Three Musketeers Mama

Three Musketeers Mama
TMM 49. Masalah Evan Dan Reine


__ADS_3

Evan marah-marah. Ia sampai memaki wanita yang baru saja dikencaninya selama seminggu itu. Wanit itupun tidak terima dan memaki Evan balik. Mengatai Evan dengan kata-kata pedas dan kasar. Setelah puas mengatai Evan, wanita itu lantas pergi dan memutuskan hubungan dengan Evan.


"S*al! semua karena Lora dan laki-laki itu. Beraninya mereka merendahkanku." geram Evan.


Ponselnya berdering, Evan mendapatkan panggilan dari Reine. Sepupu Lora itu, tidak bisa melepaskan Evan begitu saja. Masih menuntut pertanggung jawaban dari Evan untuk bayi yang dikandungnya.


Evan mengabaikan panggilan dari Reine. Ia memilih untuk mematikan ponselnya dan segera pergi meninggalkan kedai es krim.


***


Di tempat lain. Reine gelisah. Ia tidak bisa menghubungi Evan. Sedangkan Marlyn cemas akan keadaan suaminya, Hanson. Yang tidak kunjung sadarkan diri.


"Bagaimana, ini." gumam Reine.


"Reine, kau kenapa? kenapa kau terus gelisah menatap ponselmu. Kau juga tidak henti-hentinya menghubungi seseorang. Siapa yang kau hubungi?" Marlyn menatap Reine dan bertanya.


"Siapa lagi, Bi. Tentu saja Evan. Bagaimanapun, dia harus bertanggung jawab padaku. Aku tidak bisa begini terus menerus," keluh Reine.


"Sepertinya Evan memang bukan pria baik, Reine. Kau telah dimanfaatkan olehnya," gumam Marlyn. Ia sedih, karena keluarganya perlahan - lahan hancur.


"Tidak, Bi. Dia bukan pria seperti itu. Dia sudah janji untuk menikahiku. Enam tahun ini, kami kan selalu bersama. Aku tahu, Evan pasti akan bertanggung jawab untuk janin yang ku kandung. Ya, pasti." kata Reine bersikeras. Ia menyangkal ucapan Marlyn yang menjelekkan Evan.


"Apa anak ini sudah hilang akal sehat? sampai seperti ini masih terus membela Evan. Ah, bagaimana, ini? Hanson masih belum sadar. Aku juga harus membayar biaya rumah sakit dan kebutuhan sehari-hari. Uang tabunganku sudah semakin menipis." batin Marlyn mengeluh.


"Bi, aku pergi dulu. Apapun yang terjadi, aku akan bawa Evan ke sini." kata Reine serius.


"Reine, apa yang akan kau lakukan? jangan gegabah. Tunggu Pamanmu sadar, baru kita bicarakan lagi." Marlyn takut keponakannya itu akan melakukan hal yang merugikan.


"Bi, aku tidak bisa menunggu lagi. Aku malu jika terus seperti ini, jika terus menunggu maka perutku akan semakin membesar dan aku akan digunjing teman-temanku." Reine terus bersikeras. Ia memaksakak kehendaknya.

__ADS_1


Pada akhirnya, Reine pergi meninggalkan Marlyn yang seorang diri menjaga Hanson. Marlyn bingung, tetapi ia tidak bisa mencegah Reine.


"Bagaimana jika Reine melakukan sesuatu yang berbahaya atau sesuatu hal buruk. Anak itu terlalu kami manjakan, pada akhirnya seperti ini." batin Marlyn menyesal.


Marlyn memegang erat jemari Hanson, "Sayang, ku mohon bangunlah. Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Jika kau tidak bangun, aku bagaimana?" ucap pelan Marlyn sembari menangis.


Marlyn menciumi tangan Hanson. Ia sedih, karena hidupnya semakin lama semakin tidak bahagia. Terlebih, semenjak ia mengusir putri kandungnya sendiri, karena lebih membela Reine.


***


Di luar dugaan. Reine menemui keluarga Evan. Di sana, Reine menceritakan semuanya. Ia menangis tersedu-sedu di hadapan keluarga Evan. Mendengar cerita Reine, Keluarga Evan merasa iba. Ia lantas menjanjikan Reine untuk menjadi anggota keluarganya. Dengan kata lain, Evan dipastikan akan menikah dengan Reine. Mendengar janji dari keluarga Evan, Reine merasa lega sekaligus puas. Ia merasa tidak punya pilihan lain selain mendatangi keluarga Evan dan membongkar semuanya.


Tanpa di duga, Evan pulang ke rumah orang tuanya. Ia seketika kaget, mendapati Reine yang sudah duduk dan dipeluk Mamanya.


"Reine ... " panggil Reine, melebarkan mata.


"Bagus kau datang, Evan. Begini cara Papa mendidikmu, hah?" kata pria oaruh baya yang tidak lain adalah Papa dari Evan.


"S*al*n! untuk apa j*l*ng ini ke rumah Papa dan Mama. Papa sampai marah seperti ini. Jangan-jangan, dia bicara sesuatu hal pads mereka. Awas saja kau j*l*ng! aku akan menghabisimu." batin Evan kesal.


"Evan, kau tidak boleh begini pada Reine. Bertanggung jawablah!" seru sang Mama.


Evan melebarkan mata, "Apa? tanggung jawab? apa yang Mama katakan, apa Papa dan Mama yakin itu anakku? aku saja tidak yakin." tepis Evan tidak mau mengakui.


"Tega sekali kau bicara seeperti itu padaku, Evan. Selama enam tahun aku mendukungmu tanpa pernah mengeluh. Semua sudah aku berikan termasuk hal berharga dalam hidupku. Tapi, kenapa kau campakkan aku seperti ini? kenapa? jika bukan anakku ini anak siapa? aku hanya berhubungan denganmu. Aku buka j*l*ng yang suka berganti-ganti pria." tegas Reine menjelaskan. Ia tidak mau dipojokkan oleh Evan.


"Tetap saja, aku tidak mau mengakuinya. Sudahlah, gugurkam saja. Ini 'kan bukan pertama kalinya kau hamil, Reine." tanggap Evan remeh.


Plakkkk ....

__ADS_1


Tamparan keras mendarat di wajah Evan. Sang Papa langsung menampar Evan tanpa aba-aba. Terlihat sekali jika ia geram dengan prilaku anaknya sendiri.


"Kau sungguh keterlaluan, Evan! nikahi Reine atau kau keluar dari anggota keluarga. Aku tidak mau mengakui anak tercela sepertimu. Aku membesarkanmu dengan susah payah dan penuh kasih. Berharap kau bisa jadi orang yang berguna, bukan menjadi sampah seperti ini."


Evan melebarkan mata, "Papa menamparku demi wanita j*l*ng sepertinya! penipu, dia wanita penipu, Papa." kata Evan bersikeras.


Plakkkk ....


Sang Papa menampar sekali lagi wajah Evan.


"Kau mabuk, ya? sadarlah!" sentaknya.


"Aku benci Papa, aku benci! Papa seharusbya bangga, anak Papa ini sudah menjadi Direktur besar, bukan hanya pekerja kantoran biasa." kata Evan lagi, membanggakan diri.


"Aku tidak bangga dengan hasil yang kau dapatkan. Percuma saja kau jadi Direktur, jika itu dengan cara menipu. Kau kira Papamu ini bodoh, Nak? tidak, Evan. Papa memang bukan orang berad, tetapi Papa bukan orang bodoh! Selama ini, mana pernah Papa dan Mamamu ini, menerima pemberianmu? tidak, kan. Karena kami tahu itu bukan uang jerih payahmu sendiri. Kami tidak makan uang hasil kecurangan yang akan membuat perut kami sakit. Kau paham?" kata sang Papa menjelaskan.


Evan kaget, ia terdiam. Memang benar, selama ini Papa dan Mamanya tidak pernah mau menerima uang pemberiannya. Namun, Evan tidak menyangka jika orang tuanya tahu ia sudah menipu keluarga Elvise.


"Tentukan pilihanmu. Menikah atau terhapus statusmu sebagai anak." Sang Papa memperjelas perkataanya. Ia ingin anaknya memilih.


Evan lama terdiam. Sampai ia akhirnya buka suara dan mau menikahi Reine. Bagaimanapun, Evan tidak punya orang lain lagi sebagai sandaran. Ia anak tunggal dan sejak kecil dekat dengan kedua orang tuanya.


"Aku tidak bisa melepaskan keluargaku. Papa, Mama. Aku sangat menyayangi mereka. Bagaimana, ini? ya ... begitu saja. Aku akam menikahi Reine, hanya sebatas status. Aku tidak akan pernah menganggapnya istri. Karena aku tidak benae-benar mencintainya. Aku hanya suka tubuhnya yang molek, padat berisi." batin Evan.


"Ya, aku akan menikahinya." jawab Evan terpaksa. Ia tidak puny pilihan selain mengiakan permintaan Papanya.


Reine tersenyum senang. Ia memeluk erat Mama Evan. Sedangkan Evan mamasang wajah datar, tetapi di hatinya penuh amarah.


"J*l*ng, lihat saja nanti. Kau akan kubuat menderita dengan pilihammu ini. Kau yang melemparkan tubuhmu kepadaku , kan. Lihat bagaimana aku akan menyiksakmu dan memakimu nanti." batin Even menyimpan dendam.

__ADS_1


****


__ADS_2