wanita murahan seperti Lora. Betapa kagetnya dia nanti, mendapati Lora adalah wanita bekas pakai pria asing yang entah siapa. Ah ... ide bagus, Reine. Kau sangat cerdas. Ahahaha ... " gumam Reine.
Reine mengira Alexias tidak tahu apa-apa soal Lora. Mengira jika Alexias adalah orang yang baru mengenal Lora. Sehingga ia langsung berpikir untuk mencuci pemikiran Alexias dengan mejelekan Lora. Membuka aib Lora di masa lalu, yang mana Lora pernah tidur dengan pria asing yang tidak dikenal karena mabuk..
"Mungkin saja pria itu akan menjadi tertarik padaku, dan berterima kasih karena aku sudah memberitahukan kebenaran." batin Lora tersenyum puas.
__ADS_1
Reine sungguh berharap hubungan Lora dan Akexias kali ini akan berakhir seperti hubungan Lora dengan Evan. Lagi - lagi pemikiran tidak biasa Riene kembali datang. Pikiran yang selalu ingin memiliki semuanya. Semua yang Lora miliki tanpa terkecuali.
****